Yora ini adalah gadis yang manja dan keras kepala dia sangat dicintai oleh Orang Tuanya, tetapi kenyataan yang sangat pahit harus di terima oleh Yora disaat Orang Tuanya akan bercerai karena Papanya mencintai Wanita lain.
Untuk membalaskan rasa sakit hatinya, Yora akan menghancurkan kebahagian Papanya dan Wanita murahan itu. Dengan membuat Rendy menjadi budak cintanya dia akan melakukan segala cara hanya untuk membuay Yora bahagia.
Apakah Yora akan berhasil membalaskan rasa sakit hatinya? atau akankah malah gagal membalaskan rasa sakit hatinya?
Yuk.. baca dan ikuti bagaimana Yora membalaskan rasa sakit yang ada dihatinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab ≋12≋
Di Rumah Retha, Retha duduk menyendiri di sofa dengan perasaan gelisah, matanya bolak-balik melihat handphone menunggu panggilan atau balasan chat dari Alan yang tidak kunjung tiba, seketarisnya tadi memberitahu bahwa Alan sibuk, tapi Retha merasa aneh sesibuk apapun Alan pasti selalu mengabarinya walupun itu singkat.
" Kamu ini kenapa tidak tidur? " tanya Mira Ibu Retha yang melihat Putrinya melamun di sopa.
" Ibu, kenapa Alan tidakk mengabariku ya? " tanya balik Retha yang merasa cemas takut terjadi sesuatu pada Kekasihnya, Alan.
" Sedang sibuk kali, kamu juga sudah di beri kabar oleh seketarisnya kan, " ujar Mira yang sudah duduk di samping Retga dengan cemilan ditangannya.
" Ini aneh Ibu, Walupun Alan sibuk dia akan selalu mengabariku bu, aku khawatir, " ucap Retha sambil terus melihat handphonenya.
" Sudahlah kamu tidur saja sana, besok kan kamu bisa menemui Alan dikantornya jika kamu khawatir, " kata Mira menasehati Putrinya yang gelisah dan khawatir.
Retha menuruti ucapan Ibunya untuk segera tidur, dan besak Retha akan pergi ke kantor Alan untuk memarahinya, karena telah membuat ia sangat khawatir dengan tidak mengabarinya seharian ini.
Alan melamun diruang kerja dengan badan bersandar pada kursi kerja yang ia dudukki. Dengan mata yang terus menatap handphone, melihat puluhan panggilan masuk yang tak terjawab dan chat dari Retha, Alan hanya membiarkannya tanpa niat untuk menjawab. Karena sekarang hati Alan sedang gelisah memikirkan apa yang ia perbuat pada Putrinya, dan takut Nanda mengetahui insiden hari ini.
" Apa yang harus aku lakukan Tuhan, " ucap Alan dalam hati dengan kepala mendongak keatas.
Setelah selesai acara, ia menjawab panggilan telepon, Lina seketaris Nanda melangkah mendekat kepada Nanda yang sedang asik melihat Peragaan Busan.
" Nyonya. " panggil Lina.
" Hm, ada apa? " tanya Nanda melirik sekilas seketarisnya.
Lina bergeser tempat duduknya untuk lebih dekat kepada Nanda dan membisikan sesuatu yang membuat Nanda terkejut sekaligus tak percaya apa yang di dengar dari Lina.
" Tidakk mungkin dia melakukannya, " ucap Nanda berbisik supaya terdengar karena suara musik yang mulai kencang.
" Benar Nyonya. Orang kita yang bekerja dengan Tuan yang memberitahu, " kata Lina berbisik.
" Hanya gosip sesama karyawan kali. " balas Nanda yang kembali melihat peragaan busana.
Melihat Nyonya Nanda tidak percaya, Lina langsung mengeluarkan foto yang melihatkan Yora yang sedang tertunduk dengan tangan digenggam Rendy.
Setelah melihat foto yang dikeluarkan Lina, Nanda merasa bingung entah hanya gosip atau bukan ia harus memastikannya. Dengan cepat Nanda begegas pergi setelah acara selesai untuk menuju Villa Florence.
" Dimana Tuanmu? " tanya Nanda dengan nada sedikit membentak.
" Tuan ada diruang kerja Nyonya, " balas salah satu pembantu dengan raut ketakutan.
Setelah mendengar ucapan pembantunya, Nanda begegas naik ke lantai 2 untuk menemui sang pemilik Villa.
Brak...pintu didobrak Nanda tanpa permisi, yang membuat Alan membuyarkan lamunannya karena merasa terkejut Nanda tiba-tiba datang.
" Kau, apa yang kau lakukan kepada Putriku? " tanya Nanda dengan raut muka marah dan jari yang menunjuk muka Alan.
Alan menghela nafas. Inilah yang ia takutkan Nanda ikut marah, dan masalah semakin rumit untuk di selesaikan secara baik-baik.
" Maafkan aku Nanda, " ucap Alan dengan raut penuh penyesalan.
" Cih, jadi benar apa yang dibilang Lina, " ujar Nanda sinis menatap Alan.
" Aku tidak bermaksud seperti itu, aku kehilangan kendali atas diriku Nanda." balas Alan.
" Tetap saja Kau melukai Putriku! " bentak Nanda keras.
" Dia juga Putriku Nanda " balas Alan lesuh.
" Cih, aku kira gara-gara cinta akal mu hilang. Baguslah kalau kau masih sadar bahwa Yora Putri itu kandung mu. " ujar Nanda dengan sinis.
" Dia jiwa ku Martha, mana mungkin aku melupakannya. " ucap Alan.
" Dengar kan aku baik-baik Alan, Yora menganggapmu Hero dan Cinta pertamanya jangan kau membuat dia kecewa karena keegoisanmu itu. " Kata Nanda dengan tegas.
" Aku bingung Nanda, aku mencintai Putriku dan Retha, tapi Yora menolak keberadaan Retha dengan keras. Lalu aku harus berbuat apa? " curhat Alan putus asa.
" Kau bukan anak remaja puber Alan, tanyakan pada hati dan akalmu itu dan temukan jawaban dari pertanyaanmu. " balas Nanda lalu pergi begitu saja dengan Alan yang semakin bingung dan frustasi.
Setelah Nanda keluar dari ruang kerja ia bergegas menghubungi Rendy, karena kata seketarisnya Yora bersama Rendy di Apartement milik Rendy.
lanjutt