6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: TUMBAL PAK LURAH
Kami lari tanpa henti.
Aku dan Maya menyeret Riko yang masih pingsan. Punggungku basah kuyup, bukan karena keringat, tapi karena lumpur dan hujan rintik yang tiba-tiba turun. Obor Pak Lurah di depan kami adalah satu-satunya cahaya. Di belakang kami, puluhan obor warga Desa Mati itu tidak mengejar. Mereka hanya diam. Mengikuti dari jauh. Plup... plup... plup... menyala di antara pohon singkong.
"JANGAN LIHAT BELAKANG! LARI TERUS!" Pak Lurah Karjo teriak, suaranya hampir habis.
Aku teriak lagi sekuat tenaga, "SINTA! FARHAN! BUKA PINTU!"
Dari jauh, balai desa yang lampunya tadi berkedip-kedip, sekarang menyala terang. Pintu kayunya terbuka sedikit.
"SINTA! FARHAN!" Maya juga menjerit sambil nangis.
Pintu itu terbuka lebar. Sinta dan Farhan muncul.
Sinta dengan wajah pucatnya yang cantik itu nangis sesenggukan, rambutnya berantakan. "KAK SELVI! KAK MAYA! CEPET! MASUK!"
Farhan, yang biasanya tukang ngelawak, sekarang mukanya putih seperti kertas. Dia tidak melucu sama sekali. Dia memegang sapu kayu erat-erat seperti senjata. "RIKO KENAPA? BIMA MANA? BIMA MANA KAK?"
Jangan sebut namanya. Aku ingat pantangan Pak Lurah.
"Jangan sebut!" Aku membentak Farhan sambil mendorong tubuh Riko masuk ke dalam balai desa. "Masuk dulu! Tutup pintu!"
Kami berempat, aku, Maya, Sinta, Farhan, plus Riko yang pingsan, berhasil masuk. Pak Lurah Karjo masuk paling akhir.
BRAK! Pintu balai desa dibanting tutup.
Farhan dan Sinta langsung mendorong meja, kursi, lemari kayu untuk mengganjal pintu. Nafas kami semua ngos-ngosan.
Di dalam balai desa, lampu neon berkedip-kedip. Bau dupa dan anyir lebih menyengat di dalam sini.
Riko terbaring di lantai. Matanya masih putih.
Sinta meluk lututku. "Kak, tadi... tadi di luar jendela banyak yang lewat bawa obor. Mereka ketuk-ketuk jendela. Mereka manggil nama kita kak..."
Maya yang peka itu langsung menempel ke dinding. "Mereka sudah di luar. Mereka kepung kita."
Pak Lurah Karjo yang dari tadi diam, tiba-tiba jongkok di tengah ruangan. Dia membuka lantai kayu balai desa. Di bawahnya ada lubang persembunyian kecil.
"Kalian anak kota harus dengar. Ini bukan balai desa. Ini penjara mereka dulu."
Dia menunjuk ke dinding balai desa. Baru kami sadar. Di dinding kayu itu ada bekas gosong besar. Bekas bakaran.
"Di sinilah warga bakar Lastri. Anaknya Bu Leha. Tahun 1985. Di balai ini. Makanya arwah Bu Leha tidak pernah pergi dari balai ini."
Tiba-tiba, lampu neon Mati. Pet!
Gelap total. Hanya sisa cahaya obor Pak Lurah yang kami bawa masuk.
Dan dari kolong balai desa, dari lubang yang dibuka Pak Lurah itu, terdengar tawa cekikikan lagi.
"Hehehehe..."
Bukan satu. Dua.
Tawa anak kecil, Lastri, dan suara serak perempuan tua.
"Anakku... mana anakku... kembalikan..."
Sinta menjerit histeris. "ITU DI BAWAH KITA KAK!"
Maya memelukku erat. "Selvi, aku ngerasain... Bima di bawah... Bima di bawah kita..."
Farhan yang paling penakut, sekarang malah berdiri paling depan. Tangannya gemetar megang sapu. "Woy! Setan! Jangan ganggu temen gue! Keluar lo!"
Tiba-tiba, dari luar balai desa, puluhan obor itu menabrak pintu bersamaan. DUK! DUK! DUK!
Mereka mau masuk.
Pak Lurah Karjo berdiri. Wajahnya pasrah. Dia menatap kami berlima.
"Anak-anak... Bapak minta maaf. Bapak yang suruh kalian KKN di sini. Bapak yang butuh tumbal baru biar desa ini tenang 10 tahun lagi. Tapi kalian anak baik. Bapak gak tega."
Dia mengambil botol minyak tanah terakhir dari sarungnya.
"Kalau mereka masuk, kalian semua akan diambil. Bapak yang harus bayar."
Dia menyiramkan minyak tanah ke tubuhnya sendiri.
"PAK LURAH! JANGAN!" Aku, Maya, Sinta, Farhan teriak barengan.
Pak Lurah tersenyum untuk terakhir kalinya, senyum ramah yang sama seperti waktu menawarkan teh manis di BAB 1.
"Jaga obor kalian tetap nyala. Lari lewat belakang kalau Bapak sudah..."
Dia menyulut korek api.
Api membakar tubuhnya.
Dari luar, jeritan Bu Leha dan Lastri melengking marah bercampur jeritan Pak Lurah.
Dan pintu balai desa... jebol.
Di balik pintu yang jebol itu, berdiri puluhan warga tanpa bayangan, dengan obor di tangan.
Di paling depan, ada sosok perempuan gendong anak gosong, dan di sebelahnya...
Berdiri Bima. Dengan mata kosong. Memegang obor. Tersenyum ke arah kami.
Dan dia berbisik, "Selvi... Maya... Sinta... Farhan... Riko... giliran kalian..."
BERSAMBUNG
Akhirnya mereka sampai balai desa! Tapi kenapa yang nunggu di depan malah BIMA?! 😭
Makasih banyak buat kakak-kakak yang udah koreksi nama di BAB 10 kemarin! Sekarang udah aku benerin semua jadi: Selvi, Maya, Sinta, Riko, Bima, Farhan ✅ Gak ada Sari & Dito lagi!
Menurut kalian Pak Lurah beneran berkorban atau dia jadi bagian dari mereka? Dan Bima... masih Bima yang kita kenal gak? 😰
Gue baru sadar, Sari & Dito itu gak pernah ada 😭 Yang ada cuma Maya & Bima yang udah diambil sumur. Sorry guys kemarin typo nama, sekarang BAB 10 & 11 udah aku FIX! Komen kalian aku dengerin kok! Lanjut baca gak? #noveltoon #ceritahoror #kkn
#KKN, Horor, Desa Mati, KKN Desa Penari, Cerita Horor, Thriller, Misteri, Hantu, Bu Leha, Mahasiswa KKN, Novel Horor Indonesia, Creepypasta,
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