Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 19
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 19 — Rahasia Tiga Bersaudara
“Alena bukan satu-satunya saudaramu.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Clara menatap pria yang berdiri di ujung tangga.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia benar-benar melihat ayahnya secara langsung.
“Papi…”
Suaranya bergetar.
Pria itu menatap Clara dengan mata berkaca-kaca.
“Clara.”
Clara tidak mampu menahan air matanya.
Ia berlari menaiki tangga.
Namun sebelum memeluk ayahnya, langkahnya terhenti.
Ada terlalu banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
“Papi masih hidup?”
Ayahnya mengangguk.
“Maafkan Papi.”
Clara menatapnya penuh kecewa.
“Kenapa Papi meninggalkanku?”
Pria itu menundukkan kepala.
“Karena Papi tidak punya pilihan.”
“Semua orang selalu mengatakan itu!”
Suara Clara meninggi.
“Tidak punya pilihan. Melindungi Clara. Menyelamatkan Clara. Tapi tidak ada satu pun yang bertanya bagaimana perasaanku!”
Air mata mengalir di pipinya.
Amara segera mendekat.
“Clara…”
“Tidak, Mami.”
Clara menggeleng.
“Aku ingin mendengar semuanya dari Papi.”
Ayahnya menarik napas panjang.
“Baik.”
Ia berjalan perlahan mendekati putrinya.
“Nama Papi adalah Adrian Evellyn.”
Clara terdiam.
“Dan selama ini Papi memang sengaja membuat semua orang percaya bahwa Papi sudah meninggal.”
“Termasuk aku?”
“Termasuk kamu.”
Clara menggigit bibir.
“Kenapa?”
Adrian menatap Amara, lalu Rafael.
“Karena setelah Proyek E-17 ditemukan, keluarga kita menjadi sasaran.”
Fedro bertanya,
“Siapa yang memburu kalian?”
Adrian menjawab,
“Bukan satu orang.”
Ia berhenti sejenak.
“Melainkan sebuah kelompok.”
Raka mengerutkan kening.
“Jaringan yang dikendalikan Damian?”
“Benar.”
Clara menatap ayahnya.
“Lalu Alena?”
Adrian terdiam.
“Alena adalah anak kedua kami.”
Clara mengepalkan tangan.
“Dan siapa saudara yang ketiga?”
Adrian menatap putrinya dengan wajah berat.
“Namanya Aria.”
Clara membeku.
“Aria?”
Amara mengangguk.
“Dia lahir dua tahun setelah Alena.”
Clara merasa kepalanya berputar.
“Jadi aku punya dua saudara?”
“Ya.”
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
Adrian menjawab pelan,
“Karena sejak kecil kalian bertiga dipisahkan.”
Clara menatapnya tidak percaya.
“Dipisahkan?”
“Ketika musuh mengetahui bahwa kami memiliki tiga anak perempuan, mereka membuat rencana untuk menemukan kalian satu per satu.”
Adrian menunjuk liontin Clara.
“Karena masing-masing dari kalian membawa bagian berbeda dari rahasia Evellyn.”
Clara menyentuh liontin burung di lehernya.
“Bagian apa?”
“Clara memiliki kunci.”
“Alena memiliki apa?”
“Alena memiliki kode.”
“Lalu Aria?”
Adrian terdiam.
“Aria memiliki lokasi.”
Raka mengernyit.
“Lokasi apa?”
Adrian menatap mereka semua.
“Tempat penyimpanan seluruh bukti Proyek E-17.”
Ruangan kembali hening.
Fedro langsung memahami sesuatu.
“Jadi selama ini mereka tidak mengejar Clara hanya karena warisan perusahaan.”
“Benar,” jawab Adrian.
“Mereka mencari tiga saudari itu.”
Clara menatap ayahnya.
“Di mana Aria sekarang?”
Adrian menggeleng.
“Kami tidak tahu.”
Clara terkejut.
“Papi tidak tahu?”
“Terakhir kali Papi melihatnya, dia masih kecil.”
“Lalu siapa yang menjaganya?”
Adrian menatap Rafael.
“Rafael.”
Semua mata langsung tertuju kepada pria itu.
Clara mengerutkan kening.
“Jadi Rafael juga melindungi Aria?”
Rafael mengangguk.
“Ya.”
“Di mana dia?”
Rafael menjawab,
“Entahlah.”
Clara mendekat.
“Kamu harus tahu sesuatu.”
Rafael menatap Clara.
“Aku hanya tahu bahwa Aria masih hidup.”
Clara menarik napas lega.
“Bagaimana kamu bisa yakin?”
