Saat kau di anggap tidak berguna lagi, kau di buang dan di campakkan
Seolah-olah kau bagaikan sampah yang tidak terpakai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nova Queensha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
#Dibuang_Seperti_Sampah
#part_12
***
Aku berlalu dari ruang tengah sambil memeluk Azka erat. Aku menarik nafas panjang, berusaha menetralkan debaran jantungku.
Aku tidak sadar, kalau ada beberapa pasang mata tengah memandangku. Ketika aku mengedarkan pandangan, semua orang yang berada di dapur menatapku bersamaan.
Seolah-olah ada yang mengkoordinir mereka, serentak mereka berteriak.
"Ciyeeeeee."
Dapat kulihat, Tante Mega, Tante Rahma, kak Yanti, Mba Cici, dan beberapa kerabat keluarga besarku tertawa terbahak-bahak.
Belum hilang rasa panas yang menjalar di pipiku, mereka sudah menggodaku lagi, membuatku semakin merasa malu. Azka menangis histeris. Anak itu selalu menangis jika mendengar suara yang begitu memekakkan telinga.
Mba Cici segera menghampiriku, untuk membawa Azka ke taman kecil yang berada di belakang rumah.
Sedang Tante Rahma, memerintahkan semua orang yang berada di dapur untuk diam.
"Ssst ... diam!," Ucapnya sambil menempelkan telunjuknya di depan bibirnya.
Samar-samar suara Om Kamil masih terdengar, tapi aku tidak begitu mendengarkannya. Aku masih berusaha mengatur nafasku kembali. Aku mengulum senyum sambil mengucap syukur dalam hati, saat aku tahu, kalau Kak Ivan bukan tunangan Tante Sukma, lega rasanya...
"Sha, dipanggil Om Kamil." Tiba-tiba Tante Yuni, istrinya Om Kamil memanggilku.
"Astaghfirullah! Tante ... " Jawabku terkejut.
"Yuk!, ditunggu di ruang tengah!," perintah Tante Yuni.
Sebenarnya aku enggan, rasanya aku malu sekali jika harus berhadapan dengan Kak Ivan, terlebih semua keluarga besar kami tadi melihatnya. Aku berjalan dengan lutut gemetar. Rasanya, untuk berdiri saja aku sudah tidak sanggup.
Tante Yuni membawaku menghampiri Om Kamil. Aku masih tidak sanggup mengangkat wajahku, aku masih malu sekali. Kulirik sekilas, Kak Ivan berdiri di hadapanku. Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba suasana menjadi hening, padahal sebelum aku masuk tadi, mereka masih tertawa terbahak-bahak.
"Aisha, kamu kenal dengan pria yang bernama Ivan Rahmanaf Zein?." Tanya Om Kamil kepadaku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.
"Begini sayang ... Om ini kan pengganti Ayah kamu, dan kamu tahu kita keluarga besar. Sulit untuk mengumpulkan keluarga kita seperti ini," ucap Om Kamil sambil merangkul bahuku.
"Sekarang, di depan kamu, ada seorang pria yang mau melamar kamu. Kamu mau terima lamarannya?."
Hatiku berdesir hebat begitu mendengar pertanyaan Om Kamil. Tidak bisa kupungkiri, aku bahagia mendengarnya.
"Aisha Putri Ridwan ... Om tanya sekali lagi, kamu terima lamarannya Ivan Rahmanaf Zein?" tanya Om Kamil lagi kepadaku.
Aku menghela nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Bukankah aku berhak untuk bahagia, setelah semua yang telah aku lalui? Ku beranikan untuk mengangkat wajahku perlahan, dan menatap lekat mata Kak Ivan.
"Aisha terima, Om."
Kulihat, Kak Ivan menitikkan air mata bahagia. Serentak semua mengucap syukur.
***
Setelah semua prosesi pertunangan selesai, aku menghampiri Tante Sukma yang sedang membersihkan riasan di wajahnya.
"Tante ... " Aku bergelanyut manja di lengannya.
"Apa!," Jawabnya sambil melirik sinis ke arahku. Tapi aku yakin dia hanya pura-pura.
"Maafin Aisha, ya!," Ucapku lagi sambil mencium pipi kirinya.
"Enggak usah manja-manja deh! Udah punya anak kecil, kelakuan masih kaya anak kecil." Ucapnya sambil mencubit hidungku.
Aku hanya menyeringai.
"Ternyata sikap kamu tadi, karena kamu kira Mas Zein itu, Kak Ivannya kamu?," Tanya Tante Sukma sambil mengulum senyum.
"Iya, Tante ... Maaf ya. Aisha nggak tahu harus bilang apa lagi, rasanya terima kasih saja nggak akan cukup."
"Sama-sama, abis Tante liat, Ivan udah 'ngebet' banget," ucapnya sambil tertawa.
