NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:34k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Esok harinya, saat mereka melanjutkan perjalanan ke wilayah utara, Elliot menoleh pada Davira.

“Karena perjalanan kita masih panjang sebelum tiba di penginapan kota Alexandria, sebaiknya kita berhenti sebentar untuk beristirahat dan makan siang. Kalau tidak, kita baru akan makan malam sekitar pukul sepuluh… atau mungkin lebih larut lagi,” ujarnya pelan.

Davira hanya mengangguk lemah. Matanya tampak sayu, jelas masih menyisakan kelelahan dari mimpi buruk yang semalam menghantui tidurnya. Ia berusaha menegakkan tubuh dan menyembunyikan rasa letih itu, namun sorot matanya tak bisa berbohong.

Elliot memperhatikannya dengan seksama. Ingin bertanya, tapi ia memilih menahan diri. Ia tahu, untuk saat ini, yang paling dibutuhkan Davira hanyalah istirahat.

Kereta berhenti di sebuah padang rumput yang dipenuhi pepohonan rindang. Elliot segera membuka pintu kereta, lalu mengulurkan tangan pada Davira.

“Pelan-pelan,” ucapnya singkat, membantu istrinya turun.

Beberapa pelayan, termasuk Noela, segera bergerak sigap menyiapkan piknik makan siang. Di bawah naungan pohon rindang, mereka menghamparkan kain alas dan menata sebuah meja kecil dengan tiga kursi di sekelilingnya.

Keranjang-keranjang berisi roti, buah, daging asap, dan botol anggur dikeluarkan satu per satu, lalu ditata cantik diatas piring makan Davira.

Di dekat kereta barang yang terparkir, seorang pelayan tampak sibuk di dekat tungku buatan, memasak sup dalam panci besar. Tak lama, semangkuk sup panas dibagikan kepada para prajurit, lengkap dengan sepotong roti sederhana.

Davira memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Ada kelegaan tersendiri melihat para prajurit makan dengan lahap meski hidangan mereka sederhana, seakan rasa lelah perjalanan terhapus oleh hangatnya sup dan roti.

"Sepertinya kalian sudah sangat terbiasa mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang," ujar Davira dengan nada kagum.

Grand Duke tersenyum tipis, lalu menjawab tegas, “Kami tidak akan membiarkan prajurit kami kelaparan hanya karena perjalanan pulang, dan daerah utara bukanlah tempat yang mudah untuk bertahan hidup, Kami terbiasa melewati musim dingin yang panjang, jadi persiapan adalah kunci pertahanan hidup.”

“Sejak kecil, Rakyat wilayah utara sudah diajari berburu. Apa pun keadaannya.” Elliot menimpali perkataan ayahnya,

Davira terdiam mendengar percakapan mereka. Ia tak pernah benar-benar mengira betapa kerasnya hidup yang dijalani rakyatnya. Selama ini, ketika menjabat sebagai ratu, pikirannya hanya tertuju pada ancaman serangan suku Avarian dan bagaimana wilayah utara bisa tetap aman.

Namun, ia baru menyadari ada sisi lain dari perjuangan—tentang bagaimana rakyat di wilayah utara, bertahan di tengah alam yang tak kalah ganas.

Davira menatap Grand Duke dengan penuh keyakinan. “Aku akan mengubah daerah utara menjadi daerah bercocok tanam di sepanjang tahun.” ucapnya penuh tekad.

Tawa Grand Duke menggema terbawa hembusan angin sore. “Ha ha ha! Kau serius, Mantan Ratu? Tanah daerah utara itu keras dan sulit dijinakkan bahkan setelah musim semi tiba. Apa yang kau impikan terdengar… Sangat mustahil dan omong kosong belaka,” ujarnya sambil tersenyum geli.

Tapi Davira tak menunduk ia menatap Grand Duke dengan tatapan penuh tantangan.

“Sesuatu yang mustahil terjadi telah terjadi kepadaku, your Grace. Percayalah dewa akan memberkati tanah daerah utara."

Grand Duke mengangkat alis, masih setengah tersenyum.

“Kau optimis sekali, mantan Ratu… tapi itu terdengar seperti angan-angan bagi orang yang belum pernah menghadapi kerasnya daerah utara.”

