Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Tiba-tiba,
suara tawa Gino meledak begitu saja, memecah ketegangan kecil di antara mereka. Cowok itu sampai harus memegangi perutnya karena tidak kuat melihat ekspresi Aurel yang sangat kekanakan.
"Aduh, Rel, Rel! Udah kuliah masih aja mainnya ngadu ke sekeluarga besar," ledek Gino di sela-sela tawanya. "Papa, Mama, Daddy, Mommy... sekalian aja panggil kakek nenek buyut lo biar Bang Edward disidang tujuh hari tujuh malam!"
"Gino, diam ya! Gak usah ikut campur!" semprot Aurel dengan wajah yang semakin memerah, kali ini karena malu diledek oleh Gino.
Shirin yang sejak tadi hanya menyimak, kini menyenggol lengan Gino dengan sikunya untuk menyuruh cowok itu diam. Ia lalu menatap Bang Edward dan Kak Anita bergantian, mencoba mencerna situasi baru ini. Jadi, mereka berempat ternyata akan belajar bersama, hanya saja tempatnya dipindahkan ke rumah keluarga Bang Edward.
"Bentar, Bang," sela Shirin, menatap Bang Edward dengan ragu. "Kalau tugasnya dikerjain di rumah Abang... berarti nanti sore saya sama Gino juga harus ke sana?"
"Iya, dong, Shirin," Kak Anita yang menjawab sambil tersenyum ramah. "Kebetulan materi tugas besar kalian kan mirip, cuma beda studi kasus aja. Jadi biar sekalian Abang sama Kakak mentorinnya di satu tempat. Lagipula, di rumah mereka kan camilannya banyak, jadi kalian gak bakal kelaparan pas pusing mikir data."
Gino langsung menjentikkan jarinya dengan semangat. "Wah, kalau ada makanan gratis sih gue gak bakal nolak, Kak! Ya kan, Partner?" Gino menyenggol bahu Shirin sambil menaik-turunkan alisnya nakal.
Shirin hanya bisa menghela napas pasrah. Rencana awalnya untuk mendekam di perpustakaan kampus yang tenang kini resmi hancur lebur. Alih-alih di perpustakaan, ia justru harus menghabiskan sore ini di rumah bang Edward, menghadapi kombinasi mematikan antara kejailan Gino dan keisengan Bang Edward.
"Ya udah, iya," gumam Shirin akhirnya, pasrah pada takdirnya hari ini.
Bang Edward tersenyum puas melihat kekompakan dadakan adik-adik tingkatnya itu. Ia kemudian melirik jam tangan hitamnya sebelum kembali menatap mereka semua dengan pandangan penuh arti.
"Oke, kesepakatan selesai. Sekarang jam dua siang. Kalian balik ke kosan atau urusan masing-masing dulu. Tepat jam empat sore, Abang tunggu kalian berdua di rumah," ujar Bang Edward tegas, lalu menunjuk Aurel dengan telunjuknya. "Dan kamu, Dek, pulang bareng Abang sekarang. Gak ada keluyuran!"
"Aku yang antar kerumah sekalian minta izin pada mommy dan dady"! Ucap Bang Edward
"Iya, iya!" gerutu Aurel, meski ia tetap mulai merapikan barang-barangnya ke dalam tas.
Saat mereka bersiap untuk bubar dari area koridor kampus tersebut, Gino tiba-tiba bergeser mendekati Shirin. Ia membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan Shirin yang sedang sibuk mengancingkan tas ranselnya.
"Rin," bisik Gino pelan, membuat Shirin refleks menoleh. Jarak yang dekat itu kembali membuat Shirin bisa mencium samar wangi parfum maskulin milik Gino. "Gimana kalau kita berangkatnya bareng aja nanti jam empat? Gue jemput lo di depan gang kosan, gimana?"
"Ogah! Gue mau naik taksi aja," seru Shirin ketus sembari berbalik dan melangkah lebar-lebar keluar dari kantin, mengabaikan seruan kami.
