Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26 Hotel, Kebun Anggur, atau Taman Bermain?
Marcus menunggu Nathan di dekat tangga.
"Ada dua hal," katanya. "Yang pertama urusan NARA."
Nada suaranya membuat Nathan menyimpan protes tentang peringatan tadi. Mereka masuk ke ruang kerja kecil, sementara Keira masih berbicara dengan Vivian di ruang duduk.
"Tim pemeriksaan keluarga menemukan tiga pelamar lokal dengan riwayat yang terlalu rapi," lanjut Marcus. "Salah satunya pernah menerima pembayaran dari vendor milik Zenith. Dua lainnya memakai rekomendasi berantai yang berakhir di perusahaan cangkang."
"Ranti sudah memisahkan mereka."
"Kau tahu?"
"Aku curiga sejak tes integritas. Mereka mendapat akses palsu untuk melihat apa yang dicari."
Marcus bersandar ke meja. "Simulasi seranganmu bisa membuat orang panik."
"Itu tujuannya."
"Jangan sampai timmu sendiri yang runtuh."
"Aku tahu batasnya."
Marcus menatapnya datar. "Kalimat itu jarang meyakinkan kalau keluar dari mulutmu."
Pintu terbuka. Andreas masuk membawa sebuah map tipis. "Bagus, kalian berdua di sini. Ada struktur kepemilikan yang perlu diselesaikan sebelum peluncuran."
Di ruang duduk, Keira baru saja meyakinkan seorang pekerja rumah tangga bahwa ia bisa menuang teh sendiri.
"Mbak Keira, biar saya saja."
"Tidak apa-apa. Aku bisa."
Perempuan itu kembali melihat Vivian untuk meminta kepastian. Keira menahan napas kecil.
"Kita sudah membahas ini," kata Vivian. "Kalau Keira bilang bisa, biarkan."
"Baik."
Setelah staf itu pergi, Keira menuang dua cangkir dan menyerahkan satu kepada Vivian. "Aku belum terbiasa dilayani untuk hal sekecil ini."
"Mereka belum terbiasa punya anggota keluarga yang mengambil teko sendiri." Vivian menerima tehnya. "Kalian akan bertemu di tengah."
Andreas memanggil mereka beberapa menit kemudian. Di meja ruang kerja, bagan kepemilikan NARA dan Grup Halim sudah terbuka.
"Nathan membangun NARA sendiri," katanya kepada Keira. "Keluarga tidak ingin mengambil hasil kerjanya. Namun untuk perlindungan jangka panjang, kami mengusulkan pertukaran aset."
Nathan menunjuk satu kotak dalam bagan. "NARA mendapat satu unit bisnis teknologi milik Grup Halim. Sebagai gantinya, Grup Halim mendapat sepuluh persen saham NARA."
"Sepuluh persen?" Keira membaca angka lain. "Keluarga masih memegang sekitar enam puluh tujuh persen Grup Halim setelah penataan ini."
"Benar," jawab Marcus. "Kontrol tidak berpindah. Nathan juga masuk dewan agar keputusan teknologi tidak hanya dinilai dari laporan keuangan."
"Kau setuju?" tanya Keira kepada Nathan.
"Secara bisnis, ya. Secara keluarga, aku meminta klausul bahwa NARA tetap independen dalam produk dan keamanan data."
"Sudah dimasukkan," kata Andreas. "Kalian baca sendiri sebelum tanda tangan."
Keira tidak memiliki hak suara dalam transaksi itu, tetapi mereka tetap menjelaskan kepadanya. Sikap tersebut membuat angka-angka besar di atas kertas terasa lebih manusiawi.
Setelah pembahasan selesai, Marcus mengeluarkan map kedua. "Sekarang bagian hadiah pernikahan."
Nathan menatap curiga. "Kenapa Ko yang pegang?"
"Karena kalau Mama yang memilih, kalian mendapat satu pulau."
"Pulau juga bagus," sahut Vivian dari belakang.
Marcus mengabaikannya dan menaruh enam foto di meja. Sebuah hotel butik di Bandung, kebun anggur kecil di Bali, restoran tepi laut, toko perhiasan, vila pegunungan, dan taman bermain keluarga di Bogor.
"Pilih satu," katanya. "Aset milik keluarga, bukan perusahaan terbuka. Pengelolaannya sudah ada. Kalian bisa menjadi pemilik pasif atau ikut menentukan arah."
Keira menatap semua foto itu dengan wajah yang makin sulit dibaca. "Ini disebut hadiah kecil?"
