Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebencian Dari Sel Tahanan
Permohonan penuh kepalsuan dan keputusasaan itu terdengar begitu memuakkan di telinga Evita. Evita menggelengkan kepalanya pelan, mendengus sinis dengan senyuman tipis penuh ironi.
"Rujuk kembali? Memulai dari nol bersama pria sepertimu, Xander?" suara Evita terdengar tenang namun menusuk tajam ke dalam ulu hati Xander. "Kamu baru menyesal sekarang setelah kamu kehilangan segalanya? Di mana kata-kata angkuhmu saat kamu dengan sengaja memecatku secara tidak hormat dari kampus? Di mana rasa bersamamu saat kamu membiarkan Viola memfitnahku sebagai wanita tuna susila di seluruh media sosial? Semua itu terjadi bukan karena nasib buruk, Xander, tapi karena kebusukan hatimu sendiri."
Wajah Xander memerah padam menahan malu dan amarah yang mulai tersulut. Sifat aslinya yang egois hampir keluar kembali mendengar penolakan mentah-mentah tersebut.
"Evita! Jangan sombong kamu!" geram Xander dengan suara tertahan, gigi-gigi kertaknya bergesekan. "Aku ini masih suamimu! Di saat aku jatuh terpuruk seperti ini, tidakkah sedikit saja kamu punya rasa kasihan padaku?! Jangan-jangan... penolakanmu ini karena kamu sudah berselingkuh dengan taipan cacat itu, si Ma Yong Hua?!"
Brak!
Sebelum Evita sempat membalas ucapan lancang Xander, sebuah suara hantaman berat meja dari arah samping tiba-tiba mengejutkan seluruh pengunjung kafe.
"Jaga mulut kotormu saat menyebut nama Nona Evita, Xander Wiryawan!"
Sebuah suara bariton yang sangat berat, berwibawa, dan memancarkan dominasi mutlak menggelegar tegas di udara.
Xander dan Evita terperanjat seketika, menoleh serentak ke arah sumber suara.
Dari balik sekat tanaman hias kafe, sosok pria bertubuh tegap berbalut jas tailored-fit berwarna hitam arang melangkah mendekat dengan langkah kaki yang sangat mantap. Di belakangnya, sekretaris setia Feng Zhi mengikuti dengan tatapan mata setajam pisau belati.
Sosok itu adalah Ma Yong Hua.
Pria berdarah Tionghoa itu berdiri tegak dengan postur sempurna. Wajahnya yang tampan, matanya yang sipit tajam, serta aura kekuasaan mutlak yang menguar dari sekujur tubuhnya membuat seluruh pengunjung kafe seketika terdiam terpaku. Tidak ada lagi sisa-sisa pria sekarat yang terbaring di rumah sakit; yang berdiri di hadapan mereka saat ini adalah sang naga bisnis ibu kota yang sepenuhnya bangkit dengan kekuatan penuh.
****
Melihat kehadiran Ma Yong Hua berdiri di hadapannya secara langsung, urat-urat di sekujur wajah Xander mendadak menonjol keluar. Amarah, rasa iri, dan kebencian yang luar biasa membara meledak seketika di dalam dadanya. Xander bangkit berdiri dari kursinya, menunjuk-nunjuk wajah Ma Yong Hua dengan jari telunjuknya yang gemetar hebat.
"Jadi... benar dugaanku!" teriak Xander histeris, kehilangan seluruh kendali emosinya di depan umum. "Kau! Kau pria asing sialan! Kamu dalang di balik kehancuran perusahaanku, kan?! Kamu sengaja mempermainkan bursa saham untuk merampas seluruh asetku, lalu sekarang berani-aninya kamu datang mendekati istriku di hadapanku sendiri?!"
Ma Yong Hua sama sekali tidak menunjukkan ekspresi gentar. Ia berdiri dengan tangan kanan dimasukkan ke dalam saku celana, menatap rendah ke arah Xander dengan sorot mata dingin seolah sedang melihat seekor serangga menjijikkan di lantai.
"Jaga ucapanmu, Xander Wiryawan," jawab Ma Yong Hua dengan suara baritonnya yang sangat tenang namun mengandung tekanan psikologis yang luar biasa berat. "Aku tidak perlu merampas apa pun darimu, karena sejak awal kamu memang tidak memiliki kapasitas sedikit pun untuk memimpin sebuah perusahaan besar. Kebangkrutanmu adalah hasil dari keserakahan dan kebodohanmu sendiri."
****
"Keparat kau, Ma Yong Hua!" maki Xander murka, melangkah maju hendak menerjang sang taipan dengan kepalan tangan yang diayunkan secara membabi buta.