***
Siang harinya, jam kuliah akhirnya selesai. Mahasiswa mulai berhamburan pulang ke rumah masing-masing. Di sinilah aku sekarang, terjebak di dalam perjalanan pulang bersama Bang Edward dan Kak Anita. Suasana di dalam mobil terasa begitu canggung bagi hatiku, memaksa diriku untuk terus menatap ke luar jendela sepanjang jalan.
Begitu mobil bergulir melewati pagar rumah, aku langsung turun dan melangkah masuk terlebih dahulu.
"Mommy, Aurel pulang!" teriakku begitu melewati pintu depan.
"Mommy ada di taman belakang, Sayang!" sahut suara hangat Mommy dari kejauhan.
Aku, Bang Edward, dan Kak Anita pun melangkah bersama menuju taman belakang rumah untuk menemui Mommy yang sedang bersantai.
"Assalamualaikum, Mom," sapaku sambil mencium punggung tangannya.
"Waalaikumussalam," jawab Mommy dengan senyuman ramah. Beliau kemudian menatap ke arah dua orang di belakangku. "Eh, Nak Edward sama Nak Anita main ke sini lagi?"
"Iya nih, Mom," jawab Bang Edward. Pandangannya sempat mengedar ke seluruh penjuru halaman, seolah sedang mencari seseorang. "Daddy belum pulang, Mom?" tanya Bang Edward kemudian.
"Belum, Nak. Daddy kemungkinan pulang malam karena katanya ada meeting penting hari ini," jelas Mommy. Beliau lalu berdiri dari kursinya. "Kalian duduk dulu, ya. Biar Mommy ambilkan air minum ke dalam."
"Terima kasih banyak, Tante," sahut Kak Anita dengan senyum manisnya yang sopan.
"Sama-sama, Sayang," jawab Mommy sembari melempar senyum ramah pada Kak Anita.
Namun, sebelum Mommy sempat melangkah lebih jauh ke dalam rumah untuk mengambilkan minuman, Bang Edward kembali bersuara. Kalimatnya seketika mengunci langkah kaki Mommy.
"Sebenarnya kami ke sini juga mau pamit izin, Mom," ujar Bang Edward. Pria itu menatap Mommy dengan pembawaannya yang selalu tenang namun tegas. "Edward mau ajak Aurel ke rumah buat belajar kelompok. Kebetulan materi kuliahnya ada di rumah, dan nanti Edward yang jadi mentor mereka hari ini."
Mommy zeline menghentikan langkahnya di ambang pintu pembatas taman, lalu berbalik dengan binar wajah yang terlihat senang. "Oh, ya? Jadi kalian berempat mau belajar kelompok di rumah Edward sore ini?"
"Iya, Tan. Kebetulan Shirin dan Gino juga sudah sepakat untuk menyusul ke sana jam empat nanti," tambah Kak Anita dengan senyuman manisnya yang keibuan, ikut meyakinkan Mommy."Wah, bagus kalau begitu. Ada Nak Edward yang dampingi, Mommy jadi tenang," sahut Mommy tanpa ragu, Mommy lalu menoleh padaku. "Ya sudah, Aurel. Kamu ganti baju dulu ke atas, ganti baju yang rapi. Terus nanti langsung berangkat sama Abangmu."
"Siap, Mom!" jawabku tanpa ragu dengan senyum yang mendadak semringah, lalu langsung berbalik dan berlari kencang menaiki anak tangga.
"Jangan lari-lari, Aurel! Nanti jatuh!" seru Mommy dengan nada memperingatkan dari arah taman.
Namun, peringatan Mommy sama sekali tidak kuhiraukan. Aku terus memacu langkahku ke lantai atas. Di bawah sana, Mommy hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, pasrah melihat tingkah hebohku yang kembali seperti anak kecil.
