NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 – Akhir dari Sang Penyihir Abadi dan Miniatur Matahari di Dalam Dungeon.

“T-Tuan... Bernard...?” bisik Jenderal Vermont dengan suara yang kian melemah.

Bernard perlahan mengambil posisi berjongkok di samping tubuh sang Jenderal untuk memeriksa kondisinya.

“Kondisimu teramat parah, Duke Vermont. Kita harus segera mengeluarkanmu dari tempat ini,” ujar Bernard dengan nada tenang namun tegas.

“Ki... kita...?”

“Wah, wah, wah... Satu lagi tikus tua rupanya memutuskan untuk merangkak datang,” kekeh Florence sembari melangkah keluar dari balik tumpukan reruntuhan batu, menepuk tangannya pelan.

Sepasang matanya yang hitam pekat seketika terbelalak lebar, menyunggingkan seringai yang teramat mengerikan.

“Dan rupanya ini bukan sekadar tikus biasa. Aku kira kau sudah lama pensiun dan tidak berniat lagi untuk ikut campur dengan urusan dunia luar.”

“Florence....” Bernard menyipitkan matanya tajam. “Tentu saja aku sudah pensiun. Aku saat ini hanya mengambil pekerjaan sambilan sebagai seorang pelayan pribadi.”

“Hahaha! Bahkan dengan keberadaanmu sekalipun, kalian tidak akan pernah bisa mengalahkanku!” celetuk Florence penuh kesombongan.

“Aku yang sekarang sudah 1.000 kali jauh lebih kuat daripada aku yang dulu! Lihatlah orang berzirah di sebelahmu itu, bahkan seorang Ksatria dengan kekuatan suci pun sama sekali tidak berdaya di hadapanku!”

Bernard menghela napas pendek, menatapnya santai. “Siapa bilang aku yang akan bertarung melawanmu?”

“Apa yang—UGH!”

BUAK!

Tanpa memberikan aba-aba, satu hantaman dahsyat mendadak membuat tubuh Florence kembali melesat terlempar jauh hingga menghantam dinding batu!

Bukan hanya sampai di situ, Edward yang sudah kembali berdiri mencabut paksa sebuah pilar batu raksasa penopang ruangan, lalu melemparkannya seperti tombak tepat ke arah Florence.

SWOOSH— BOOM!

Tak memberi celah bernapas, Edward langsung menambahkan tembakan energi mematikan dari sepasang matanya, memicu ledakan radiasi dahsyat yang melahap habis posisi Florence terlempar.

Edward yang kini melayang di udara menolehkan pandangannya ke arah sang Pelayan tua.

“Bernard, bawa Duke Vermont keluar dari sini sekarang. Gunakan lubang besar di sebelah sana—aku rasa lubang itu tercipta akibat dampak pertarungan Duke Vermont sebelumnya.”

“Baik, Tuan Muda.”

Bernard dengan sigap membopong tubuh sang Jenderal yang berada tepat di ambang kematian. Beruntung, esensi dari sihir sucinya masih bekerja lambat menjaga detak jantung pria itu. Bernard harus bergerak secepat mungkin sebelum terlambat.

Namun...

“JANGAN HARAP KALIAN BISA KELUAR DARI SINI DENGAN SELAMAT!”

BOOM!

Florence meledakkan energi masif, menepis seluruh reruntuhan batu yang menimbun tubuhnya.

Ia menghantamkan telapak tangannya ke dinding Dungeon.

Sret— Clink!

Secara mengejutkan, seluruh struktur ruangan—mulai dari dinding batu yang hancur, lubang menganga, hingga ngarai buatan sang Jenderal—mulai memperbaiki dirinya sendiri secara ajaib!

Struktur gua terisolasi kembali seperti semula, tepat saat Edward dan Jenderal Vermont pertama kali melangkah masuk. Bahkan pintu besi raksasa yang sempat terlempar kini melayang terbang dan kembali mengunci rapat jalan keluar.

Florence berdiri tegak dengan tubuh yang telah beregenerasi sempurna, menyunggingkan tawa gila.

“Tidak akan kubiarkan kalian kabur! Kalian berdua adalah milikku!”

“Coba saja kalau bisa!” seru Edward, lalu melirik cepat ke arah Bernard seakan memberikan sebuah sinyal rahasia.

Bernard yang peka langsung mengangguk paham tanpa perlu sepatah kata pun.

Edward kembali melemparkan pandangannya ke arah Florence.

SWOOSH—!