Namun, sebelum kepalan tangan Xander sempat mendekati tubuh Ma Yong Hua, Feng Zhi bergerak secepat kilat. Sekretaris pribadi itu melangkah maju satu langkah, menangkap pergelangan tangan Xander dengan cengkeraman besi yang sangat kuat, lalu memuntirnya sedikit ke belakang hingga Xander meringis kesakitan seketika.
"Aduh...! Lepaskan tanganku, sialan!" rintih Xander kesakitan, membungkuk tak berdaya di hadapan Feng Zhi.
Ma Yong Hua melangkah maju selangkah lagi, mendekatkan wajahnya ke telinga Xander yang sedang kesakitan, lalu berbisik dengan nada dingin yang membekukan darah.
"Dengar baik-baik, Xander," bisik Ma Yong Hua tajam. "Permainan ini belum selesai. Apa yang kamu rasakan hari ini baru permulaan dari neraka yang sudah kuciptakan khusus untukmu dan wanita simpananmu. Jauhi Evita, atau aku pastikan sisa hidupmu dihabiskan di dalam sel tahanan tanpa melihat cahaya matahari lagi."
Ma Yong Hua memberi isyarat dengan matanya kepada Feng Zhi. Sang sekretaris langsung menghempaskan tangan Xander dengan kasar ke belakang, membuat pria bangkrut itu terhuyung-huyung jatuh terduduk kembali ke kursi kafe dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi menahan amarah yang tertahan.
Ma Yong Hua kemudian mengalihkan pandangannya kepada Evita. Sorot matanya yang tadinya dingin dan mematikan seketika melunak, memancarkan kehangatan dan ketulusan yang luar biasa dalam. Ia mengulurkan tangan kanannya dengan sangat sopan kepada wanita di sisinya.
"Mari kita pergi dari tempat ini, Evita," ucap Ma Yong Hua lembut. "Udara di sini sudah tercemar oleh keputusasaan orang-orang gagal."
Evita menatap lurus ke dalam mata sipit Ma Yong Hua. Sebuah senyuman tulus merekah di wajah cantiknya. Tanpa ragu sedikit pun, Evita meraih uluran tangan kokoh sang taipan, meninggalkan Xander yang terduduk seorang diri dalam kehancuran total di sudut kafe.
****
Udara di dalam sel tahanan sementara Markas Kepolisian Metropolitan Jakarta Selatan terasa begitu pengap, lembap, dan menyesakkan. Dinding-dinding beton tua yang dingin berpadu dengan jeruji besi tebal menciptakan labirin keputusasaan yang sempurna bagi para penghuninya. Namun, di dalam salah satu bilik sel isolasi yang paling sudut, tidak ada rasa penyesalan sedikit pun yang terpancar; yang ada hanyalah kobaran api amarah yang membakar habis sisa kewarasan seorang wanita.
Viola Sanustika berdiri mencengkeram jeruji besi dengan kedua tangannya yang gemetar hebat. Penampilannya yang dulu selalu tampak sempurna, mewah, dan berbalut desainer mahal kini telah hancur lebur. Mantel bulunya disita sebagai barang bukti, riasan wajahnya luntur menyisakan noda hitam di bawah matanya, dan rambut panjangnya terurai kusut layaknya wanitaorang gila.
"Buka pintunya! Lepaskan aku, kalian sialan!" teriak Viola histeris, mengguncang-guncangkan jeruji besi itu sekuat tenaga hingga menimbulkan suara derit logam yang memekakkan telinga.
"Kalian tidak tahu siapa aku! Aku adalah ratu sosialita! Aku tidak seharusnya mendekam di tempat menjijikkan ini!"
****
Petugas jaga yang melintas di koridor melirik sekilas dengan tatapan dingin, lalu mengabaikannya begitu saja. Perlakuan acuh tak acuh itu justru membuat amarah Viola semakin meledak-ledak hingga mencapai puncaknya. Ia menarik kembali tangannya, lalu menatap kosong ke dinding sel dengan napas memburu dan dada yang naik-turun dengan cepat.
Di dalam kepalanya yang penuh racun kebencian, bayangan dua sosok manusia berputar-putar tanpa henti, mencemooh dan menertawakannya.
"Evita... dan Ma Yong Hua..." desis Viola dengan suara parau yang bergetar penuh kebencian yang mendalam.
Sepasang mata Viola berkilat tajam, memancarkan aura sadis dan haus darah layaknya iblis betina. Ia menggertakkan giginya hingga bergesekan keras, sementara senyuman mengerikan tersungging di bibirnya yang kering.
"Kalian pikir kalian sudah menang, hah?!" cibir Viola seorang diri, berbicara dengan nada berbisik namun penuh penekanan yang sangat menakutkan. "Kalian pikir dengan menjebloskanku ke dalam penjara busuk ini, kalian bisa menyingkirkanku begitu saja?! Tidak! Sumpah demi nyawaku, aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup tenang!"