NovelToon NovelToon
AURORA [TRANSMIGRASI ISTRI YANG TERBUANG]

AURORA [TRANSMIGRASI ISTRI YANG TERBUANG]

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Transmigrasi
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...

Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.

"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Amel membawa Aurora pergi menjauh dari mereka bertiga. Ia membawa Aurora kembali ke parkiran. Wanita itu menatap sekitar, menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan bahwa semuanya aman entah dari apa.

Amel lalu menarik Aurora masuk ke dalam mobilnya.

"Kau ini sebenarnya mau apa?" Tanya Aurora karena gelagat dari Amel terlihat sangat mencurigakan.

"Haduh, jangan kencang-kencang bilangnya. Bagaimana jika ada yang dengar." Ucap Amel, namun hal itu justru semakin membuat Aurora semakin bingung dan curiga.

Aurora menyipitkan matanya, ia tampak menginterogasi Amel dan Amel yang melihat sahabatnya tampak seperti tampak curiga langsung menempeleng kepalanya ke samping.

"Ayolah, aku bukan orang aneh. Aku ingin bicara padamu."

Aurora merasa aneh pada Amel, mengapa ia harus sampai bersembunyi hanya untuk berbicara. Apakah sebelumnya juga ia memang seperti ini?

Setidaknya, itulah yang terus di pikirkan oleh Aurora saat ini.

"Memangnya kenapa? bicara ya tinggal bicara sajakan."

Amel yang mendengar ucapan itu seketika tak terima. "Hai Aurora, 3 minggu lalu aku sudah ingin berbicara ini padamu ingat. Namun kau selalu bersama dengan Anne. Kau bahkan melupakan aku. Jujur saja, tak suka padanya." Ujar Amel, wanita itu kini tampak merajuk, ia bersedekap dan memalingkan wajahnya dari Aurora.

"Eh..."

Aurora seketika sadar akan sesuatu. "Kau bilang ingin mengatakan sesuatu padaku? Namun Anne terus menghalangi?" Tanya Aurora dan Amel langsung mengangguk menanggapi ucapannya.

"Gini ya Aurora, aku sudah ingin bilang dari lama sekali denganmu. Kau itu, jadi orang jangan terlalu baik. Aku selalu berusaha menghubungimu. Namun kau lagi dan lagi tak mau menjawab teleponku. Terakhir kali, entah apa yang Anne ucapkan membuatmu sangat marah padaku." Amel menunduk. Ia kini tahu, bahwa Amel tak pernah ada di pihak Anne.

"Maafkan aku Amel, aku tak bermaksud seperti itu. O iya, memangnya. Kau mau bilang apa?"

Amel mencari laptopnya yang berada di tas. Ia menaruhnya di kursi belakang.

"Rora, kau bisa bantu aku? Tolong ambilkan laptop itu!" Tangan Amel tak sampai, itu sebabnya Aurora turun dari mobil untuk mengambil laptop itu.

Amel meringis, tak pernah terpikirkan olehnya untuk keluar dulu dari mobil untuk mengambil laptop itu.

"Ini..." Aurora memberikan Laptop kepada Amel, dengan cepat. Amel pun langsung mencari beberapa file.

Tak butuh waktu lama, file itu akhirnya ketemu. Amel kini menunjukkan kepada Aurora. Beberapa gambar yang sempat ia foto.

Raut wajah Aurora seketika langsung syok. "Ini, apa maksudnya?"

Tampak jelas di foto itu, Kris pacarnya dengan Anne sahabatnya tengah berpelukan di pinggir jalan menuju sebuah bioskop.

"Aku waktu itu bersama dengan Rumero, kau tahu kan, pria yang tadi. Kami berpapasan, mungkin karena jarak yang cukup jauh dan hanya aku yang sadar bertemu mereka. Aku akhirnya mengambil foto mereka. Namun, setelah itu Anne tahu. Lalu saat aku akan memberikannya kepadamu."

Beberapa minggu yang lalu...

"Aurora..." Amel menghampiri kediaman Darren, wanita itu membawa bingkisan di tangannya.

Grace pun menghampiri Amel, "Amel, baru kelihatan. Dari kemarin kemana saja? Bibi sudah kangen loh."

Amel mencium tangan Grace, "Ha ha, bibi bisa saja."

Amel lalu memberikan bingkisan itu, Grace sangat senang menerimanya. Bingkisan itu berisikan buah-buahan kering kesukaannya.

"Ya ampun Amel, terima kasih banyak ya cantik. Jadi senang deh."

"Hehe, iya bibi. O iya, di mana Aurora?"

Sambil memakan buah, Grace pun menunjuk ke arah pintu belakang. "Itu, dia sedang ada di taman belakang. Bersama dengan Anne." Mendengar hal itu, Amel seketika langsung terdiam. Lalu tanpa mengatakan apapun, wanita itu langsung pergi menemui Aurora.

