NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:491.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifa Mukherjee

Ini adalah kisah seorang pria bernama Ahmad Ranvir Al Ghazali. Anak tunggal seorang Kepala Desa sekaligus tuan tanah ini di beri nama alias, sebut saja Paijo. Bukan tanpa alasan, melainkan sering sakit-sakitan saat usianya baru menginjak satu tahun. Mungkin tidak kuat di beri nama sebagus itu, jadi mau tidak mau orang tuanya memberikan nama kecil itu.

Saat usianya menginjak dua puluh lima tahun Ayahnya bersikeras menjodohkannya dengan seorang gadis cantik anak dari pemilik Toko Emas Terbesar di Kabupaten Kendal.

"Apa menikah? Dengan gadis itu? Aku bahkan sudah melihatnya sejak dia masih kecil dan ingusan. Dia sangat manja dan cerewet. Demi tanah Ayah luasnya dari ujung Barat ke Timur. Aku menolak perjodohan ini!"

😤😤😤😤

"Apa menikah? Dengan Paijo? Apa tidak ada pria lain yang lebih tampan dan punya nama keren daripada dia. Aku TIDAK MAU!!!

"Heh, aku memang tidak tampan, tapi aku Paijo adalah pria yang berkharismatik! CATAT!

Selanjutnya, kita simak perjalanan mereka. Akankah mereka berjodoh???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Mukherjee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11: INTERVAL

"Kamu jangan kegeeran! Aku kesini karena mereka yang maksa."

"Siapa yang GR? mereka ingin makan bakso ya benar kalau kamu ajak kesini. Ini 'kan warung bakso. Kecuali kamu ajak mereka ke rumah 'ku baru aku bisa GR."

"Hahaha... bener banget tuh mas Paijo." "Heumm... ini bakso kog bisa seenak ini!" Hayu terkekeh geli. Sedangkan Saras terlihat masam. Karena gengsi dia bahkan tidak ikut memesan bakso, hanya minta minum padahal perutnya juga lapar.

Rani ikut menimpali. "Saras kayak alergi ketemu mas Paijo. Sebenarnya kalian berdua punya hubungan apa sih?" Sekalian saja kepo, mumpung ada dua tokoh orangnya.

"Paijo itu tetangga 'ku. Memang kemarin aku belum bilang. Ga penting juga di perjelas!"

"Hm... waktu itu kamu hanya jawab 'dia seseorang yang ingin kamu hindari tapi berulang kali bertemu secara tidak sengaja'. Jangan-jangan kalian berjodoh! Betulkan Ran"

Rani mengangguk setuju.

Saras hampir tersedak es batu yang dia kunyah. Astaga mulut Hayu, jadi pengen nyumpel tuh mulut pakai bakso urat.

Paijo tersenyum tipis, "Semoga saja kami benar-benar berjodoh."

"Aghhhh... manisnya." Hayu dan Rani bersamaan memuji. Suara mereka heboh sendiri. Sedangkan Saras merasa tiba-tiba telinganya bermasalah.

Mana bagian manisnya? yang ada aku semakin muak sama Paijo.

"Jangan bercanda, aku sudah punya tunangan lain. Kita hanya pernah sebatas 'calon' tidak lebih."

"Itu karena aku tidak mau. Jika aku mau tentu saat ini kita sudah bertunangan."

"Hah! Paijo jangan mimpi. Kalau pun kamu mau, tentu saja aku yang akan menolak."

"Kamu mana bisa menolak? Dijodohkan dengan laki-laki pelit level akut saja kamu nurut."

"Agh... itu karena--"

"Siapa yang pelit?" Saras melotot, harga dirinya sedang di pertaruhkan di depan sahabatnya.

"Siapa? aku juga belum kenalan." cibir Paijo.

"Hus pergi sana!" Saras mengusir Paijo seperti mengusir seekor kucing. "Apa kamu tidak punya pekerjaan lain. Bukannya ini jam kerja 'mu. Kerja saja sana! Kamu pikir ini warung kakek kamu apa, seenaknya!"

Mereka berdua adu mulut sedangkan Rani dan Hayu seperti tak terganggu sama sekali. Mereka masih asyik menyelami rasa bakso malang yang super nampol.

"Memang punya kakek aku! Masalah? loss rak go rewel! "

Cak Sam tersenyum dan melambaikan tangan dari meja kasir saat Saras menengok padanya. Mencari kebenaran.

Sial, ternyata memang sepertinya ini warung kakeknya.

Saras benar-benar geram. Apalagi perutnya sekarang benar-benar lapar.

"Bang Bejo bungkus satu buat mbak ini. Dia lapar tapi jaim. Kasihan sekali!" Paijo bangkit dan akan beranjak pergi.

"Kalian berdua teman yang baik. Tolong jaga dia. Aku tahu dia sebenarnya cengeng dan manja. Tabiat sejak kecil mana bisa hilang."

"Haha... serahkan pada kami."

"Ahh... kamu benar-benar...! Saras belum selesai bicara sudah di potong dengan cepat oleh Paijo.

"Benar-benar baik. Aku sudah tahu."

