NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Cemburu di Balik Kaca Jendela

Udara di dalam kabin mobil mewah itu terasa begitu padat, dibebani oleh sisa-sisa amarah dan ketegangan yang belum sepenuhnya mereda. Jino masih mempertahankan dekapannya pada Reina, seolah-olah melepas sedikit saja pelukan itu akan membuka celah bagi Nathaniel Arcturus untuk merebut gadisnya.

Reina bisa merasakan detak jantung Jino yang bergemuruh tidak beraturan di balik kemeja hitam pria itu. Dengan sabar, tangan lentiknya terus mengusap punggung bidang Jino, menyalurkan ketenangan yang ia miliki.

"Jino," panggil Reina pelan, suaranya lembut namun tegas. Ia melonggarkan pelukan mereka perlahan agar bisa menatap langsung ke dalam manik mata kelam pria itu. "Hei, lihat aku."

Jino mengangkat wajahnya. Rahangnya masih mengeras, namun sorot mata tajamnya kini melembut saat bersiborok dengan manik mata cokelat Reina.

"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, dan aku sama sekali tidak tertarik pada pria sok tahu seperti Nathaniel tadi," ucap Reina meyakinkan, menyunggingkan senyuman kecil yang menenangkan. "Lagipula, dari sekian banyak pria arogan di dunia ini, aku kan sudah terlanjur memilih satu yang paling menyebalkan. Buat apa melirik yang lain?"

Mendengar kalimat itu, sudut bibir Jino perlahan terangkat membentuk senyuman tipis—senyuman miring khas yang selalu berhasil membuat pesona pria itu berlipat ganda. Tangan kokohnya terangkat, menangkup pipi Reina dengan sangat lembut, lalu ibu jarinya mengusap pelan kulit pipi gadis itu.

"Kau benar-benar tahu cara menjinakkan singa yang sedang mengamuk, gadis desa," bisik Jino rendah, sebelum menundukkan wajahnya dan mendaratkan satu ciuman singkat namun penuh rasa memiliki di bibir Reina.

Meski badai kecil di kafe tadi telah diredam oleh kehangatan di antara mereka, insting bisnis Jino mengatakan bahwa kemunculan Nathaniel Arcturus bukanlah sebuah kebetulan semata. Nathaniel adalah tipe predator licik yang tidak akan pernah berhenti sebelum menghancurkan apa pun yang paling berharga bagi keluarga West. Dan kali ini, target utama pria itu adalah Reina.

Malam harinya, di dalam ruang kerja pribadi penthouse yang temaram, suasana kembali serius. Jino berdiri di depan meja kerjanya yang dipenuhi oleh berkas-berkas laporan intelijen mengenai Arcturus Group.

Reina duduk di sofa beludru di sudut ruangan, sibuk menatap layar laptopnya untuk melanjutkan bab demi bab novel wuxianya. Namun, sesekali matanya melirik ke arah Jino yang tampak begitu sibuk dan tegang. Pria itu bahkan melepas jasnya dan melipat kemeja lengan panjangnya hingga siku, menampilkan otot lengannya yang kokoh.

"Kau tidak butuh istirahat?" tanya Reina akhirnya, menutup layar laptopnya sejenak dan berjalan mendekati meja kerja Jino sambil membawa dua cangkir cokelat panas. Ia meletakkan salah satu cangkir tepat di samping tumpukan berkas pria itu.

Jino menghentikan gerakannya, mendongak menatap Reina. Garis wajahnya yang tegang perlahan melunak melihat perhatian sederhana dari gadis itu. Ia menarik tangan Reina pelan hingga gadis itu duduk di atas pangkuannya.

"Aku akan istirahat... kalau kau menemaniku seperti ini," jawab Jino dengan suara berat yang menggoda, melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Reina.

Reina mendengus pelan, meski rona merah sempat menyapu pipinya. Ia menyandarkan tubuhnya nyaman di dada Jino. "Kau terlalu memikirkan ancaman Nathaniel tadi, ya? Jangan biarkan bajingan itu merusak suasana hati kita."

Jino mendesah pelan, mengecup puncak kepala Reina sekilas. "Bukan karena aku takut pada ancamannya, Reina. Tapi aku mengenal Nathaniel. Dia adalah tipe pria yang akan menggunakan segala cara kotor untuk memenangkan permainan, termasuk menyeret orang-orang di sekitarku." Jino menatap manik mata Reina lekat-lekat. "Mulai besok, pengamanan di sekitar kampusmu akan diperketat. Kau tidak boleh pergi ke mana-mana tanpa pengawal pribadi."

Reina langsung mendelik tidak terima. Ia menegakkan duduknya di atas pangkuan Jino. "Hei! Pengawal pribadi? Yang benar saja! Aku ini mahasiswi biasa, bukan putri presiden! Nanti dikira artis papan atas lagi kalau ke kampus dikawal bodyguard berbadan besar!"

