😍Sedang dalam revisi, perbaikan tanda baca, narasi dan lainnya.😍
Season 1 & Season 2.
Warning!!!
kalau mau baca pliss dari episode awal karena kisah cinta Vino - Ran berawal dari Season 1.
Di season ke dua, author akan fokus pada kisah cinta Vino sang cassanova yang jatuh cinta pada saudara ipar sepupunya. Ran, begitu ia biasa memanggil gadis itu.
(Season 1 )
Adimas bramasta seorang duda kaya berumur 35 tahun,dia sudah dua kali gagal menikah dan kedua nya gagal di pertahankan karena ia selalu di selingkuhi. sehingga membuat nya trauma akan dunia percintaan.
setelah 8 tahun di luar Negeri, ia kembali ke Indonesia dan menggantikan posisi papa nya sebagai presdir perusahaan. lalu ia bertemu kembali dengan Fani yang dulu ia anggap sebagai keponakan nya,kini telah menjadi gadis dewasa berumur 20 tahun.
jangan luka like,vote, dan komennya ya beb😽💙 jangan lupa juga masukan nya.. biar lebih baik lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wulan_zai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 12 : Makan bersama
Jam menunjukkan pukul 16:30.
Sebenarnya sudah saatnya pulang kerja, namun Dimas meminta para Staf perancangan untuk lembur, dikarenakan sekertarisnya sedang cuti dan ada perubahan mendadak pada perancangan unit apartemen yang akan dipromosikan 2 hari mendatang.
"Saya akan mentraktir kalian makan malam setelah selesai nanti." Ujar Dimas kepada para karyawanya.
Para karyawan itu pun menjadi antusias dan semangat. "wuhhhu...!"
"Makan gratis...!" Ucap mereka penuh semangat, dan bersahutan.
Sosok Dimas memang dikenal royal kepada para karyawan nya, selain itu ia dikenal sebagai sosok yang hangat dan ramah, namun tetap saja ia hanya bisa akrab kepada karyawan pria. Adimas memang pimpinan yang diidamkan banyak orang.
19:00....
Langit sudah terlihat gelap. Para karyawan Adimas terlihat sedang memilih tempat duduk, di restaurant yang menjadi tujuan makan malam tim mereka, ada pula yang sedang rebutan posisi kursi yang menurut mereka paling Aesthetic pemandangannya.
Ketika semua sudah duduk, Dimas hanya berdiri dan menatap ke segala arah kursi. Tampak nya ia bingung akan duduk dimana, karena ia merasa tidak nyaman duduk berdekatan dengan karyawan wanita.
"Pak Dimas mau duduk di mana? " Tanya salah seorang karyawan.
"Saya duduk disini saja."
Dimas menarik kursi di sebelah Riko.
Fani membelalakkan matanya, seketika ia teringat dengan ucapan Dimas pada Riko dikantor kemarin. Karyawan yang lain pun jadi saling memandang sambil menahan tawa di bibir mereka. Tatapan mereka semua menyorotkan rasa penasaran yang serupa.
Saat tengah menunggu makanan mereka disajikan, Dimas kembali mengobrol dengan Riko tentang permainan biliar.
"Ayo kita main sehabis ini." Ujar Dimas dengan santai.
"Kenapa kamu berambisi banget main denganku?" Jawab Riko melirik sewot.
"Aku rindu hentakan tongkat mu, sudah lama kita tidak main bersama." Bujuk Dimas sambil tersenyum memamerkan giginya yang tersusun rapi.
Padahal ia mengatakan itu sedikit berbisik, namun tetap saja dapat didengar oleh kuping tajam para karyawannya, yang tentu saja salah menangkap perkataan ambigu tersebut.
"Baru minggu lalu kita main." Tukas Riko datar.
Seketika para karyawan langsung terkejut dan saling melemparkan tatapan penuh tanya, mereka tersenyum satu sama lain mengisyaratkan kalau memang ada hubungan antara Riko dan Dimas.
"Om Dimas..! Bisa nggak sih jangan bahas begituan disini..!" Batin Fani kesal saat melihat sekeliling mulai menyangka hal yang tidak-tidak.
