Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Cetek. Wusss.
Dua tungku kompor gas menyala bersamaan dengan api biru yang sangat besar.
Galang bergerak lincah ke sana kemari di dalam kamar kosnya yang sempit dan pengap.
Keringat mulai bercucuran deras membasahi kemeja hitam yang baru saja ia kenakan.
Ia baru tidur kurang dari dua jam setelah pulang dari pelabuhan pagi tadi.
Namun pesanan seratus porsi dari Nadia ini adalah tiket emasnya menuju kesuksesan yang lebih besar.
Trak trak trak.
Suara spatula beradu dengan wajan terdengar berirama dan sama sekali tidak putus-putus.
Galang memasak sepuluh porsi sekaligus di masing-masing wajan untuk mengejar sisa waktu yang terus berjalan.
Tangannya mulai terasa kebas dan pegal karena harus mengangkat beban nasi yang sangat berat.
"Ayo Galang, bertahan sedikit lagi," batin Galang sambil menggertakkan giginya menahan nyeri di pergelangan tangan.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu memecah konsentrasi Galang yang sedang menumis bawang putih tunggal.
"Mas Galang, ini ada titipan paketan kotak makan dari Mbak Nadia!" teriak seorang bapak kurir dari luar kamar.
Galang buru-buru mengecilkan api kompor dan membuka pintu kamarnya.
Ia menerima dua tumpuk kardus besar berisi kotak makan siang berwarna hitam pekat yang terlihat sangat elegan dan mahal.
"Terima kasih banyak Pak," ucap Galang menerima paketan itu dengan napas terengah-engah.
Galang langsung memindahkan nasi goreng yang sudah matang ke dalam kotak-kotak elegan tersebut satu per satu.
Bentuk kotaknya yang mewah membuat tampilan nasi goreng polos itu mendadak naik kelas seperti makanan restoran bintang lima.
Jam di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit.
"Selesai juga akhirnya," gumam Galang sambil menutup kotak terakhir dengan sangat rapat.
Ia mengangkut tumpukan kotak makan itu ke dalam etalase kaca gerobaknya yang sudah bersih.
Galang segera menyalakan mesin motornya dan melaju membelah kemacetan jalanan kota menuju kawasan perkantoran elit.
Tepat pukul sebelas kurang sepuluh menit, Galang tiba di depan pelataran Gedung Sudirman Tower yang menjulang tinggi.
Gedung berlapis kaca itu terlihat sangat megah dan dipenuhi oleh orang-orang berjas rapi yang berlalu lalang.
Brum. Ciiit.
Galang memarkirkan gerobak motornya tepat di depan area lobi utama yang dilapisi karpet merah.
Baru saja ia turun dari motor, dua orang petugas keamanan bertubuh tegap langsung berlari menghampirinya.
Wajah kedua petugas berseragam rapi itu terlihat sangat panik dan marah.
"Hei kamu! Sedang apa bawa gerobak masuk ke area lobi VIP?" bentak salah satu petugas keamanan dengan suara keras.
"Cepat pindahkan gerobak rongsokanmu ini, ini bukan tempat jualan kaki lima!"
Galang tetap bersikap tenang dan tersenyum sopan menanggapi bentakan petugas keamanan tersebut.
"Selamat siang Pak, saya bukan mau jualan di sini," jawab Galang dengan suara yang jelas.
"Saya mau mengantarkan pesanan katering seratus kotak untuk Mbak Nadia di lantai lima belas."
Petugas keamanan itu mengerutkan keningnya lalu tertawa mengejek ke arah temannya.
"Kamu pikir kami orang bodoh yang gampang ditipu ya?" ejek petugas keamanan yang satu lagi.
"Perusahaan di lantai lima belas sedang mengadakan rapat direksi besar hari ini."
"Mana mungkin mereka memesan makanan dari tukang gerobak pinggir jalan sepertimu!"
Petugas pertama langsung menarik lengan Galang dengan kasar untuk mengusirnya.
