NovelToon NovelToon
Analepsis

Analepsis

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan

Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.

Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analepsis ^ 10

Perbedaan pendapat itu akan berlangsung sedikit lebih lama dari sebelumnya. Karena ada beberapa faktor yang harus dipastikan terlebih dahulu sebelum surat kontrak diberikan kepada sang artis. Namun keterlanjuran sudah terjadi, hingga mau tidak mau, mereka harus mendiskusikannya kembali dari awal, terutama dengan seseorang yang mungkin akan menjadi artis pendatang baru di perusahaan.

"Kau membawanya tanpa persetujuan Tirtha?" Tanya Yudha yang sendiri tadi menahannya.

"Tirtha pernah bilang padaku, jika aku mendapatkan orang yang sangat sesuai dengan perusahaan. Aku bisa membawanya langsung ke perusahaan. Tapi__" Elvarrio sebagai lawan bicara Yudha saat ini hanya bisa pasrah, dan menerima konsekuensinya. "Dia terlihat marah sekarang."

Yudha yang mendengar hal itu hanya bisa diam membuang napas berat, dengan isi kepala yang mulai berisik. Pandangannya kini tertuju pada seorang gadis muda yang tengah asik dengan benda pipih berwarna putih itu.

"Dimana kau menemukannya?" Lagi, Yudha melontarkan pertanyaan kepada Elvarrio. Tapi sang lawan malah menutup rapat mulutnya, menatap Yudha penuh makna.

"Jangan bilang__" Yudha tidak ada niatan menggantung perkataannya. Karena dugaannya langsung dibenarkan oleh Elvarrio, yang mengangguk kecil.

Sekilas Yudha memiringkan kepalanya, sembari merubah posisinya untuk menghadap Elvarrio. "Dia akan jauh lebih berbahaya daripada Lingga. Dan kau pasti mendapat amukan dari Tim Humas."

"Tapi..." sebentar Elvarrio menunjuk gadis itu dengan telapak tangannya. "...kita tidak bisa langsung menyuruhnya pergi."

"Kau yang akan bertanggung jawab sepenuhnya disini." Pasrah Yudha, kini memilih untuk duduk di hadapan sang gadis yang masih sibuk dengan handphonenya.

"Kau bisa membantuku." Sendu Elvarrio. Duduk di samping Yudha dengan ekspresi sedihnya.

" Aku angkat tangan karena, aku yang akan jadi korbannya disini." Sekilas Yudha menaikan alisnya, membalas tatapan Elvarrio dari samping. Dan kembali meluruskan pandangannya, tapi tangan kanan itu menarik satu lembar kertas yang berisi data diri gadis di depan matanya.

Begitu samar tapi masih bisa dilihat, kening Yudha mengerut setelah membaca isi dari data diri yang tidak ditulis dengan benar seperti ketentuan perusahaan.

"Kumalla?" Panggil Yudha, sorot mata pria itu benar-benar sangat dalam. Hingga membuat sang pemilik nama menyimpan Handphonenya diatas meja, dan membenarkan posisi duduknya.

"Berapa usiamu?" Kesabaran yang ada pada Yudha masih bisa pria itu pertahankan. Karena Yudha sendiri pun juga tidak mau mencari keributan dengan siapapun.

"Aku... lahir tahun 2002." Jawab Malla tanpa lengkungan sedikit saja yang terlihat.

"Kau tahu, apa resikonya menandatangani kontrak dengan perusahaan hiburan?" Yudha menautkan kedua tangannya. Menatap Malla penuh makna. Dan tatapan Yudha juga tidak mengintimidasi.

Tidak langsung memberi sahutan, Malla menelan ludah getirnya. "Pembenci? Mereka akan mengirim ku komentar jahat. Mereka juga akan mencari seluk beluk kehidupan ku sebelumnya. Mungkin aku tidak akan bisa bergerak bebas untuk melakukan apa yang aku suka. Tapi,"

Senyum pahit terukir tidak begitu jelas diwajah Malla. "Aku harus membunuhnya."

"Aku harus membunuhnya?" Ulang Yudha dengan kedua alia sekilas naik keatas. Tersenyum kecil, sembari mengangguk pelan. Berusaha untuk memahami setiap kata yang keluar dari mulut Malla.

Yudha menegakan punggungnya bersandar pada kursi, sekilas menggerakan kepalanya ke sembarang arah tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Malla. Senyuman hangat itu masih tercetak jelas diwajah tulus milik Yudha. Akan tetapi, tersimpan suatu hal yang hanya Yudha ketahui. "Jika kau ingin membunuhnya. Seharusnya kau mengambil pisau dan menusuk perutnya. Bukannya datang kesini membuat kekacauan."

Penuh kesadaran yang ada, Yudha dengan lantang melontarkan kalimat yang membuat Elvarrio memasang kewaspadaan untuk berjaga-jaga. Karena Elvarrio tahu, jika Yudha sudah tidak lagi bisa menahan rasa kesalnya. Temannya itu akan bicara tanpa memperdulikan perasaan sang lawan.

