Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum Perburuan
Keesokan harinya, suasana di kediaman Valois sudah dipenuhi kesibukan bahkan sebelum matahari naik cukup tinggi. Para pelayan berlalu-lalang membawa pakaian, perlengkapan, serta berbagai kebutuhan yang akan dibawa menuju lokasi Festival Berburu. Dari halaman depan terdengar suara kuda dan roda kereta yang sedang diperiksa. Sesekali terdengar perintah para prajurit yang memastikan rombongan siap berangkat tepat waktu.
Di kamar Eve, kesibukan tidak kalah heboh.
Cecil sudah berada di sana sejak pagi, berdiri di belakang Eve sambil merapikan rambut putih anak tersebut dengan ketelitian berlebihan. Sebuah gaun rapi sudah dikenakan, rambutnya ditata sederhana, dan aksesori kecil dipasang dengan hati-hati agar tidak terlihat berlebihan. Cecil bahkan beberapa kali mundur hanya untuk memeriksa penampilan Eve dari atas sampai bawah.
"Sedikit lagi, Nona," ujar Cecil sambil membenarkan salah satu pita di rambut Eve. Matanya berbinar-binar ketika melihat hasil akhirnya. "Saya yakin Nona akan menjadi makhluk paling imut di sana."
'Paling imut?' Eve menatap pantulan dirinya melalui cermin.
'Padahal gue pengen keliatan keren.' Pipi kecilnya mengembung.
Namun dia tidak membantah. Berdasarkan pengalaman, sekali Cecil mulai memuji, percakapan bisa berkembang menjadi sepuluh pujian berikutnya.
"Sudah sempurna." Cecil akhirnya puas. Dia menepuk kedua tangannya kecil.
Eve turun dari kursi dan langsung menggandeng tangan Cecil. Mereka kemudian meninggalkan kamar menuju aula makan. Lorong mansion tampak jauh lebih ramai daripada biasanya. Para pelayan membawa nampan dan perlengkapan perjalanan, sementara beberapa prajurit berlalu-lalang menuju halaman depan.
Begitu memasuki aula makan, Eve kembali menemukan suasana yang berbeda dari kediaman utama di Duchy Valois. Ruangan tersebut tidak sebesar aula keluarga di wilayah utama, tetapi tetap memiliki kesan formal. Dindingnya dihiasi panel kayu gelap dan lukisan keluarga Valois, sementara meja makan panjang di tengah ruangan sudah dipenuhi hidangan sarapan.
Lucien telah berada di sana, pria tersebut duduk dengan tenang di salah satu sisi meja, pakaian formal berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya. Sebuah pisau berada di tangannya, memotong daging dengan gerakan teratur.
Cecil membantu Eve duduk di kursinya, lalu merapikan bagian belakang gaunnya.
"Selamat sarapan, Nona," ucap Cecil sambil tersenyum sebelum mundur, Cecil kemudian meninggalkan aula.
Eve mengambil roti, tetapi baru beberapa detik hendak menggigitnya ketika suara Lucien terdengar dari seberang meja.
"Bagaimana keadaanmu?"
Tangan Eve berhenti. Tubuh kecilnya langsung menegang, Ingatan tentang kemarin menyambar begitu saja. Tentang bagaimana ia muntah di gendongan Lucien kemudian tidak sadarkan diri.
'Jangan ingat. Jangan ingat. Pokoknya gak terjadi apa-apa.' Eve buru-buru mengalihkan pandangan ke piringnya.
Dia mengambil napas pelan sebelum memasang wajah polos.
"Ape dak apa-apa," jawab Eve sambil menggigit roti. Setelah mengunyah beberapa kali, dia menambahkan dengan nada meyakinkan, "Ape cebenalnya dak ingat apa yang teljadi."
"Bagus kalau begitu." Pisau di tangan Lucien berhenti sebentar kemudian ia kembali memotong daging.
'Fyuhh selamat.' Eve diam-diam mengembuskan napas lega.
Namun ketenangannya kembali terganggu ketika Lucien melanjutkan, "Ingat latihanmu selama dua hari terakhir. Jangan sampai kau melupakannya ketika berada di lokasi perburuan."
'Latihan dua hari dan dia berharap anak umur empat tahun bisa ingat semuanya? yang bener aja. ' Eve menatap piring.
