NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengkhawatirkan Adira

Entah kenapa, malam ini Areksa merasa gelisah.

Sudah cukup lama Adira pergi, tetapi wanita itu belum juga kembali.

Areksa beberapa kali melirik jam di ponselnya.

Kenapa lama sekali?

Ia mencoba mengabaikannya, tetapi pikirannya justru semakin tertuju kepada Adira.

"Kenapa aku jadi kepikiran sama dia?"

Areksa mengusap wajahnya kasar. "Harusnya aku gak perlu khawatir."

Namun beberapa detik kemudian, ia sudah meraih kunci mobilnya.

Ia tidak mau mengakui bahwa dirinya memang mengkhawatirkan Adira.

Areksa segera keluar dari rumah dan menyusul ke arah jalan utama.

Tidak lama kemudian, dari kejauhan ia melihat seorang wanita berdiri di pinggir jalan bersama tiga orang pria.

Langkah Areksa terhenti. Matanya langsung mengenali sosok tersebut.

"Adira..."

Ia melihat salah satu pria mengulurkan tangannya ke arah wajah Adira.

Tanpa berpikir panjang, Areksa menginjak pedal gas dan menghentikan mobilnya di dekat mereka.

Ia turun dan langsung berlari.

BUGH!

Sebuah tendangan keras melayang tepat mengenai tubuh pria tersebut sebelum tangannya sempat menyentuh wajah Adira.

Pria itu tersungkur.

Adira terkejut dan langsung menoleh. "Tuan?"

Matanya melebar saat melihat Areksa berdiri di hadapannya.

Areksa segera menatapnya dari atas ke bawah. "Kamu gak apa-apa, Adira?"

Adira menggeleng cepat. "Gak apa-apa, Tuan."

Areksa menghela napas lega.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, salah satu pria tersebut bangkit sambil memegangi tubuhnya.

"Sialan lo! Malah ganggu mangsa kita!"

Areksa menatap mereka tajam. "Pergi kalian!"

Salah satu dari mereka justru tertawa mengejek. "Emangnya kami takut sama lo?"

Ia maju selangkah. "Lawan dulu kita."

Areksa melepaskan jaketnya dan menyerahkannya kepada Adira. "Tolong pegang ini."

Adira menerimanya dengan tangan gemetar.

Areksa kemudian menatap ketiga pria tersebut. "Dengan senang hati."

Ketiganya langsung menyerang.

Areksa menghindari pukulan pertama, lalu membalas dengan satu pukulan telak. Salah satu pria lainnya mencoba menyerang dari samping, tetapi Areksa berhasil menghindar dan membuatnya kehilangan keseimbangan.

Perkelahian berlangsung cukup sengit.

Adira hanya bisa berdiri beberapa langkah dari mereka sambil menggenggam erat jaket Areksa.

Beberapa menit kemudian, ketiga pria itu mulai kewalahan.

Salah satu dari mereka menarik temannya. "Udah! Cabut!"

Mereka akhirnya berlari meninggalkan tempat itu.

Areksa tidak mengejar. Ia hanya memastikan ketiganya benar-benar pergi sebelum kembali menghampiri Adira.

"Adira."

Adira langsung menatapnya.

Areksa menghela napas. "Kamu yakin gak terluka?"

Adira mengangguk pelan. "Iya, Tuan. Saya gak terluka."

Areksa masih memperhatikannya. Tatapannya kemudian turun ke tangan Adira yang menggenggam tas belanjaan.

"Kalau begitu, ayo."

Adira mengerutkan kening. "Ke mana, Tuan?"

"Masuk mobil. Kita pulang."

"Tapi saya bisa jalan kaki."

Areksa langsung menatapnya. "Adira, ini sudah malam."

"Saya sudah sering berjalan kaki dari sini ke rumah."

"Dan tadi kamu hampir diganggu tiga orang."

Adira terdiam.

Areksa menghela napas. "Saya gak akan membiarkan kamu berjalan sendirian lagi malam-malam seperti ini."

Adira akhirnya mengangguk. "Iya, Tuan."

Areksa mengambil tas belanjaan dari tangannya. "Biar saya bawa."

"Tidak usah, Tuan. Saya bisa—"

"Sudah."

Areksa berjalan lebih dulu menuju mobil. Adira hanya bisa mengikutinya.

