Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOPENG CANTIK DAN RAHASIA NAYLA
Dua bulan telah berlalu sejak malam kelam di mana aku melangkah melewati gerbang kaca tembus pandang Club Velvet.
Dunia di luar sana boleh saja mengutukku, menganggapku sebagai sampah masyarakat, atau melabeliku sebagai wanita pendosa yang layak masuk neraka. Namun, di dalam bangunan berlantai tiga beraroma alkohol mahal dan asap rokok Impor ini, aku adalah ratu.
Di tempat kotor ini, namaku bukan lagi Aisyah. Aisyah gadis manis, lugu, dan taat yang bercita-cita menjadi arsitek itu telah mati. Di sini, aku menjelma menjadi Nayla bunga malam paling bersinar, paling dicari, dan paling menguntungkan di bawah naungan Club Velvet.
Dengan tinggi badan 172 sentimeter, kulit putih bersih tanpa cela, paras cantik blasteran dengan bibir ranum alami, serta bentuk tubuh hourglass yang sangat proposional, aku menjadi daya tarik utama bagi pria-pria berkantong tebal. Dalam semalam, aku bisa menangani hingga sepuluh pelanggan. Angka fantastis yang membuat belasan wanita malam lainnya di kelab ini membenciku setengah mati.
"Nayla sayang! Ya ampun, cantik banget anak Mami malam ini!"
Suara melengking Mami Rosa menggema dari pintu ruang ganti. Wanita paruh baya berambut pirang dengan perhiasan berlian menumpuk di jemarinya itu berjalan mendekat, menatapku dengan binar mata penuh kepuasan.
"Lihat ini... gaun merah backless ini benar-benar pas di tubuh kamu! Malam ini kamu ada sepuluh booking-an lagi, Sayang. Pengusaha dari Surabaya sama pejabat lokal pada rebutan mau diservis sama kamu. Luar biasa, anak kesayangan Mami memang sumber rezeki!" puji Mami Rosa seraya mengelus bahuku yang terbuka.
Aku hanya mengukir senyum tipis di depan cermin besar bernuansa gold. "Makasih, Mami. Nayla kan selalu usahain yang terbaik buat Mami."
Dari sudut cermin, aku bisa melihat lirikan tajam dan bisik-bisik beracun dari rekan-rekan seprofesiku.
"Cih, sok jual mahal tapi dapet duit paling banyak," cemooh Siska, wanita malam senior yang popularitasknya tergusur sejak kedatanganku. "Gak tahu pakai susuk apa dia, sampai bos-bos besar pada tergila-gila."
Aku terkekeh sinis dalam hati tanpa berniat membalikkan badan. Kasihan sekali mereka. Mereka pikir aku memakai susuk atau ilmu hitam untuk menarik perhatian para pria hidung belang itu? Sama sekali tidak. Mereka hanya tidak tahu rahasia besar seorang Nayla.
Setiap hari, saat meninggalkan rumah petak jauh dari kata aman yang kini kusewa di kawasan permukiman padat tempat Ibu dan Awan tinggal aku selalu mengenakan pakaian yang sangat sopan. Aku memakai rok panjang yang longgar, baju lengan panjang, dan kerudung kain yang menutup dada. Ibu dan Awan hanya tahu bahwa aku berangkat kerja sebagai pelayan di sebuah restoran bintang lima di pusat kota, yang sering beroperasi hingga larut malam dan memberikan komisi fantastis dari turis-turis kaya.
Sesampainya di toilet umum tak jauh dari kelab malam, barulah aku melepaskan seluruh 'topeng' Aisyah. Aku memoles wajahku dengan makeup bold, menyemprotkan parfum bernuansa vanila yang menggoda, serta mengenakan gaun-gaun super seksi yang memperlihatkan lekuk tubuhku secara sempurna.
Namun, ada satu hal yang menjadi benteng pertahanan terakhirku di balik profesi kotor ini: Aku masih perawan.
Tidak ada satu pun pria di kelab ini bahkan Mami Rosa sekalipun yang tahu bahwa aku belum pernah disetubuhi.
Di dalam tas genggam kecil berbahan kulit milikku, selalu tersimpan sebuah botol kaca kecil berisi cairan khusus. Cairan itu adalah racikan obat tidur dosis tinggi yang kubeli secara rahasia dari pasar gelap, kucampur dengan penambah stamina.
