Ketika cinta pertama Michele kandas saat di tinggal pas sayang-sayange oleh Aldi, hati Michele menjadi beku.
Janji yang sudah mereka sepakati, nyatanya lebur oleh waktu.
Berusaha membuka hati, dan akhirnya pilihan Michele jatuh kepada sang ketua osis.
Dua tahun berjuang, kini mulai terlihat hasilnya. Namun, di saat hatinya hampir berlabuh kepada sang ketua osis, cinta masa lalunya datang kembali.
Akankah Michele kembali melabuhkan hatinya kepada Aldi, atau Michele akan move on karena status yang mengikat mereka.
Nyatanya, ikatan kakak adik orang tua mereka tidak akan mudah untuk Michele lewati bila memilih Aldi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback
****
“Jadi, apa yang mau lo jelasin ke kita – kita hem?” tanya Denis mewakili kedua sahabat nya.
Michele yang melihat ketiga teman nya menatap nya dengan tatapan horor pun akhirnya hanya bisa menghela napas nya dengan berat. Sejujur nya ia sangat malas menjelaskan atau mengatakan apa hubungan dia dengan Aldi. Ia masih begitu kesal dan benci kepada laki – laki itu.
“Gue kaya nara pidana yang lagi di sidang kalau begini!” keluh Michele berdecak.
“Udah, gak usah banyak drama. Buruan cerita, apa hubungan lo sama tu anak baru?” tanya Renata tidak sabaran, mereka begitu penasaran dengan hubungan Michele dengan Aldi. Entah mngapa mereka seolah memiliki indra ke enam, mereka bisa membaca wajah Michele dan Aldi seolah ada sesuatu yang mengganjal di antara keduanya.
Michele yang terus di desak oleh para sahabat nya pun akhirnya mau tak mau menceritakan semuanya, membuka kembali luka yang sudah ia simpan selama ini.
Saat itu hubungan Michele dengan Aldi begitu dekat. Bahkan, sangat sering Michele atau Aldi tidur berdua. Entah Aldi yang menginap di rumah Michele, atau Michele menginap di rumah Aldi. Bahkan Tian dan Crystal apalagi Farel, tidak ada yang emmpermasalahkan itu karena memang Michele begitu lengket dan manja kepada Aldi.
Hingga, suatu ketika, saat mereka menginjak usia 9 tahun, tepat nya saat mereka kelas tiga SD. Ada seorang wanita paruh baya yang mengaku ibu kandung Aldi, ia menjelaskan alasan mengapa ia dulu memberikan Aldi kepada Sheila. Tidak ada alasan mengapa Tian dan Crystal tidak percaya, karena memang wanita itu memiliki bukti- bukti kuat bahwa dia adala ibu kandung Aldi.
Bahkan, Tian sempat ,mencoba tes DNA dan hasil nya memnag cocok. Mau tak mau, akhirnya Tian merelakan Aldi di bawa oleh ibu nya pergi ke Korea, dimana akhirnya hubungan Michele dengan Aldi kandas.
Michele terus meraung dan tidak mengiinkan Aldi pergi saat itu. Ia bahkan ia sampai memohon kepada ibu nya Aldi agar tidak membawa Aldi pergi, namun usaha nya sia-sia.
“Icel mo menikah sama Adi titik!” seru Michele kala itu waktu tangis nya sudah tidak di perdulikan lagi. Aldi sudah melangkahkan kakinya keluar rumah dan hampir masuk mobil.
“Michele, Sayang. Nanti kita bisa main ke sana. Atau Aldi bakal ke sinilagi untuk main.” Bujuk Crystal.
“Gak mau!” jerit nya sambil mengusap air mata, menatap Aldi dengan bibir cemberut. “Icel mau nikah sama Adi. Icel mau ikut Adi. Kalau nikah kaya mama sama papa, berarti gak boleh jauh – jauh kan hiks hiks. Icel gak mau jauh sama Adi, Icel gak punya tumen agy, Icel gak mau hiks hiks hiks.”
Aldi pun akhir nya mengurungkan niat nya untuk naik mobil, ia kembali menghampiri Michele untuk membujuk nya, “Cuma sebentar saja, beri Aldi waktu. Nanti, kalau kita sudah ganti seragam Aldi janji akan pulang. Saat Michelesudah masuk SMP nomor satu, Aldi akan pulang. Michele harus jadi anak pinter dan gak boleh cengeng. Aldi gak mau punya pacar cengeng. Janji jangan cengeng lagi.” Ucap Aldi lalu ia mengulurkan jari kelingking nya untuk membuat janji kepada Michele.
“Hiks hiks, Adi janji akan cepet pulang? SMP harus bareng Icel lagi? Hiks hiks.”
“Iya, Aldi janji. SMP nanti kita bareng – bareng lagi. Nanti pas Aldi kembali, Michele sudah besar dan pasti akan lebih cantik.” Kata Aldi sukses membuat Michele tersenyum.
“Satu, dua, tiga. Berarti tiga tahun lagi Aldi pulang nya?” tanya Michele menghitung dengan jari nya, “Janji.”
“Iya, Aldi janji.”