NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Alasan untuk Pergi

Suara dongkrak hidrolik patah terdengar seperti besi ditembakkan.

"Pak!"

Laras berlari dari bawah kap mobil. Sebuah transmisi yang sedang diturunkan bergeser dari dudukannya. Tangan kanan Pak Darto terjepit di antara besi dan meja kerja.

Wajah lelaki itu abu-abu. Tiga jarinya tertekuk pada sudut yang membuat perut Laras mual.

"Matikan listrik! Angkat sisi ini!" teriak Laras kepada dua pekerja.

Mereka menggunakan dongkrak cadangan untuk membebaskan tangan Pak Darto. Darah membasahi kain lap yang dibalutkan Laras. Tangannya sendiri gemetar hebat, tetapi suaranya tidak boleh ikut goyah.

"Kita ke puskesmas sekarang."

"Bengkel masih ada mobil pelanggan."

"Biar terbakar sekalian kalau Bapak masih ngomong kerja."

Puskesmas hanya membersihkan luka, memberi penahan nyeri, lalu merujuk ke rumah sakit yang memiliki dokter bedah tangan. Kartu BPJS Pak Darto terselip di dompet lama. Laras mengurus surat rujukan sambil menelepon Mbah Surti dan pekerja bengkel.

Rayhan datang dengan seragam sekolah sebelum ambulans rujukan berangkat. Usianya hampir tiga belas, tubuhnya lebih tinggi, tetapi wajahnya kembali seperti bocah sepuluh tahun yang berdiri di depan warung.

"Pak Darto gimana?"

"Tiga jari patah. Dokter mau operasi penyambungan."

Rayhan langsung masuk mendekati tandu. "Pak, saya ikut."

Pak Darto mengangkat tangan kiri. "Sekolahmu?"

"Sudah selesai."

"Bohong."

"Saya izin."

Laras menyuruhnya pulang bersama Mbah Surti. Rayhan menolak sampai Pak Darto sendiri berjanji akan menelepon setelah operasi.

Prosedur berlangsung berjam-jam. Laras duduk di lorong rumah sakit dengan noda darah mengering di kaus. Galih, Nadia, dan Bima datang bergantian membawa makanan. Laras tidak menyentuhnya.

"Kalau lo pingsan, dokter dapat pasien tambahan," kata Bima.

Nadia membuka bungkus nasi dan menyodorkan sendok. "Tiga suap saja."

Laras akhirnya makan. Bukan karena lapar, tetapi karena tidak sanggup melihat Nadia ikut menangis.

Dokter keluar menjelang malam. Tiga jari berhasil disambung, tetapi Pak Darto harus istirahat dan menjalani kontrol rutin. Fungsi tangannya mungkin tidak kembali sepenuhnya.

"Dua puluh empat jam pertama kami pantau aliran darah ke jari," jelas dokter. "Jangan merokok di dekat pasien, jangan biarkan balutan basah, dan kembali segera kalau warnanya berubah atau terasa sangat dingin."

Laras mencatat semua di belakang kuitansi karena tidak menemukan kertas lain. Obat yang ditanggung BPJS diambil di loket, sementara satu jenis salep harus dibeli sendiri. Galih membantu membaca formulir; Bima mengurus pikap bengkel agar tidak menghalangi gang rumah sakit; Nadia menelepon pekerja untuk menutup bengkel tiga hari.

Untuk pertama kalinya Laras membiarkan orang lain mengambil sebagian beban. Ia tetap memeriksa setiap urusan dua kali.

Rayhan menelepon hampir tiap jam. Pada panggilan kelima, Laras kesal.

"Kalau ada perubahan gue kabarin. Jangan telepon terus."

"Aku cuma mau dengar suara kamu."

Laras menutup mata. "Gue baik-baik aja."

"Tangan kamu masih gemetar?"

Ia melihat jemarinya. Anak itu memperhatikan lebih banyak daripada yang ia kira.

"Udah nggak. Temani Mbah."

"Iya. Tapi kamu makan."

Saat diizinkan masuk, Laras berdiri di sisi ranjang. Tangan kanan Pak Darto dibalut besar dan digantung.

"Maaf, Nduk," katanya.

"Kenapa Bapak yang minta maaf?"

"Bengkel jadi repot."

"Saya bisa urus."

"Sekolahmu?"

Laras sedang kelas dua belas dan tinggal beberapa bulan menuju kelulusan. Ia menggenggam pagar ranjang.

"Saya urus dua-duanya."

