Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#MCT 05
Aldri datang ke rumah pengkulu ditemani sekretarisnya dan Vino sepulang kerja. Mereka berdua setuju menjadi saksi atas pernikahan Aldri. Antika adalah anak diluar nikah maka wali nikahnya dipasrahkan ke wali hakim.
Dalam peristiwa sakral itu Aldri dengan segenap hati bermunajat dan berharap pernikahan ini akan kekal hingga nyawa tak lagi dikandung badan. Apapun yang akan terjadi nanti ia pasrahkan segalanya kepada sang Kholik.
Aldri tak pernah membayangkan bahwa ia akan menikah seperti ini. Namun, semua ia lakukan dengan sepenuh hati. Satu hal yang pasti bahwa hatinya menyayangi Antika dan ingin selalu melindunginya.
"Selamat, ya, Bro. Akhirnya kamu melepas juga gelar lajang mu." Vino menepuk pundak sahabatnya dan tersenyum. Aldri tahu Vino mengucapkannya tanpa ada embel-embel menghina.
"Terima kasih, Vin."
" Selamat atas pernikahan, Bapak. Semoga langgeng sampai akhir hayat." ucap sang sekretaris.
"Aamiin. Terima kasih banyak, Pak." Aldri menerima uluran tangan sekretarisnya dan menjabatnya.
***
Ketukan pelan di pintu membuat Antika dan Indira terdiam sejenak. Aldri membuka pintu dan berdiri di sana. Kedua mata mereka saling beradu membuat Antika terpana. Ini pertama kalinya bagi Aldri mendapatkan tatapan yang sungguh berbeda.
Indira berdehem untuk mengembalikan sepasang anak manusia itu ke dunia nyata. Keduanya pun terlihat canggung.
"Ehmm, I- ibu apakah dia...."
"Iya, dia suami mu, Nak." Antika pun tersenyum malu-malu.
"Baiklah.... sekarang giliran Ibu pulang. Ibu sudah berada di sini 2 hari. Sekarang giliran suamimu yang menjagamu."
"Tapi, Bu!" Aldri dan Antika menjawab serempak.
"Tidak ada tapi-tapian. Ibu capek mau pulang istirahat. Waktu nya kalian berdua saja sekarang, Ibu pamit dulu, ya." Indira mengecup kening Antika. Gadis itu mencium tangan Indira begitu pula Aldri.
Aldri berjalan mendekat dan duduk di kursi dekat brankar. Ada getar aneh yang membuatnya gugup dan tidak mampu berucap sepatah kata pun.
"Ehmm, Kamu dari mana saja?" akhir nya Antika memberanikan diri membuka percakapan. Ia merasa malu dipandangi tanpa berkedip.
"Oh, itu Ay - eh aku mengambil sesuatu yang sempat terlepas darimu."
"Hemmm.... Apa itu?" Suara manja itu berbeda dari biasanya. Entah mengapa Aldri merasa kehangatan menjalar di hati nya.
"Kemarikan tanganmu!" Aldri menjulurkan tangannya. Antika yang ragu-ragu memberikan tangannya perlahan.
Aldri menyematkan sebuah cincin berlian mungil bertuliskan namanya di jari manis Antika. Aldri memandang cincin yang tersemat itu hingga tanpa sadar bibirnya tersenyum tangan Antika tepat di cincin itu. Aldri menguntai doa dalam hati berharap semua akan indah dan baik-baik saja.
Antika tersenyum gugup dan malu. Wajah gadis itu bagai udang yang tersembur ke dalam air mendidih, merah merona.
Aldri yang tersadar dari perbuatannya spontan beristighfar dan melepas tangan Antika. Dirinya terlupa bahwa saat ini ia berperan sebagai suami Antika bukanlah sebagai sosok Ayah.
"Ke- kenapa? Apa tanganku bau?" Antika bertanya bingung. "Maaf." Antika tampak bersedih.
"Ah, astaghfirullahaladzim maaf, Tika bukan begitu. Maafkan Ayah, sayang!."
"Ayah?" Antika semakin kebingungan.
"Oh itu, Darling maksud nya. Maaf, Tika Ay - eh aku masih bingung dan belum terbiasa." Aldri memijat pelipisnya.
Benarkah keputusan yang ku ambil? Hanya karena ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan membuatku seperti tidak berotak
Aldri terkejut ketika tangan Antika meraih tangannya yang sedang memijat pelipis. Gadis itu tersenyum. Sungguh sangat cantik meski wajahnya masih pucat dan tubuhnya yang lebih kurus dari sebelumnya.
