NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Sesak Napas

Kata `ipar` masih muncul di kepala Keira beberapa hari kemudian, tepat saat Reynard menarik kursi ke sampingnya.

"Tunjukkan bagian yang bikin macet."

Mereka duduk di meja kerja kecil unit 8B. Keira sedang menerjemahkan artikel teknologi, sedangkan Reynard menyelesaikan tugas pemrograman. Satu meja sebenarnya terlalu sempit untuk dua laptop, tiga buku, dan dua gelas, tetapi tak satu pun mengusulkan pindah.

Ini pertama kalinya Reynard kembali bekerja di unit Keira setelah masa saling menjauh. Ia mengetuk tiga kali, membawa makan malam, lalu menunggu di ambang sampai Keira sendiri mempersilakannya masuk.

"Aku kira Cici masih mau sendirian," katanya.

"Aku memang mau sendirian. Tapi tugas ini butuh orang yang paham teknologi."

"Jadi aku cuma kamus berjalan?"

"Kamus yang bisa masak. Jangan besar kepala."

Reynard tersenyum. Ketegangan di bahunya turun, cukup untuk membuat Keira sadar ia juga menunggu undangan kecil ini.

Mereka makan di depan laptop sambil membagi pekerjaan. Keira memperbaiki bahasa proposal lomba baru milik Reynard. Sebagai balasan, Reynard menjelaskan istilah teknis dalam artikel terjemahannya. Dua kelompok tugas yang berbeda saling bertemu di meja sempit, membuat keahlian mereka terasa saling melengkapi.

"Judul proposalmu terlalu dingin," komentar Keira. "Orang harus mengerti manfaatnya sebelum kagum pada teknologinya."

"Kalau yang ini?"

"Lebih manusiawi."

"Sama seperti editorku."

"Bayar mahal kalau mau pakai jasaku."

Reynard menggeser potongan mangga ke arahnya. "Uang muka."

Keira mengambilnya sambil tertawa. Percakapan yang selama seminggu terasa rapuh akhirnya menemukan ritme lama. Hanya ada satu perbedaan: kini mereka terlalu sadar pada setiap kali lutut bertemu di bawah meja.

Keira menunjuk istilah pada layar. "Aku tahu artinya, tapi semua pilihan terdengar kaku."

Reynard membaca paragraf, lalu membuka diagram produk. "Yang ini bukan sekadar `menyimpan`. Sistemnya menjaga data tetap tersedia waktu jaringan putus. Pakai kata yang menunjukkan fungsi bertahan."

Keira mencoba satu kalimat. Hasilnya lebih alami.

"Kamu anak Computer Science atau Sastra Inggris?"

"Aku cuma menjelaskan sistemnya. Cici yang pilih kata."

"Tetap saja menyebalkan. Kamu baru semester satu."

"Cici mau aku pura-pura nggak tahu?"

"Mau. Biar harga diriku aman."

Reynard tertawa dan kembali ke laptop. Suasana nyaman itu bertahan sampai Keira menemukan catatan tangan lama yang sulit dibaca.

"Ini tulisannya apa?"

"Mana?"

Reynard mendekat.

Kursinya tidak bergerak, tetapi tubuhnya membungkuk melewati bahu Keira. Sisi wajahnya berhenti dekat pelipis. Napas hangat menyapu telinga Keira, membawa aroma kopi dan sabun.

Punggung Keira menegang.

"`Resilient`," kata Reynard. "Cici menulis huruf s seperti angka lima."

Ia menunjuk kata itu. Ujung jarinya menyentuh punggung tangan Keira yang masih memegang pena.

Sentuhan hanya satu detik.

Tubuh Keira bereaksi seolah dialiri listrik. Sindrom haus kulit yang selama beberapa hari tenang mendadak bangun. Ujung jarinya terasa kosong, dadanya mengencang, dan setiap bagian kulit yang dekat dengan Reynard seolah menuntut jarak mereka diperkecil.

Ia bisa bergeser.

Ia tidak melakukannya.

Reynard terus menjelaskan struktur kalimat. Suaranya rendah di dekat telinga, tetapi Keira tidak lagi memahami kata-katanya. Perhatiannya tertahan pada lengan yang berada di sampingnya, garis rahang yang hanya berjarak beberapa senti, dan panas tubuh yang menembus kain tipis.

"Ci Kei?"

"Hmm?"

"Dengar nggak?"

"Dengar."

"Aku bilang kalimat ini sebaiknya dibalik."

"Iya. Balik."