"Dibanding pulau Mama, ya."
"Aku tidak membutuhkan aset lain."
Andreas melipat tangan. "Hadiah tidak dibuat untuk menutup kebutuhan. Anggap ini ujian sederhana. Kami ingin tahu cara kalian mengambil keputusan bersama."
Nathan mendorong foto-foto itu ke arah Keira. "Kau yang pilih."
"Kenapa aku?"
"Karena kalau aku memilih, aku akan mengambil taman bermain lalu mengganti semua karakternya menjadi robot."
"Itu alasan yang cukup kuat untuk tidak membiarkanmu memilih."
Vivian menunjuk kebun anggur. "Yang ini romantis."
Marcus menunjuk hotel. "Yang ini paling stabil."
Andreas tidak menunjuk apa pun. "Data keuangan ada di map."
Keira memeriksa lembar ringkas satu per satu. Hotel memiliki arus kas baik dan manajemen profesional. Kebun anggur bergantung musim. Restoran memiliki margin tipis. Toko perhiasan membutuhkan pengawasan stok. Vila sering kosong. Taman bermain menarik, tetapi memerlukan investasi keselamatan besar.
"Aku tidak akan memilih hari ini," katanya.
Vivian tampak hendak membujuk, tetapi Nathan lebih dulu mengangguk. "Bawa datanya pulang."
"Aku ingin tahu kewajiban pajak, utang, dan sengketa setiap aset."
Marcus memberikan map itu kepadanya. "Jawaban yang benar."
Keira masih belum menutup halaman hotel. Nama aset itu Calista Hotels, sebuah jaringan kecil dengan tiga properti yang dikelola profesional. Pendapatannya tidak spektakuler, tetapi tingkat hunian stabil dan tidak ada utang jatuh tempo dalam dua tahun. Satu-satunya catatan mencolok adalah biaya renovasi cabang Bandung yang membengkak tujuh persen.
"Siapa yang menyusun ringkasannya?" tanya Keira.
"Tim investasi keluarga," jawab Marcus.
"Bagian buruknya tetap dimasukkan."
"Kalau kami menyembunyikannya, hadiah berubah menjadi jebakan."
Nathan menarik satu kursi dan duduk di sampingnya. "Aku akan meminta audit independen untuk pilihan terakhir. Bukan timku, bukan tim keluarga."
"Kamu tidak tersinggung kalau aku memeriksa hadiah dari keluargamu?"
"Aku akan tersinggung kalau kamu menerima tanpa memeriksa."
Andreas mengetuk meja sekali sebagai tanda setuju. "Kekayaan keluarga bertahan bukan karena kami saling percaya tanpa syarat. Ia bertahan karena aturan tetap berlaku bahkan untuk keluarga."
Keira mengingat akta hibah yang dibacanya berulang kali sehari sebelumnya. Dua keluarga memberinya hal besar dengan cara berbeda, tetapi keduanya mulai belajar bahwa rasa aman baginya bukan datang dari nominal. Rasa aman datang dari hak untuk memahami, menolak, dan memilih.
Ia menandai halaman Calista dengan kertas kecil, lalu melakukan hal yang sama pada taman bermain. "Aku bandingkan dua ini dulu."
Nathan menunjuk foto kebun anggur. "Yang romantis gugur?"
"Kita bisa mengunjungi kebun anggur tanpa harus memilikinya."
"Logis sekali."
"Kamu menikah dengan ilustrator, bukan kolektor aset."
"Tadi katanya tidak ada jawaban benar," ujar Nathan.
"Aku berbohong supaya kau tidak mencontek."
Ketika mereka bersiap pulang, pekerja rumah tangga yang sama menawarkan diri membawa kotak perhiasan. Kali ini ia bertanya lebih dulu.
"Mbak Keira, perlu saya bantu?"
Keira tersenyum. "Yang besar boleh. Yang kecil aku bawa. Terima kasih."
Di mobil, enam foto aset terhampar di pangkuannya. Nathan bersandar dekat, dagunya hampir menyentuh bahu Keira.
"Hotel, kebun anggur, atau taman bermain?" tanyanya.
"Jangan mengganggu analisis."
"Kalau bukan tiga itu, apa?"
Keira menutup map dan menatapnya. "Kamu ingin aku memilih yang mana?"
Nathan tidak melihat foto-foto itu sama sekali.
"Aku ingin tahu mana yang kamu suka."
Dan jawaban itu harus datang tanpa tekanan siapa pun.