Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ainun: Dua Wajah
Setibanya di ruang makan, langkah Ainun kembali melambat.
Di ujung meja, ayahnya, Pak Susanto, telah duduk lebih dulu. Di atas meja tersaji beberapa hidangan yang masih mengepulkan asap hangat, aroma masakannya memenuhi ruangan.
“Ayah...” sapa Ainun pelan.
Pak Susanto mengangkat wajah, tetapi pertanyaan pertama yang keluar dari bibirnya justru membuat senyum Ainun memudar.
“Mana suamimu?”
Ainun menundukkan pandangan sejenak sebelum menjawab.
“Mas Sagara sedang sibuk, Yah. Beliau nggak bisa datang.”
Belum sempat suasana menjadi tenang, suara ibunya menyela.
“Lihat tuh,” sindir Bu Siti sambil melipat kedua tangan di dada. “Datang ke rumah orang tua, nggak bawa apa-apa.”
Ainun menoleh. Tatapan sinis ibunya membuat jemarinya perlahan meremas ujung blus yang dikenakannya.
“Maaf, Bu,” ucapnya lirih. “Aku buru-buru berangkat, jadi nggak sempat beli apa-apa.”
“Ah, alasan saja.” Bu Siti mendecak. “Kamu memang pelit. Nggak mau keluar uang.”
“Aku bukan begitu, Bu....”
“Kalau memang nggak sempat beli buah atau makanan, setidaknya kasih kami uang.” Bu Siti menatapnya tajam. “Coba lihat Mbakmu. Dia loyal sama orang tua.”
Kalimat itu menusuk hati Ainun.
Ibunya kembali melanjutkan dengan nada meremehkan.
“Oh iya, Ibu lupa. Kamu cuma guru taman kanak-kanak. Gajimu juga paling pas-pasan.”
Ainun menarik napas panjang. Meski ucapan ibunya terasa menusuk hati, tetapi ia berusaha tetap tenang.
“Memangnya kenapa, Bu?” tanyanya pelan. “Bukankah pekerjaanku halal?”
Bu Siti tidak menjawab.
Wanita itu justru melangkah ke arah meja makan, lalu satu per satu mengambil hidangan yang sejak tadi tersaji.
Kening Ainun langsung berkerut. “Bu... makanannya mau dibawa ke mana?”
Tak ada jawaban.
Bu Siti membuka lemari penyimpanan makanan, lalu memasukkan hampir seluruh lauk ke dalamnya.
Pintu lemari ditutup kembali. Setelah itu, wanita itu menoleh kepada Ainun.
“Makan saja yang ada. Nggak usah pilih-pilih.”
Tatapan Ainun perlahan bergeser ke meja makan. Yang tersisa hanya sepiring nasi hangat, sebutir telur goreng, dan sedikit sambal.
Tak ada lauk lain.
Ainun menatap semuanya beberapa saat.
Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang terasa getir.
‘Nggak apa-apa... Yang penting aku tetap makan.’
Tanpa sadar, telapak tangannya menyentuh perutnya yang masih rata.
‘Sekarang bukan cuma aku yang butuh makan. Ada anakku juga.’
Ainun mengambil nasi secukupnya ke piringnya.
Setelah itu, ia menambahkan sebutir telur goreng dan sedikit sambal.
Hanya itu yang tersisa di atas meja.
Sesaat, pandangannya beralih ke lemari tempat ibunya menyimpan lauk-pauk yang masih hangat.
Aroma masakannya masih tercium jelas.
Perut Ainun kembali bergejolak pelan. Namun, ia hanya mengembuskan napas.
Baru saja ia hendak menyuapkan nasi ke mulutnya.
“Ternyata sudah di sini duluan.”
Suara berat yang begitu dikenalnya membuat gerakan Ainun terhenti.
Sendok di tangannya menggantung di udara.
Perlahan ia menoleh. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
‘Mas Sagara...?’
Pria itu berdiri di ambang pintu ruang makan. Jas hitam yang masih melekat di tubuhnya menunjukkan ia baru saja pulang dari kantor.
Tatapan Ainun membeku beberapa detik.
‘Bukannya beliau bilang lembur...?’
“Nak Sagara!” seru Bu Siti dengan wajah berbinar. “Aduh, ayo masuk. Duduk sini, Nak.”
Ainun segera mengalihkan pandangannya. Ia kembali menatap piringnya, seolah kehadiran pria itu tidak berarti apa pun.
Namun, suara ibunya kembali terdengar.
“Ainun.”
Wanita itu menatapnya tajam.
“Gimana, sih? Salim dulu sama suamimu. Mau jadi istri durhaka?”
Ainun memejamkan mata sejenak. Tanpa membantah, ia meletakkan sendok di atas piring.
Perlahan ia berdiri, lalu melangkah mendekati Sagara.
Tangannya terangkat.
Dengan gerakan pelan, ia meraih punggung tangan pria itu, lalu menempelkan punggung tangan tersebut ke dahinya sebagai tanda hormat.
Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Begitu selesai, Ainun langsung berbalik. Ia kembali duduk di kursinya dan melanjutkan makan seolah tidak terjadi apa-apa.
“Maaf ya, Nak Sagara,” ucap Bu Siti sambil tersenyum canggung. “Ainun memang kurang didikan. Ayo duduk dulu. Ibu ambilkan lauknya.”
Ainun tetap menyendok nasi tanpa mengangkat kepala.
Tak lama kemudian...
Kret.
Kursi di sampingnya bergeser. Ainun tidak menoleh.
‘Pasti Mas Sagara duduk di sebelahku.’
Tak berselang lama, suara pintu lemari kembali terdengar dibuka.
Satu per satu hidangan yang tadi disembunyikan kembali dikeluarkan.
Udang, kerang, ayam goreng, hingga sayur hangat kembali memenuhi meja makan.
Semuanya tersusun rapi seperti semula.
“Ayo, Nak Sagara,” bujuk Bu Siti ramah. “Dimakan selagi masih hangat.”
Ainun hanya diam. Tatapannya tetap tertuju pada nasi, telur, dan sambal di piringnya.
Tak sedikit pun ia melirik hidangan yang baru saja disajikan.
“Ainun.”
Suara ibunya kembali memanggil.
“Ini ada udang kesukaanmu. Buruan ambil.”
Ainun perlahan mengangkat wajah. Tatapannya bertemu dengan wajah ibunya yang kini mendadak begitu ramah.
“Maaf, Bu,” ucapnya pelan. “Ainun alergi makanan laut.”
Pandangannya bergeser pada piring berisi udang dan kerang.
Bu Siti tampak terdiam sesaat.
“Kalau begitu makan kangkung saja atau Ayam goreng.”
Ainun menggeleng kecil. “Kangkung bikin perutku mulas, Bu. Dan Ayam goreng cuma ada tiga. Bagaimana kalau Mas Sagara nggak kebagian, yang ada Ibu menyalahkan aku karena nggak menghargai orang lain.”
Suasana meja makan mendadak hening.
Beberapa saat kemudian, suara ayahnya memecah keheningan.
“Ainun,” ucap Pak Susanto dengan nada berat. “Setidaknya kamu harus menghargai ibumu.”
Kalimat itu membuat Ainun tersenyum kecil.
Namun, senyum itu terasa begitu pahit.
“Menghargai?” ulangnya lirih.
Ia mengangkat pandangan menatap kedua orang tuanya bergantian.
“Bagaimana aku bisa dituntut menghargai...” Suaranya mulai bergetar. “Kalau Ayah dan Ibu saja nggak pernah menghargai aku?”
Tak ada yang menyela.
Ainun perlahan berdiri dari kursinya. Jemarinya mengepal di sisi tubuh.
“Hanya karena aku bukan anak yang bisa dibanggakan...” ucapnya dengan mata yang mulai memanas, “apa aku harus terus diperlakukan berbeda?”
Tak sanggup lagi menahan sakit di dada, Ainun segera berbalik. Ia melangkah meninggalkan ruang makan tanpa menunggu jawaban siapa pun.
Sementara itu, Sagara masih duduk di kursinya.
Tatapannya mengikuti punggung Ainun yang perlahan menghilang di balik dinding ruang makan.
Ruangan kembali dipenuhi keheningan.
Bayangan wajah Ainun yang menahan tangis terus terlintas di benaknya.
Pandangannya kemudian bergeser ke meja makan.
Di sana, sepiring nasi dengan telur goreng dan sedikit sambal masih tersisa. Sendok yang tadi digunakan Ainun juga masih tergeletak di atas piring.
“Nak Sagara.”
Suara Bu Siti membuat Sagara mengangkat pandangan.
“Ibu minta maaf, ya,” ucap wanita itu sambil tersenyum canggung. “Pasti Nak Sagara jadi nggak nyaman melihat sikap Ainun.”
Sagara tidak memberikan jawaban. Sorot matanya kembali jatuh pada piring yang ditinggalkan Ainun.
Beberapa detik kemudian, ia meraih piring itu dan menariknya ke hadapannya.
Melihat tindakan itu, Bu Siti langsung membelalak.
“Nak!” serunya. “Jangan dimakan. Itu bekas Ainun.”
Wanita itu buru-buru hendak mengambil piring tersebut.
“Ibu ambilkan yang baru saja.”
Namun, sebelum tangan Bu Siti menyentuh piring itu, Sagara lebih dulu menahannya.
“Tidak perlu.” Nada suaranya tetap datar. “Saya makan yang ini saja.”
Ia mengambil sendok, lalu menyendok sedikit nasi.
“Kalau dibuang, mubazir.”
Setelah itu, Sagara mengambil sedikit lauk dari piring saji yang masih berada di atas meja.
Tangannya bergerak tenang, seolah tidak memedulikan tatapan heran yang mengarah kepadanya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sagara mulai menyantap makanan yang tadi ditinggalkan Ainun.
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