NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pewaris

Takdir Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.

Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.

Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14.

Kontras kehidupan yang dimiliki Bram dan Damar terlihat semakin nyata pada hari setelah insiden Mirah terjatuh di tangga tanpa sepengatahuan keluarga Arkatama.

Pagi itu, setelah menjalani pemulihan selama beberapa hari usai melahirkan, dua keluarga keluar dari ruang rawat yang berbeda. Radinka keluar bersama Bram dari ruang rawat biasa, sedangkan Meira keluar dari ruang rawat VVIP bersama Damar dan Raksa serta dua pelayan yang membawa barang pribadi majikannya.

Di halaman rumah sakit, mobil hitam mewah segera menyambut begitu Damar melangkah keluar sambil menuntun sang istri. Berbeda dengan Bram yang hanya bisa menggunakan jasa taksi.

Tak lama kemudian, dua mobil itu meninggalkan pelataran rumah sakit di arah yang berbeda.

.

.

.

"Demi Tuhan aku sudah melakukan dosa besar, Nak."

Mirah berkata dengan suara bergetar usai menceritakan kisah dua puluh tiga tahun silam yang membuat batinnya tersiksa.

Ruang rawat Mirah kini hanya diisi dengan suara isak tangis yang menyayat hati. Sementara Elang terjebak dalam keheningan dengan darah mendidih.

Satu tangan Elang yang terkepal erat di atas pahanya bergetar hebat, hatinya mati-matian menahan emosi yang bergolak dan menuntut untuk meledak. Kilasan masa lalu yang ia habiskan untuk membuat ayahnya bangga mendadak melintas di pelupuk matanya. Semua usaha yang ia lakukan, semua yang sudah ia korbankan hanya untuk mendapatkan satu saja pengakuan dari sang ayah kini seolah menjadi lelucon yang membuat ia tertawa tanpa humor.

Kini, semua pertanyaan yang selalu mengganggu hatinya tentang mengapa sang ayah yang tak pernah puas dengan apa yang ia lakukan dan selalu menghalangi mimpinya terjawab sudah.

Namun, ketika wajah ibunya berkelebat di depan matanya, kepalan tangan Elang mengendur.

"Maafkan aku..." Mirah terisak sembari mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Elang.

Elang tidak menjawab, otaknya masih berusaha mencerna semua yang baru saja ia dengar.

"N-namamu...?" tanya Mirah.

Elang tersentak pelan, segera mengatur suara di tengah gejolak emosi yang tengah ia rasakan.

"Elang... Elang Mahesa."

Mirah menggeleng, satu tangannya yang masih bebas terulur menyentuh wajah Elang. "Kamu terlahir sebagai Arkatama."

"Bawa aku ke ruangan Pak Damar. Beliau harus tahu semuanya, beliau harus mengetahui kebenarannya."

Tangan Mirah yang sebelumnya menyentuh wajah Elang berpindah mencengkeram kerah kemeja Elang yang bernoda darah.

"Bawa aku kepadanya... Bawa aku ke sana... Rasa bersalah ini menyiksaku..."

Entah dari mana Mirah mendapatkan tenaganya kembali, tarikan tangan Mirah menguat, cengkeraman di kerah kemeja Elang mengerat, dan ia berulang kali mengucapkan kalimat yang sama.

"Bawa aku menemui ayahmu..."

Tarikan Mirah menjadi tidak terkendali, ia menangis, meraung, terus meminta hal yang sama pada Elang yang hanya bisa terbata, tidak tahu harus bagaimana di saat kondisi Damar tidak memungkinkan untuk ditemui dan masih dalam tahap observasi.

Hingga... Tarikan Mirah tiba-tiba terhenti, tubuhnya menegang sepersekian detik sebelum akhirnya terkulai dengan kedua mata menutup perlahan disusul suara nyaring monitor dari alat medis yang menjadi penopang hidup wanita itu.

Elang bangun dari duduknya dengan tubuh goyah, segera menyingkir saat pintu ruang rawat terbuka diikuti sosok dokter melangkah masuk bersama perawat di belakangnya.

"Kondisinya menurun lagi." ucap perawat sambil kedua tangannya bergerak untuk melakukan tindakan.

"Tolong tunggu di luar," ucap Dokter pada Elang.

Elang tidak menjawab, ia hanya melangkah keluar dari ruang rawat dan segera membawa langkahnya menuju ruangan di mana Damar berada.

Ketika ia tiba di sana, Elang mendapati ayahnya berdiri di samping pria lanjut usia dan wanita paruh baya tengah duduk menunggu di kursi yang tersedia di depan pintu.

"Dari mana saja kau?" tanya Bram begitu Elang sudah berdiri di depannya.