Namun Dimas tidak tau kalau dirinya sedang menjadi perhatian, karena obrolannya dengan Riko yang di artikan lain oleh para karyawan, dan tentu saja besok nya mereka akan jadi gosip terpanasss sejagat kantor.
Melihat Dimas yang tak kunjung sadar kalau sedang jadi tontonan para karyawan, Fani pun berinisiatif untuk menengahi mereka.
"Boleh saya duduk disini pak? Soal nya disana terlalu silau." Ujar Fani sambil menarik kursi di belakangnya, lalu menaruh kursi itu di tengah Dimas dan Riko.
Kebetulan posisi Fani sebelumnya memang tepat di bawah lampu besar yang sangat silau, jadi itu merupakan alasan yang sempurna.
"Bagus lah.. setidaknya ada jarak antara aku dan ulat bulu besar itu." Ledek Riko pada Dimas, karena ia selalu menempel pada nya.
Dimas memandang kesal ke arah Riko, sambil melempar gumpalan tissu pada pria berwajah kaku itu. Tepat mengenai tubuh Riko.
Sementara Fani hanya memandangi Dimas dengan tatapan prihatin, ia benar-benar tidak tahu harus dengan cara apa menyadarkan om Dimas nya agar normal kembali.
Setelah 30 menit menunggu,makan malam mereka pun tiba. Fani memesan bebek sambal rawit yang sudah lama ia idam-idamkan, lalu ia menuangkan sambal sebanyak mungkin ke atas bebek panggangnya.
"hei.! sambalnya jangan banyak-banyak. Kamu kan nggak bisa makan pedas." Tegur Dimas, karena ia masih ingat betul kalau Fani tidak bisa makan makanan yang terlalu pedas.
"Kalau nggak pedas rasanya nggak enak pak.." Jawab Fani santai, mereka seperti nya tidak menyadari kalau para karyawan sedang memandang mereka dengan tatapan mencurigakan.
"Nanti perut kamu sakit..! " Dimas mengambil sambal dipiring Fani dan tidak menyisakannya.
"Kamu makan pakai ini saja." Ujar Dimas, ia memberikan saus barbeque yang seharusnya untuk spageti miliknya.
"Om Dimas..! Fani nggak mau." Rengeknya sambil berusaha mengambil sambal rawit itu kembali.
"Om...?" Seloroh para karyawan hampir serempak dan terkejut.
Fani dan Dimas langsung tersadar, dan mereka langsung saling mengalihkan pandangan masing-masing.
"Aduh maaf Pak, saya kelepasan manggil om, soalnya saya tadi inget om saya di rumah." ujar Fani gelagapan,ia merasa sangat panik saat itu. Namun ia berusaha tenang menutupi rasa gugupnya.
Dimas hanya memandanginya sambil tersenyum kecil, karena menurutnya Fani sangat menggemaskan saat sedang salah tingkah, di tambah dengan pipi mungil yang memerah, membuat Dimas sangat ingin mencubit pipi itu.
"Beneran. Saya inget oom di rumah, jadi langsung reflek manggil Pak Dimas om." Fani berusaha menjelaskan dengan wajah merah nya yang salah tingkah karena para karyawan di sana masih memandang kearahnya dengan wajah bingung.
"Kenapa kau menjelaskan nya? Kami bahkan tidak bertanya." Ucap Mila sambil tersenyum geli karena tingkah Fani.
Yang mereka semua herankan adalah kenapa Dimas tiba-tiba bisa akrab dan perhatian kepada karyawan wanita.
Di tambah gosip Fani dan Dimas di lift kemarin sudah menyebar luas, jadi mereka bertanya tanya, sebenarnya Presdir mereka H*mo? Atau benar ada hubungan antara Fani dan Dimas.
...*******...
terimakasih sebelum nya yang udah mau mampir ke sini💙
maaf ya bebquh semua.. kemarin otor nggak UP karena vertigo lagi kambuh, ngeliat hp jadi nya mumet banget ni ndas.. jadi nggak bisa ngetik lama lama. semoga kalian nggak pada kabur yaa😁☺️💙