"Aku tidak peduli," balas Jino mutlak tanpa ruang bantahan. "Keselamatanmu adalah harga mati, Reina. Titik."

Melihat ekspresi keras kepala Jino yang kembali muncul, Reina hanya bisa menghela napas pasrah. Ia tahu, jika pria itu sudah memasang mode CEO berkuasa, tidak ada satu pun manusia di bumi ini yang bisa mengubah keputusannya.

Keesokan paginya, suasana kampus Reina benar-benar berubah drastis. Begitu taksi online yang ditumpanginya berhenti di gerbang utama universitas, dua orang pria berbadan tegap berjas hitam rapi—yang merupakan anak buah kepercayaan Jino—sudah berdiri siaga membukakan pintu mobil dan mengawal setiap langkahnya menuju gedung fakultas.

Maya, yang menunggu Reina di depan teras gedung kuliah, membelalakkan matanya lebar-lebar begitu melihat sahabatnya datang dengan pengawalan ketat ala agen rahasia FBI.

"Ya ampun, Reina! Kamu ini mau kuliah atau mau sidang PBB sih?!" seru Maya heboh sambil menepuk jidatnya saat Reina tiba di dekatnya. "Itu dua raksasa di belakangmu dari tadi bikin semua mahasiswa di koridor minggir ketakutan!"

Reina mengembuskan napas lelah, merapikan buku-buku di tasnya. "Jangan tanya, May. Calon suamiku itu lagi kambuh sindrom overprotective-nya gara-gara kemarin ada insiden kecil di kafe."

Namun, di balik keluhan itu, jauh di dalam lubuk hatinya, Reina tahu bahwa tindakan Jino murni lahir dari rasa peduli dan takut kehilangan.

Hari-hari perkuliahan berjalan cukup padat. Hingga menjelang sore hari, ketika jam kuliah terakhir usai, Reina berjalan keluar menuju area parkir kampus didampingi oleh kedua pengawalnya. Tepat saat ia hendak masuk ke dalam mobil jemputan, sebuah mobil sport hitam mewah mendadak berhenti melintang di hadapan mereka, menghalangi jalan.

Pintu mobil terbuka, dan sosok Nathaniel Arcturus melangkah keluar dengan senyuman miring yang begitu menyebalkan. Di tangannya, terselip sebuah buket bunga mawar merah yang tampak sangat kontras dengan suasana sore itu.

Kedua pengawal pribadi Reina langsung bergerak sigap, memasang badan di depan Reina untuk menghalangi Nathaniel mendekat.

"Tuan Arcturus, mohon untuk mundur. Anda tidak diizinkan mendekati Nona Reina," ucap salah satu pengawal dengan suara tegas dan mengancam.

Nathaniel tertawa kecil. Ia melambaikan tangannya meremehkan, lalu menatap langsung ke arah Reina dari balik punggung kedua pengawal tersebut.

"Tenang saja, kawan. Aku tidak berniat melukai nona cantik ini," ucap Nathaniel dengan nada ramah yang dibuat-buat. Ia melangkah maju sedikit, melemparkan senyuman penuh pesona ke arah Reina. "Aku hanya ingin mengantar calon istri Tuan Muda Jino West yang terhormat ini... untuk secangkir kopi sore. Bagaimana, Reina? Tawaran menarik, kan?"

Reina menatap Nathaniel dengan sorot mata dingin tanpa sedikit pun rasa takut. Ia melangkah maju, menyingkirkan pelan lengan pengawalnya agar bisa berdiri sejajar di hadapan pria licik itu.

"Maaf, Tuan Arcturus. Aku tidak minum kopi dengan pria yang tidak tahu sopan santun dan hobi mengusik privasi orang lain," balas Reina telak, suaranya lantang dan tegas. "Dan simpan bungamu itu. Baunya membuatku mual."

Alih-alih marah, tawa renyah justru meluncur dari bibir Nathaniel. Sorot matanya berubah semakin tajam, menyiratkan tantangan yang berbahaya. "Kau memang wanita yang sangat menantang, Reina. Tidak heran Jino begitu terobsesi padamu. Tapi ingat kata-kataku... apa pun yang dimiliki Jino West, cepat atau lambat, akan jatuh ke tanganku."

Sebelum Nathaniel sempat melanjutkan kalimat provokatifnya, suara deru mesin mobil sport berperforma tinggi terdengar meraung kencang memasuki area parkir kampus, disusul oleh bergesekannya ban mobil dengan aspal secara agresif.

Sebuah mobil sedan hitam milik West Corporation berhenti mendadak tepat di samping mobil Nathaniel. Pintu mobil terbuka dengan kasar, dan sosok Jino West melangkah keluar.

Aura membunuh yang luar biasa pekat langsung menyelimuti area parkir seketika. Pertarungan antarpenguasa kota baru saja akan dimulai, dan Reina tahu betul, segalanya tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!