Aku yang mendengarnya hanya menangkupkan kedua telapak tanganku di wajah. Tante Sukma memelukku erat, akupun membalas pelukan Tante Sukma dengan penuh rasa haru.
Berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak keluarga, pernikahanku dengan Kak Ivan akan dilaksanakan bulan November, itu artinya 2 bulan lagi. Sedangkan pernikahan Tante Sukma akan dilaksanakan bulan Februari.
Kak Ivan sebenarnya meminta proses lamarannya diadakan ulang, tapi kedua belah pihak keluarga menolak, dengan alasan efisiensi waktu.
***
Hari ini aku sedang duduk di salah satu kafe yang berada di salah satu mal di Jakarta. Kak Ivan memintaku, untuk memilih barang-barang apa saja yang mau di beli, untuk seserahan. Sebenarnya, keluarga besarku tidak mempermasalahkannya. Lagi pula, aku merasa aneh. Karena toh, acara utama lamarannya sudah dilaksanakan, tetapi Kak Ivan tetap memaksa.
Sambil menunggu Kak Ivan, aku tidak henti-hentinya menatap cincin yang melingkar di jari manisku. Cincin emas putih bermata satu itu, menyita perhatianku, semenjak Kak Ivan menyematkannya di jariku, senyumanpun selalu terlukis di wajahku.
"Ciyeee ... Diliatin terus cincinnya. Suka, ya?," Suara Kak Ivan mengalihkan perhatianku. Kak Ivan memang paling bisa membuatku tersipu malu.
"Biasa aja," ucapku pura-pura acuh.
"Kalau sama yang ngasih cincinnya, suka nggak?"
"Enggak."
"Lho, kok gitu?."
"Enggak suka, tapi sayang," ucapku malu-malu.
"Ciye ... Sekarang udah berani sayang-sayangan," ucapnya sambil tertawa.
Kalau sudah seperti itu, aku cuma bisa menampakkan rona merah di pipi dan menunduk.
"Sha ... "
"Kenapa?."
"Yang," Jawabnya dengan tertawa terbahak-bahak.
Aku memukul lengan Kak Ivan pelan.
"Hehehe ... Bercanda, siapa suruh ngegemesin banget," ucapnya sambil mengecup puncak kepalaku singkat.
"Azka, mana?." Tanyanya setelah duduk hadapanku.
"Tadi mau di ajak, tapi lagi tidur,"
"Yah ... Ya udah, yuk!."
Kak Ivan mengulurkan tangannya, akupun bangkit dari dudukku, dan segera menyambut uluran tangan Kak Ivan, kami keluar dari area kafe dengan bergandengan tangan. Ah ... Rasanya seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta.
***
'Tabahlah di saat dirimu dibuang seperti sampah. Akan tiba suatu ketika Allah menghadirkan seseorang untuk mengutip kau seperti sebutir permata' (anonim).
***
You're just too good to be true
Kau terlalu indah tuk jadi kenyataan
Can't take my eyes off of you
Tak bisa kuberhenti memandangmu
You'd be like heaven to touch
Kau seperti surga yang ingin kusentuh
I wanna hold you so much
Aku sangat ingin mendekapmu
At long last love has arrived
Akhirnya cinta tlah datang
I thank God I'm alive
Syukurku pada Tuhan, aku masih hidup
You're just too good to be true
Kau terlalu indah tuk jadi kenyataan
Can't take my eyes off of you
Tak bisa kuberhenti memandangmu
Pardon the way that I stare
Maafkan caraku menatapmu
There's nothing else to compare
Kau tak ada bandingan
The sight of you leaves me weak
Wujudmu melemahkanku
There are no words left to speak
Tak ada lagi kata-kata
But if you feel like I feel
Namun jika perasaanmu sama sepertiku
Please let me know that it's real
Beritahu aku bahwa ini nyata
You're just too good to be true
Kau terlalu indah tuk jadi kenyataan
Can't take my eyes off of you
Tak bisa kuberhenti memandangmu
CHORUS
I love you, baby!
Aku mencintaimu, kasih
And if it's quite alright
Dan jika boleh
I need you, baby
Aku membutuhkanmu, kasih
To warm a lonely night
Tuk hangatkan malam yang sepi
I love you, baby;
Aku mencintaimu kasih
Trust in me when I say
Percayalah padaku saat aku berkata
Oh, pretty baby,
Oh, cantik
Don't bring me down, I pray
Jangan kecewakan aku, doaku
Oh, pretty baby,
Oh, cantik
Now that I found you, stay
Setelah kutemukan dirimu, tinggallah
And let me love you, baby,
Dan biarkan aku mencintaimu, kasih
Let me love you.
Biarkan aku mencintaimu
Source lirik : google.com
***
emosi jiwaaa 😈😡😡😡