Belum sempat Elang memberikan jawaban, suara ketukan tongkat di tangan Raksa menyela lebih cepat. Ia berdiri, menatap Elang lekat sambil mengulurkan satu tanganya, berniat untuk menyentuh wajah Elang.

"Ayah."

Gerakan tangan Raksa terhenti beberapa senti dari wajah Elang, kepalanya menoleh ke arah sang putri yang kini sudah berdiri.

"Damar akan dipindahkan, kita ke sana sekarang," ucap Meira menatap Elang sekilas sebelum menatap ayahnya.

Raksa menurunkan tangannya, kembali menatap Elang selama beberapa saat, dan berakhir dengan . "Terima kasih."

Pandangan Meira beralih pada Elang. "Kau putra Bram?"

Elang menatap wanita paruh baya di hadapanya dalam keheningan singkat yang terasa begitu panjang. Netranya memindai wajah wanita itu, berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang siap jatuh kapan saja setelah ia mengetahui kebenaran jika ternyata wanita itu adalah ibu kandungnya.

"Benar, Nyonya," jawab Elang.

"Bram mengatakan kau yang membawa suamiku ke rumah sakit?" tanya Meira datar.

Elang tidak menjawab, bibirnya terasa kelu untuk sekedar memberikan jawaban.

"Terima kasih," ucap Meira singkat.

Begitu dua kata itu terucap, Meria pergi bersama ayahnya meninggalkan Elang yang masih terpaku di tempatnya berdiri.

"Begitulah orang kaya," Bram mendengus. "Sebanyak apapun orang seperti kita membantu, hanya mendapatkan dua kata datar seolah kita tidak melakukan apa pun."

Elang tidak menghiraukan ucapan ayahnya. Tatapannya terpaku pada punggung dua sosok berbeda usia yang sudah menjauh dan menghilang di tikungan koridor menuju ruang rawat yang akan Damar tempati.

"Pulang. Telingaku sakit mendengar ibumu terus menyebut namamu," ucap Bram tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Pria itu bahkan tidak menyadari tatapan putranya kini tidak lagi seperti dulu. Ia hanya melangkah setelah menarik putranya agar mengikuti langkahnya menuju area parkir. Sampai, ketika pintu ruang rawat Mirah dibuka disusul dengan brankar tempat Mirah terbaring didorong keluar, langkah Bram terhenti.

Jantungnya seakan berhenti berdetak.

. . .

. . .

To be continued...

1
Patrick Khan
aku ingin kasih tau q ini anakmu pak damar😁😁😁
Zhu Yun💫
langsung saja minta tes DNA biar terbongkar, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Yang bener kalau dinikahkan baru dia akan punya rasa tanggung jawab pak Raksa... kalau cuma dijodohkan doang nanti dia bisa jawab gini sama calonnya kalau lagi berantem 'Kita itu baru tunangan, jadi kamu gak usah ngatur-ngatur aku.' Nah beda kalau udah nikah dan rasa tanggung jawab itu pasti bakal ada 'Kamu adalah Istriku, tanggung jawabku' 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
〈⎳ FT. Zira: asiap kaka/Joyful/
total 1 replies
Muft Smoker
persis seperti anak mu si ravian😏😏
〈⎳ FT. Zira: bener🤣
total 3 replies
Zhu Yun💫
Aku hafalinnya Tresna.. Tresna... Tresna aja ... biar gampang lah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Patrick Khan
perjodohan..emang sopo yg mw ambek ravian 🤣🤣🤣lakik modelan gitu
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Zhu Yun💫
Karena yang manis kan kamu, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: devinisi cwe gombalin cwo yak/Facepalm/
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mulai maju nih si keira
〈⎳ FT. Zira: sebelum direbut orang kak🤣🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
rame yah di novel ini
〈⎳ FT. Zira: banyak tokohnya🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aturannya selidiki dulu elang diam2. pura2 aja dl ga tau apa2
〈⎳ FT. Zira: udah gedek duluan dia kak,gak mau drama🤭
total 1 replies
Muft Smoker
org luar menurut mu ,,
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
〈⎳ FT. Zira: 🤣/Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waah si bram udh jdi kambing guling niih ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁🫰🫰
total 8 replies
Muft Smoker
krn ravian emnk bukan anak ny pak damar ,, pak gatra ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waaaah actor Dunia lgi berbicara ,, 😒😒😒
〈⎳ FT. Zira: aduh/Facepalm/
total 3 replies
Zhu Yun💫
Beneran ulah Bram atau ada orang lain lagi dibelakangnya /CoolGuy/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sudah kudugong👏
Patrick Khan
lanjut
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
vote mumpung inget
〈⎳ FT. Zira: tengkyuuu miii/Kiss//Kiss/
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
akting
〈⎳ FT. Zira: aktingnya... harus🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!