Reynard menoleh. Gerakan itu membuat ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Keira langsung berhenti bernapas.

Mata Reynard turun ke bibirnya, lalu kembali naik. Tidak ada alkohol yang bisa dijadikan alasan malam ini. Keduanya sadar penuh.

"Cici kenapa?" tanyanya pelan.

"Pengap."

"AC-nya dingin."

"Aku tahu."

"Terus kenapa nggak menjauh?"

Pertanyaan itu masuk tepat ke pusat kepanikan Keira. Tangannya menggenggam pena semakin kuat, tetapi bagian lain tubuhnya justru condong tanpa disadari.

Reynard tidak maju. Ia menunggu, sama seperti saat meminta ciuman di lorong. Memberi Keira seluruh pilihan dan seluruh beban keputusan.

Jari mereka masih bersentuhan.

Keira membalik telapak tangannya sedikit. Jika bergerak satu senti, jemari mereka akan saling mengait.

Ponsel Reynard bergetar keras di atas meja.

Keduanya tersentak dan mundur bersamaan. Pena Keira jatuh. Gelas hampir tersenggol.

Nama Vince muncul di layar dengan pesan tentang jadwal basket.

Pesan kedua segera menyusul berupa voice note. Reynard menyalakannya tanpa sengaja.

"Ko Rey, besok jadi, kan? Jangan sibuk terus di unit Ci-ku. Anak-anak bilang kamu sekarang susah diajak main."

Keira menutup wajah dengan tangan. "Kenapa semua orang merasa berhak mengomentari kita?"

Reynard membalas voice note. "Besok jadi. Dan jangan sebar gosip kalau masih mau kubantu tugas algoritma."

Balasan Vincent datang berupa tawa keras dan kalimat, "Wah, galak. Berarti benar lagi sama Ci Keira."

Reynard mematikan layar. "Dia memang cerewet."

"Kamu yang membuatnya curiga."

"Aku cuma masak."

"Setiap hari."

"Aku cuma antar jemput."

"Hampir setiap hari."

"Aku cuma duduk dekat Cici."

Kalimat terakhir membuat perhatian mereka kembali pada jarak kursi yang kini sudah melebar. Keira merasakan kehilangan kehangatan tadi seperti angin dingin mengenai kulit basah.

"Tadi memang terlalu dekat," katanya.

"Cici nggak suka?"

Keira tidak mampu menjawab. Reynard menunggu beberapa detik, lalu mengangguk seolah menerima diam sebagai batas.

"Aku akan hati-hati."

Sekali lagi, kepatuhannya bukan kelegaan yang Keira harapkan.

"Angkat," kata Keira terlalu cepat.

"Cuma chat."

"Balas. Nanti dia cerewet."

Reynard membaca pesan, lalu mengetik singkat. Keira mengambil pena di lantai untuk menyembunyikan wajahnya. Ketika bangkit, jarak kursi mereka sudah lebih lebar.

Rasa lega datang bersama kehilangan yang memalukan.

"Kita lanjut?" tanya Reynard.

"Besok saja. Aku sudah nggak fokus."

"Karena pengap?"

Keira menutup laptop. "Karena kamu banyak tanya."

Ia membawa gelas ke dapur. Tangan yang tadi hampir menggenggam Reynard masih berdenyut. Di belakangnya, kursi bergeser.

Reynard berhenti di pintu dapur, tidak masuk.

"Ci Kei."

"Apa?"

"Kalau tadi Vince nggak chat, Cici mau ngapain?"

Air dari keran melimpah keluar gelas. Keira buru-buru mematikannya.

"Nggak tahu."

Itu jawaban paling jujur yang pernah ia berikan.

Reynard tidak mengejar. "Kalau sudah tahu, kasih tahu aku."

Pintu unit tertutup beberapa detik kemudian. Keira berdiri sendiri di dapur, menempelkan tangan pada dada. Jantungnya masih menghantam cepat, sementara di punggung tangannya tertinggal ingatan satu sentuhan ringan.

Ia selamat dari jarak yang hampir hilang.

Masalahnya, sebagian dirinya menyesal karena ponsel itu berbunyi.

Jika kesempatan yang sama datang lagi, Keira tidak yakin dirinya masih mampu mundur. Ketidakpastian itu mengikuti sampai ke kamar, menempel pada kulitnya seperti sisa panas tangan Reynard yang tak juga hilang.

Bahkan setelah ia mencuci tangan dengan air dingin berkali-kali malam itu, tetap saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!