Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Nadya dan Armand sampai di toko kain langganan Nadya yang cukup besar di pusat kota. Begitu melangkah masuk, aroma serat kain yang khas langsung menyambut mereka.
"Lho, ini juga toko langganan Mas," ucap Armand dengan nada terkejut yang tertahan.
Nadya menoleh, menatap suaminya dengan penuh ketertarikan.
"Benarkah itu, Mas?"
Armand menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"Dulu, waktu Mas masih menerima jahitan skala kecil. Mas selalu menyempatkan menabung untuk beli kain sisaan atau kain sisa ekspor yang berkualitas di sini. Pemiliknya sangat baik."
Kemudian Armand mengajak Nadya masuk lebih
dalam ke deretan rak kain.
Dengan penuh percaya diri, Armand mulai menjelaskan berbagai jenis bahan kepada Nadya.
Jemarinya dengan luwes menyentuh permukaan kain, merasakan tekstur dan ketebalannya.
"Yang ini katun jepang, seratnya rapat tapi tetap dingin, bagus untuk seragam. Kalau yang ini poliester, tidak mudah kusut, tapi kurang menyerap keringat," jelasnya panjang lebar seolah sedang memamerkan dunianya sendiri.
Armand akhirnya memilih kain yang paling dingin dan lembut untuk seragam perusahaan Nadya.
Ia memutuskan membeli beberapa meter terlebih dahulu sebagai contoh untuk dibuatkan setelan bagi istrinya agar ia bisa memastikan pola dan potongannya benar-benar pas sebelum memproduksi dalam jumlah banyak.
Tiba-tiba, mata Nadya tertuju pada selembar kain brokat sutra berkualitas tinggi untuk kebaya dengan warna putih bersih yang berkilau lembut terkena cahaya lampu toko.
Ia mematung, membayangkan betapa indahnya kain itu jika dirancang menjadi sebuah kebaya.
Armand yang menyadari tatapan istrinya langsung mendekat.
"Dek, kamu mau itu?"
Nadya tersenyum malu-malu dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya, cantik sekali, Mas."
Tanpa diduga, Armand langsung menarik kain itu dari rak dan menyerahkannya kepada pelayan toko.
"Yang ini, Mas belikan ya," ucapnya tegas.
"I-iya, Mas."
Nadya tampak terkesiap. Meski ia adalah seorang CEO yang mampu membeli seluruh isi toko, ia merasa tersentuh melihat suaminya ingin membelikan sesuatu untuknya dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri.
Dengan senyum bangga dan penuh wibawa, Armand merogoh saku celananya dan membayar kain kebaya itu di kasir, memberikan tanda bahwa meski ia bukan orang kaya, ia tetap ingin menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang memuliakan istrinya.
"Mas, sebelum pulang kita ke mall, ya," pinta Nadya di sela-sela perjalanan mereka.
Armand menoleh, keningnya sedikit berkerut heran.
"Ke Mall? Untuk apa, Dek?"
Nadya hanya tersenyum tipis, matanya tetap fokus menatap jalanan di depan.
"Rahasia."
Ia melajukan mobilnya dengan tenang, menikmati rona bingung yang tampak manis di wajah suaminya.
Armand pun hanya bisa terkekeh pelan, pasrah mengikuti ke mana arah kejutan yang ingin diberikan oleh istri barunya tersebut.
Suasana di dalam mobil terasa begitu ringan, jauh dari beban-beban masa lalu yang selama ini menghantui mereka.
Sesampainya di mal, Nadya menggandeng lengan suaminya dengan mantap, melangkah menuju sebuah butik pria kelas atas yang interiornya mewah.
Begitu pintu kaca berbingkai emas itu terbuka, para pelayan butik langsung menyambut mereka dengan senyum ramah dan sikap yang sangat sopan, menyadari siapa pelanggan yang datang.
"Selamat siang, Ibu Nadya. Ada yang bisa kami bantu hari ini?" sapa salah seorang pelayan dengan nada hormat.
Nadya tersenyum profesional, lalu melirik Armand yang tampak canggung di sampingnya.
"Mbak, tolong carikan kemeja, jas, dasi, tas, dan sepatu yang terbaik untuk suami saya."
Para pelayan langsung menganggukkan kepala dan segera bergerak gesit, menyiapkan berbagai pilihan busana formal yang elegan.
Armand menarik lengan Nadya pelan, wajahnya tampak tidak enak hati.
"Dek, untuk apa semuanya ini? Mas rasa pakaian yang ada sudah cukup," bisiknya dengan nada rendah.
Nadya menoleh, menatap suaminya dengan sorot mata yang penuh keyakinan.
"Mas, sekarang Mas adalah suami seorang CEO. Dan, mulai sekarang, aku ingin Mas selalu menemaniku saat aku harus bertemu dengan klien penting. Penampilan adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan mitra bisnis kita."
Armand menunduk, menatap sepatu usangnya sendiri.
"Tapi, Dek, apa Mas pantas? Mas hanya seorang penjahit."