"Cepat pergi dari sini sebelum kami panggil polisi karena mengganggu ketertiban umum!" ancam petugas itu sambil mendorong dada Galang.
Galang menahan dorongan itu dengan sisa tenaga buff sistem yang masih ada di tubuhnya.
Kakinya berdiri kokoh layaknya batu karang dan tidak bergeser sedikit pun meski didorong oleh petugas berbadan besar.
"Saya berani bersumpah Pak, bapak bisa telepon resepsionis di lantai lima belas sekarang juga," tegas Galang membela diri.
"Kalau pesanan ini terlambat masuk ke ruang rapat, Mbak Nadia yang akan kena marah bosnya."
Petugas keamanan itu mulai kehabisan kesabaran dan mencabut tongkat karet dari pinggangnya.
"Kamu benar-benar keras kepala ya anak muda, mau cari mati di sini rupanya," desis petugas itu bersiap memukul Galang.
Tepat sebelum tongkat itu mendarat di bahu Galang, sebuah suara wanita berteriak nyaring dari arah pintu kaca putar.
"Berhenti! Apa yang kalian lakukan pada katering pesanan saya!"
Semua orang di lobi langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Nadia berlari keluar dari lobi dengan napas terengah-engah dan wajah yang sangat pucat pasi.
Pakaian kerja wanita itu sedikit kusut dan matanya terlihat sangat panik.
"Mbak Nadia? Jadi benar pemuda gerobakan ini bawa pesanan perusahaan Mbak?" tanya petugas keamanan itu dengan wajah kebingungan.
"Iya benar! Dia koki yang saya sewa secara khusus hari ini," jawab Nadia cepat sambil menarik napas panjang.
Nadia menoleh ke arah Galang dan menatap tumpukan kotak hitam di dalam etalase kaca gerobaknya.
"Mas Galang, kamu sudah bawa semuanya kan?" tanya Nadia dengan nada sangat mendesak.
"Sudah lengkap seratus porsi Mbak, masih hangat karena kotaknya rapat," jawab Galang sambil tersenyum menenangkan.
Nadia menghela napas lega lalu menyuruh petugas keamanan untuk membantu membawakan kotak-kotak itu.
"Cepat bantu bawa kardus ini ke lift barang sekarang juga, rapatnya sedang rehat dan mereka semua kelaparan parah," perintah Nadia tanpa basa-basi.
Kedua petugas keamanan itu hanya bisa menundukkan kepala dan buru-buru mengangkat kardus tersebut.
Galang berjalan di belakang Nadia menyusuri lorong gedung yang ber-AC sangat dingin.
"Mbak Nadia kelihatan sangat tegang, ada masalah di dalam ruang rapat?" tanya Galang berbisik pelan.
Nadia mengusap wajahnya dengan kasar dan mengangguk pelan.
"Rapatnya berjalan sangat buruk Mas, banyak target perusahaan yang tidak tercapai bulan ini," jelas Nadia dengan suara bergetar.
"Semua direktur sedang marah besar, kepala mereka pusing, dan suasana di dalam sangat kacau."
"Kalau makananmu ini tidak bisa menenangkan mereka seperti janjimu kemarin, karirku di perusahaan ini benar-benar tamat siang ini juga."
Galang menelan ludah mendengar beban tanggung jawab yang sangat besar dipikul oleh wanita di depannya ini.
Ia tidak menyangka pesanannya akan menentukan nasib pekerjaan seseorang.
"Tenang saja Mbak, saya jamin mereka semua akan tersenyum setelah memakan suapan pertama," ucap Galang dengan nada paling meyakinkan yang bisa ia berikan.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai lima belas menampilkan lorong kantor yang sangat sunyi dan mewah.
Nadia memimpin jalan menuju sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati berukir.
Dari luar saja sudah terdengar suara orang berdebat dengan nada tinggi dari dalam ruangan tersebut.