Dia memang masih mengingat dasar-dasar yang diajarkan Joel, tetapi menurutnya tidak masuk akal mengharapkan seorang anak kecil mampu menguasai teknik berburu hanya dalam waktu sesingkat itu. Eve mengambil potongan buah sambil menahan keluhan.
Dia kemudian mengangkat kepala, "Ape cama Papa telus di pelbuluan?" tanyanya polos.
Lucien menatapnya sejenak sebelum menjawab, "Kita akan bersama."
'Bagus.' Eve langsung merasa sedikit lega.
Kalau memang harus masuk ke kawasan perburuan yang dipenuhi binatang liar, keberadaan Lucien jelas membuat keadaan jauh lebih baik. Setidaknya kalau muncul hewan buas, dia bisa berlindung di belakang pria tersebut.
'Asiikk bodyguard gratis.' Eve kembali menyantap sarapannya dengan lebih tenang.
Setelah sarapan selesai, persiapan keberangkatan segera dilakukan. Para prajurit sudah berkumpul di halaman, kuda-kuda telah dipasangi pelana, dan kereta yang akan membawa perlengkapan sudah menunggu di depan mansion.
Eve berjalan keluar bersama Cecil. Namun ketika sampai di halaman, langkah kecilnya berhenti. Cecil justru berdiri bersama beberapa pelayan lain di depan pintu mansion.
"Cecil dak ikut?" Eve mendongak.
Cecil tersenyum dan berjongkok di hadapannya. "Tidak, Nona. Saya harus tetap berada di kediaman untuk membantu mengurus berbagai keperluan lain."
Cecil merapikan pita di rambut Eve sekali lagi sebelum berdiri. Eve kemudian melihat ke arah Lucien. Duke tersebut sedang berbicara singkat dengan salah seorang prajurit. Setelah selesai, tatapannya beralih kepada Vins yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Vins."
"Ya, Yang Mulia?" Mendengar namanya dipanggil, Vins segera menghampiri dan membungkuk.
"Selama festival, kau menjaga Aveline."
"Menjaga... Nona Aveline, Yang Mulia?" Vins terdiam, tatapannya perlahan bergerak kepada Eve.
Kemudian kembali kepada Lucien.
Lucien mengangguk singkat. "Pastikan dia tidak tersesat. Awasi setiap pergerakannya dan jangan biarkan dia mendekati sesuatu yang berbahaya."
"Baik, Yang Mulia." Vins menunduk patuh, tetapi setelah mengangkat kepala, wajahnya terlihat sedikit kaku.
'Rasanya kayak liat orang yang kerja tidak sesuai job desk.' Eve menatapnya, dalam hati, dia langsung merasa kasihan.
Vins sendiri mulai menyadari bahwa tugasnya hari ini bukan sekadar menjadi ajudan Duke. Dia juga harus berubah menjadi pengasuh seorang anak berusia empat tahun yang beberapa hari terakhir sudah berhasil membuat suasana rumah menjadi lebih ramai.
"Vins." Eve mendekatinya.
"Ya, Nona?" Vins segera menunduk agar wajah mereka sejajar.
"Jangan takut." Eve tersenyum polos.
'Kenapa saya harus takut?' Vins terdiam.
Eve mengisyaratkan Vins untuk menunduk sedikit agar sejajar dengannya, kemudian Eve mendekat dan berbisik.
"Ape dak maam olang kok."
Belum sempat menjawab, Eve sudah berjalan menuju Lucien. Vins memandangi punggung kecil tersebut sambil menarik napas panjang. Mungkin tugas menjaga Nona Aveline tidak akan sesulit yang dia bayangkan.
Setidaknya, dia berharap begitu.
Cecil kemudian menggenggam tangan Eve sebelum keberangkatan.
"Jaga diri baik-baik, Nona."
Eve mengangguk. "Cecil juga."
Setelah Cecil melepaskan tangannya, Eve berjalan menuju Lucien. Pria tersebut sudah berada di dekat kudanya. Beberapa prajurit menunggu di belakang, sementara rombongan kereta perlahan mulai bergerak keluar dari halaman.
Eve menatap jalan di depan.
Festival Berburu akhirnya dimulai.