Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran
Ayyana menyibak sedikit celah gorden kamar, mendapati area parkir depan sudah kosong melompong.
Mobil dinas serba hitam milik si Diktator sudah hilang dari pandangan—menandakan pria yang secara sah menjadi suami formalnya itu telah berangkat kerja sebelum fajar menyingsing.
Perut Ayyana menyuarakan protes yang tak lagi bisa ditahan.
Akibat aksi banting pintu dan merajuk semalaman, ia melewatkan makan malam sepenuhnya.
Rona lapar yang menggerogoti membuat wanita itu memutuskan untuk menyingkirkan gengsinya sejenak dan turun ke lantai satu.
Ayyana melangkah turun menuruni anak tangga dengan gaun rumah berlengan panjang yang menjuntai rapi menutupi kakinya—mematuhi aturan 150 centimeter itu hanya karena ia tak sudi berdebat lagi jika pria itu mendadak pulang.
Di atas meja dapur kayu yang bersih, sebuah wadah MRE (Meal, Ready-to-Eat) standar militer dan rantang katering khusus bertingkat sudah tertata rapi.
Di sampingnya, terdapat segelas air putih yang ditutup rapat dan sebuah lipatan kertas kecil berisi tulisan tangan dengan guratan garis tegas dan kaku:
Habiskan. Katering ini disiapkan khusus dengan nutrisi seimbang. Jangan keluar garis batas.
Ayyana mendengus pelan menatap catatannya. "Bahkan untuk urusan sarapan pun masih terasa seperti perintah komando," gumamnya.
Namun, aroma hangat dari sup daging dan nasi yang mengepul begitu ia membuka penutup rantang mendadak melumpuhkan niatnya untuk mencibir lebih jauh.
Ayyana menarik kursi bar, duduk sendirian di meja dapur yang hening, lalu mulai menyantap sarapannya dalam diam.
Tepat saat Ayyana baru saja menyelesaikan sarapannya, bunyi ketukan pintu terenkripsi berkumandang. Kali ini dengan ritme yang sedikit berbeda—pola panggilan dari Ocla.
Ayyana bergegas melangkah ke arah pintu. Begitu daun pintu baja bergeser terbuka, Ayyana seketika terpaku.
Di balik tubuh tegap Ocla yang berdiri melintang menghalangi ambang pintu, berdiri sosok Dex Sanders dan Ciara—kedua orang tuanya.
"Ayah? Ibu?" seru Ayyana terkejut, matanya membelalak tak percaya.
Dex Sanders tampil berwibawa dengan setelan jas mewahnya, sementara Ciara tampak begitu anggun dengan raut wajah yang memancarkan kecemasan mendalam seorang ibu.
Namun, Ocla tetap berdiri tegap di tengah, tangannya bersedekap di dada, menghalangi langkah kedua orang tua Ayyana untuk masuk lebih jauh ke dalam kediaman.
"Kapten sudah memberikan izin khusus untuk kunjungan ini, Nyonya," ujar Ocla tenang namun tegas, menatap Ayyana. "Protokol keamanan tetap berlaku. Pemeriksaan perimeter luar sudah selesai dilakukan oleh Flyn."
Melihat sikap Ocla yang begitu protektif dan kaku di hadapan orang tuanya, Ayyana melangkah maju, memotong jarak dan menatap Ocla dengan dahi berkerut.
"Ocla, mereka orang tua saya," tegas Ayyana, suaranya sarat penekanan agar Ocla mengendurkan posisinya.
Ocla mengangguk singkat secara profesional, tidak menunjukkan intensi menantang, namun posisinya tetap sigap di sisi pintu. "Saya tahu, Nyonya Sinclair. Justru karena ini orang tua Nyonya, Kapten memerintahkan saya untuk berjaga tepat di ambang pintu selama kunjungan berlangsung. Lingkungan ini masih dalam jangkauan radar pengawasan."
Dex Sanders terkekeh pelan, menepuk pelan bahu Ocla dengan ramah sebelum melangkah masuk bersama Ciara. "Tidak apa-apa, Ayyana. Pria ini hanya menjalankan tugasnya. Suamimu benar-benar tidak main-main soal keamanan."
Ciara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan bernuansa abu-abu dingin itu.
Matanya tertuju pada meja dapur kayu yang polos—hanya ada rantang katering militer dan wadah logam MRE yang ditinggalkan Ayyana.
