Cinta tidak akan pernah memilih orang yang salah untuk ditinggalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azmi1410, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Malamnya Zack tak bisa pulang, ia terpaksa menelpon Marvel untuk ikut menginap karena tubuh Aretha mengalami demam tinggi, terkadang dia akan merasa sangat kepanasan, dan terkadang ia juga akan menggigil kedinginan.
Akhleya tak sanggup untuk melihat semua ini, hal itu membuatnya mengingat masa-masa ketika Aretha berjuang hidup dan mati di rumah sakit dulu.
Jujur saja kecelakaan terakhir kali adalah kecelakaan yang paling parah yang diterima Aretha, yang berhasil menciptakan sebuah kenangan buruk di dalam ingatan Akhleya, apalagi dia hampir kehilangan kedua anaknya karena kecelakaan itu.
"Tante lebih baik istirahat aja! Biar aku sama Marvel yang jagain Aretha dengan baik, sebelum kondisinya baik-baik saja kami tak akan tertidur sedikitpun, kami janji pada Tante." Zack membujuk Akhleya untuk beristirahat, dia tak mau Akhleya yang jatuh sakit selanjutnya.
Zack sungguh tak bisa melihat Aretha sedih lagi, dia merasa tak mampu memenuhi janjinya untuk menjaga dan membuat Aretha bahagia, dia benar-benar merasa tak mampu.
Tapi dia tak akan menyerah, sekarang bukan Waktu yang tepat untuk menyerah, sekarang yang harus dia lakukan adalah menemani Aretha melewati masa kelamnya, dia yakin suatu saat Aretha pasti mendapat kebahagiaannya sendiri.
Sedangkan di sisi lain di sebuah kamar pribadi di club' malam yang terkenal di kota itu, beberapa pria sedang duduk dengan beberapa gelas minuman dan wanita cantik yang menemaninya, hanya 2 orang saja yang tak memeluk wanita atau wanita-wanita itu tak berani mendekatinya.
"Satya bukannya kau berada di tempat kejadian saat Aretha dan Clarista bertengkar, saat Clarista mengatakan bahwa Aretha yang telah mendorongnya menyebabkan Rania mengalami luka-luka yang cukup parah waktu itu karena menolong Clarista?"
Pria yang dipanggil Satya itu tersenyum sinis mendengar ucapan Melvin sahabatnya.
"Bukankah aku sudah mengatakan pada kalian bahwa Aretha tak bersalah dia berada jauh dari Clarista saat itu, tapi belum sempat mengucapkan pembelaan untuk Aretha Kelvin sudah menampar dan membentak Aretha, kau tau saat aku datang dan melihat pipi merahnya itu aku sempat merasa bersalah, apalagi ketika melihat raut wajah terluka dan tak percayanya itu,"
Kelvin hanya mendengus dingin saat mendengar ucapan Satya yang terkesan membela Aretha. "Kalian tau aku sekarang mendapat bukti video ketika kecelakaan itu terjadi 2 hari yang lalu dari Stephani, dan ini memang menguatkan bukti yang aku miliki karena cctv tempat kejadian rusak mendadak."
Satya mengeluarkan ponselnya, memutar video kecelakaan di sekolah mereka dulu.
Kelvin tak menggubris masalah itu dia tetap diam dan meminum minuman yang berwarna merah terang di tangannya itu. Dia bersifat masa bodoh dan tak peduli sedikitpun.
"Apa dia akan kau jadikan pajangan juga seperti ibunya Vin? Sayang sekali wanita secantik dan selembut Aretha kau jadikan pajangan saja." Melvin mendecakkan lidahnya, semua teman-temannya tau Melvin adalah orang yang bisa paling mesum di antara mereka.
Kali ini Kelvin melihat para sahabatnya itu dia tersenyum kecil dan meletakkan gelas minumannya.
"Daripada menjadi pajangan akan lebih baik dia mau menjadi bonekaku, heh, aku akan membuatnya sadar apa yang boleh dan apa yang tak boleh dikerjakannya, aku akan membuatnya berada di bawah kendali tanganku, sebelum aku puas aku takkan memberinya kesempatan untuk bernafas dengan baik."
"Kau lebih sadis daripada ayahnya ternyata, sayang sekali gadis baik itu jatuh ke tangan pria kejam seperti ini." Satya menggeleng-gelengkan kepalanya saat membayangkan bagaimana kehidupan gadis cantik itu di tangan Kelvin sahabatnya.
"Aretha gadis yang baik dia tak pantas mendapatkan hal seperti ini, biar bagaimanapun kesalahan itu sudah terbukti bukan Aretha yang melakukannya, dia juga tak bersalah atas hal yang terjadi pada bibimu, lagipula karma pasti berlaku jika kau terlalu kejam padanya bisa saja burung yang kau kurung di sangkar itu lepas melarikan diri, atau mati dengan sendirinya."