Nadya tidak membiarkan keraguan itu bertahan lebih lama.
Ia meraih jemari suaminya dan menggenggamnya erat, memberikan kekuatan melalui tatapan matanya.
"Mas selalu pantas untukku," ucap Nadya tegas namun lembut.
"Bagi dunia, Mas mungkin hanya seorang penjahit. Tapi bagi aku, Mas adalah pendamping hidupku. Dan aku ingin dunia melihat bahwa pria di sampingku adalah pria yang hebat, berwibawa, dan luar biasa."
Mendengar kata-kata itu, Armand merasa dadanya sesak oleh keharuan.
Rasa rendah diri yang selama ini ia pelihara akibat perlakuan Sarah perlahan rontok, digantikan oleh rasa percaya diri yang mulai tumbuh berkat dukungan tulus dari istrinya.
Pelayan dengan sigap membawakan setelan kemeja katun premium berwarna biru dongker, jas slim fit yang serasi, dasi sutra, tas kulit Italia, dan sepatu pantofel yang mengilap.
Armand menerimanya dengan ragu, lalu masuk ke dalam kamar ganti.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar ganti terbuka.
Armand melangkah keluar dengan penampilan yang benar-benar berbeda.
Setelan jas itu membungkus tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan bahu yang tegap dan postur tubuh yang selama ini tertutup pakaian yang kedodoran.
Nadya yang sedari tadi menunggu di sofa butik langsung terpaku.
Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, matanya berkaca-kaca.
"M-Mas," desisnya pelan, hampir tak percaya dengan pria di hadapannya.
Armand merasa risih, ia merapikan kerah jasnya
dengan canggung.
"Jelek ya, Dek? Mas rasa ini terlalu berlebihan untuk orang seperti Mas."
Nadya bangkit dari duduknya, mendekat dan memperbaiki letak dasi suaminya dengan penuh kasih.
"Nggak, Mas. Mas tampan sekali. Ini bahkan lebih sempurna dari yang aku bayangkan."
Nadya segera memberi isyarat kepada pelayan untuk membungkus semuanya.
Tanpa ragu, ia mengeluarkan black card-nya dan menyelesaikan pembayaran dengan sekali gesek, membuat Armand hanya bisa memandangnya dengan perasaan campur aduk antara kagum dan terharu.
Setelah urusan di butik selesai, Nadya tak berhenti di situ.
Ia mengajak suaminya menuju sebuah salon pria eksklusif yang terletak di lantai yang sama.
"Kita rapikan rambut dan jenggot Mas ya," ucap Nadya sambil menuntun Armand ke kursi kapster.
Armand duduk dengan tenang, meski hatinya berdebar.
Ia membiarkan kapster profesional di sana mulai bekerja.
Sang kapster mencuci rambut Armand dengan sampo beraroma mint yang menyegarkan, membersihkan debu-debu masa lalu yang mungkin masih melekat.
Nadya duduk di sofa tunggu yang nyaman, matanya tak lepas dari cermin yang memantulkan bayangan Armand.
Ia menatap suaminya dengan senyum yang terus mengembang.
Perlahan namun pasti, pria yang dulu tampak lelah dan penuh luka itu kini mulai memancarkan aura pria berwibawa yang selama ini tersembunyi di balik kesederhanaannya.
Setengah jam kemudian, proses transformasi itu selesai. Kapster tersebut menyisir rambut Armand dengan gaya quiff yang rapi, sementara jenggot dan kumisnya kini terpangkas bersih, menonjolkan garis rahang Armand yang tegas dan maskulin.
Nadya menatap suaminya dengan binar mata yang tak bisa disembunyikan.
"Mas, seperti CEO di drama China," bisik Nadya dengan nada kagum yang tulus.
Armand yang melihat bayangannya sendiri di cermin pun ikut tertawa terbahak-bahak mendengar komentar istrinya.
Ia merapikan kerah kemejanya sambil menggelengkan kepala.
"Dek, kamu kebanyakan nonton dracin," sahut Armand di sela tawanya, merasa geli sekaligus senang karena bisa melihat istrinya begitu ceria.
Setelah membayar biaya jasa salon dengan layanan VIP, Nadya mengajak suaminya untuk naik ke lantai atas mall, menuju area restoran yang menyajikan pemandangan kota dari ketinggian.
Sesampainya di restoran, Nadya dengan sigap memesan menu untuk mereka berdua.
"Nasi goreng udang untukku dan nasi tim untuk Mas Armand, ya. Untuk minumnya, es teler dan teh tawar panas," ucap Nadya kepada pelayan restoran.
Armand memperhatikan istrinya yang begitu perhatian dalam memilihkan menu yang lembut untuk perutnya yang masih dalam tahap pemulihan.
Ia merasa seperti pria paling beruntung di dunia saat ini, menyadari bahwa di balik kesibukan seorang CEO, ada sosok wanita yang begitu lembut dan telaten merawatnya sebagai suami.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,