Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Familiar
Akira berada di kamarnya sedang duduk sambil menatap seekor burung dengan warna merah mencolok diatas mejanya.
“Cip... cip...”
Akira memegang kepalanya karena kebingungan harus bagaimana sambil bergumam. “Hah… tak kusangka yang keluar hanya burung, walau begitu dia pasti bukan burung biasa kan, apa aku bisa mengecek statusnya.”
Ding...
“Oh, bisa.”
[Tier 1 Familiar
Nama: Tidak Ada
Umur:??
Poin Evolusi:0/1000
Afinitas:60%
Level:1
STR:5
DEF:5
DEX:5
INT:5
Skill:
[Be Your Partner]]
[Saran:Beri nama pada monster yang anda panggil akan meningkatkan afinitas anda dengannya]
“Afinitas? Poin Evolusi? Aku baru tau ada hal semacam ini, apalagi nama skillnya, lebay banget,” gumamnya.
“Cipp...” Burung itu menatap Akira seperti menunjukan keimutannya berharap ia tidak dibuang.
Akira yang melihatnya menahannya dan berusaha tidak peduli, tapi burung itu terus menatapnya dan menunjukan raut wajah sedih, alhasil karena hal itu Akira merasa kasihan.
“Hah… Baiklah, jangan terlihat seperti itu."
"Cipp... Cip..."
"Bagusnya diberi nama apa ya..." Ia menatap seksama ke arah burung itu sambil berpikir untuk mencari nama yang cocok.
Tak lama ia menemukan nama yang cocok untuk burung itu.
“Karena warna mu merah mencolok bagaimana dengan Shuko.”
“Cipp... Cipp... Cipp..." Burung itu bersuara kegirangan mendengar nama yang diberikan oleh Akira.
"Sepertinya dia menyukainya."
Ding...
[Nama Shuko berhasil diberikan pada Tier 1 Familiar]
[Afinitas meningkat hingga 100%]
[Karena Afinitas Tinggi anda dapat memanggil Shuko kapan saja tanpa Cooldown dan tanpa mana]
“Ohh bagus juga, lalu bagaimana dengan skillnya.”
[Be Your Partner:Skill ini memungkinkan pengguna berbagi informasi dengan seseorang yang dia inginkan tanpa terbatas jarak]
“Apa ini, lumayan juga, ternyata kau tidak seburuk itu ya.” ucapnya sambil mengelus kepala Shuko.
“Cipp... cipp...” Shuko kegirangan di puji oleh Akira.
“Baiklah… karena masih banyak waktu sebelum besok, aku akan cek skill ku satu-satu agar aku lebih paham, setelah itu mungkin aku akan sedikit berlatih.” gumamnya.
Keesokan Harinya...
Di belakang rumah Akira sedang menatap ke arah hutan.
[Skill Be Your Partner:Aktif]
“Apa ini, rasanya seperti aku tau Shuko sedang berada dimana secara tepat,” pikirnya.
Shuko yang tak jauh dari tempat Akira berada kembali terbang dan berdiri di pundak Akira.
“Kerja bagus Shuko," ucap Akira sambil mengelus kepala Shuko.
“Ciipp... Ciipp...” Shuko Kegirangan di puji Akira.
“Kau kembali dulu ya, aku ada urusan.”
“Cip... cip...” Seketika burung itu hilang seperti partikel cahaya.
“Kalau begitu, karena ini sudah siang, aku harus segera pergi ke Dungeon yang sudah ku cek kemarin, tapi pertama, aku harus mengajak Lumina dulu,” pikirnya.
Akira memasukan tangannya ke saku lalu mengeluarkan ponselnya. “Seingatku, aku sempat menyimpan nomor Amamiya, semoga saja dia bisa menjemputku.” Gumamnya.
Trrr...
“Maaf, dengan siapa?” tanya Amamiya.
“Ini aku.”
“Yoshikawa? ada apa?”
“Aku butuh tumpangan apa kau bisa menjemputku? Jika tida—”
“Bisa!”
“Eh." Pikir Akira dengan terkejut karena tiba tiba omongannya di potong dengan nada suara Amamiya yang berubah drastis.