Setiap kali pria-pria berkulit tambun, berperut buncit, dan berbau alkohol itu menyewaku di kamar VIP, aku menetapkan aturan main sejak awal: transaksi pembayaran nominal jutaan rupiah wajib diselesaikan di muka secara tunai atau transfer langsung. Setelah uang masuk, aku akan bertingkah manja, merayu mereka, membiarkan mereka memeluk pinggangku atau meminum minuman beralkohol denganku. Paling jauh, aku hanya mengizinkan ciuman bibir singkat untuk memancing hasrat mereka.
Saat perhatian mereka teralih oleh kemolekan tubuhku, dengan cekatan aku meneteskan obat tidur rahasia itu ke dalam gelas minuman mereka dengan dalih 'minuman penambah stamina agar malam semakin panas'. Dalam kurun waktu sepuluh menit, pria-pria itu akan terkulai lelap di atas sofa empuk, melayang dalam mimpi bersetubuh yang sebenarnya hanya ilusi. Saat mereka terbangun di pagi hari dengan kepala pusing, mereka berpikir telah melewati malam fantastis bersamaku, lalu pulang dengan puas.
Metodeku bersih, rapi, tak tersentuh, dan menghasilkan puluhan juta rupiah setiap minggunya.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Dentuman musik EDM menggetarkan lantai Club Velvet. Aku baru saja menyelesaikan pesanan pelanggan kedelapan seorang pengusaha properti yang kini sudah terkulai pingsan di sofa ruang VIP nomor 4.
Aku melangkah keluar dari kamar VIP, merapikan gaun merah ketatku, lalu berjalan menuju area bar untuk meminum air putih. Baru saja aku duduk di kursi bar, ponsel di dalam genggamanku bergetar hebat.
Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Mami Rosa.
"Mami Rosa: Nayla sayang! Kamu di mana?! Ini ada rezeki nomplok luar biasa! Ada klien eksklusif, pengusaha tajir melintir dari luar kota. Dia mau bayar 50 JUTA RUPIAH cuma buat nemenin minum semalam! Tapi dia gak mau di kelab, dia udah booking kamar VIP di Hotel Grand Hyatt."
Mataku membelalak lebar melihat angka yang tertera di layar ponsel. 50 juta rupiah?! Cuma untuk semalam?!
Jantungku berdegup kencang. Angka itu setara dengan hasil kerjaku selama setengah bulan penuh di kelab! Dengan 50 juta, aku bisa membayar angsuran bunga utang Ayah bulan ini tanpa perlu dipusingkan oleh ancaman debt collector yang kerap membayangi pikiran ku.
Tanpa membuang waktu, aku membalas pesan Mami Rosa.
Nayla: Mami serius? Send location dan nomor kamarnya sekarang. Nayla langsung meluncur.
Tak sampai satu menit, balasan pesan masuk kembali.
Mami Rosa: Serius lah! Cepat ke sana ya Sayang, kamar VIP nomor 808. Pintu kamarnya sengaja di-unlock sama orangnya karena dia lagi mandi. Jangan bikin klien kaya ini menunggu lama!
"VIP 808..." gumamku pelan seraya menghafal nomor kamar tersebut.
Aku segera bergegas menuju ruang ganti, mengoleskan kembali lipstik merah menyala di bibirku, merapikan gaun merah ketatku yang memiliki belahan tinggi di bagian paha, serta mengenakan sepatu hak tinggi 12 sentimeter berwarna hitam. Aku memasukkan botol racikan obat tidurku ke dalam tas genggam, siap menjalankan aksiku seperti biasa.
Menggunakan taksi daring, aku menembus pekatnya jalanan Jakarta menuju Hotel Grand Hyatt sebuah hotel berbintang lima ternama di kawasan Jakarta Pusat.
Sesampainya di lobi hotel yang megah dengan lampu-lampu kristal menggantung tinggi, aku berjalan dengan penuh percaya diri. Tatapan mata para pengunjung pria dan petugas keamanan hotel tertuju padaku, meneliti keindahan tubuhku yang terpampang jelas di balik gaun merah. Aku sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan lapar itu. Bagi mereka, aku adalah santapan visual. Bagi diriku sendiri, aku adalah prajurit yang sedang bertempur mempertahankan hidup keluarganya.
Aku melangkah masuk ke dalam lift, memencet tombol lantai 8, dan menunggu dengan dada berdebar. 50 juta rupiah. Malam ini aku harus memastikan obat tidurku bekerja sempurna tanpa cela.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 8. Lorong hotel berbintang lima ini terasa sangat sunyi, dilapisi karpet tebal berwarna merah marun yang meredam suara langkah kaki. Aku menyusuri koridor, membaca nomor-nomor kamar yang tertera di dinding hingga mataku tertuju pada sebuah pintu kayu jati berukir dengan angka keemasan: 808.