Reymond yang sedari tak berbicara nampak angkat suara, setelah selesai menyampaikan apa yang ingin dikatakannya ia pun berdiri mengambil jaketnya dan meninggalkan kamar pribadi itu.
Sepeninggal Reymond mereka masih melanjutkan pembicaraan mereka.
o0o
Cahaya matahari berada di atas kepala sekarang namun suasana hening di pemakaman ini tak menyurutkan seseorang yang berpakaian rapi untuk datang dan berdiri di depan sebuah makam.
"Kau penting dan paling didahuluinya dan sekarang setelah kau meninggal ada ibu dan adikmu yang penting baginya, lalu kapan waktu untukku ada jika keadaan terus seperti ini ha?" tanyanya dengan suara penuh penekanan.
"Tapi kau tenang saja aku akan membuatnya menjadikanku orang yang paling dipentingkan olehnya selanjutnya, aku akan membuatnya lebih bergantung padaku, jika tanpa ada aku di sisinya dia takkan bisa bernafas dengan baik, aku akan membuatnya tak bisa lepas dari sisiku sedetikpun, aku akan membuatnya tak bisa hidup jika aku tak ada di sisinya, sekarang biarkan saja waktu seperti ini berlalu, cepat atau lambat aku akan memiliki kesempatan itu."
Pria itu melangkah meninggalkan pemakaman itu dengan senyum tercetak di bibirnya, apapun yang ada di tangannya tak akan dia lepas sedikitpun, dia akan membuat semuanya sesuai keinginannya nanti tapi sekarang biarkan saja semua berlalu seperti ini dulu.
Di rumah Aretha nampak Zack dengan penuh kelembutan membujuk Aretha untuk makan.
"Re ayo makan sedikit dulu, nanti kalo Marvel sudah datang membawa bubur yang kamu inginkan kita tak akan menganggu, sedari kemarin kamu ngak makan apapun, ayolah Aretha jangan seperti ini!"
"Ngak mau, maunya bubur Mang Karyo kalo ngak bubur Mang Karyo aku ngak akan makan apapun titik," ucapnya dengan keras kepala yang membuat Zack hanya bisa menyerah.
Dia sungguh tak menyangka bahwa penyakit keras kepala gadis ini tak mau berkurang meski dalam keadaan sakit begini, dia jadi cemas memikirkan bagaimana kehidupannya setelah menikah nanti, siapa yang akan menjaganya ketika dia sakit, siapa yang akan membujuknya ketika dia tak mau memakan makanannya, dia bisa mati dengan cepat di sana.
Pintu kamar dibuka perlahan Marvel masuk dengan beberapa bungkusan di tangannya. Aretha tersenyum senang apa yang diinginkannya terwujud.
Zack benar-benar tak bisa berkata apa-apa melihat tingkah Aretha sekarang, dia hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin saja Aretha ingin menikmati ini semua sebelum pernikahan terjadi, ya Zack merasa begitu, dia tau Aretha wanita yang cerdas dia mungkin merasa nantinya dia takkan memiliki kesempatan seperti ini lagi.
"Kenapa lama sekali? Aku sangat lapar tau. Ayo bawa kesini aku ingin memakan semuanya! Setelah menikah aku belum tentu dapat bermanja-manja dengan kalian seperti ini lagi." sungutnya dengan wajah kesal yang berhasil membuat wajah cantiknya menjadi jelek.
Marvel tersenyum lembut dia membelai kepala Aretha dengan penuh kasih sayang, jika tak ada masalah perjodohan ini, mungkin sekarang dia dan Aretha bisa menjadi sepasang kekasih.
"Aku pergi ke makam Arekha dulu, memangnya kamu saja yang bisa curhat dengannya aku tentu saja juga ingin curhat dengannya," celetuk Marvel yang membuat Zack mencibir.
Dengan malas Zack pindah dari sisi Aretha menuju sofa yang ada di kamar itu, dia merasa kesal sekaligus kasihan melihat seorang pria yang cintanya tak diketahui oleh orang yang dicintainya.
Sungguh malang sekali Aretha bukanlah orang yang peka terhadap kasih sayang dan cinta yang diberikan seseorang, dia benar-benar polos membuat Zack tak bisa berkata-kata.
Dengan lembut dan penuh perhatian Marvel menyuapi dan merawat Aretha, gadis bodoh itu hanya tersenyum senang tanpa tau cinta yang begitu dalam jelas di mata pria yang merawat dan menjaganya itu.
"Kau ini benar-benar." Zack hendak berbicara tapi Marvel mengelengkan kepalanya agar Zack tak melanjutkan ucapannya, dia tak ingin hubungan ini rusak sekarang, apalagi Aretha akan menikah dia tak ingin menambah beban pikiran Aretha sedikitpun.
Waktu akan memberinya kesempatan yang baik nantinya, dengan selalu berada didekat Aretha dan menjadi pelindungnya dia yakin disaat Aretha jatuh nanti orang yang akan dicari olehnya adalah dirinya pria yang selalu ada disaat saat dia paling membutuhkan.
🤦