Sesampainya di mobil, Areksa membukakan pintu penumpang untuk Adira.

"Masuk."

"Terima kasih, Tuan."

Adira masuk dan duduk di kursi penumpang. Areksa kemudian berjalan ke sisi pengemudi, masuk, lalu menyalakan mesin.

Mobil pun mulai bergerak meninggalkan kawasan tersebut.

Beberapa saat mereka hanya diam. Adira memandang keluar jendela, sementara Areksa fokus mengemudi.

Namun kemudian Adira teringat sesuatu. "Non Aretha sama siapa, Tuan?"

Areksa sedikit tersentak. Ia baru menyadari bahwa tadi dirinya pergi begitu saja tanpa benar-benar memikirkan siapa yang menjaga putrinya.

"Saya... nitip ke Bibi tadi."

Sebuah kebohongan kecil terpaksa keluar dari mulutnya.

Padahal sebenarnya, ketika melihat Adira diganggu ketiga pria tadi, ia terlalu panik sampai melupakan Aretha.

Areksa menghela napas pelan. Entah kenapa ia bisa sampai seperti itu.

Sejak kapan dirinya begitu khawatir pada seorang wanita yang baru beberapa bulan tinggal di rumahnya?

Ia melirik Adira sekilas. Wanita itu masih menatap ke luar jendela, sama sekali tidak mengetahui kegelisahan yang sedang memenuhi pikiran Areksa.

Kenapa aku harus mengkhawatirkan dia?

Areksa kembali mengalihkan pandangan ke jalan.

Adira hanyalah babysitter Aretha. Hanya seseorang yang dipercayakan Aruna untuk merawat putrinya.

Ah... mungkin karena dia adalah perempuan yang dipercaya Aruna.

Areksa mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Itu saja.

Namun semakin ia mencoba mencari alasan, semakin sulit pula ia mengabaikan satu hal.

Tadi, ketika melihat tangan pria itu hampir menyentuh wajah Adira, ia sama sekali tidak berpikir panjang.

Yang ada di kepalanya hanya satu. Jangan sampai Adira terluka.

Areksa menggenggam kemudi sedikit lebih erat.

Ia sendiri tidak mengerti mengapa perasaannya terhadap Adira mulai terasa begitu berbeda.

***

Sesampainya di rumah, Areksa langsung menuju kamar putrinya.

Ia membuka pintu perlahan dan mengintip ke dalam.

Aretha masih terlelap di dalam boksnya.

Areksa menghela napas lega. "Alhamdulillah..."

Ia mendekati boks dan memastikan putrinya benar-benar nyaman sebelum akhirnya kembali keluar.

Sementara itu, Adira sudah berada di kamarnya.

Ia mengeluarkan barang-barang yang baru dibelinya dan merapikannya satu per satu. Setelah semuanya selesai, Adira berniat untuk segera tidur.

Namun baru saja ia hendak berbaring, perutnya berbunyi.

Adira memegangi perutnya. "Astaga... lapar."

Wajar saja. Ia masih menyusui Aretha yang semakin hari semakin kuat menyusu. Ditambah lagi malam ini ia harus berjalan cukup jauh menuju minimarket.

Adira kemudian teringat sesuatu. "Untung tadi aku beli mi instan. Bikin dulu deh."

Ia pun keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.

Suasana rumah Dirgantara sudah sangat sunyi. Para pekerja yang tinggal di rumah itu sudah beristirahat. Hanya lampu-lampu kecil di beberapa sudut rumah yang masih menyala.

Adira menyalakan lampu dapur, kemudian mulai memasak mi instan.

Sementara itu, di dalam kamarnya, Areksa juga belum tidur.

Ia masih memikirkan kejadian malam tadi. Lebih tepatnya, ia masih memikirkan dirinya sendiri.

Kenapa aku sampai segitunya khawatir sama Adira?

Areksa menghela napas.

Semakin dipikirkan, semakin ia tidak menemukan jawabannya.

Perutnya tiba-tiba terasa lapar. "Aku makan saja deh."

Areksa keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.

Namun baru beberapa langkah, ia melihat seseorang sedang berdiri di depan kompor.

Adira.

Wanita itu tampak begitu fokus dengan masakannya sampai tidak menyadari keberadaan Areksa.

