NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:66.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepasang mata putih : 24

“Syukurlah kamu sudah bangun, Mima. Aku mau ngasih kue lupis, bikinnya jam 3 tadi pagi.” Rosna mengulurkan rantang plastik susun dua.

“Kok repot-repot sih, Rosna? Terima kasih kamu sudah ngasih kue di pagi buta gini?” ia menyembunyikan perasaan aneh, menutupinya dengan senyum tipis.

“Suamiku gak suka makanan manis, apalagi dari ketan, nah akunya doyan. Mau buat sedikit sama banyak sama aja ngotori alat memasak, jadi ya sekalian tak niatkan ngasih ke kamu,” ungkapnya ramah.

Rosna memakai daster panjang selutut lalu selendang lebar tersampir pada pundak, ujungnya dipeluk lengan.

Udara pagi hari terasa dingin menusuk tulang, terlebih hari ini mendung dan angin bertiup sedikit kencang.

“Sekali lagi terima kasih ya, Rosna,” katanya dengan suara riang.

“Sama-sama. Nanti jadi kan aku panggilkan dukun pijatnya?” Rosna bertanya seraya mengingatkan.

Mima menjawab mantap. “Jadi, Guntur pun mau aku pijatkan, kurang enak badan dia.”

“Ya sekalian saja,” sahut Rosna, dia bimbang ketika ingin menanyakan sesuatu, berujung urung karena Hamima seperti menjaga jarak meski sikapnya tetap hangat.

“Aku balik dulu ya, mau nemenin suami sarapan sebelum berangkat kerja,” pamitnya yang langsung di iyakan Mima.

Hamima masih berdiri di batas teras depan pintu rumah, tidak benar-benar memandangi tetangga yang rela datang demi berbagi kue buatannya.

Suara deheman Galih mengembalikan fokus istrinya yang bergeming seraya menjinjing rantang.

“Itu dari siapa?”

Mima berbalik badan, langsung bertatap muka dengan pria bertelanjang dada hanya memakai handuk selutut.

“Rosna, dia kebanyakan buat kue lupis, terus ngasih untuk Guntur sama Ara,” katanya melebihkan.

“Mas, lauk, sayur sudah habis. Nanti siang sama malam gak ada yang bisa dimakan selain nasi dan telur,” beritahunya, dalam hati merasa tidak lagi nyaman seperti biasa.

Sedari mereka menikah sampai sekarang, Galih yang mengatur keuangan. Mulai dari keperluan keluarga, sampai kebutuhan sehari-hari.

“Hari ini Mas pulang sore, gak makan siang dirumah. Untuk belanja, suruh saja Guntur sepulang sekolah. Kamu catat apa yang mau dibeli, nanti uangnya Mas kasih ke dia,” ucapnya ringan tanpa beban. Seakan melimpahkan tanggung jawab ke anak adalah hal wajar.

Hamima menyanggah, tak lagi diam menerima begitu saja. “Guntur lagi gak enak badan, hari ini dia libur. Pujiara juga demam —”

Galih menyela dengan suara menggebu-gebu disertai sorot mata tajam. “Dia baru saja masuk sehari, masa langsung mau bolos. Kamu itu bisa merawat anak gak sih, Mima? Belum ada seminggu, Pujiara kembali demam. Lama-lama jadi berpenyakitan anak-anakku kalau kamunya gak becus.”

Diam, tetap bersikap tenang, lalu melengos melewati pria yang berkacak pinggang. Mima tidak mau menghabiskan energi berdebat dengan pria egois, maunya menang sendiri.

“Hamima!” suaranya menggelegar, dia berbalik badan.

Yang dipanggil namanya dengan nada tinggi, enggan berhenti. Seolah tuli, dan bersikap biasa.

“Kamu sudah bosan jadi istri, atau gak mampu lagi melayani anak suami, hah?!” Galih menyusul wanita yang sedang meletakkan rantang di atas meja.

