Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Mana kertasnya?"
Regina merebut lipatan kertas kuning berukuran persegi dari jemari Shinta.
Shinta memajukan badannya ke arah dinding koridor, berusaha menutup pandangan siswa-siswi lain yang mulai berlalu-lalang menuju ruang kelas masing-masing.
"Gue gak berani buka lebar-lebar tadi, Gin. Tapi itu jelas ada tulisan nama Helga di pojok bawahnya. Lu yakin gak ada yang ngikutin lu pas kemarin balik bareng dia?"
Klek.
Regina tidak menjawab. Ia membuka lipatan kertas itu dengan dua jarinya.
Di dalamnya, tulisan tangan dengan tinta pulpen hitam yang sedikit meluber membentang dua baris:
'Jangan terlalu dekat sama anak IPS, terutama Helga. Dia cuma mau manfaatin elo.'
– H.
Regina menatap huruf 'H' kapital di sudut kanan bawah surat itu selama tiga detik.
Matanya berkedip sekali, melacak goresan garis bawah tebal yang ditarik secara terburu-buru.
"Lu kenal tulisan siapa?" bisik Shinta makin mepet, napasnya terdengar sedikit memburu.
"Bisa jadi anak IPS sendiri kan? Atau jangan-jangan anak IPA yang gak suka lu jalan sama dia?"
Regina melipat kembali kertas kuning itu menjadi bentuk segi empat kecil.
Ujung pulpennya bocor pas bikin garis bawah, batin Regina datar.
Sisa tintanya menempel di telapak tangan orang yang nulis. Dan jenis kertasnya sama persis kaya kertas lipat origami yang dipake anak-anak OSIS buat bikin dekorasi ruang seni minggu lalu.
"Ini bukan tulisan Helga," ucap Regina pelan, memasukkan kertas lipat itu ke dalam saku depan seragamnya.
Shinta melotot. "Yee, ya iyalah bukan! Masa Helga nulis surat nasehatin diri dia sendiri pake nama dia? Maksud gue, orang yang nulis ini tau elo kemarin balik bareng dia!"
"Gue tau," balas Regina singkat, menyeburkan kedua tangannya ke dalam saku rok abu-abunya.
"Yuk masuk, bentar lagi bel."
Krik-krik-krik...
Suara jangkrik dari semak-semak taman tengah sekolah terdengar luyut, perlahan tenggelam oleh deru kipas angin gantung di dalam kelas 12 IPA 1.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit.
Regina duduk di mejanya di barisan kedua dekat jendela.
Di sampingnya, Shinta masih sibuk menggeledah tas sekolahnya sendiri, mengeluarkan kotak pensil warna merah muda yang penuh stiker.
Tuk.
Regina meletakkan kotak pensilnya sendiri di sudut atas meja.
Ia mengeluarkan satu pulpen gel hitam, lalu menjajarkannya sejajar dengan tepi buku catatan Biologi.
Dari sudut matanya, Regina melihat pintu kelas 12 IPA 1 terbuka.
Seorang siswa dengan seragam rapi dan dasi terpasang kencang masuk membawa tumpukan map biru.
Itu Renan.
Sebagai salah satu pengurus OSIS, Renan memang sering melintas di koridor IPA untuk mengantar surat edaran.
Langkah Renan melambat begitu melewati meja Regina. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Regina yang sedang merapikan garis margins bukunya.
"Pagi, Gin," tegur Renan sopan, menghentikan langkahnya tepat di sebelah meja Regina.
Regina mendongak perlahan. "Pagi."
"Tempat pensil lu udah aman kan?" tanya Renan sambil membetulkan letak map biru di tangannya.
"Udah," jawab Regina. "Kemarin udah dianter."
Renan tersenyum tipis. Matanya melirik saku seragam Regina yang agak menggembung karena gumpalan kertas kuning di dalamnya.
"Bagus deh. Anak-anak IPS kadang emang suka ceplos-ceplos kalau ngomong, tapi Helga gak bermaksud aneh-aneh kok."
