Siapa perempuan yang ingin menjadi mandul .?? tidak ada satupun yang menginginkan itu semua, setiap wanita pasti ingin punya keturunan punya buah hati yang akan menjadi pelengkap dalam bahtera rumah tangga nya, sebagai pemanis dalam cinta yang di arungi bersama teman hidupnya.
Namun rencana yang kuasa tetap lah rencana nya siapa yang dapat menghindar atau mengelak jika ia sudah berkehendak, itu lah yang di alami kora.
11 Tahun pernikahan nya ia selalu mendambakan ada buah hati yang sudi tumbuh dalam rahim nya, 11 tahun penantian yang panjang. Pernikahan yang sempurna, memiliki suami yang sempurna ternyata bukan lah obat dari sebuah penawar kebahagiaan.
pernikahan yang dikira akan berjalan seumur hidup harus kandas kala tuntutan dan penghianatan yang terjadi. kora tidak marah tidak juga menyalahkan siapapun ia memilih mengalah dan merelakan cinta nya pergi dan memilih menghilang untuk menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeinXD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 18
Tiara pulang kerumah dengan perasaan kesal ia harus memikirkan dengan matang untuk bisa masuk ke dalam keluarga Mahendra tanpa penolakan dari siapapun, jika ia bisa masuk dengan baik maka tidak akan ada celah untuk dirinya bisa di singkirkan.
Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur yang empuk itu pikiran nya melayang jauh ketika ia masih remaja, dulu untuk hidup sekedar berbaring dengan tenang seperti sekarang adalah kemewahan kecil yang sangat ia rindukan. Kehidupan yang begitu manis di masa kecil harus hancur saat sang ibu masuk rumah sakit jiwa dan ayah yang pemabuk sehingga sering bermain kasar pada nya.
Dan dengan tega nya sang ayah menjual putrinya sendiri pada orang lain hanya untuk mendapatkan uang, air mata tiara mengalir lembut di pipinya trauma itu masih ada dan luka itu menetap selama nya di sana. Hanya ia sendiri yang tau bagaimana ia berjuang keras untuk mendapatkan kehidupan ini, dan ia tidak ingin kembali jatuh dan terpuruk.
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka disana didapatinya sang ibu Rani yang menatap nya dengan lembut, tatapannya penuh kasih sayang. Tiara segera duduk di kasurnya sang ibu mendekati tiara.
" ada apa?" Rani mengelus pundak sang putri dengan lembut
Tiara hanya menggelengkan kepalanya lalu memeluk sang ibu dengan erat, ia memang telah menipu mereka dan mengambil alih indentitas orang yang begitu amat di cintai oleh keluarga ini. Namun ia tak punya pilihan lain ia juga terpaksa hanya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ia memikirkan bagaimana jika penyamaran ini terbongkar? Bagaimana jika mereka tau bahwa dia bukan Tiara?
Ia hanya memeluk tubuh Rani mencoba mendapatkan kasih sayang yang selama ini telah hilang dari sosok ibunya, ketulusan dan cinta seorang ibu memang tak akan pernah berkesudahan meski tidak semua perempuan didunia ini bisa menjadi seorang ibu yang baik.
Dari balik pintu Nisa hanya menatap pemandangan itu ia tak lagi merasakan apa apa, mata nya mulai berkaca-kaca seperti ada sebuah rasa bersalah yang yang mendalam dari dirinya, ia sudah lama menyimpan rahasia gelap yang mungkin akan menghancurkan hati wanita yang kini ia tatap. Rasa cemburu dan dendam yang mendalam sudah membutakan akal sehatnya hingga membuat Tiara palsu itu masuk dalam keluarga nya, dan mengambil peran penuh dalam kendali hidupnya.
Dulu ia berpikir tidak akan pernah ada lagi yang bisa merebut kasih sayang itu, tapi siapa sangka cinta yang selalu ia dambakan dan pengakuan yang selalu ia nanti tidak pernah ia dapat kan meski sudah menghilangkan saingan itu. Hidup dari bayang masa lalu memang tidak pernah bisa tenang, setiap malam harus hidup dengan begitu ketakutan dan harus minum pil penenang agar ia tampak baik-baik saja.
Nisa mengusap air mata nya sebelum ia meninggalkan kamar itu, tadi ia ingin berbicara dengan Tiara masalah Dimas yang kembali muncul namun pemandangan di depan membuat nya seketika memilih untuk pergi dari pada harus menyakiti perasaan nya berkali-kali. tentang cinta yang tidak pernah adil tetang kasih sayang yang timbang sebelah membuat kehidupan nya terasa begitu menyakitkan.