Taman keluarga Darren, terdapat sebuah kolam ikan besar, dengan banyak karangan bunga dan juga pepohonan di sana. Semua tumbuhan di jaga dengan baik oleh para tukang kebun.

Kini Aurora bersama Anne, kedua wanita itu tengah duduk di atas santai di bawah rindangnya pohon besar.

Amel menatap mereka dari kejauhan, wanita itu mengambil ponselnya. Melihat chat grub yang masih kosong, tak ada satu notifikasi yang masuk di dalam ponselnya. Baik dari Aurora, maupun dari Anne.

Amel tak mau memikirkan hal itu lagi, ia lebih memilih berbaur dan menghampiri mereka.

"Aurora... Anne..." Tak ada sahutan dari mereka, mereka malah sibuk bercanda dan mengabaikan Amel.

Di lain hari, Amel kembali menemui Aurora, kali ini di kantor. Lagi dan lagi, saat ia datang. Sudah ada Anne di sana.

Wanita itu sadar akan kedatangan Amel, ia menatap Amel. Tatapan seolah tak suka padanya. Amel merasa ada yang aneh dengan Anne, bukan seperti Anne yang ia kenal sebelumnya.

"Apa mungkin dia tahu soal foto itu?" Ucap Amel dalam hati.

Amel terus menemui Aurora, namun saat ia menghampirinya. Lagi dan lagi selalu ada Anne.

"Aku ini teman mereka, kenapa lagi dan lagi selalu aku yang di tinggalkan." Amel kini duduk di kursi taman, tetesan air mata keluar dari wajahnya.

"Semenjak ada Anne, kau benar-benar melupakan aku Aurora, kau masih baik padaku. Namun..."

Seseorang memberikannya sapu tangan, "Terima kasih, maaf aku tidak bermaksud menangis." Ucap Amel tanpa mengoleh sedikitpun.

"Tidak apa-apa." Ucapan itu terdengar familiar di telinga Amel. Wanita itu pun kini langsung menoleh dan benar saja. Seseorang yang duduk di sampingnya adalah Aurora.

"Rora, ini benar-benar kau." Amel memeluk Aurora, ia menangis. Ia tak percaya bahwa kini Aurora akan menemuinya.

Namun wanita itu langsung melepaskan pelukan itu, mendorongnya menjauh.

"Ternyata benar ya ucapan Anne, kau memang kejam. Kau mau merusak pertemanan kita, kau mau memfitnah Anne kan. Kau mau membuatku percaya bahwa dia selingkuh dengan Kris. Kenapa kau selalu seperti itu pada Anne. Apa karena dia orang biasa. Apa bedanya dia dengan kita Amel?" Amel yang mendengar itu semua langsung terdiam.

Ia menunduk, Aurora terus menyalahkannya. Seolah wanita itu benar-benar telah merundung Anne.

Amel mengepalkan tangannya. Ia sudah merasa sangat geram dengan Aurora.

"Teruslah bela dia, ya aku memang tak suka sejak awal dengannya. Persetan dengan persahabatan ini. Kau yang terlalu naif, mau saja kau di bodohi orang seperti dia. Kau memakiku, dan kau membela wanita licik itu. Aku ini sahabatmu Rora."

"Tidak ada sahabat yang mengutuk atau mengatakan hal buruk seperti itu pada sahabatnya sendiri. AKU BENAR-BENAR KECEWA PADAMU AMEL." Setelah mengatakan itu, Aurora kini pergi.

Amel pergi ke luar negeri selama 1 minggu untuk menenangkan dirinya.

"Kau yakin tidak ingin aku temani?" Tanya Rumero dan di jawab gelengan kepala oleh Amel.

Amel kini pergi menaiki pesawat, ia melambaikan tangannya kepada Rumero.

"Amel, hati-hati di jalan. Jika kembali, jangan lupa telepon aku!"

"Baiklah."

Selama 1 minggu itu, Amel masih tetap menghubungi Grace, nomor teleponnya tidak blokir oleh Aurora. Namun tak pernah di balas olehnya.

Amel pada akhirnya meminta maaf pada Anne, ia bahkan mengirimkan sebuah kalung berlian mahal dengan sebuah paket expres untuk Anne.

"Aurora jatuh dari tangga," Ucap Anne menggunakan telepon.

"Jujur aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang." Batin Amel.

Wanita itu kini tengah menikmati secangkir teh dengan pastry di atas piring sebari melihat keramaian kota London dari atas balkon.

"Ya, terima kasih sudah memberitahuku Anne. O iya, kita masih bersahabat kan?" Tanya Amel, wanita itu benar-benar sangat berharap mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

"Ya, kita masih berteman."

Amel menangis di telepon itu, Anne kemudian mematikan teleponnya. Anne kini tengah berada di apartemennya.

Wanita itu terlihat tertawa, Anne mengambil kalung yang di berikan oleh Amel waktu itu.

"Jelas kita harus berteman Amel, kau juga ladang uangku. Bodoh sekali mereka ini."

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!