“Kalau begitu aku tunggu di depan rumah,” jawab Akira.
“Sudah sampai.”
“Baiklah.”
Akira mematikan ponsel dan memasukkannya kembali ke saku.
Namun saat hendak pergi ke depan rumah dia baru sadar ada sesuatu yang aneh.
"Kalau dipikir pikir lagi bagaimana bisa dia sudah sampai?” gumamnya.
Akira mencoba berpikir positif, mungkin kebetulan Amamiya sedang dekat dengan rumahnya.
Ia pun keluar dari rumahnya dan di hadapannya sudah ada Amamiya yang menyambutnya sambil membukakan pintu mobil.
Akira pun memberitahu bahwa dirinya ingin ke gedung GCF, Amamiya yang mendengarnya pun mengangguk mengerti, setelah itu ia masuk ke dalam mobil dan langsung berangkat.
Di dalam perjalanan, Amamiya yang sedang menyetir berbicara,
“Mengenai anda yang setuju untuk didukung pemerintah kami sudah selesai mengurusnya, jadi jika anda butuh sesuatu anda bisa memintanya ke saya, seperti sekarang.”
Akira yang duduk di belakang dengan tangan bersidekap di dada mencoba tetap datar menjaga wibawanya menjawab.
“Ya.”
“Lalu kalau boleh tau, apa rencana Anda selanjutnya?” tanya Amamiya.
“Aku akan pergi ke Dungeon,” jawab Akira.
“Apa anda sudah menentukan Dungeonnya? Mungkin saya bisa memberi saran.”
“Sudah.”
“Apa anda sudah punya anggota yang akan masuk dengan anda?”
“Mungkin Lumina saja,” tanya Akira.
"Hanya berdua? Apa anda belum mengetahui Syarat masuk Dungeon?."
"Syarat?" tanya Akira.
"Seingatku tidak ada semacam syarat untuk masuk di Dungeon, tapi masuk akal saja jika tiba tiba ada syarat," pikirnya.
"Iya, minimal harus ada lima orang yang masuk, jadi jika dibawah lima orang anda tidak akan bisa masuk,” jawab Amamiya.
"Begitu ya..."
“Kalau anda mau, saya bisa merekomendasikan anak sekolah yang punya potensi tinggi, karena mereka masih anak sekolah, mereka butuh izin untuk masuk Dungeon, jadi saya ingin anda menjadi pendamping mereka, agar mereka bisa dapat izin masuk Dungeon."
"Hmm... Pendamping ya..." pikirnya.
"Atur saja." Walau agak ragu, Akira menerima tawaran itu.
"Baik, serahkan pada saya."
Beberapa Waktu Berlalu...
Mereka akhirnya sampai di gedung GCF, belum sempat masuk kedalam gedung Akira melihat Lumina sudah menunggu di luar dengan kondisi yang terlihat sudah lebih baik walau dalam satu hari.
Tanpa basa basi Akira pun menjelaskan kepada Lumina bahwa dirinya akan pergi ke Dungeon bersama dengannya dan orang yang di rekomendasikan oleh Amamiya, Lumina yang mendengar Akira langsung menyetujuinya tanpa banyak bertanya.
Karena Orang yang direkomendasikan Amamiya belum datang, Mereka berdua duduk menunggu di salah satu ruangan khusus VIP di dalam gedung GCF.
Beberapa Menit Berlalu...
Amamiya masuk ke ruangan bersama dengan 3 orang yang direkomendasikannya.
Akira langsung mengamati ketiga orang tersebut dan melihat status mereka.
Yang pertama, seorang lelaki yang terlihat sangar memakai zirah yang berlebihan dengan perisai besar dibelakangnya, statusnya menunjukan dia berumur 18 tahun, berada di level 42 dengan Class Tanker, Rank B.
Yang kedua, seorang perempuan berambut panjang, yang terlihat tidak peduli dan cuek bahkan tatapannya menghindar, perempuan itu membawa pedang yang berbentuk katana, dia berumur 17 tahun, berada di level 55 dengan Class Knight, Rank A.
