“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri vs Pacar
Affandy kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Hulya melihat laki-laki itu menghubungi seseorang.
"Halo."
Suara seorang wanita terdengar dari sambungan telepon.
Affandy sengaja mengaktifkan pengeras suara. Hulya mengenali suara tersebut, lalu ia sedikit mendekat.
"Halo, Mi."
"Iya, sayang. Mami tau petirnya keras. Memangnya Hulya ke mana?" tanya wanita di seberang sana.
"Hulya—"
Belum sempat Affandy menyelesaikan kalimatnya, Hulya lebih dulu merampas ponsel dari tangannya.
"Assalamualaikum, Mi."
"Hulya? Kamu ke mana saja? Suami kamu takut sama petir. Tolong jangan tinggalin anak Mami."
Hulya melirik Affandy. "Tadi Hulya lagi di toilet, Mi," jawabnya berbohong.
"Ya sudah. Mami cuma mau mengingatkan. Jangan tinggalin anak Mami. Dia juga takut kalau malam-malam lampu mati."
"Iya, Mi. Hulya enggak akan ke mana-mana."
Hulya mengakhiri percakapan. Setelah meletakkan ponsel, ia menatap Affandy.
"Kamu benar-benar takut?"
"Iya!" jawab Affandy ketus.
"Kamu tidur aaja."
Affandy menggeleng cepat. "Enggak mau, Hulya. Kamu mau pergi, kan?"
Hulya menatapnya beberapa saat. Kemudian ia mendorong pelan tubuh laki-laki itu agar kembali mendekati kasur.
"Kamu tidur. Aku jagain."
"Kamu jangan main-main, Hulya. Mentang-mentang aku jahat sama kamu," ucap Affandy. "Aku takut petir. Aku trauma."
"Aku enggak pergi, Affan. Kamu tidur saja."
"Benaran?"
"Iya."
Perlahan Affandy naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya.
Hulya menatap suaminya. "Kualat, kan? Makanya jangan buat aku sakit hati. Sekarang malah butuh aku, kan?"
Affandy menatapnya sinis. "Kamu mau cari ribut?"
Hulya tersenyum tipis. "Kamu mau aku tinggalin?" ancamnya.
"Jangan!"
Jawaban spontan itu membuat Hulya terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, hatinya terasa sedikit hangat. Sedikit demi sedikit, ia mulai mengetahui sisi lain dari kehidupan Affandy.
Ternyata, di balik sikap keras dan dinginnya, ada sisi lain yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan. Dan malam ini, Hulya menemukan satu kelemahan Affandy. Petir.
Senyum kecil muncul di bibir Hulya. Mungkin ini adalah awal baginya untuk menemukan cara melunakkan hati suaminya.
[] [] []
Setelah beberapa hari berlalu, Hulya semakin mengenali sifat dan karakter sang suami. Terkadang, dia bahkan bisa mengendalikan Affandy, meskipun hanya pada saat-saat tertentu.
Hari-hari Hulya berjalan seperti biasanya. Ia mendapatkan pekerjaan sebagai waiter di sebuah restoran milik tetangganya. Pekerjaan itu cukup membuat pikirannya teralihkan dari berbagai hal yang selama ini mengganggunya, terutama tentang laki-laki itu.
Namun, ada satu hal yang selalu mengusik ketenangannya. Tiffany, perempuan yang menjadi kekasih suaminya, selalu datang ke restoran tempat Hulya bekerja. Bukan sekadar datang, Tiffany juga selalu mencari masalah dan mengata-ngatai dirinya.
Begitu pula hari ini, Hulya sudah memasang raut wajah tidak suka ketika melihat Tiffany kembali datang. Perempuan itu terus saja berusaha memancing keributan dengannya.
"Kalau kamu ke sini cuma mau mengganggu kenyamanan aku, kamu bisa pulang!"
"Heh, sadar diri, sayang. Kamu itu pegawai di sini. Itu pun cuma waiter, bukan chef. Jadi, jangan belagu."
"Mau kamu apa, sih? Kamu memang nggak punya kerjaan, ya? Sampai-sampai setiap hari datang ke sini."
"Aku nggak punya kerjaan? Hello, aku model. Bahkan aku sudah pernah tampil di luar negeri. Dari penampilanku saja, harusnya kamu sudah ngerti."
"Model nggak laku?" Hulya menaikkan sebelah alisnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Tiffany.
"Buktinya sekarang kamu ada di sini. Itu artinya kamu jarang dipanggil perusahaan."
Tiffany langsung berdiri. "Jaga ucapan kamu. Aku bukan model murahan. Justru karena aku terlalu mahal, perusahaan berpikir berkali-kali untuk membayarku."
"Tapi menjalin hubungan dengan suami orang membuat kamu tetap menjadi wanita murahan."
Plak!