Hati seorang ibu seketika berenyut nyeri. Tempat ini terlalu sunyi, kaku, dan sangat jauh dari kemewahan rumah utama Sanders yang selalu melingkupi putri tunggal mereka sejak lahir.
"Ayyana..." bisik Ciara halus.
Langkah kakinya mendekat, mengangkat kedua tangan untuk mengusap lembut kedua pipi Ayyana. Jemarinya meraba kontur wajah putrinya dengan tatapan berkaca-kaca.
"Kamu lebih tirus, Sayang. Makanmu tidak teratur, ya? Bahkan wadah makanan di meja itu..." Ciara menghentikan kalimatnya, napasnya terdengar berat saat matanya kembali menatap Ayyana dengan keputusasaan yang tertahan. "Ikut Mama pulang, ya? Rumah ini bukan tempat yang layak untuk kamu. Kita bisa cari jalan lain, Ayyana. Kamu tidak harus mengorbankan dirimu dalam kurungan dingin seperti ini."
Ayyana tertegun merasakan kehangatan telapak tangan ibunya. Sentuhan lembut itu mendadak meruntuhkan benteng pertahanan yang sejak kemarin ia bangun di hadapan Chester dan Team Eclipse.
Di ambang pintu, Ocla tetap berdiri dalam posisi siaga, mendengarkan setiap bait percakapan itu tanpa mengubah raut wajah netralnya.
Namun, jemarinya secara refleks menyentuh tombol transmitter kecil di kerah seragamnya—mengirimkan sinyal pemantauan audio secara langsung ke ruang kerja Chester di Markas Besar.
Di mata Ciara, nama Sinclair sudah tidak lagi memiliki kehormatan yang sama. Pengkhianatan Haikal yang kabur begitu saja di hari pernikahan masih menyisakan luka dan amarah yang mendalam.
Kebijakan dingin keluarga Sinclair yang secara mendadak menyodorkan Chester sebagai pengganti—hanya demi menyelamatkan muka dan menutup skandal di hadapan publik—membuat Ciara memandang Chester tak lebih dari sekadar perpanjangan tangan dari keluarga yang bermasalah.
Ayyana meremas lembut jemari ibunya yang bergetar. Ia menatap lurus ke dalam mata Ciara, berusaha mengalirkan rasa tenang yang mati-matian ia kumpulkan sendiri.
"Bu, dengerin Ayyana," bisik Ayyana halus namun penuh penekanan. "Ibu nggak perlu cemas. Ayyana baik-baik saja di sini."
Ciara menggeleng pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Tapi pria itu, Ayyana... Chester itu.. dia tidak memberikan apa yang Ayah dan Ibu—"
"Ayyana tahu," potong Ayyana lembut. Ia menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan ibunya. "Kami memang masih beradaptasi. Semua ini mendadak untuk Ayyana, dan begitu juga untuk Chester."
Namun rasa cemas Ciara yang meluap tak bisa diredam begitu saja.
Dengan napas tertahan, tangan Ciara bergerak cepat memeriksa pergelangan tangan dan menyibak sedikit kain lengan baju Ayyana, memindai kulit mulus putrinya di balik pakaian panjang tersebut.
"Apa dia memukulmu? Menyakitimu, Ayyana?" cecar Ciara dengan suara bergetar dan mata memerah. "Sampai kamu takut dan bicara membela dia seperti ini? Sampai kamu harus memakai pakaian tertutup rapat seperti ini di dalam rumah?"
Ayyana tersenyum tipis, menggenggam kembali tangan Ciara dan mengusapnya lembut untuk menenangkan sang ibu.
"Nggak, Ma. Chester nggak menyakiti Ayyana," bisik Ayyana mantap dan jujur. "Menyentuh seujung kuku pun... Chester nggak akan pernah lakukan itu tanpa persetujuan Ayyana."
Dex Sanders yang berdiri di belakang Ciara menghela napas panjang, merangkul pundak istrinya sembari menatap Ayyana dengan tatapan penuh arti.
Sementara di ambang pintu, Ocla yang mendengar pernyataan jujur dari Nyonya Kaptennya hanya bisa mengulum senyum tipis, tahu betul bahwa laporan langsung di telinga Chester saat ini pasti membuat komandannya itu tertegun di markas.