Tiba-tiba lampu mati, dan suasana seketika gelap, hanya terlihat langit mulai terang tampak dari lubang ventilasi.

Pria yang tadi berdiri pongah, merasakan aura mistis, buku kuduknya berdiri.

Galih bergeming di depan lorong kamar keramat, dalam kegelapan — rasa takut mulai menyelinap. Tidak seperti semalam sewaktu di kamar keramat, ia sama sekali tidak takut.

“Hamima,” panggilnya sedikit kencang, matanya terus terbuka.

“Mima!” ulangnya dengan suara menekan.

Sunyi, tidak terdengar suara apapun selain detak jarum jam, ritme jantungnya sendiri yang bertambah kencang, dan bunyi napasnya.

Setengah langkah, seolah tengah belajar jalan — Galih maju sambil menghafal jarak sampai ke meja makan.

Ting, ting, ting, ting ….

Jam setinggi orang dewasa, berdentang enam kali, suaranya menjadi nada tunggal di rumah sepi, seakan tidak pernah dihuni oleh manusia.

Bunyi napas Galih menderu-deru. Tangannya terentang sembari tetap melangkah.

Sepasang bola mata seluruhnya putih, bersinar terang muncul di kegelapan.

Akhhh!

Pekik pria yang langsung berhenti, dan berdiri kaku.

“Mas, sarapannya sudah siap, ayo makan ….”

“Kamu, kamu bukan istriku!” ia terengah-engah, tangannya seperti mengayuh dayung sampan, tetapi kakinya tak bergeser, tetap ditempat.

Sosok yang cuma terlihat sepasang bola mata bercahaya, tertawa melengking.

“Hamima! Guntur!” jeritannya seolah tak terdengar, tidak ada yang datang membantu.

Hihihihi ….

Suara tawa itu terdengar semakin keras, lalu bola mata melayang mengelilingi Galih, terus berputar cepat berubah menjadi bola api.

Galih gemetaran, baru kali ini melihat penampakan menyeramkan. Matanya terpejam, enggan melihat lebih lama

“Mereka bohong, rumah ini tetap berhantu,” monolognya gemetaran.

“Jadi kamu tau kalau hunian ini ada hantunya, Mas?” tanya suara wanita yang sudah menghabiskan ribuan malam bersama pria masih meracau tidak jelas.

“Hamima, Mima?” tanyanya seraya pelan-pelan membuka mata, ia langsung seperti orang bodoh menatap tak berkedip sosok istrinya yang berdiri hanya berjarak sempit.

Galih melihat cepat ke segala penjuru yang bisa tertangkap oleh netranya. Lampu menyala terang, tidak ada suara tawa cekikikan.

Sepasang mata terbang lalu berubah jadi bola api juga tidak ada.

‘Apa aku barusan mimpi? Tapi diriku berdiri bukannya berbaring?’ batinnya bertanya-tanya.

“Jawab aku, Galih!” tangan Hamima terkepal disisi badan. Amarahnya tidak lagi bisa diredakan.

Hamima tidak kemana-mana, sedari tadi melepaskan bungkus kue lupis, dia pun tak melihat hal aneh, hanya suaminya meracau sambil memejamkan matanya.

Yang dibentak, badannya tersentak terkejut. Galih masih belum bisa fokus, masih terbayang-bayang penampakan menyeramkan tadi.

“Kamu tahu kan kalau rumah ini berhantu? Jawab!” sekali lagi wanita berdaster polos itu mengulang pertanyaan.

“Jangan berteriak! Aku ini suamimu, kepala keluarga!” hardiknya, sudah bisa menguasai diri sendiri.

“Kamu gak pantas jadi seorang suami apalagi ayah! Suami mana yang sudah tahu rumah angker tapi tetap dibeli, hah?!” balasnya dengan membentak.