"Adira, kamu ngapain?"

Adira terkejut. "Ah!"

Tangannya refleks bergerak dan tanpa sengaja menyentuh bagian panci yang panas.

"Aw!"

Areksa langsung menghampirinya. "Adira!"

Ia segera meraih tangan Adira. "Maaf, saya ngagetin kamu ya?"

"Gapapa, Tuan."

Areksa membawa tangan Adira ke wastafel dan mengalirkan air dingin ke jari-jarinya yang terkena panas.

"Diam dulu. Biar kena air."

Adira hanya menurut.

Namun ketika merasakan tangan Areksa yang masih menggenggam tangannya, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.

Deg!

Adira menatap tangan mereka. Kemudian perlahan ia menatap wajah Areksa.

Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa aneh.

Jangan. Ia segera menepis perasaan itu.

Jangan sampai aku punya perasaan seperti ini kepada Tuan Areksa.

Bagaimanapun juga, Areksa adalah suami Aruna.

Aruna adalah sahabatnya. Dan dirinya hanya seorang babysitter yang bekerja untuk merawat Aretha. Tidak lebih.

"M-makasih, Tuan."

Adira mencoba menarik tangannya. Namun entah mengapa, Areksa masih menahannya beberapa detik.

Tatapan mereka bertemu. Keduanya terdiam.

Tidak ada satu pun yang berbicara. Hanya suara air yang terus mengalir dari keran.

Adira akhirnya menjadi orang pertama yang mengalihkan pandangan. "Maaf, Tuan."

Areksa tersadar dan perlahan melepaskan tangannya. "Kamu sedang lapar?"

Adira mengangguk kecil. "Iya."

Areksa melirik ke arah panci di atas kompor. "Bisa buatkan saya juga?"

Adira sedikit terkejut, lalu mengangguk. "Oh... iya. Saya buatkan."

Areksa menarik kursi dan duduk di meja makan.

Sementara Adira kembali menghadap kompor.

Namun kali ini, keduanya sama-sama diam.

Dan masing-masing berusaha mengabaikan debar jantung yang tadi sempat muncul.

Beberapa saat makanannya pun sudah jadi. Begitu mereka hendak makan, suara tangis Aretha tiba-tiba terdengar dari lantai atas, memecah keheningan malam.

Adira langsung menghentikan gerakannya. “Biar saya yang bawa Aretha ke sini.”

Areksa sudah lebih dulu berdiri dari kursinya. “Saya saja.”

Tanpa menunggu jawaban, Areksa bergegas menaiki tangga menuju kamar putrinya. Tak lama kemudian, ia kembali sambil menggendong Aretha yang masih menangis kecil.

Begitu sampai di dapur, Adira segera berdiri. “Biar sama saya, Tuan. Tuan makan saja dulu.”

Areksa mengangguk. “Ah, iya.”

Ia menyerahkan Aretha kepada Adira.

Begitu berada dalam gendongan Adira, tangisan Aretha perlahan mereda. Adira kemudian membawa bayi itu sedikit menjauh dan mulai menyusuinya dengan posisi membelakangi Areksa agar tetap menjaga kesopanan.

“Maaf, Tuan. Saya menyusui Non Aretha dulu, jadi membelakangi Tuan.”

“Enggak apa-apa.”

Areksa kembali duduk di kursinya. Ia mulai menyantap mi yang tadi dibuat Adira. Karena sudah cukup lapar, ia makan lebih cepat dari biasanya.

Sementara itu, Adira tetap fokus pada Aretha yang menyusu dengan lahap.

Beberapa menit kemudian, Areksa meletakkan garpunya.

“Sudah selesai?”

Adira menoleh sedikit. “Mungkin sebentar lagi. Dia sangat lapar rupanya.”

Areksa hanya mengangguk.

Matanya sesekali melirik ke arah putrinya. Anehnya, pemandangan sederhana itu membuat suasana dapur terasa berbeda.

Seorang perempuan yang baru beberapa waktu lalu hadir dalam hidupnya kini duduk sambil menggendong dan menyusui putrinya seolah sudah begitu terbiasa.

Areksa segera mengalihkan pandangan.

Kenapa aku malah terus memperhatikan mereka?