"Kalau sudah dengar kata mau ke rumah Mamanya, semangatnya langsung bangkit begitu saja," celetuk Mommy sembari terkekeh, menatap kepergianku.
Mommy kemudian menoleh ke arah Bang Edward yang masih berdiri di tempatnya. "Mamamu itu terlalu memanjakan Aurel, Ed. Makanya dia jadi manja begini kalau urusan main ke rumah kalian."
Bang Edward tidak langsung menjawab kalimat Mommy. Pria itu hanya merespons dengan kekehan rendah yang terdengar samar dari posisiku di tangga. Sebuah kekehan datar yang entah mengapa selalu berhasil membuat dadaku berdesir, sekaligus merutuki diriku sendiri karena mereka semua tidak pernah tahu alasan sebenarnya di balik topeng semangat yang baru saja kupasang.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, senyum semringah yang kupasang di depan tangga tadi luruh tanpa sisa. Aku melangkah gontai mendekati meja rias, lalu mendudukkan diri di sana.
Kupandangi pantulan diriku sendiri di depan cermin besar itu lekat-lekat. Mataku yang masih sedikit sembap dan gurat lelah di wajahku menjadi bukti nyata betapa rapuhnya aku saat ini. Semburat kebahagiaan yang kutunjukkan di depan Mommy tadi hanyalah topeng semata. Sebuah sandiwara yang sengaja kuperankan demi menutupi hatiku yang sebenarnya hancur berkeping-keping.
"Sampai kapan kamu mau bersikap bodoh seperti ini, Rel?" bisikku lirih pada bayanganku sendiri di cermin. Voice-ku terdengar begitu serak dan menyedihkan.
Aku mengembuskan napas berat yang terasa menyesakkan dada. Alasan utamaku begitu bersemangat pergi ke rumah Mama Olivia bukanlah karena tugas kuliah, melainkan karena aku tahu... dalam beberapa jam ke depan, aku akan dipaksa menyaksikan kemesraan Bang Edward dan Kak Anita secara langsung.
Hatiku menjerit kesakitan, menolak untuk terluka lebih dalam lagi. Namun, di sisi lain, kebodohan di dalam diriku seolah sengaja menuntun langkahku untuk tetap maju, memeluk rasa sakit itu erat-erat demi bisa berada di dekat pria yang tidak akan pernah bisa kumiliki.
Kupandangi jam dinding yang terus berdetak, mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan. Dengan sisa-sisa kekuatan yang kupunya, aku mulai bangkit dan meraih baju ganti di dalam lemari. Bersiap untuk masuk kembali ke dalam perangkap rasa sakit yang sengaja kuciptakan sendiri.
Sebelum menyentuh lemari baju, aku bergegas meraih ponsel yang tergeletak di atas kasur. Aku tahu aku tidak bisa menghadapi atmosfer di rumah Bang Edward sendirian hanya bersama Kak Anita. Kehadiran Shirin dan Gino sore ini adalah satu-satunya pelindung waras yang kupunya.
Aku segera membuka aplikasi WhatsApp dan mengetik pesan dengan cepat di grup obrolan kami bertiga.
Aurel: Rin, Gin, lo berdua jangan telat. ya! Pokoknya jam 4 teng harus. udah nyampe di rumah Bang. Edward. Awas aja kalau gue. ditinggal sendirian di sini!
Tidak butuh waktu lama, ponselku langsung bergetar beruntun menampilkan balasan dari mereka.
Shirin: Siaap, Tuan Putri. Ini gue lagi siap-siap kok. Nggak bakal
gue biarkan lo mati kutu di sana.
Gino: Aman, Partner! Gue otw jemput. Shirin nih, biar romantis dikit. nembus macet jalanan.
Shirin: Gino, najis ya! Gue naik ojol. sendiri kalau lo centil!