Regina mengambil pulpennya, membuka tutup plastik beningnya hingga berbunyi ctak.
"Gue gak pernah mikir dia aneh-aneh."
Renan menahan posisinya selama dua detik, lalu mengangguk pelan. "Oke. Gue cuma mau mastiin aja. Kalau ada apa-apa di lorong IPS, kasih tau gua atau Helga."
Renan membalikkan badan dan berjalan keluar kelas menuju ruang guru.
Shinta yang memperhatikan interaksi itu langsung menyenggol lengan Regina menggunakan siku.
"Tuh kan! Renan aja tau kalau anak IPS tuh seram-seram. Tapi kok dia baik banget ya nyamperin lu?"
"Dia cuma nganter surat edaran," sahut Regina datar, mulai menuliskan tanggal di pojok kanan atas bukunya:
Rabu, 22 Juli 2026.
Teeet! Teeet! Teeet!
Bel istirahat pertama berbunyi nyaring pada pukul sembilan lewat empat puluh lima menit.
Suara keriuhan langsung pecah di sepanjang koridor.
Regina berdiri dari kursinya, mengambil botol minum stainless steel miliknya dari dalam tas.
Shinta mengekor di belakangnya sambil memegang uang kertas lima ribuan yang sudah terlipat-lipat.
"Gue mau beli bakpao di kantin bawah, Gin. Lu mau nitip gak?" tanya Shinta saat mereka berjalan menyusuri tangga.
"Gue mau ke kamar mandi dulu," jawab Regina.
Di ujung koridor dekat tangga barat—jalur utama yang menghubungkan gedung IPA dan IPS—sejumlah siswa IPS tampak sedang berkumpul di depan mading sekolah.
Di sana ada Andreas yang sedang mencoba memasukkan sedotan ke dalam kemasan teh kotak, serta Varen yang bersandar pada tiang beton.
Prak!
Andreas tidak sengaja menyenggol bahu seorang siswi IPA yang melintas sambil membawa wadah bekal plastik.
Wadah itu jatuh dan terlempar ke lantai ubin, membuat potongan buah pepaya di dalamnya berserakan.
"Eh, sori, sori! Gua gak sengaja!" seru Andreas refleks, langsung berjongkok untuk memunguti potongan buah itu dengan tangan telanjangnya.
Siswi IPA itu—yang mengenakan kacamata tebal—tampak mundur ketakutan, mukanya memerah.
"Gak apa-apa! Gak usah dipungut!"
"Yah, mumpung belum lima menit nih," celetuk Varen santai tanpa berdosa, ikut berjongkok di samping Andreas.
Helga yang baru keluar dari ruang piket berjalan mendekati kerumunan itu.
Ia melihat potongan buah yang berserakan, lalu matanya beralih menatap Regina yang berdiri tiga meter di dekat tangga.
Helga melangkah dua pijakan melintasi Varen dan Andreas, berdiri di antara dua temannya dan siswi kacamata tersebut.
"An, ambil tisu di kantong tas gua," perintah Helga tenang tapi tegas.
Andreas mendongak. "Ooh, iya, iya."
Helga beralih menatap siswi kacamata itu. "Sori ya. Nanti bekal lu diganti sama Andreas."
"Gak... gak usah, Helga," cicit siswi itu cepat-cepat, lalu buru-buru memungut tempat bekal plastiknya yang kosong dan berlari menuju kelas.
Varen berdiri sambil mengibaskan tangannya yang kena getah pepaya.
Matanya tak sengaja menangkap sosok Regina yang masih berdiri diam menatap mereka dari dekat tangga.
"Eh, ada Kanjeng Ratu IPA," goda Varen pelan sambil menyenggol pinggang Helga dengan sikunya.
Helga menoleh. Tatapannya bertemu langsung dengan tatapan Regina.
Regina tidak mengalihkan pandangannya.