"Mbah aku pulang dulu, mau mandi nanti malam aku jemput." Paijo berjalan keluar meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi.

"Apa tersenyum?!"

"Habiskan makan kalian cepat! Dasar teman durhaka. Sebenarnya yang teman kalian itu aku apa dia sih?"

"Tergantung siapa yang traktir bakso kita. Iya tidak Ran?"

"Yuhu... hahaha..."

Wajah Saras benar-benar sebal. Dia sendiri juga bingung kenapa selalu saja naik darah jika bertemu dengan Paijo. Mungkin masih terbawa perasaan saat masa kecil. Paijo yang sering mengatainya cengeng, hingga dia menangis dan pulang mengadu ke ibunya. Tapi terlepas dari itu Paijo juga yang sering membantunya saat bermain loncat tali. Tapi dia lebih sering mengejek daripada membantu. Mungkin karena itu.

Ponsel Saras bergetar. Pesan dari mister B nongol di saat yang tidak tepat.

[Lagi apa?]

Pertanyaan klasik.

[sudah makan belum?]

Sok perhatian, sekedar tanya saja. Kalau aku jawab juga mustahil dia mengirim makanan.

[Kog hanya di read?]

Bodoh aku! kalau sudah begini terpaksa aku balas.

[Ini lagi makan bareng temen-temen]

[Dimana?]

[warung bakso yang kemarin]

[mau di jemput?]

males banget!

[Ga usah, ini udah mau pulang kog]

[Beneran?]

Heleh

[iya]

[ya udah hati-hati 😘]

idihh emotnya bikin mual. Abaikan saja.

Saras hampir memasukan hpnya kedalam tas. Ternyata masih bergetar lagi, tanda masih ada pesan yang menyusul.

[Bales dong😁]

[Apa?]

[emoticon ciumnya, biar romantis]

Najis!

[Bukan muhrim🙏]

Menyebalkan! Seketika Saras menekan tombol off. Matikan data lebih aman.

"Ayok pulang!"

"Bayar dulu dong!"

"Ya udah buruan sana bayar." Saras mengalah mengambil uang dari dompetnya dan meminta Hayu untuk membayar.

Hayu berdiri dan berjalan menuju kasir. Sedetik kemudian dia kembali dan menenteng sebungkus bakso.

"Kog cepet?"

"Ga mau di bayar. Kata Cak Sam, udah masuk ke tagihan bulanan mas Paijo. Lumayan di bungkusin bakso lagi. Mas Paijo baik banget. Nih buat mantan calon tunangannya! Hehe..."

"Yah... kalau gini kita jadi ga enak dong. Mana Saras tadi galak bener. Baik-baik deh kamu Ras sama mas Paijo"

"Idih aku ga minta. Bilang terimakasih sana kalian yang makan."

"Ya udah ayok pulang. Sekalian terimakasih lagi sama Cak Sam." Ajak Rani semangat setelah perut kenyang dan kantong aman karena dapat gretongan lagi.

"Aku udah ga mau makan disini. Apalagi kalau harus bertemu dengan Paijo. Males!"

"Semoga hari ini yang terakhir kalinya"

...INTERVAL...

Siapa sangka ucapan Saras menjadi kenyataan.

Setelah hari itu, Saras sama sekali tidak pernah bertemu dengan Paijo lagi. Walaupun ucapannya untuk tidak datang ke warung bakso Cak Sam lagi tidak terbukti sama sekali.

Pasalnya Bambang tiap mengajak keluar hanya untuk makan bakso dan jalan-jalan di taman. Saras tidak pernah bisa menolak. Hampir setahun ini dia menjalin hubungan dengan Bambang. Dia merasa heran juga karena Paijo bak di telan bumi. Mungkin dia sudah kembali ke habitat aslinya, maksudnya sudah pulang kampung. Pikir Saras. Dia juga tidak ingin menanyakan itu pada Cak Sam. Mana etis, dia sering datang makan bersama laki-laki lain, masa iya menanyakan Paijo. Lagi pula kenapa harus tanya, TIDAK PENTING!

Baiklah tidak masalah, jika tidak mengajak makan di restoran mahal yang menyajikan steak and shake. Setidaknya, Bambang masih pantas di bawa kemana-mana, ke acara kondangan ataupun undangan pesta hura-hura teman kampus. Toh sesekali dia juga pernah memberikan tas branded dan jam tangan mahal. Entah dengan membelikan itu, bisa jadi dia menyesal seumur hidup. Saras tidak peduli.

Yang jelas, uang kiriman dari Bapaknya masih lancar jaya. Dia juga bisa memanfaatkan Bambang untuk antar jemput dengan mobilnya. Tidak perlu merasakan kehujanan atau kepanasan. Asal Bambang sopan, karena kalau berani macam-macam atau enggak-enggak. Saras jamin akan mematahkan lehernya dengan tangannya sendiri. Walaupun Saras juga belum tahu bagaimana caranya. Dia sama sekali tidak jago bela diri. Dia hanya tahu caranya memanjakan diri.

Apa mereka resmi bertunangan?