Melihat perdebatan singkat mereka di layar ponsel, seulas senyum tulus akhirnya benar-benar terbit di wajahku. Setidaknya, obrolan random dari kedua sahabatku itu sedikit mengurangi rasa sesak yang menggumpal di dada sejak tadi siang.Aku mengunci kembali layar ponselku, mengembuskan napas panjang, lalu berjalan menuju lemari untuk mencari baju ganti. Aku harus bersiap memakai topeng terbaikku lagi sebelum turun ke lantai bawah.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan tegas di daun pintu kamarku seketika memutus gerakanku yang baru saja hendak meraih kaus ganti dari gantungan lemari. Jantungku berdesir hebat, berdegup kencang dengan ritme yang mendadak tidak beraturan. Ketukan dengan ketukan konstan seperti itu... aku tahu persis siapa pemiliknya.
"Aurel, ini Abang. Buka pintunya sebentar," suara bariton Bang Edward terdengar dari balik kayu pintu yang tegap. Nada suaranya rendah, namun membawa ketegasan yang mutlak seperti biasa.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Rasa gugup seketika merayapi tenggorokanku. Aku buru-buru merapikan kaus yang masih kupakai, mengembuskan napas panjang untuk menetralkan gemuruh di dada, lalu melangkah ragu untuk membuka kunci pintu.
Cklek.
Begitu pintu sedikit terbuka, sosok tinggi tegap Bang Edward langsung mendominasi pandanganku. Kemeja kantornya masih tampak rapi, namun kancing bagian atasnya sudah terbuka sedikit, memberikan kesan santai sekaligus maskulin yang selalu sukses membuat hatiku kacau. Ia berdiri bersandar pada bingkai pintu sambil melipat kedua tangan di dada, menatapku lurus dengan sepasang mata elangnya yang tajam dan menelisik.
"Ada apa, Bang? Aurel lagi ganti baju," ujarku memecah keheningan, berusaha mati-matian menjaga agar nada suaranya terdengar sebiasa mungkin di depan pria ini.
Bang Edward tidak langsung menjawab. Sorot matanya bergerak turun, memperhatikan penampilanku, lalu kembali terkunci pada mataku yang mungkin masih menyisakan sedikit rona merah.
"Abang cuma mau memastikan sesuatu," ucap Bang Edward pelan, melangkah satu langkah tipis melintasi ambang pintu hingga aku bisa mencium samar aroma parfum khasnya yang familier. "Tadi di bawah kamu kelihatan semangat sekali sampai lari-lari di tangga. Tapi Abang tahu kamu cuma akting di depan Mommy, kan? Ada apa, Rel? Kamu masih marah soal kejadian di kampus tadi siang?"
Mendengar desakan yang begitu tulus sekaligus protektif itu, rasa sesak di dadaku rasanya ingin meledak lagi. Kamu, Bang! Kamu yang membuatku harus terus memakai topeng ini! teriakku dalam hati. Rasanya sungguh ironis melihat orang yang mematahkan hatiku berkali-kali justru menjadi orang yang paling cemas dan ingin memastikan kondisiku secara pribadi.
"Nggak kok, Bang Edward. Aurel beneran semangat karena mau belajar kelompok bareng Shirin sama Gino nanti," kilahku lagi, memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa begitu getir di bibir. Aku menunduk, sengaja memutus kontak mata karena tidak sanggup berlama-lama menatap netranya. "Abang nggak usah berlebihan deh. Lebih baik Abang turun ke bawah lagi, kasihan Kak Anita nungguin sendirian di taman."
Haaah...
Bang Edward mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat frustrasi. Sikap menghindarku rupanya sukses memicu rasa tidak sabar di dalam dirinya. Sebelum aku sempat mundur untuk menutup pintu, kedua tangan besarnya bergerak cepat, mencengkeram kedua pundakku dengan kokoh namun tidak sampai menyakitiku.
Sentuhan tiba-tiba itu seketika mengirimkan desatan listrik yang membuat seluruh tubuhku menegang kaku.
