NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Amanda sudah tahu sesuatu seperti ini mungkin terjadi. Tira pernah bercerita kepadanya tentang ultimatum yang diberikannya kepada Dimas. Amanda tahu Tira sudah meminta kepastian. Tahu Tira memberikan waktu dua minggu. Tahu Dimas tetap tidak melakukan apa-apa. Namun ada satu hal yang tidak pernah Tira ketahui, selama beberapa waktu terakhir, Amanda bukan hanya menjadi tempat Dimas bercerita. Ia adalah perempuan yang diam-diam ditemui Dimas di belakang Tira.

Hubungan itu tidak pernah memiliki nama yang jelas. Mereka menyebutnya kesalahan, pelarian, atau sekadar kekhilafan yang terjadi berulang kali. Tetapi apa pun namanya, satu hal tidak bisa dibantah, Amanda adalah selingkuhan Dimas. Dan yang lebih buruk, Amanda sendiri bukan perempuan yang bebas. Di jarinya ada cincin pertunangan dari seorang laki-laki bernama Arga, seorang perwira polisi yang selama ini percaya bahwa Amanda adalah perempuan yang akan menjadi istrinya.

Tidak ada yang tahu rahasia itu selain mereka berdua. Tira tidak tahu. Arga tidak tahu. Bahkan keluarga mereka tidak tahu. Hanya Dimas dan Amanda yang mengetahui betapa buruknya keputusan yang mereka buat.

“Namanya Fahri,” kata Dimas.

Amanda mengangkat wajah. “Fahri?”

“Iya.”

“Yang dikenalkan ayahnya?”

“Iya.”

Amanda menghela napas pelan. “Jadi benar-benar jadi?”

“Sebulan lagi.” Dimas menatap langit-langit kamar. “Aku pikir dia cuma mengancam.”

Amanda tidak menjawab. “Aku pikir dia masih akan menunggu.”

Suara Dimas terdengar seperti orang yang sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Amanda meletakkan undangan di atas meja kecil. “Kamu sudah bicara sama Tira?”

“Sudah.”

“Apa katanya?”

“Dia bilang sudah memilih.”

Amanda menatap Dimas lama. “Dan kamu baru panik sekarang?”

Dimas menoleh. “Aku nggak panik.”

Amanda hampir tertawa. “Kamu datang ke kosanku malam-malam, menjatuhkan badan ke kasurku, lalu curhat tentang undangan pernikahan pacarmu. Kalau itu bukan panik, aku nggak tahu lagi namanya apa.”

Dimas terdiam.

Amanda sebenarnya ingin marah. Bukan karena Tira akan menikah, tetapi karena ia tahu posisi mereka. Dimas seharusnya tidak datang kepadanya seperti ini. Ia seharusnya menyelesaikan masalah dengan Tira. Ia seharusnya menentukan siapa yang ingin diperjuangkannya. Namun setiap kali Dimas berada di depannya, Amanda selalu kehilangan sebagian keberaniannya.

“Aku nggak tahu harus bagaimana,” kata Dimas akhirnya.

“Kamu masih mencintai Tira?”

Pertanyaan itu membuat Dimas diam cukup lama. “Iya.”

Amanda menundukkan wajah. Jawaban itu sebenarnya sudah ia tahu, tetapi mendengarnya langsung tetap terasa menyakitkan. Selama ini ia tahu bahwa dirinya tidak pernah benar-benar menggantikan Tira. Ia hanya tempat Dimas bersembunyi ketika hubungan mereka sedang bermasalah. Namun bodohnya, Amanda pernah berharap lebih. Ia pernah berharap bahwa setelah semua yang terjadi, Dimas akan memilihnya. Bahwa suatu hari lelaki itu akan mengatakan, “Aku putus dengan Tira. Aku mau sama kamu.” Tetapi hari itu tidak pernah datang. Justru sekarang Dimas datang kepadanya karena takut kehilangan Tira. “Kalau kamu masih mencintai dia, kenapa kamu datang ke sini?” tanya Amanda.

Dimas menatapnya. “Karena aku butuh kamu.”

Amanda tertawa kecil, tetapi matanya tidak ikut tertawa. “Kamu selalu bilang begitu.”

Dimas tidak menjawab.

“Setiap kali kamu bertengkar dengan Tira, kamu datang ke sini. Setiap kali kamu merasa kesepian, kamu cari aku. Setiap kali hubungan kalian baik, aku yang kamu lupakan.”

“Amanda...”

“Apa?” Amanda menatapnya.

“Aku salah, aku tahu.”