"Jadiii.....aku biasa memanggil mu darling?" Antika bertanya dengan senyum yang masih tersungging di bibir mungilnya.
"Eh, iya begitu lah." Aldri menjawab sekenanya.
Aldri hanya ingin memandang senyum cantik itu saat ini. Ternyata dirinya sangat merindukan senyuman itu. Hanya sebulan saja Antika tak sadarkan diri. Namun waktu terasa bergulir cepat dan seakan-akan lama keduanya tak berjumpa.
"Kenapa darling memandangku seperti itu?"
Entah mengapa sebutan 'Darling' yang keluar dari bibir Antika terdengar tak nyata. Sungguh aneh seperti bukan Antika yang biasanya. Harus kah Aldri senang atau sebaliknya? Hanya sebuah ucapan mampu menyadarkan Aldri bahwa memang Antika bukanlah dirinya yang seutuhnya. Seandainya saja ia mengucapkan dengan kesadaran penuh dan ingatan yang utuh Aldri pasti akan menjadi lelaki paling bahagia di dunia ini.
Aldri tersenyum, tangan satunya yang terbebas dari genggaman Antika menyentuh pipi gadis itu. "Tidak apa-apa Tika, Ay - eh aku senang kamu sudah sadar. Mulai sekarang kamu harus bahagia, ya sayang!"
Antika semakin mengeratkan genggaman tangannya. Ia tersenyum kembali dan mengangguk.
Syukur lah, ya Allah mungkin benar ini yang terbaik untukmu, Tika. Semoga kamu selalu tersenyum seperti ini, hanya itu keinginanku.
Hampir sebulan lamanya Aldri tidak fokus ke pekerjaan. Semua aktivitas perusahaan ia alihkan kepada orang kepercayaannya, siapa lagi kalau bukan sekretaris andalannya. Meskipun begitu ia tidak serta merta mangkir dari tanggung jawabnya sebagai atasan. Bagaimana pun ada bawahan yang menjadi amanahnya, maka iya sempatkan untuk mengecek secara online sebelum dirinya tidur.
Hari ini untuk pertama kalinya Aldri datang ke kantor paskah kesadaran Antika pulih sepenuhnya. Ia merasa bersemangat dan seolah-olah terlahir kembali. Apalagi sebelum berangkat ke kantor ia mendapatkan asupan gizi senyum manis Antika dan kecupan sayang di keningnya.
"Ih,,, benar-benar memalukan. Masak menikah dengan gadis yang usianya jauh lebih muda. Sama saja dengan menikahi putrinya. Apa pria itu tidak malu?"
Aldri yang mendengar percakapan tersebut urung melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerjanya. Kakinya otomatis berhenti dan mencoba mendengarkan percakapan karyawatinya.
"Iya, aku dengar selisihnya hampir 40 tahun. Gila harta kali tuh cewek nya."
"Eh, iya juga sih. Bisa juga si cewek yang kegatelan. Amit - amit dah nikah sama aki-aki. Palingan main sebentar sudah keok." kedua pegawai wanita itu tertawa terbahak-bahak.
"Ehhem... ehhemmm! apa kalian tidak ada kerjaan selain bergosip? Apa kalian tidak bisa melanjutkan memeriksa pekerjaan kalian.?" ucapan sekretaris Aldri terdengar tegas dan dingin.
Sekretaris Aldri, Pak Amri berdehem agak keras saat mendengar percakapan kedua karyawati tersebut. Ia melirik sekilas wajah atasannya. Wajah yang tadinya dipenuhi aura pelangi kini mendadak gelap tertutup mendung. Amri sangat menyadari bagaimana perasaan Aldri saat ini. Meskipun mereka tidak membicarakannya. Akan tetapi, baginya masalah yang Aldri alami saat ini hampir sama.
Kedua karyawati tersebut sangat terkejut dan mendadak terdiam menunduk malu. Mereka menunduk memberikan salam dan bergegas pergi ke ruangan masing-masing.
Aldri pun sebenarnya terkejut mendengar sekretarisnya berdehem. Lamunan nya buyar ketika mendengar deheman tersebut. Pikiran nya kembali berpijak ke bumi setelah tinggi membumbung ke awan lalu terpelanting ke dalam perut bumi. Semua hanya karena ucapan kedua karyawatinya itu.