Dan yang terakhir perempuan berambut pendek yang terlihat sangat ceria dan membawa sebuah tongkat sihir, Dia berumur 17, berada di level 40 dengan Class Mage, Rank A.
“Maaf telah membuat anda menunggu, mereka bertiga adalah orang yang saya rekomendasikan,” ucap Amamiya.
“Aku Raito Takamasa, Classku Tanker, level ku 42 dan Rank ku B, mohon bantuannya.” Suaranya tegas dan sangar, dibalik itu cara bicaranya terdengar seperti orang baik.
“Ayame Kisaragi, Knight, Rank A, level 55.” Sikapnya dingin dan cuek bahkan ia melihat ke arah lain saat berbicara.
“Hai! namaku Kanon Amane! kalian bisa memanggilku Amane, Classku Mage, Rank ku A, levelku 40, mohon kerja samanya!” Suaranya terdengar semangat dan ceria dengan wajah berseri-seri.
“Kalian bisa memanggilku Yoshikawa, aku seorang Mage level 40, Rank F,” ucap Akira dengan tangan bersidekap menjaga wibawanya.
“Aku Lumina, Classku Knight, Level 46, Rank F,” ucap Lumina.
Saat ketiga orang itu mendengar marga Akira membuat mereka teringat dengan Pahlawan terkuat di Jepang.
Dengan semangat dan penasaran Amane bertanya.
“Apa anda ada hubungannya dengan Hana Yoshikawa?”
Akira yang mendengar itu sebenarnya kebingungan harus menjawab apa, jadi ia menjawab seadanya dengan tenang.
“Ya, aku kakaknya.”
“Wahh! aku tak percaya bisa menaklukan Dungeon dengan orang yang hebat!” ucap Amane dengan semangat.
“Ada hubungannya bukan berarti kuat, Ranknya juga rendah.” Kisaragi yang dari tadi diam tiba-tiba berbicara menghancurkan suasana ceria Amane sambil tatapannya menghindar.
Orang orang di ruangan langsung melihat ke arah Kisaragi, dan seketika ruangan pun langsung hening.
Di keheningan itu Amamiya berbicara.
“Maaf Yoshikawa, sifat mereka agak tidak sopan,” ucapnya sambil sedikit menunduk.
“Tidak masalah,” jawab Akira dengan santai.
“Menurutku dia tidak salah,” pikir Akira karena merasa dirinya memang tidak pantas jika dibandingkan dengan adiknya.
“Kalau begitu, tentang Dungeon yang ingin anda kunjungi, Dungeon itu berada dimana dan Rank apa?” tanya Amamiya.
Akira yang mendengar pertanyaan Amamiya menjawab dengan memberitahu lokasi Dungeon yang ingin didatangi beserta Ranknya, namun setelah diberitahu, membuat semua orang terkejut setelah mendengarnya kecuali Lumina.
Karena Rank Dungeon yang didatangi mereka hanyalah Rank F, yang dimana Dungeon Rank F diselesaikan dengan mencari jalan keluar tanpa bertarung, dan hadiah yang didapatkan pun hanya sedikit.
Namun disisi lain Akira mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui tentang Dungeon itu, jadi ia tidak peduli orang orang mau kecewa atau tidak.
Karena sudah terlanjur, mereka pun hanya bisa menerimanya, setelah itu mereka langsung diantar oleh Amamiya bersama rekannya ke tempat Dungeon Rank F.
Beberapa Waktu Berlalu...
Mereka berlima pun sampai di depan Portal Berwarna Biru Terang, portal itu adalah Dungeon yang mau mereka taklukan.
“Hah… Kata Amamiya kami akan didampingi orang yang kuat, tapi bukannya orang kuat, malah orang lemah yang mau menaklukan Dungeon Rank F." Pikir Kisaragi sambil menatap dingin ke arah Akira.
“Apa kalian semua sudah siap?” tanya Akira.
“Saya siap!” ucap Amane dengan semangat.
“Sudah Tu— Ehem…” ucap Lumina sambil batuk karena hampir keceplosan.
“Kapan saja,” ucap Takamasa sambil tangannya bersidekap di dada.
“...” Kisaragi hanya diam tidak menjawab.
“Kalau begitu kita masuk.”