Beberapa menit kemudian, Aretha akhirnya berhenti menyusu. Bayi kecil itu terlihat sangat puas dan matanya mulai terpejam.

Adira tersenyum kecil. “Sudah kenyang, Non?”

Aretha tidak menjawab. Ia sudah kembali terlelap dalam pelukan Adira.

Adira kemudian menepuk-nepuk punggungnya perlahan.

Areksa yang melihat itu tiba-tiba teringat sesuatu. “Kamu belum makan, kan?”

Adira menggeleng. “Belum, Tuan.”

Areksa terdiam sesaat. Ia memperhatikan mangkuk mi di depan Adira yang bahkan belum disentuh sama sekali.

Kemudian ia berdiri.

Adira mengangkat wajah. “Tuan?”

Areksa berjalan mendekat, lalu menarik kursi di samping Adira.

“Biar saya suapin kamu.”

“Hah?!”

Adira langsung membelalakkan mata.

Areksa menunjuk mangkuk mi di depannya. “Kamu lapar, kan?”

“Tapi...”

“Kamu sudah menyusui Aretha. Pasti lapar.”

Adira semakin salah tingkah. “Enggak perlu, Tuan. Saya bisa makan sendiri.”

“Kalau begitu, tangan kamu yang pegang Aretha. Saya yang suapin.”

Adira terdiam.

Ia melihat Aretha yang sedang tertidur pulas di dadanya, lalu menatap Areksa yang kini sudah mengambil garpu.

“Tuan...”

“Kenapa?”

“Ini agak... aneh.”

Areksa mengernyit. “Yang aneh apa?”

“Ya... Tuan menyuapi saya.”

Areksa justru terlihat santai. “Anggap saja saya sedang berterima kasih karena kamu sudah mengurus Aretha sampai lupa makan.”

Adira tidak langsung menjawab. Jantungnya kembali berdetak sedikit lebih cepat.

Kenapa Tuan Areksa perhatian sekali?

Ia menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan rona tipis di pipinya.

“Kalau begitu... sedikit saja.”

Areksa tersenyum tipis. “Baik.”

Ia mengambil sedikit mi dengan garpu, meniupnya agar tidak terlalu panas, lalu mengarahkannya ke depan Adira.

Adira menatap garpu itu beberapa detik sebelum akhirnya membuka mulut.

Saat ia menerima suapan tersebut, pandangan mereka tanpa sengaja bertemu.

Keduanya terdiam.

Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain napas kecil Aretha yang tertidur di antara mereka.

Dan entah kenapa, malam itu terasa semakin sulit bagi keduanya untuk berpura-pura bahwa tidak ada sesuatu yang perlahan berubah di antara mereka.

1
Syti Sarah
waaah,cri Msalah mmang ya kamu reksa
sunaryati jarum
Sedikit demi sedikit little girl nya dekat,pasti nanti sangat bahagia
sunaryati jarum
Mama mertua the best tahu cara membantu putranya untuk dekat dengan istrinya /Good//Heart//Heart/
sunaryati jarum
Memang dia punya magnet untuk menarik kamu Nak Arka
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
sunaryati jarum
Jalani saja Adira.Mungkin Areksa pernah bertemu Adira,atau cinta pertama saat kecil,jadi sekarang rasanya sangat familiar
sunaryati jarum
Ayah yang bijaksana sana,kirain. terjebak Felicia ternyata dengan Adira,itu kemauan Aruna,Niki Reksa harus menikah ya dengan Adira
Syti Sarah
kyak nya udh bucin tuh areksa sama Adira 🤭🤭
Syti Sarah: tinggal mnunggu Adira mnerima nya aja lgi kak 🤭
total 2 replies
NN
lanjut
Syti Sarah
smoga suatu hari nanti mreka bisa mnjdi sbuah kluarg yg bnar2 bhgia dan bisa mnrima stu sama lain 😊
kembangperawan
kapan terungakp siapa gadis kecik areksa?
Syti Sarah
areksa juga mnyukai Adira
just a grandma
blang aja kmu mencintai adira kan Reksa🥲
Syti Sarah
apakah nanti Adira akan mambenci areksa ya 🤔
Syti Sarah: psti nya itu Thor .bikin areksa pusing 7 kliling dulu Thor demi untuk mndpatkn Adira 🤣🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!