“Kita sama-sama salah.” Amanda melihat cincin di jarinya sendiri. Cincin pertunangan dari Arga berkilau terkena cahaya lampu kamar. Dimas mengikuti arah pandangannya. Mereka sama-sama terdiam. Ada sesuatu yang ganjil dalam hubungan mereka. Dua orang yang sama-sama terikat pada orang lain, tetapi diam-diam mencari kenyamanan satu sama lain. Dua orang yang tahu perbuatannya salah, tetapi selalu menemukan alasan untuk mengulanginya. “Aku juga akan menikah,” kata Amanda pelan.

Dimas memandang cincin itu. “Aku tahu.”

“Arga sudah mulai membicarakan tanggal.”

Dimas tidak menjawab. “Dia baik.”

“Aku tahu.”

“Dia serius.”

“Aku tahu.” Amanda menarik napas. “Dan dia tidak tahu tentang kita.” Kalimat itu membuat suasana kamar berubah.

Dimas menunduk. “Jangan bahas itu sekarang.”

“Kapan mau dibahas?” Amanda bertanya. “Setelah kamu kehilangan Tira?”

Dimas mengusap wajah. “Aku lagi kacau.”

“Aku juga.” Amanda bangkit, kemudian duduk di sisi kasur. Dimas menatapnya. “Kalau Tira benar-benar menikah, kamu mau apa?”

Dimas menjawab tanpa berpikir, “Aku nggak tahu.”

“Kamu mau mengejarnya?”

Dimas terdiam.

“Kamu mau melamarnya?”

“Aku belum tahu.”

“Tapi kamu takut dia menikah.”

“Iya.”

Amanda tersenyum getir. “Lucu.”

“Apa?”

“Selama delapan tahun kamu punya perempuan yang menunggumu. Kamu tidak kunjung menikahinya. Sekarang ketika dia benar-benar pergi, kamu baru takut kehilangan.”

Dimas menatap Amanda. “Aku memang bodoh.”

“Iya.” Jawaban Amanda terlalu cepat sampai Dimas hampir tertawa. “Setidaknya kamu jujur.”

“Aku selalu jujur.” Dimas menatapnya sebentar.

“Tidak selalu.” Amanda tahu maksudnya. Bukan hanya tentang Tira. Tentang Arga. Tentang hubungan rahasia mereka. Tentang dua kehidupan yang sama-sama mereka bohongi. Amanda menghela napas, “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” tanyanya.

Dimas diam. “

Tira memberikanmu kesempatan. Dia bahkan memberikan ultimatum. Lamaran sekarang atau putus. Kamu tinggal memilih.”

Dimas menunduk. “Aku kira dia nggak akan benar-benar pergi.”

“Itulah kesalahanmu.”

Dimas membaringkan tubuhnya di kasur dan memejamkan mata. “Bagaimana kalau dia benar-benar menikah sama Fahri?”

Amanda tidak menjawab. Ia hanya menatap Dimas. Beberapa detik kemudian, tanpa banyak bicara, Amanda duduk di sampingnya dan memeluk lelaki itu. Dimas diam dalam pelukannya. Tidak ada kata-kata romantis. Tidak ada janji. Hanya dua manusia yang sedang terjebak dalam kesalahan yang mereka buat sendiri.

Amanda kemudian mendorong bahu Dimas perlahan hingga mereka berbaring bersisi-sisian. Dimas menatap langit-langit. Amanda juga tidak mengatakan apa-apa. Namun di antara mereka ada sebuah kenyataan yang jauh lebih berat daripada undangan pernikahan Tira, mereka sama-sama sedang mengkhianati orang yang mempercayai mereka. Dimas mengkhianati Tira. Amanda mengkhianati Arga.

Dan ironisnya, malam itu mereka justru saling mencari karena takut kehilangan orang lain. Amanda memejamkan mata. “Dim.”

“Hm?”

“Kalau kamu benar-benar mau Tira, berhenti datang ke sini.”

Dimas terdiam.

“Kejar dia.”

“Kalau terlambat?”

Amanda membuka mata. “Setidaknya kali ini kamu tidak hanya duduk dan menunggu.”

Dimas tidak menjawab. Tetapi kata-kata itu terus berputar di kepalanya. Selama delapan tahun Tira meminta satu hal yang tidak pernah benar-benar ia berikan, keberanian untuk memilih. Kini, ketika Tira sudah memilih lelaki lain, Dimas baru menyadari bahwa masalah terbesar dalam hubungan mereka bukanlah Fahri. Bukan ayah Tira. Bukan perjodohan. Bukan bahkan waktu. Masalahnya adalah dirinya sendiri. Ia selalu ingin Tira tetap menjadi miliknya tanpa pernah benar-benar berani menjadikannya istrinya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Dimas mulai mengerti bahwa jika ia ingin mendapatkan Tira kembali, ia tidak hanya harus melawan Fahri. Ia harus menghadapi seluruh kebohongan yang selama ini ia sembunyikan.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!