Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Untuk Ryu
Satu tetes darah dapat menjadi nyawa bagi mereka yang membutuhkannya.
...*****...
"Ayo, kita lihat kondisi Ryu saat ini!" ujar Dini pada Riri. Dini berbalik badan dan mulai melangkah perlahan. Sedangkan, Riri ia masih terdiam karena ucapan seorang ibu yang baru mengenalnya itu.
Namun, ia sangat yakin bahwa dirinya adalah perempuan yang baik. Hal itulah yang membuatnya sadar bahwa, Dini adalah seorang ibu yang berhati mulia.
"Ibu ...!!!" teriaknya Riri dengan rasa haru.
"Tunggu aku, Bu!" pintanya pada Dini, mendadak Dini berhenti ketika ia di panggil oleh Riri dengan sebutan ibu.
Riri perlahan melangkah mendekatinya dan berkata, "Bolehkah aku memelukmu sekali ... saja?!" pintanya dengan linangan air mata.
Dini yang melihat hal itu merasa terharu dan tersentuh. Ia langsung memeluk Riri bagaikan putri kandungnya sendiri. Ia seolah menemukan putrinya yang telah lama menghilang.
Mereka saling berpelukan dan mengusap air mata satu sama lain.
"Ibu, seharusnya Ibu tidak menangis seperti ini!" titahnya pada Dini.
"Iya, kamu benar, Nak. Saat ini Ryu sangat membutuhkan doa kita, kita juga harus kuat demi dia." kata Dini membenar 'kan perkataan Riri.
"Ya, Bu. Bukankah, dia tengah berjuang saat ini? Kita juga harus berjuang bersamanya, Bu. Semoga saja doa-doa kita di kabulkan oleh Allah." ucap Riri.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang operasi. Ketika hampir sampai, mereka melihat ada seorang perawat yang keluar.
Mereka segera menghampiri perawat itu. Dini bertanya pada perawat itu mengenai apa yang terjadi dalam ruang operasi tersebut.
Setelah perawat itu menceritakan segalanya, seketika itu juga wajah Dini berubah drastis.
"Ibu, katakan padaku apa yang dikatakan perawat itu, Bu?!" Riri berusaha untuk mencari tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya di dalam ruangan operasi.
"Nak, dia bilang saat ini Ryu membutuhkan donor darah yang sangat banyak. Ryu kehilangan banyak darah, Nak ...," belum lagi Dini selesai dengan kalimatnya Riri kembali bertanya.
"Tapi mengapa Ryu membutuhkan donor darah, Bu? Bukankah di rumah sakit biasanya memiliki stok darah? Apa tidak ada golongan darah yang sesuai untuk Ryu?" tanyanya bertubi-tubi tanpa jedah dan henti.
"Itulah masalahnya, Nak. Ibu lupa kalau golongan darah Ryu itu langka."
"Memangnya, apa golongan darahnya, Bu? Katakan padaku mungkin saja golongan darah kami sama!" pintanya pada Dini dengan harap-harap cemas.
"Golongan darah Ryu, A Rhesus negative," kata Dini lagi.
"A Rhesus negative, Bu?" kata Riri mengulangi ucapan Dini. Lalu Riri kembali bicara setelah ia mengingat bahwa dirinya juga memiliki golongan darah itu.
"Ibu tenang, ya. Ryu akan baik-baik saja. Aku janji pada Ibu!" katanya dengan tegas dan penuh keyakinan. Lalu, dia meminta Dini untuk mengantarnya ke ruang donor darah.
"Antar aku ke ruang donor darah. Ayo, Bu. Kita harus cepat!" desaknya pada Dini yang masih linglung.
Mereka bergegas ke ruang donor darah, agar dapat dengan segera menyelamatkan Ryu. Setelah selesai mendonorkan darahnya, Riri baru bisa sedikit tenang.
Berbeda dari sebelumnya, perasaannya begitu kacau dan hancur. Dia pun menghembuskan nafas.
"Hahhh ... akhirnya, selesai juga." Tiba-tiba, Dini datang dan membawakan susu serta makanan rumah sakit.
"Minum dan makanlah ini!" titahnya pada Riri dengan nada lembut. Lalu dia menyodorkan minuman dan makanan itu ke hadapan Riri.
Riri menerimanya dengan tersenyum.
"Oh, terima kasih, Bu. Nanti saja aku makan, sekarang aku ingin tahu tentang kondisi Ryu saat ini, Bu. Apa dia sudah membaik, Bu? Apa dia sudah sadar?" tanyanya pada Dini tanpa jedah dan henti. Dia bahkan tak memberi kesempatan untuk Dini menjawabnya.
"Aku ingin melihatnya, Bu. Antar 'kan aku padanya! Kenapa, Ibu diam saja?!" ucapnya dengan gelisah.
Akhirnya, Dini mendapat kesempatan untuk bicara setelah Riri berhenti bertanya padanya.
"Riri ... tenanglah, Nak!" titahnya pada Riri.
"Saat ini, ayahnya sedang berusaha menyelamatkannya. Kita tunggu saja, ya?!" katanya lagi.
Kini, Riri benar-benar tak bersuara sedikit pun.
"kamu, 'kan butuh istirahat sekarang. Ibu tidak mau kamu jadi sakit juga nanti. Ayo, kita berbaring saja, ya?!" ajaknya pada Riri.
Begitu lembutnya Dini memperlakukan Riri. Dengan penuh kasih sayang dan cinta tulus dari seorang ibu dia merawatnya.
"Ibu akan berada disini untuk menemanimu. Sekarang tidurlah!" pintanya sambil membaringkan Riri kembali.