Aku menyentuh gagang pintunya. Seperti yang dikatakan Mami Rosa, pintu itu tidak terkunci rapat. Gagang pintu turun dengan mudah saat kudorong pelan.
"Bagus," bisikku pada diri sendiri.
Aku melangkah masuk ke dalam kamar VIP tersebut. Suasana kamar sangat luas, lebih mirip penthouse mewah dengan pencahayaan temaram nan hangat. Aroma terapi kayu cendana yang menenangkan memenuhi seluruh ruangan, sangat berbeda dengan bau alkohol dan asap rokok di Club Velvet.
Dari arah kamar mandi utama yang pintunya sedikit terbuka, terdengar suara gemericik air yang samar. Klien eksklusifku rupanya sedang mandi.
Aku tersenyum tipis, lalu menyusuri ruangan dengan langkah anggun. Aku berjalan menuju ranjang berukuran King Size yang terhampar di tengah ruangan dengan sprei putih bersih. Aku mendudukkan diriku di tepi ranjang, menyilangkan kakiku yang jenjang, lalu merapikan gaun merahku agar memperlihatkan bagian paha dan bahuku secara sempurna.
"Pelanggan kaya raya biasanya berlagak paling sok kuasa," batinku sinis seraya mengambil botol obat tidur dari tas, menyiapkannya di balik genggaman tangan. "Tunggu sampai kamu minum racikan ini, Pak Tua Tajir. Uang lima puluh jutamu bakal berpindah tangan sebelum subuh."
Aku menunggu dengan sabar. Suara gemericik air di kamar mandi perlahan berhenti. Tak lama kemudian, kenop pintu kamar mandi terdengar berputar.
Pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat membumbung keluar menyeruak ke udara kamar, dan dari balik uap itu, muncul sosok pria yang baru saja melangkah keluar.
Detik itu juga, napas di tenggorokanku seolah terhenti seketika.
Jantungku melonjak hebat, berdenting tajam di dalam dada. Mataku membelalak, menatap sosok pria di hadapanku tanpa berkedip.
Pria itu... sangat jauh dari bayanganku.
Selama dua bulan berkecimpung di dunia kotor, aku selalu melayani pria-pria tua setengah baya, berperut buncit, berkulit kusam, dan berbau minyak wangi murah. Tapi pria yang berdiri di depan kamar mandi ini... adalah definisi kesempurnaan fisik yang belum pernah kulihat seumur hidupku.
Tinggi badannya hampir mencapai 185 sentimeter, berdiri gagah hanya dengan balutan handuk putih yang dililitkan di pinggangnya. Kulitnya putih bersih dengan rona hangat yang sehat, dadanya bidang, dan perutnya berot eight-pack sempurna seperti model kelas atas internasional. Garis rahangnya tegas dan tajam, hidungnya mancung sempurna bak pahatan patung Yunani, serta sepasang mata berwarna cokelat terang yang begitu teduh namun menyimpan wibawa yang luar biasa kuat. Wajahnya sangat tampan, manis, muda, dan memikat secara alami tanpa bantuan perhiasan atau barang mewah apa pun. Pria itu tampak berusia sekitar 25 tahun.
Pria itu mendongak seraya mengeringkan rambut hitamnya yang basah dengan handuk kecil. Namun, saat pandangannya menyapu ke arah ranjang dan menangkap keberadaanku yang duduk mengenakan gaun merah seksi, langkah kakinya mendadak terhenti.
Mata cokelatnya membelalak kaget. Rona merah mendadak menjalar di pipi dan lehernya.
"Astaghfirullahal'adzim!"
Pekikan istighfar keluar secara refleks dari bibir pria itu. Suaranya terdengar sangat berat, dalam, namun sarat akan keterkejutan yang amat sangat.
Dengan gerakan secepat kilat, pria itu mundur dua langkah ke belakang. Tangannya yang berurat secara refleks meraih jubah mandi tebal berwarna putih yang tergantung di samping pintu kamar mandi, lalu memakainya rapat-rapat hingga menutup leher dan dadanya secara sempurna.
Dia menatapku dengan pandangan tajam penuh kepanikan.
"Siapa kamu?!" tegas pria itu seraya menunjuk ke arahku. "Kenapa bisa ada wanita asing di dalam kamar saya?!"
Aku tertegun sejenak. Reaksinya sungguh di luar dugaan. Biasanya, pria-pria yang menyewaku akan langsung tersenyum mesum, mendekat dengan mata liar, dan mencoba menyentuhku. Tapi pria ini justru beristighfar dan mundur ketakutan seolah melihat iblis?