Tidak! Saras pintar berkilah. Setahun ini dia bahkan tidak pulang ke rumah. Untuk apalagi kalau bukan untuk menghindari abah..

"Harus berapa kali Saras jawab Abah?"

"Saras sibuk belum bisa pulang. Hubungan Saras sama mas Bambang juga baik. Abah tidak perlu khawatir."

"Setidaknya kamu pulang! Kamu bisa tunangan dulu sama dia!"

"Tidak perlu Abah. Nunggu setahun lagi oke? Beres kuliah Saras di suruh nikah langsung juga mau."

"Janji?"

Iya janji, tapi ga janji nikahnya sama mas Bambang.

"Iya janji"

"Udah ya Abah. Saras lagi di jalan ini nunggu angkot."

"Motor kamu memang kemana?"

"Biasa lagi ngambek, nginep di bengkel." Asem aku keceplosan lagi.

"Abah udah bilang berapa kali, servis motor sebulan sekali! Paling tidak cek oli! Kamu kebiasaan asal motor jalan. Kalau belum turun mesin belum kamu bawa ke bengkel! Yang ada biaya perbaikan bakal habis banyak. Nanti Abah lagi yang bayar."

Ingin rasanya berteriak, Abah ban bocor atau gembes saja aku tidak bisa membedakan. Mana aku tahu kalau motor rusak. Ya kalau masih bisa jalan artinya dia sehat-sehat saja. Masih bisa di pakaikan?

"Hallo! Kamu masih denger Abah tidak? Hallo!"

"Hallo...hallo...holla... Abah bicara APA? aku tidak dengar!" Saras menjauhkan hpnya, dia hanya pura-pura tidak dengar. Padahal telinganya belum tuli. Saras langsung menutup telpon sepihak. Terbayang wajah abah di toko, pasti beliau uring-uringan. Jika sedang seperti itu, jangan harap mendapatkan potongan harga saat membeli perhiasan di toko emas Bagong. Apalagi berharap dapat kalender gratis, jangan harap. Mentok di kasih dompet koin dengan sablonan nama toko emas Bagong. Saras terkekeh geli sendiri.

Angkot kuning menepi saat Saras melambaikan tangan hendak naik. Dia memutuskan naik angkot setelah dari minimarket, toh jarak minimarket ke kos tidak begitu jauh. Cuma bayar tiga ribu rupiah, dia tidak perlu capek jalan kaki.

Saras tidak fokus sepenuhnya saat berjalan mendekati angkot, tiba-tiba...

Bimmmmmmmm.......!!!

Saras hampir saja terserempet sepeda motor.

"Agggghhhhh.....!!!!"

Tubuh Saras limbung, dia merasa di tarik dari belakang dengan kuat.

Gubrakkkkkk....!

Sekuat tenaga laki-laki itu menahan keseimbangan namun tak bisa. Mereka berdua terjatuh terlentang di atas aspal jalan yang panas. Saras masih untung, tubuhnya berada di atas tubuh seorang laki-laki yang menolongnya.

"Auchhh... selalu saja merepotkan. Apa kamu tidak bisa menjaga diri dengan baik, hah?"

Saras melongo...

.

.

.

.

.

like dan komen jangan kelewat 😁

1
zeus
Laah.. Kok sdh tamat
zeus
Emg riilnya gitu sich.. Susah klo watek(Bukannya g Bisa)
Kenyataanya di sekitar kita emg gitu, org klo sdh bebal y susah berubah...
zeus
Kok bagong ya sirik...
Punya camry nyinyir punya motor butut Dia ribut...
Syaitonirrojim emg..
zeus
Paijo anak kandung serasa anak tiri.. 😂😂😂😂
zeus
Paijo kaget g tuch kira2?
zeus
😂😂😂
Lambene kubro Jan Joss tenan
zeus
Msh g sadar2 juga si bagong
Emg klo mati hartanya ngaruh?
zeus
Lbh suka bagong g sadar2 spe akhir hayatnya..
zeus
😂😅
zeus
So tutik(untune metu sitik) ini emg bener2 yah jd orang
zeus
Ceritanya lumayan bagus tp spt yg sdh2 di NT itu kdg yg bagus sedikit pemirsanya yg ecek2 dan murahan mlh bnyk peminatnya,...
Aneh memang...
Jd g heran bnyk author berkelas yg mandek g nglanjutin karyanya
zeus
G usah peduli Kan tetangga kamar jo
Aduk terus
zeus
G usah nunggu restu bagong Kan Dia sendiri yg bilang ga ngakui anak
Minta ja restu Umi nya saras
zeus
Kita santet online so bagong
zeus
Etdah.. Udh di kasih mlh ngatai ireng tur Ora bagus..
zeus
PHK itu udh kyk kumpul an emak2 arisan saja..
zeus
Jos jo
Orang Tua model an bagong emang mesti di gitu in..
zeus
Orang Tua model bagong ini msh bnyk hidup di Jmn ini...
zeus
Bambang...
zeus
😂
Saras ini meski di gitu in tetep ja kocaknya keluar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!