Tapi tanpa Elvarrio sadari, Yudha bersikap seperti itu hanya ingin tahu bagaimana respon sang lawan. Apa dia akan bertahan, atau memilih pergi untuk mengakhiri semuanya tanpa perjuangan.

"Itu sama saja aku mengotori tangan ku sendiri. Dan aku tidak memiliki uang untuk menebus diriku sendiri dari pihak yang berwajib." Dengan santai, seperti tidak ada beban. Malla mengatakannya.

"Jadi aku akan bekerja keras ditempat ini untuk menghasilkan banyak uang." Sambung Malla dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Tapi sebisa mungkin Malla menutupi dengan senyum perih di wajah cantiknya.

"Kau tidak akan bisa melakukannya." Rendah Yudha, yang sayangnya begitu sangat menyakitkan. Menusuk dada Malla.

"Apa?" Gumam Malla secara spontan.

"Masalah kecil akan terlihat besar, jika kita tidak memiliki bukti untuk berada dipihak mu. Dan hal besar akan semakin besar, dengan fakta yang ada. Jadi__" sekilas Yudha membasahi sebentar bibirnya yang tidak kering itu. "Kau tidak perlu mengambil hati apapun keputusan yang tengah mereka diskusikan."

"Mereka pasti akan menerima ku." Sulut Malla yang merasa harga dirinya tidak dihargai sedikit pun.

"Karena kau ada ditempat ini karena kesalah pahaman." Sekilas Yudha mengarahkan kepalanya pada Elvarrio, untuk menunjuk rekan kerjanya itu. "Jika dia membaca aturan perusahaan sekali lagi, mungkin dia akan tahu. Hukuman apa yang pantas dia terima."

Nyali Elvarrio perlahan ciut, dan tidak lagi menatap Yudha. Pandangan Elvarrio kini ke bawah, melihat ibu jarinya yang tengah bermain satu sama lain. Untuk menutupi rasa gelisah pada jiwanya. Elvarrio pun juga tidak bisa mengelak, karena dia mengakui jika dirinya salah.

Malla tersenyum kecut, menyisir surai panjangnya kebelakang. Bersandar, pandangan melihat sekitar. Karena malas meladeni pria didepan matanya saat ini. Tapi dengan cepat Malla menegakkan kembali punggungnya, membalas tetapi Yudha.

Malla ingin meyakinkan pria itu, jika dirinya mampu dan tidak akan menyesali apapun nantinya. "Dia memang menemukanku di dalam club, tapi bukan berarti aku melakukan hal yang nakal di tempat itu. Aku hanya mengurangi stress di kepalaku. Aku akan pastikan, jika itu pertama dan terakhir aku kesana. Kau harus mempercayai ku."

"Tapi tidak menutup kemungkinan, ada seseorang yang mengambil gambar mu disana." Masih dalam rasa tidak percaya, Yudha akan terus memberi celah keraguan pada Malla.

"Itu sangat mustahil. Karena aku tidak kenal siapapun disana, aku tidak punya satupun teman. Karena dari kecil aku tidak memiliki pendidikan. Surat kelulusan sekolah dasar pun aku tidak punya. Aku hanya gadis bodoh yang serakah." Sedikit cepat Yumna melontarkannnya. Mampu membuat Yudha terdiam.

Pengakuan yang jauh di luar keinginannya itu, sedikit menyayat relung dadanya yang kini merasa nyeri sendiri. Tapi mulut Yudha masih saja tidak bisa menerima Malla secara cuma-cuma. "Tidak mungkin jika kau tidak sekolah satu hati pun."

Diam sejenak, Malla menyelipkan anak rambutnya. Menatap Yudha dengan ekspresi datarnya. "Kenapa ada orang seperti mu dimuka bumi ini?"

"Hati mu jauh lebih busuk dari iblis." Tambah Malla dengan jiwa yang berada di ujung kepasrahan.

Yudha tersenyum kecil. "Tidak ada orang yang benar-benar baik didunia ini. Karena hidup harus saling memanfaatkan satu sama lain. Jika kau tidak menguntungkan dihidup orang lain. Kau pasti akan merasa gelap."

Yudha menelan ludah getirnya lebih dulu, sebelum menuntaskan perkataannya. "Mereka hanya datang padamu disaat mereka butuh. Mungkin kau sering mendengarnya. Tapi itu memang nyata. Dunia ini penuh ketidak adilan."

"Ketidak adilan bagi manusia yang tidak tahu rasa syukur." Malla membalasnya dengan sangat tajam.

1
Lepidoptera
Penulisannya unik, semangat jugaaaa❤️
najmun_huda
ganba kakak
Storyginal Finger
izin mampir. mau baca cerita kamu ya👍
dilla11
semangat kak 💪
Maru De Hehe
Makasih kakak, saling support, mantap
Agung Khan: ceritanya bagus kak, terimakasih sebelumnya sudah mengunjungi profil saya, mohon bimbingannya ya, saya belajar menulis.🙏
total 1 replies
Adelia Putri
semangat kk,saling support yaaa
yupiana
lanjuttt saling support 💪😍
Kiara Maulida Aizaaa
saling support ya kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!