***
Operasi berjalan dengan lancar dan keadaan Ryu mulai membaik. Semua itu karena itu berkat donor darah Riri yang di berikan tepat waktu. Serta satu orang wanita lagi yang belum di ketahui identitasnya.
Namun, Auto tetap mencari tahu siapa wanita yang telah ikut serta dalam menyelamatkan nyawa anaknya. Ia ingin mengucapkan terima kasih kepada wanita itu.
"Zenryona Isha ni kansha shimasu, Subute ga umaku ikima shita. Ima kare no jotai wa antri shite imasu." ucap si Perawat tersebut.
(Syukurlah Dokter, semuanya berjalan lancar. Kini keadaannya sudah stabil).
"Hai, anata ga tadashi shimai. Watashiniha takusan arimasu- kami ni kansha suru koto ga takusan arimasu. Kare wa mada watashi no musuko to motto nagaku issho ni iru kikai o watashi ni ataete kuremashita." tutur Aito pada si Perawat itu.
(Ya, Suster kau benar. Aku harus banyak-banyak bersyukur pada Tuhan. Dia masih memberiku kesempatan untuk bersama anakku lebih lama lagi).
"Wakatta, Doku. Soredewa shitsureishimasu." pamit Suster Perawat itu pada Aito.
(Baiklah, Dokter. Kalau begitu saya permisi dulu).
"Hai, dozo. Watashi wa mada koko ni itaidesu." katanya pada Suster Perawat itu.
(Ya, pergilah. Saya masih ingin di sini).
Tak lama kemudian, istrinya dan Riri pun datang untuk melihat Ryu.
"Suamiku, kata perawat yang datang padaku. Ryu sudah stabil, apakah itu benar?" tanyanya pada suaminya yang tengah memandangi putra mereka.
Saat ini, Ryu terlihat sangat pucat seperti mayat. Dia hanya menjawab dengan singkat.
"Ya," ucapnya sambil memandang sinis ke arah Riri.
Lalu ia pergi meninggalkan istrinya yang kelihatannya masih ingin bertanya kepadanya. Melihat hal itu, Dini merasa heran.
"Apa yang terjadi dengannya? Mengapa ia bersikap seperti itu? Padahal aku masih ingin bertanya padanya. Lalu, kenapa ia pergi begitu saja?" batinnya terus bertanya-tanya yang tak pernah ada jawabnya.
Tiba-tiba saja, Riri memegang pundaknya. Ia pun tersadar dari lamunannya.
"Bu, aku tunggu di luar, ya? Tidak baik, jika terlalu banyak orang. Itu akan mengganggu untuk pemulihan Ryu," ucapnya dengan nada pelan. Agar tidak mengganggu Ryu.
"Ya, baiklah. Kamu tunggu sebentar lagi, ya. Nanti, Ibu menyusul."
Riri pun keluar dan meninggalkan Ryu dengan ibunya.
Dini mendekatkan mulutnya ke dekat telinga Ryu.
"Nak, cepatlah pulih seperti sedia kala. Ibu sangat-sangat ... menyayangimu! Ibu, ingin melihat kamu tersenyum lagi, tertawa bersama Ibu dan kita saling tukar cerita tentang banyak hal. Ibu, Ibu ingin mendengar suaramu. Bangunlah, Sayang. Bangun ...!" pintanya dengan lirih dan sedikit memaksa agar, Ryu segera sadar.
"Sayang, sekarang Ibu pergi dulu, ya. Kasihan Riri, dia sendirian dan dia sangat merasa bersalah padamu. Dia pikir, dialah penyebab semua ini terjadi dan di tambah lagi. Sepertinya, Ayahmu makin tidak menyukainya. Maka dari itu cepatlah pulih dan sadar kembali, Nak!" pintanya lalu dia mencium kening Ryu dengan penuh kasih sayang.
Kemudian, dia segera ke luar untuk menemui Riri yang menunggunya di luar. Ketika, Riri melihat Dini keluar dari ruang kamar Ryu, Riri pun tak sabar untuk langsung menanyai tentang keadaan Ryu.
"Bagaimana, Bu? Apa Ryu sudah sadar?" tanya Riri tak sabaran.
"Belum, dia belum sadar, Nak. Ibu keluar karena Ibu pikir saat ini kamu juga membutuhkan Ibu. Itulah sebabnya Ibu tidak mau kamu sendirian disini. Bagaimana perasaanmu saat ini, Nak? Ceritakan lah pada Ibu, jangan sungkan! Ibu akan mendengarkan mu," pintanya dengan tulus.
"Ibu, jujur aku sangat merasa bersalah pada Ryu dan juga pada Paman serta Ibu. Sepertinya, Paman semakin tak menyukai keberadaan ku disini, Bu. Saat ini aku semakin merindukan ibuku," ucapnya dengan penuh kesedihan.
Melihat Riri seperti itu, Dini berinisiatif agar Riri menelpon ibunya.
"Kenapa kamu tidak coba menelponnya saja?! Siapa tahu beban di hatimu bisa lebih ringan."
"Ibu benar. Aku terlalu kacau jadi tidak bisa terpikirkan hal itu. Terima kasih atas sarannya, Bu." ucapnya seraya memegang tangan Dini untuk mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama. Ingat! Ada Ibu yang selalu ada di samping mu. Kamu tidak sendirian di sini."
"Ya, Bu. Kalau gitu, aku akan menelpon ibuku dulu."
Dia pun mencari tempat yang tepat untuk menelpon. Sedangkan, Dini masih berjaga di depan ruang rawat Ryu.
***
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya