Kisah seorang cucu yang relah mengorbankan mahkotanya demi menyelamatkan nyawa sang nenek.
Rindu nama gadis itu, dia harus bertemu dengan seorang pria yang sangat kejam dan juga di takuti di kota itu.
Apa yang akan terjadi berikutnya yuk mari ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. KELEMBUTAN SEORANG FATHUR.
Beberapa kali Rindu hampir terjatuh hingga membuat Fathur berlari dan mengangkat tubuhnya.
"Diamlah, biar Aku mengantarmu pulang. Aku tidak mau kamu berbuat aneh-aneh sehingga membuat keselamatan bayimu terancam," Fathur terus melangkah sambil menggendong tubuh kecil Rindu.
Sementara itu, Rany yang baru saja datang sehabis berganti pakaian segera menghampiri mereka.
"Sayang, kenapa kamu menggendong perempuan sialan ini. Turun gak, kamu jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan," Rani membentaki Rindu sembari menarik bajunya.
"Rany lepasin, dia ini lagi sakit, jadi kamu jangan menyakitinya lagi," bentak Fathur.
"Dia ini cuman berbohong sayang agar dapat perhatian darimu. Dan apa kamu tidak malu, para karyawan di perusahaan ini akan melihatmu menggendong gadis udik seperti dia ini," Rany menatap kearah Fathur dan menunjuk kearah Rindu yang kini mulai diam sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Fathur.
"Itu urusanku, Cepat menyingkir jangan halangi jalanku," Kini Fathur memplototkan matanya kearah Rany.
"Tapi sayang,"
"Rany, menyingkir tidak!, dan jangan coba-coba lagi untuk mengikutiku. paham!"
Tanpa menjawab, Rany segera menyingkir setelah melihat tatapan tajam dan penuh emosi dari mata Fathur.
Fathur melanjutkan langkahnya menuju kearah Lift lalu menekan tombol yang ada di dinding. Tidak berselang lama kemudian pintu lift terbuka secara otomatis. Fathur masuk kedalam dengan Rindu yang masih berada dalam gendonganya.
Sedangkan Rany terdiam ditempat. Wajahnya memerah menahan rasa sakit mendapat perlakuan seperti itu dari Fathur.
"Ini semua gara-gara perempuan sialan itu. Aku tidak akan membiarkanya untuk hidup enak. Tunggu saja waktunya, Aku akan membalasmu lebih dari sakit hati yang Aku rasakan ini," Rany melangkah meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Fathur yang ada di dalam Lift bersama Rindu sedikit tersenyum melihat tingkah Rindu yang mirip seorang bayi yang terus mengeliat didada bidangnya.
"Apa kamu merasa nyaman berada di sana," ucap Fathur sembari tersenyum.
Rindu segera menghentikan ulahnya.
"Turunkan Aku," ujar malu Rindu dan kembali merontah.
"Tetaplah disitu, Aku iklas melakukan ini untukmu," balas Fathur lembut.
"Aku malu di lihatin para karyawan lain. Jadi Aku mohon turunkan Aku."
"Kalau aku bilang diam-diamlah. Kalau kamu merasa malu, bersembunyilah di dadaku supaya mereka tidak melihatmu," kini Fathur sedikit meninggikan suaranya agar Rindu tidak meronta lagi.
Seketika Rindu mulai terdiam dan melakukan apa yang di perintah oleh Fathur.
Tidak lama kemudian pintu lift kembali terbuka. Fathur keluar dari dalam lift dan melangkah keluar dari dalam sana.
Para paryawan yang sementara melakukan aktifitas mereka seolah-olah tidak percaya kalau yang berjalan di hadapan mereka kala itu adalah bos mereka.
Ada yang seketika menganga, melotot dan mengucak-ucak mata mereka melihat pemandangan tersebut.
Manalah tidak, seorang Fathur yang begitu arogant, dingin dan tak punya hati bisa memperlakukan manusia lain dengan sangat lembut dan terbilang sangat romantis.
"Ternyata Tuan Fathur itu memiliki hati selembut salju. Coba lihatlah, Tuan Fathur memperlakukan perempuan itu seperti bayi yang baru lahir," ucap seorang perempuan kepada temanya tanpa sedikitpun berkedip.
"Benar sekali, ternyata selama ini kita salah menilainya. Walaupun terlihat sangar dan dingin tapi dia memiliki sisi lain yang kita tidak tahu. Oh Tuhan sisakanlah satu pria tampan, kaya dan romantis seperti Tuan Fatur itu, Aamiin," balas temannya tanpa berkedip sedikitpun.