Elliot di sampingnya hanya menggeleng perlahan, menganggap Davira melakukan perlawanan konyol. Ia tahu bahwa meski tekad Davira kuat, kenyataan di lapangan tak akan semudah kata-kata. Namun, ia tetap diam, membiarkan saja istrinya berbicara, sambil menahan rasa cemas dalam hati.

******

Malam harinya mereka tiba di penginapan kota Alexandria. Suasananya jauh lebih ramai dibanding kota kecil yang sebelumnya mereka singgahi. Pelabuhan sedang hiruk pikuk—baru saja sebuah kapal besar dari Semeru berlabuh, membawa pedagang, penumpang, dan rombongan bangsawan kecil yang langsung memenuhi hotel-hotel terbaik di kota itu.

“Maaf, Tuan. Hanya ada satu kamar terbaik yang tersisa. Sisanya… hanya sebuah kamar sempit dengan ranjang kecil," ucap sang manager hotel.

Elliot menoleh sekilas pada Davira. Cahaya lampu minyak di lobi hotel memantulkan bayangan lembut di wajah istrinya, yang tampak letih setelah perjalanan panjang. Ia bisa menebak Davira terlalu penat untuk berdebat atau berpindah ke penginapan lain.

“Aku ambil kamar satu terbaik itu untuk ayahku dan satu kamar kecil yang kau sebut cukup nyaman untukku dan istriku,” jawab Elliot singkat. Nada bicaranya tegas, tidak memberi ruang bagi sang resepsionis untuk menawarkan alternatif lain.

Kunci kamar pun diserahkan dengan cepat, dan sesaat kemudian mereka menaiki tangga kayu yang dilapisi karpet permadani tebal di setiap langkah.

Lorong menuju kamar tempat mereka bermalam dipenuhi suara pengunjung lain—tertawa cukup keras. Tidak hening seperti malam pertama mereka di kota sebelumnya.

Saat pintu kamar akhirnya terbuka, Davira terdiam. Ranjang ukuran kecil namun berkanopi berada di tengah ruangan, cahaya lilin di meja kecil memantul pada kain tirai berwarna emas pucat. Ruangan itu terlihat mewah meskipun ukurannya kecil.

Davira melangkah masuk, melepas mantelnya, lalu berdiri di dekat jendela. Tak lama, Noele masuk menyusul, membawa seember air hangat dan pakaian ganti. Cahaya lampu temaram memperlihatkan wajahnya yang letih, matanya setengah sayu setelah perjalanan panjang.

"Tidak perlu repot melayaniku malam ini, Noele. Aku bisa membersihkan diri sendiri," kata Davira dengan nada lembut, tidak ingin pelayan kesayangannya itu kelelahan hingga jatuh sakit. Ini pertama kalinya bagi mereka berdua melakukan perjalanan ke selatan.

“Tapi, Nyonya…” Noele ragu, menunduk.

“Kau harus cepat istirahat! Besok pagi kita masih harus melanjutkan perjalanan," ucap Davira, kali ini lebih tegas.

Sejenak Noele terdiam, lalu mengangguk patuh. Ia menaruh air dan pakaian itu, kemudian membungkuk sebelum pamit meninggalkan kamar.

Davira mulai melepas gaunnya. Kain tebal itu meluncur perlahan hingga jatuh berkeresek di lantai kayu oak yang dingin. Kini tubuhnya hanya terbalut kain tipis, hampir transparan di bawah cahaya lilin yang bergetar.

Jemari halusnya berjuang membuka ikatan korset di dadanya—setiap tarikan terasa melepaskan ketegangan yang ia simpan sepanjang hari.

Davira meraih seember air hangat yang dibawa Noele tadi. Dengan gerakan perlahan, ia membasuh wajahnya, lalu leher dan bahunya. Setiap sentuhan air seolah melepaskan debu perjalanan. Ia mengusap lengannya, lalu menunduk mencuci kakinya.

Krieett...

Pintu berderit terbuka. Elliot masuk—membawa piring tembaga berisi makanan, sorot matanya membeku, terpaku pada sosok Davira yang rambutnya tergerai, berdiri hanya terbalut kain tipis, kulitnya lembap oleh sisa air.

Lilin yang bergetar membuat bayangan tubuh Davira menari di dinding, menyingkap bentuk tubuh yang selama ini hanya terbungkus gaun.