“Karena setiap tahun aku menerima satu pesan.”
“Dari siapa?”
“Dari Aria.”
Clara membelalakkan mata.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
“Karena pesan itu selalu berisi hal yang sama.”
“Apa?”
Rafael mengeluarkan ponselnya.
Ia membuka sebuah pesan lama.
Clara membacanya.
Jangan biarkan Clara menemukanku sebelum waktunya.
Clara terdiam.
“Kenapa dia tidak ingin aku menemukannya?”
Adrian menjawab,
“Karena Aria tahu sesuatu yang tidak kami ketahui.”
“Apa?”
Adrian belum sempat menjawab ketika ponsel Fedro berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Fedro membukanya.
Wajahnya langsung berubah.
Clara mendekat.
“Apa?”
Fedro menyerahkan ponselnya.
Di layar terdapat foto rumah mereka.
Foto itu diambil dari kejauhan.
Kemudian muncul pesan:
Kalian terlalu lama berbicara.
Sekarang giliran Clara memilih siapa yang akan ia selamatkan.
Di bawahnya terdapat dua foto.
Foto pertama memperlihatkan Alena.
Foto kedua memperlihatkan seorang gadis lain.
Clara langsung menutup mulut.
“Itu…”
Amara mendekat.
Wajahnya langsung pucat.
“Aria.”
Clara menatap foto tersebut.
Gadis itu terlihat lebih muda daripada Alena.
Namun wajahnya memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan Clara.
“Dia masih hidup.”
Adrian mengangguk.
“Tapi lihat lokasinya.”
Clara memperbesar foto.
Di belakang Aria terlihat sebuah gedung tua.
Raka mengenali tempat itu.
“Itu gudang lama milik perusahaan Evellyn.”
Adrian langsung menegang.
“Tidak mungkin.”
“Kenapa?” tanya Fedro.
“Gudang itu sudah ditutup selama lebih dari lima belas tahun.”
Raka menjawab,
“Berarti seseorang sengaja membawanya ke sana.”
Clara menggenggam tangan Fedro.
“Kita harus pergi.”
Adrian menggeleng.
“Tidak.”
“Papi?”
“Ini perangkap.”
Clara menatap ayahnya.
“Kalau kita diam, mereka akan menyakiti Aria.”
Adrian terdiam.
Clara melanjutkan,
“Selama hidupku, semua orang selalu mengatakan mereka melindungiku dengan cara menyembunyikan kebenaran.”
Ia menatap ayah dan ibunya.
“Tapi sekarang aku tidak mau bersembunyi lagi.”
Fedro berdiri di samping Clara.
“Aku ikut denganmu.”
Raka mengangguk.
“Aku juga.”
Rafael mengambil jaketnya.
“Kalau begitu kita pergi bersama.”
Adrian menatap Amara.
Amara mengangguk.
“Kita tidak bisa menghentikannya.”
Adrian tersenyum tipis.
“Memang bukan waktunya menghentikan Clara.”
Ia menatap putrinya.
“Sekarang waktunya kita berdiri di belakangnya.”
Clara tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar memiliki keluarga.
Namun saat mereka hendak meninggalkan rumah, ponsel Clara kembali berdering.
Nomor tidak dikenal.
Clara mengangkatnya.
“Hallo?”
Suara Alena terdengar.
“Clara…”
“Aku tahu Aria bersamamu.”
Hening.
Kemudian Alena berkata,
“Tidak.”
Clara mengerutkan kening.
“Lalu siapa yang mengirim foto itu?”
Alena menarik napas.
“Damian.”
Clara membeku.
“Dia ingin kalian datang ke gudang.”
“Untuk apa?”
Suara Alena bergetar.
“Karena dia sudah mendapatkan bagian terakhir dari kunci.”
Clara menatap liontinnya.
“Bagian terakhir?”
“Ya.”
“Di mana?”
Alena menjawab dengan suara sangat pelan.
“Di tangan seseorang yang paling dekat denganmu.”
Clara menoleh kepada semua orang.
Fedro.
Raka.
Rafael.
Amara.
Adrian.
Tidak ada yang berbicara.
Kemudian Alena berbisik,
“Clara, jangan percaya siapa pun.”
Sambungan terputus.
Clara menatap mereka semua.
Untuk pertama kalinya, keraguan muncul di dalam hatinya.
Jika Alena benar…
Maka salah satu orang di hadapannya mungkin menyimpan bagian terakhir dari kunci.
Dan yang lebih mengerikan lagi—
orang itu mungkin sudah mengkhianatinya sejak awal.
Bersambung…