"Tapi siapa gerangan perempuan yang ada digendonggan Tuan Fathur?," tanya karyawan perempuan itu lagi pada temanya.
"Aku juga tidak tahu, tapi kalau dilihat dari kostum yang dia kenakan dia pasti seorang cleaning service perusahaan ini,"
"Sungguh beruntung perempuan itu. Tuan Fathur mengangkatnya dari besi berlumpur menjadi emas,"
"Huss....kamu jangan berkata seperti itu, kalau sampai Tuan Fathur mendengarnya maka tamatlah riwayatmu. Ayo kerja lagi, jangan sampai pak Harmoko melihat kita berleha-leha disini, bisa kena marah kita habis-habisan olehnya,"
keduanya pun kembali Fokus dengan kerjaan mereka masing-masing.
Sementara itu, diarea parkir, Fathur memasukkan tubuh Rindu kedalam mobil mewahnya dan mendudukkan tubuh Rindu di bagian depan bersampingan denganya.
Fathur menghidupkan kendaraanya dan melaju meninggalkan area perusahan miliknya itu.
Disepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam sembari menikmati keindahan pusat kota.
Hingga tiba-tiba handpon milik Fathur berdering dalam saku celananya.
Fathur merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphonnya dari dalam sana.
"Hallo Ibu kepala!, Ada apa Anda menelponku," ujar Fathur setelah sambungan telepon mereka terjalin.
"Maaf sebelumnya Tuan kalau Saya lancang menghubungi Anda. Ini masalah Tuan muda Akos, badanya tiba-tiba demam dan sering memanggil Mommynya," jawab ibu kepala dari dalam sana.
"Apa, putraku demam?. Baiklah, tolong pantau dia terus, Aku akan segera kesana."
"Baik Tuan,"
"Kamu temani Aku ke sekolah sebentar sebelum Aku mengantarmu pulang," ucap Fathur setelah memutuskan sambungan teleponenya dengan Ibu kepala sekolah.
Rindu tidak menjawab dia hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tidak lama kemudian, kini kendaraan yang mereka tumpangi sudah berbelok masuk ke dalam area sekolah.
Setelah mematikan mesin mobilnya Fathur segera keluar dari dalam mobil diikuti Rindu dari arah belakang.
Mereka berdua segera masuk kedalam gedung sekolah menuju kearah ruang UKS.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Fathur segera masuk kedalam dan menuju kearah pembaringan dimana Akos, putranya sedang terlentang diatas sana di temani Ibu kepala yang duduk di samping pembaringan.
"Sayang kenapa bisa seperti ini. Kenapa badanmu panas sekali," ucap Fathur begitu panik sambil memegangi kening milik putranya.
"Akos lindu Mommy, dad!," balas Akos dengan suara parau dan raut wajah sedikit pucat.
"Tapi daddy tak tau dimana dia sekarang sayang,"
"Deddy, Akos lindu Mommy," Kini Akos mulai menangis.
"Iya sudah-sudah, nanti Daddy cariin. Tapi kita pulang dulu ya, kamu perlu beristirahat supaya kesehatanmu kembali pulih," Fathur mencoba mengankat tubuh kecil putranya tapi tiba-tiba Akos merontah.
"Akos tidak mau pulang kalau Daddy tidak membawa Mommy kelumah. Semua teman-teman Akos punya mommy, sedangkan Akos tidak punya. Akos tidak mau pulang," kembali Akos menangis tapi lebih keras dari yang pertama.
Fathur begitu Frustasi hingga pria tampan itu mengucak-ucak rambutnya.
"Ade pulang ya, Nanti kakak temani Adek," Ujar Rindu menghampiri mereka dan berdiri tepat di samping pembaringan.
Tangisan Akos segera terhenti setelah mendengar suara Rindu.
Akos segera bangkit dan memeluk tubuh Rindu dengan sangat erat seperti tak ingin melepaskanya.
"Mommy!, Mommy jangan tinggalin Akos lagi. Akos janji Akan menjadi anak penulut dan tidak nakal,"
Fathur dan Ibu kepala sekolah saling memandang heran satu dengan yang lain.
Akos yang dulu terlihat cuek bila bertemu perempuan dewasa kini jinak di tangan Rindu. Perempuan belia yang belum seharusnya menyandang nama Ibu atau Mommy.
Maaf bagi teman-teman yang selalu menantikan kisah ini. Author belakangan ini sedang sibuk jadi terkadang tidak bisa up tapi, Author akan berusaha agar bisa up walau tidak setiap hari, sekali lagi maaf untuk itu. Terus dukung karya Author dengan cara memberi like, coment, shere dan vote terima kasih.
.
gak cocoklah jadi pemeran utama wanita