Davira tersentak, buru-buru kedua tangannya menutupi dadanya. “E-Elliot!” gumamnya panik.

Elliot cepat-cepat memalingkan wajah, “Maaf… aku tidak bermaksud mengganggumu,” ucapnya kikuk.

Tanpa berani menatap Davira, Elliot meletakkan piring di meja kecil dekat pintu, lalu mundur setengah langkah.

“Aku… akan menunggu di luar,” ujarnya pelan, berusaha menutupi debaran jantung yang berantakan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️

1
Ari Peny
🤣🤣🤣
Ari Peny
rasain jd mainan ayahmu dw 🤣🤣🤣
Anggye syahab
Ya ampun kak..pantesan aja gak ada kabar..semoga lekas sembuh ya kak..semangat yaa kak..semoga selalu sehat🤗🥰
🍤🍊⃟𝐒𝐓𝐉🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪: 🤗🤗🤗🤗🤗
total 1 replies
Nurul Inayah
walaupun belum selesai udah kasi bintang 5 cerita nya bagus banget kak sukaa semoga cepet selesai ya kak biar tambah puas bacanya
Rossy Annabelle
thanks thor,semakin tambah menarik intrik diistana/Chuckle/
Anggye syahab
owh hallo kak..ternyata kaka lagi berlibur yaaa..wowww..semoga pas pulang nanti..ada ide karya baru lagi..jangan lupa jaga kesehatan ya kak..🤗🥰
🍤🍊⃟𝐒𝐓𝐉🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪: aamin 🤗🤗
total 1 replies
Ari Peny
makin seru aja thor gk sabar aq 👍👍👍
🍤🍊⃟𝐒𝐓𝐉🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪: 🤗 ikuti terus yahh kak
total 1 replies
Ari Peny
lanjut thor semangat💪💪💪
🍤🍊⃟𝐒𝐓𝐉🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪: makasih 🤗
total 1 replies
Rossy Annabelle
next thor ,,kukira GX up/Scowl/.. selamat jg buat saudaranya yg menikah /Grin/hehe
🍤🍊⃟𝐒𝐓𝐉🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪: hehehe makasih 🤭
total 1 replies
Anggye syahab
Kakk..kamu kemana gak update beberapa hari?sibuk apa sakit kak..semoga selalu sehat yaa🤗di tunggu updatenya
Dewi Anggraeni
Semangat kak up ceritanya... Aku suka alurnya
🍤🍊⃟𝐒𝐓𝐉🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪: makasih banyakk 🤗🥰
total 1 replies
Raine
harusnya neneknya bukan ibu eliot , lebih teliti lagi author
🍤🍊⃟𝐒𝐓𝐉🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪: maaf, thx yahh nnti aku revisi
total 1 replies
Rossy Annabelle
kau seguhkah ape ini thor/Facepalm/
Ari Peny
lanhuuuut
Anggye syahab
Astagaaaaa..kami yg baca malah tahan nafas kak🤭 semangat updatenya yaaa
Ari Peny
gmn pikiran para bangsawan itu masa duccess kok d jadikan dayang😭😭😭
🍤🍊⃟𝐒𝐓𝐉🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪: jadi gini KK

Duchess itu gelar/status bangsawannya, sedangkan dayang itu posisi atau tugasnya. Jadi kalau seorang Duchess diminta Ratu menjadi dayangnya, bukan berarti dia turun derajat atau berubah jadi pembantu.
Dia tetap Duchess, tetap bangsawan, cuma sekarang punya tugas khusus untuk mendampingi Ratu, menemani dalam acara kerajaan, membantu urusan pribadi Ratu, atau menjadi orang kepercayaan Ratu.

salah satu contohnya ada di film Netflix Bridgerton, politik kerajaan inggris eropa memang seperti itu sistemnya
total 1 replies
Anonim
keren ,alur ceritanya g bosenin
Only Zuper
masa davira mau jadi datang iddette
🍤🍊⃟𝐒𝐓𝐉🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪: kerajaan Eropa, terutama Inggris/Britania. Memang begitu kk tradisinya

Dayang ratu berasal dari kalangan bangsawan dan itu dipilih langsung oleh Ratu
total 2 replies
Rossy Annabelle
next/Determined/
Ari Peny
menegangkan👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!