Tuduhan sang istri membungkam mulutnya, ia gelisah, takut ketahuan berbohong, tetapi tetap ingin dipandang hormat.

“Omonganmu ngelantur!” tampiknya enggan menanggapi pertanyaan yang menyudutkan dirinya.

“Baik.” Mima mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau kamu anggap aku asal bicara, sekarang tolong jelaskan tentang kamar ini!”

Hamima melangkah tergesa-gesa mengambil kunci di dalam tas ransel masih di atas meja. Kemudian berlari ke sebuah pintu kokoh.

Sebelum dicegah oleh pria yang masih memasang ekspresi wajah bingung, dia sudah memutar anak kunci, dan ….

Brak!

Daun pintu dihempas sampai ujung sisinya menabrak tembok menghasilkan bunyi kencang.

“Hamima!” Galih tersadar, keterkejutan berubah menjadi amarah tersirat lewat mata memerah memandang bengis istrinya sendiri.

Wanita ini bukan lagi sosok menerima saja demi keharmonisan rumah tangganya, ia berdiri dengan punggung tegak. Tak gentar mendapatkan tatapan mengintimidasi.

Mima masuk ke dalam kamar, menekan saklar lampu di dinding dekat pintu.

Kamar luas, mewah, langsung terang benderang. Di lantai, lampu minyak masih menyala dengan api kecil bercahaya tenang.

“Ini kamar apa? Atau ruangan pemujaan sampai-sampai harus dikasih sesaji?” tanyanya datar.

“Kamu jangan sembarangan masuk ke kamar orang!” Galih gagal mencekal lengan Mima yang bisa membaca gerak-geriknya.

Hamima berdiri di belakang tampah berisi bunga, dan lampu minyak menyala.

“Kamar orang?” ulangnya seraya menatap lekat wajah sang suami. “Orang atau hantu?!”

.

.

Bersambung.

1
neni nuraeni
iya kak ga papa,,, semoga aja Mima dan kedua anaknya sllu ada yg melindungi,,, apa si Rosna ini ya biang keladinya🤔,,, masih misteri,, lnjut kak
Fera Susanti
ini Rosna kenapa??
Deris Alrasyid
Semangat kk
Di tunggu up nya 😊
sryharty
masih was was dengan Rosna dan Mbah nar,,
sryharty
kenapa kalo buat sesaji2 harus pakai ayam cemani yah,,enakan juga ayam goleng Ipin upin 🤣
sryharty
kira2 telinga nya tembok Segede apa yah🤭
syizfaiz
berharap si Mbah nya orang baik 🤭
Eli Rahma
iya kak...semoga dilancarkan seglanya..
Eli Rahma
apa yg kau rencanakan Rosna..aku curigaa
jekey
apa"an kau rosna . jgn" anak rosna yg meninggl kecemplung sumur
Andriani
Si Ros yg jahat toh?
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa maksud Rosna ya 🤔🤔😏
Aprisya
waduh kayaknya rahasia tentang rumah mbah nar Tau semua nih
Shee_👚
semangat kak, kita selalu menanti update terbaru.
jangan lupa jaga kesehatan kak🫰🤗
Shee_👚
masih mikir rosna baik atau jahat, aku belum bisa memutuskan
Shee_👚
ara sedang di incar mima, makanya mbah nar pesen begitu. bahkan guntur aja dah pernah bilang jangan tinggalin ara sendirian
Shee_👚
dalam sumur itu kayanya ada mayat juga apa ya, para korban terbunuh di buang ke sumur🤔
Shee_👚
mima bahaya banget kamu duduk di tepian sumur, itu sumur yang mau buat ara meninggal kemaren😬
Shee_👚
galih otaknya dah di gadein pengin kaya cepet dengan numbalin anak. greget punya laki begitu buang mima besok ganti baru🤭
Shee_👚
aduh mima coba badan kamu tinggian dikit😂
apa perlu aku bopong kaya naek pucang tujuh belasan🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!