Tiffany meradang. Tanpa berpikir panjang, ia melayangkan tamparan ke wajah Hulya. Hulya meringis kesakitan sambil mengusap pipinya.
"Heh!"
Seorang pria segera menghampiri mereka.
"Kalau kamu mau komplain tentang restoran ini, datang kepada saya. Jangan main tangan dengan karyawan saya."
"Mas nggak usah ikut campur. Ini urusan saya dengan Hulya."
"Kamu membuat keributan di tempat saya. Itu artinya saya bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sini."
"Tapi—" Tiffany menoleh kepada Hulya.
"Kamu selingkuh sama pria ini?"
"Ha? Kamu apa-apaan, sih?"
"Ternyata kamu munafik juga, ya."
"Aku bukan seperti kamu, Tiffany, yang menjalin hubungan sama—"
Hulya menghentikan ucapannya. Ia baru menyadari bahwa saat ini ada seorang laki-laki di antara mereka. Ia tidak mungkin membuka aib suaminya sendiri di hadapan orang lain.
Begitu pula Tiffany. Perempuan itu hampir merasa malu, tetapi ia juga bingung karena Hulya tidak melanjutkan perkataannya.
"Urusan kita belum selesai."
Tiffany kemudian pergi dengan langkah penuh gaya. Lenggak-lenggok tubuhnya membuat pria yang berada di sana hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya pria itu.
"Nggak apa-apa, Mas."
"Dia siapa?" tanya Vicky.
"Bukan siapa-siapa, nggak penting."
"Tapi kenapa dia menampar kamu?"
"Permisi, Mas. Saya masih banyak pekerjaan."
"Baiklah."
Hulya segera pergi membawa beberapa menu makanan. Tanda merah di pipinya masih terlihat jelas ketika ia berada di dalam toilet. Hulya berdiri di depan cermin sambil menyentuh pipinya yang terasa perih.
[] [] []
Siang harinya, Hulya pulang ke rumah. Pekerjaannya di restoran itu cukup sederhana. Ia mendapatkan jadwal dari pagi hingga siang sehingga masih bisa menyiapkan makanan untuk suaminya ketika Affandy pulang bekerja.
Walaupun merasa lelah, Hulya tetap menjalankan kewajibannya dengan baik. Sesampainya di rumah pemberian mertuanya, Hulya segera memasak makanan untuk Affandy.
Terkadang Affandy memang tidak pulang ke rumah pada siang hari. Hulya sangat tahu bahwa kemungkinan besar laki-laki itu sedang bersama Tiffany.
Namun, meskipun mengetahui hal tersebut, Hulya tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Baru saja Hulya menyelesaikan masakannya, Affandy pulang dalam keadaan cukup lelah.
"Hulya!"
"Hulya!"
"Iya," sahut Hulya dari dalam dapur.
"Haus."
"Bentar."
Affandy menunggu istrinya di ruang tamu. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Ini, Affan."
Affandy meraih gelas yang diberikan Hulya. Namun, tiba-tiba ia tersedak ketika melihat wajah istrinya.
"Pelan-pelan minumnya."
Affandy segera mengambil tisu dan mengusap bibirnya. "Muka kamu kenapa?"
"Kenapa?" tanya Hulya sambil meraba pipinya.
"Duduk sini."
Hulya mengikuti perintah Affandy dan duduk di sampingnya. "Siapa yang nampar kamu?"
Hulya baru menyadari bahwa pipinya masih terlihat memerah dan sedikit membiru akibat tamparan Tiffany.
"Kalau aku bilang, kamu pasti nggak akan percaya."
"Jawab, Hulya."
"Kenapa, sih? Kamu sudah mulai sayang sama aku?"
"Aku nanya begini bukan berarti aku sayang sama kamu."
"Ngaku saja, nggak usah ditutup-tutupin begitu."
"Kamu dengarkan aku, Hulya. Walaupun aku nggak mencintai kamu, setidaknya aku sudah melakukan beberapa tanggung jawab sebagai suami. Salah satunya memberikan uang untuk kebutuhan kamu."
Affandy menatap wajah istrinya.
"Dan kamu harus tahu, nggak ada yang boleh melukai kamu kecuali aku."
"Romantis banget."
"Aku nggak bercanda, Hulya. Cuma aku yang boleh memukul kamu. Bukan orang lain."
Hulya terdiam.
"Sekarang bilang sama aku. Siapa yang sudah memukul kamu?"
"Kamu mau makan?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Hulya."
"Aku nggak akan bilang, Affan. Itu nggak penting."
Hulya berdiri, tetapi tangannya langsung digenggam oleh Affandy. "Bilang sama aku, Hulya."
"Nggak!"
"Bilang cepat!"
"Lepasin, Affan. Tanganku sakit."
"Bilang dulu. Baru aku lepas."