Apakah ia harus menyalahkan orang tua nya atas semua ini hingga ia berbuat nekat yang menyebabkan sang adik kini hilang, tidak ia tidak ingin menyalahkan siapapun atas yang pernah terjadi di masa lalu nya biarkan saja semuanya mengalir apa adanya sampai kebohongan ini terbongkar dengan sendirinya, ia sudah lelah untuk berbicara atau sekedar mencari cinta dalam keluarga ini karena itu tidak akan pernah bisa ia dapat kan.
Reno mendapati putri sulungnya yang tampak berdiri mematung di depan, ia hanya menatap punggung Nisa yang bergetar kecil bertanda gadis itu tengah menangis dalam diam. Hati kecil Reno seketika berdenyut nyeri seolah ada sesuatu yang menjalar di hati nya, ingin rasanya ia memeluk pundak kecil itu namun karena gengsi ia memilih diam dan hanya memperhatikan.
reno menatapi kedua tangan nya sedari kecil kedua tangan ini sudah banyak menyakiti putri sulungnya, hanya karena wajah yang menyebabkan ia kehilangan ibu nya membuat nya membenci putri nya sendiri. Ia tau semua itu bukan lah kesengajaan itu adalah kecelakaan tapi ia sudah telanjur membenci nya.
Tangan nya bergetar hatinya sakit Reno memilih pergi meninggalkan tempat itu sebelum Nisa mendapati ia juga menangis, Nisa juga pergi meninggalkan kamar tersebut. Rani sempat menoleh kebelakang untuk memastikan apakah perasaan nya benar bahwa ada yang melihat mereka namun ketika ia menoleh ke belakang tak di dapati siapa pun disana.
Rani mengelus pundak Tiara dengan lembut membiarkan gadis itu memeluk nya, kerna kecelakaan waktu itu membuat nya merasa bersalah terhadap tiara hingga membuat kasih sayang nya lebih banyak tercurah kepada putri bungsunya ketimbang putri sulungnya, jika kelak ia bisa memperbaiki hubungan ini dengan putri sulungnya ia pasti akan sekuat tenaga melakukan nya.
...----------------...
Dentingan sendok yang beradu dengan piring membuyarkan keheningan dalam meja makan itu, Nisa hanya memakan sedikit dan itu membuat Rani segera berdiri untuk mengambil lauk lagi untuk putri nya, saat Rani hendak menaruh makanan dalam piring putri nya Nisa menepis tangan sang ibu, makanan jadi tumpah dan berserakan mata Rani memerah, ia terhenyak baru kali ini Nisa bersikap seperti itu pada nya.
Ia tak melihat lagi sosok yang patuh dan penurut yang selalu mengalah pada diri Nisa, apakah Nisa sudah berubah?
Reno berdiri menatap Nisa dengan marah namun Nisa tak bergeming ia hanya diam.
" Nisa!"
Nisa menatap mata Reno mata Nisa mulai berair ia selalu saja di perlakukan seperti ini, ia benar-benar merasa muak.
" apa kau tidak ada sopan santun? Begitu cara mu menghormati ibumu?"
Nisa membanting piring nya sembari menatap dengan marah kearah sang ayah, hal tersebut membuat Reno semakin merasa tak terkendali.
Plakk
Tangan nya melayang tepat pada pipi putrinya, Tiara menatap pemandangan itu dengan hati yang juga ikut merasa sakit pemandangan dari keluarga ini selama bertahun-tahun tak pernah bisa membuat nya lupa akan trauma masa lalu, dulu ia kira masuk ke dalam keluarga ini trauma dan luka masa lalunya akan perlahan hilang namun bertahun-tahun tinggal di sini ternyata tak sesuai kenyataan nya ia melihat bagaimana Nisa diperlakukan sama persis seperti ia di keluarga nya.
Nisa tak lagi langsung menangis namun ia malah semakin berani menatap sang ayah, Reno sedikit mundur ia tak menyangka gadis penurut yang dulu kini tak lagi seperti yang ia lihat Nisa sudah berubah.
" apa kalian mau membunuh ku?"
Seketika Rani terhenyak ia menatap makanan yang di buatnya, ia merasa tidak ada yang adalah kenapa Nisa marah.
" apa selama ini kalian Benar-benar tak pernah menganggap ku ada, bahkan makanan yang tak bisa ku makan saja kalian tidak tau. Apa kalian lupa aku pernah hampir mati karena alergi dengan makanan ini!"
Nisa segera meninggalkan meja makan ia menghapus air matanya ia tak ingin lagi berharap tak akan pernah lagi menoleh untuk sekedar ingin di perhatikan ia akan hidup dengan jalan nya.