Menghilangkan rasa canggung dan pesona sesaat akibat ketampanannya, aku menepuk-nepuk gaun merahku, lalu bangkit berdiri dari ranjang. Aku mengumbar senyuman paling menggoda yang kumiliki, lalu melangkah gemulai mendekatinya.
"Aduh, Mas... kok kaget gitu sih?" bisikku dengan suara manja yang dibuat-buat. "Gak usah pura-pura kaget deh. Aku Nayla, cewek yang dipesan Mami Rosa buat melayani Mas malam ini..."
Aku berhenti tepat di hadapannya. Aroma segar sabun dan kayu cendana dari tubuh pria ini menyeruak masuk ke inderaku, membuat dadaku berdebar aneh. Aku memberanikan diri mengulurkan kedua tanganku, berniat mengalungkan lengan halusku di lehernya yang kokoh untuk memancing reaksi lanjutannya.
Namun, belum sempat tanganku menyentuh lehernya, pria itu dengan cepat memalingkan wajahnya ke samping. Dia menolak menatap mataku atau membiarkan matanya menatap lekuk tubuhku yang terbuka.
"Jauhi saya!" bentaknya halus namun sangat tegas. Pria itu mengambil satu langkah mundur, menciptakan jarak di antara kami. "Tolong jaga jarak! Kita bukan mahram!"
"Mahram?"
Kata itu menghantam telingaku bagai cambukan. Aku tertawa hambar, rasa sinis dan benci yang memburu di dalam dadaku mendadak menyala kembali.
"Mahram?" ulangnya dengan nada mencemooh. Aku menatap pria tampan itu dengan pandangan dingin. "Mas, di dunia kotor kayak gini gak ada kata mahram! Jangan sok suci deh! Pria mana pun, kalau udah bayar mahal dan dikasih hidangan seksi kayak aku di depan matanya, pasti langsung dilahap habis! Semua pria itu sama aja, sok alim di luar tapi haus di dalam. Jangan munafik!"
Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas panjang seraya bibirnya kembali bergumam lirih, "Astaghfirullahal'adzim... Mbak, tolong keluar. Saya tidak pernah memesan wanita seperti Mbak. Ini pasti ada kesalahan."
Ditolak dan disebut 'wanita seperti Mbak' secara terang-terangan membuat emosiku tersulut. Selama dua bulan ini, tidak ada satu pria pun yang sanggup menolak pesona seorang Nayla. Pria di hadapanku ini benar-benar memancing harga diriku!
"Oh ya? Kesalahan?" seruku kesal.
Aku memajukan langkahku secara agresif, berniat mencium bibirnya secara paksa untuk meruntuhkan pertahanan dan sikap sok sucinya itu.
Namun, sebelum bibirku berhasil menyentuh wajahnya, tangan tegap pria itu bergerak cepat. Dia mendorong kedua bahuku dengan cukup kuat untuk menjauhkan tubuhku darinya.
"Jangan sentuh saya!" pekiknya keras.
Karena aku mengenakan sepatu hak tinggi 12 sentimeter dan tidak mengantisipasi dorongan yang cukup kuat itu, keseimbanganku hilang seketika. Tumit sepatuku terbalik di atas karpet tebal.
"Aaa!" jeritku kaget saat tubuhku melayang jatuh ke belakang.
Secara refleks, jemari tanganku menggapai kerah jubah mandi pria itu untuk mencari pegangan. Pria yang juga tidak siap dengan tarikan mendadaknya itu ikut kehilangan keseimbangan.
BRUK!
Tubuh kami berdua jatuh secara bersamaan di atas karpet tebal bernuansa merah marun di tengah kamar hotel.
Dunia seolah berhenti berputar di detik itu.
Pria tampan itu jatuh tepat di atasku. Kedua tangannya menahan beban tubuhnya di samping kepalaku, namun jarak wajah kami kini hanya berjarak beberapa milimeter saja. Deru napas hangatnya yang beraroma mint terasa dengan jelas membelai kulit pipiku. Mata cokelat terangnya yang teduh menatap mataku dari jarak yang sangat dekat, memperlihatkan kilatan rasa terkejut, panik, dan kebingungan yang teramat sangat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, dadaku bergemuruh hebat. Bukan karena rasa takut pada debt collector, bukan pula karena kebencian pada takdir... melainkan karena sensasi aneh yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.
Cklek!
Tepat di detik yang membeku dan serba salah itu, pintu kamar VIP 808 mendadak terbuka lebar dari luar.