Sejak hari itu, Laras sekolah pagi dan bekerja sampai malam. Bau antiseptik di tangan Pak Darto bercampur dengan oli. Setiap mengganti perban, Laras teringat bahwa orang yang selama ini menjadi seluruh keluarganya bisa hilang karena satu baut longgar.

Para pelanggan lama membantu dengan menunda pengambilan kendaraan. Tetangga mengirim sayur dan bubur. Mbah Surti menaruh kotak sumbangan kecil di warung meski Pak Darto marah saat tahu. Gang Mawar yang biasanya hanya pandai bergosip mendadak bergerak seperti satu keluarga besar.

Laras mengambil pekerjaan ringan: ganti oli, tambal ban, menyetel rem. Untuk kerusakan berat, ia menghubungi bengkel rekanan. Setiap malam ia menghitung uang, biaya obat, dan cicilan suku cadang.

Pak Darto memperhatikan dari kursi.

"Kamu nggak harus jadi Bapak dalam semalam."

"Saya cuma jagain yang ada."

"Sekolah jangan ditinggal."

"Nggak ditinggal."

Namun lingkar hitam di bawah mata Laras mengatakan hal lain. Rayhan mulai datang setelah sekolah, membawakan makanan dan mengerjakan tugas di meja kasir agar Laras tidak sendirian. Ia tak bisa memperbaiki mesin, tetapi bisa mencatat nomor pelanggan dan menjawab telepon dengan sopan.

Kehadirannya membuat bengkel terasa tidak terlalu berat.

Pertanyaan lama kembali mengganggu: sebelum Pak Darto menemukannya, siapa yang membiarkan ia sendirian di terminal?

Di dasar kotak perkakas, ia menyimpan sepotong kertas dengan alamat lama di Surabaya. Ia pernah menuliskannya saat kecil, sebelum memutuskan berpura-pura lupa.

Libur semester tiba. Pak Darto sudah bisa pulang, meski belum dapat bekerja. Laras membeli tiket kereta ke Surabaya melalui agen dekat stasiun.

"Saya mau jalan-jalan sama teman," katanya saat makan malam.

Pak Darto mengerutkan kening. "Teman siapa?"

"Teman sekolah."

"Nadia?"

"Bukan."

Kebohongannya terlalu pendek. Rayhan yang sedang membantu mengupas jeruk langsung menatap.

Malamnya, ia masuk ke kamar Laras untuk mengembalikan obeng dan melihat ujung tiket menyembul dari bawah buku. Tujuannya terbaca jelas.

SURABAYA PASAR TURI.

"Kamu mau ke Surabaya sendirian?"

Laras merebut tiket. "Jangan ngubek barang gue."

"Buat apa ke sana?"

"Jalan-jalan."

"Bohong."

"Ray, ini bukan urusan lo."

"Kalau kamu hilang?"

Nada paniknya membuat Laras terdiam. Ia teringat hari Rayhan sendiri pergi ke kota membeli sepatu.

"Gue udah tujuh belas. Tahu cara pulang."

"Kasih tahu Pak Darto."

"Bapak baru operasi. Gue nggak mau bikin dia kepikiran."

Rayhan menggenggam rahangnya. "Berarti memang ada yang bahaya."

Pagi keberangkatan, Laras pergi sebelum subuh. Di stasiun, saat ia hendak naik, Rayhan muncul berlari melewati pintu masuk. Napasnya putus-putus, kemejanya belum dikancing sempurna.

"Lo ngikutin gue?"

"Aku bangun dan kamu nggak ada."

Pengumuman keberangkatan terdengar. Rayhan mengeluarkan semua uang dari sakunya dan secarik kertas berisi nomor ponsel.

"Ambil. Kalau ada apa-apa, telepon aku."

"Simpan uang lo."

"Ambil, Laras."

Untuk pertama kalinya, ia tidak memakai Bang. Laras menerima uang itu karena pintu kereta hampir ditutup.

"Pulang. Jangan bikin Mbah nyari."

"Kamu juga pulang."

Kereta bergerak. Rayhan berjalan mengikuti jendela beberapa langkah sebelum peron habis. Laras menempelkan telapak pada kaca, lalu cepat-cepat menurunkannya.

Di pangkuannya, alamat lama Surabaya dan nomor Rayhan terlipat berdampingan.

Satu membawanya ke keluarga yang pernah ia tinggalkan. Satu lagi memastikan ia masih punya jalan kembali.

Di antara keduanya, pada pagi itu, Laras belum tahu alamat mana yang paling menakutkan untuk dituju seorang diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!