"Aurel, tatap Abang," perintah Bang Edward, suaranya merendah satu oktav, terdengar begitu berat dan penuh penekanan di ambang pintu kamarku yang sepi.
Mau tak mau, aku perlahan mengangkat wajahku. Ketika netra kami kembali bertubrukan, aku bisa melihat dengan jelas kilat kecemasan sekaligus rasa tidak rela yang bergemuruh di dalam manik mata elangnya.
"Jangan bawa-basa nama Anita untuk mengalihkan pembicaraan," desisnya, cengkeramannya di pundakku sedikit mengetat, memaksaku untuk tetap berdiri tegak di hadapannya. "Abang tahu persis kapan kamu senyum tulus dan kapan kamu cuma pura-pura. Sejak kemarin di mobil sampai detik ini, kamu terus-menerus menutup diri dari Abang. Kenapa, Rel? Ada apa sebenarnya dengan kamu? Cerita sama Abang, siapa yang udah bikin kamu kayak gini?"
Mendengar desakan lembut namun menuntut itu, pertahanan yang kubangun susah payah sepanjang hari rasanya runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi kubendung kini mulai menggenang, membuat pandanganku kabur membias wajah tegasnya.
Kamu, Bang Edward! Kamu pelakunya! jeritku histeris di dalam batin, sebuah teriakan pilu yang sayangnya hanya mampu tertahan di tenggorokan.
Rasanya sungguh kejam dan ironis. Pria yang meremukkan seluruh harga diri dan perasaanku karena selalu menganggapku bocah ingusan, kini sedang berdiri sedemikian dekat, memeluk pundakku dengan gestur protektif, dan menuntut kejujuran atas luka yang ia ciptakan sendiri.
"Nggak ada apa-apa, Bang... Aurel beneran cuma capek," bisikku lirih dengan suara yang bergetar hebat, berusaha sekuat tenaga agar air mataku tidak tumpah tepat di depan matanya . "Tolong... lepasin tangan Abang. Aurel mau ganti baju."
Sepasang mata elang Bang Edward menatapku lekat-lekat, merekam setiap getaran di bahuku dan genangan air mata yang mati-matian kutahan di pelupuk mata. Ada kilat ketidakpuasan yang samar di wajahnya, seolah ia tahu aku masih menyembunyikan sebuah rahasia besar darinya.
Namun, melihat tubuhku yang menegang dan penolakan yang begitu nyata dari sikapku, ia akhirnya mengalah.
Perlahan, cengkeraman tangan besarnya di pundakku mengendur. Kehangatan telapak tangannya perlahan menjauh, menyisakan sensasi dingin yang mendadak terasa hampa di kulitku. Ia mundur satu langkah, memberi jarak yang kembali menegaskan batasan tak kasat mata di antara kami.
"Ya sudah," ucap Bang Edward berat, suaranya terdengar begitu pasrah sekaligus kecewa. Ia mengusap wajahnya sekilas, mencoba meredam sisa frustrasi yang masih menggantung di dada. "Abang tunggu di bawah. Jangan lama-lama, sepuluh menit lagi kita berangkat.
"Tanpa menunggu jawabanku, Bang Edward berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong tangga.
Begitu punggung tegapnya menghilang dari pandangan, aku langsung menutup pintu kamar rapat-rapat dan memutar kunci dengan tangan yang gemetar.
Cklek.
Tubuhku merosot begitu saja di balik pintu kayu yang dingin. Air mata yang sejak tadi kupaksa mundur kini meluncur deras tanpa bisa dicegah, membasahi kedua pipiku yang terasa panas. Dadaku berdenyut luar biasa perih, menyadari bahwa semakin aku mencoba menjauh dan menutup diri, semakin pria itu mengejarku dengan perhatian protektifnya yang justru membunuhku secara perlahan.
Aku melirik jam dinding. Waktu terus bergulir, dan aku harus segera menghapus air mata ini sebelum turun ke bawah menemui mereka kembali.
Tiba-tiba