Tangan kanannya yang memegang botol minum menegang sedikit, jari-jarinya meremas permukaan kain pelindung botol tersebut.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Regina melangkah maju, berjalan melewati Helga dan rombongannya begitu saja menuju arah kamar mandi perempuan.
Saat jarak mereka hanya terpaut setengah meter, Helga menangkap aroma sabun cuci yang familiar dari seragam Regina—aroma yang sama persis dengan jas hujan ponco yang dikembalikan Regina tadi pagi.
Helga memiringkan kepala sedikit, memperhatikan gerakan saku seragam Regina yang memperlihatkan sedikit pinggiran kertas kuning cerah yang terlipat.
"Ga," panggil Andreas yang baru kembali membawa beberapa helai tisu gulung dari kantin.
"Anak kacamata tadi udah kabur. Ini tisunya mau dikemanain?"
"Buang," sahut Helga pendek.
"Lah? Lu yang nyuruh ambil!" protes Andreas.
Helga tidak membalas protes Andreas.
Ia meraih satu lembar tisu dari tangan Andreas, meremasnya menjadi bola kertas kecil di dalam genggamannya, lalu melemparnya tepat masuk ke dalam tempat sampah kaleng di pojok koridor.
Tuk.
Pukul sepuluh lewat sepuluh menit, suasana di dalam toilet perempuan lantai dasar tampak sepi. Hanya ada suara kran air yang menetes pelan dari bilik paling ujung.
Tetes... Tetes...
Regina berdiri di depan cermin wastafel yang agak berkerak.
Ia memutar kran, membiarkan air dingin mengalir menimpa jemarinya. Ia membasuh mukanya sekali, meresapi rasa dingin yang menempel di kulit pipinya.
Saat ia mengambil tisu dari kotak di dinding, jemarinya tersenggol kertas kuning yang masih tersimpan di saku seragamnya.
Regina mengeluarkan kertas itu lagi. Ia membukanya perlahan di atas meja wastafel yang basah.
Air dari ujung jarinya menetes tepat di atas huruf 'H' pada surat tersebut, membuat tinta hitamnya luntur meluas membentuk bulatan kelabu di atas kertas kuning.
Cklek.
Pintu utama kamar mandi terbuka.
Fanya melangkah masuk bersama dua orang temannya sambil merapikan lipatan rok mereka.
Langkah Fanya mendadak terhenti saat melihat Regina berdiri sendirian di depan wastafel.
Fanya melipat tangannya di dada, melemparkan senyum tipis yang dingin.
"Masih di sini aja, Regina? Lu gak capek ya berakting sok tegar dari pagi?"
Regina tidak menoleh. Ia meremas kertas kuning yang basah itu di dalam telapak tangannya hingga hancur menjadi gumpalan lembek.
"Kertas apaan tuh?" tanya Fanya curiga, melangkah satu pijakan mendekat. "Surat dari fans lu dari anak IPS?"
Regina memutar badannya perlahan, menatap Fanya lurus tanpa ekspresi.
"Bukan," jawab Regina tenang.
Ia melempar gumpalan kertas kuning itu ke dalam lubang pembuangan sampah di bawah wastafel.
"Cuma sampah yang ketinggalan di meja gue."
Fanya memicingkan mata, merasa jawabannya tidak memuaskan.
"Lu tau gak, anak-anak IPS tuh cuma jadiin lu bahan taruhan di tempat tongkrongan mereka? Jangan berasa lu spesial cuma gara-gara dianter balik sekali."
Regina melangkah melewati Fanya tanpa menyenggol bahunya sedikit pun.
Namun tepat saat jarinya menyentuh gagang pintu keluar kamar mandi, Fanya menyebut satu kalimat yang membuat langkah Regina berhenti total.
"Kalau lu gak percaya," bisik Fanya dari belakang dengan nada mengejek, "lu tanya aja sama Varen. Dia yang pegang uang taruhannya dari kemarin malam."