Dalam satu hentakan ledakan kecepatan yang merobek udara, pemuda itu menerjang lurus tepat ke arah Florence.

Tanpa sempat dicegah, Edward mencengkeram erat tubuh si Penyihir Hitam, lalu membawa tubuh itu menabrak hancur dinding gua dengan paksa.

BOOOM!

Mereka berdua merusak dan menembus barisan bebatuan tebal Dungeon, menciptakan jalur keluar paksa hingga melesat tembus ke area luar Hutan Runn.

Melihat celah terbuka lebar, Bernard dengan sigap membopong tubuh sang Jenderal, berlari cepat menyusuri jalur hancur yang baru saja dibuka oleh Edward.

Kembali ke udara bersama Edward, Florence yang menyadari niat musuhnya berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman sang Pangeran.

Ia melancarkan berbagai jenis serangan balasan secara kalap—mulai dari melayangkan pukulan brutal, menyikut punggung Edward berulang kali, hingga melepaskan tembakan sihir jarak dekat.

Namun, tubuh Edward seakan-akan murni terbuat dari batuan kosmik yang sama sekali tak dapat dihancurkan.

Pemuda itu bahkan tidak bergeming atau merintih kesakitan sedikit pun. jangankan merintih... kulit tubuhnya saja sama sekali tidak tergores oleh sihir hitam Lingkaran 7 milik Florence!

WUSH—!

Edward terus melesat membawa Florence menembus awan menuju angkasa yang sangat tinggi, lalu melempar tubuh si penyihir begitu saja di udara.

Tak berhenti sampai di situ!

Dengan kecepatan ekstrem yang tak kasat mata, Edward meluncur membantai si Penyihir Hitam dari segala penjuru arah.

Bum! Bum! Bum! Bum!

Rangkaian pukulan bertubi-tubi itu begitu masif hingga menciptakan pusaran angin tornado raksasa di atas angkasa.

Di tengah pusaran angin tersebut, Edward kembali memancarkan serbuan energi mematikan dari sepasang matanya secara serentak.

Zzzztt— BOOM!

Florence hanya bisa pasrah melayang di udara, menerima pembantaian bertubi-tubi itu tanpa sanggup memberikan perlawanan sedikit pun.

Sementara itu di daratan bawah, Raja Nolan bersama barisan pasukan bantuan kerajaan akhirnya tiba di lokasi.

Pandangan sang Raja seketika tertuju pada sosok Bernard yang tengah membopong tubuh Jenderal Vermont yang bersimbah darah dan terluka amat parah.

“Tim medis, cepat kemari!” seru sang Raja dengan nada panik dan suara yang sarat ketegasan.

Tanpa buang waktu, tiga orang penyihir istana segera turun dari punggung kuda mereka dan berlari cepat ke arah sang Raja.

Bernard dengan sangat hati-hati membaringkan tubuh Jenderal Vermont di atas rerumputan. Ketiga penyihir itu langsung merapat, membentuk sebuah lingkaran, dan merapalkan mantra penyembuhan tingkat tinggi yang membungkus sekujur tubuh sang Jenderal dengan cahaya hangat.

Meskipun prosesnya terlihat lambat karena parahnya luka yang diderita, mantra itu mulai membuahkan hasil. Luka-luka menganga di tubuh Jenderal Vermont perlahan menutup sedikit demi sedikit, dan embusan napasnya berangsur-angsur menjadi lebih teratur.

Raja Nolan mengembuskan napas lega yang panjang. Ia lantas mengalihkan pandangannya pada sang pelayan setia.

“Di mana Edward? Di mana anakku?” tanya Raja Nolan cemas.

“M-maaf, Yang Mulia.”

Bernard mendongak, menatap lurus ke arah angkasa di mana pusaran angin tornado raksasa dan sambaran petir hitam tengah mengamuk hebat.

Raja Nolan mengikuti arah pandangan Bernard, dan seketika itu juga matanya terbelalak ngeri menyaksikan pemandangan destruktif di atas sana.

“Mohon izin berbicara lagi, Yang Mulia. Untuk sekarang, Anda lebih baik menunggu di sini,” tutur Bernard dengan nada penuh hormat namun tak terbantahkan.

“Mohon maaf atas kelancangan perkataan saya, Yang Mulia,” ujar Bernard seraya membungkukkan tubuhnya makin dalam.

“Namun, kita sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa di sana. Kehadiran kita justru hanya akan menjadi beban dan mengganggu fokus Yang Mulia Pangeran.”

Bernard menghentikan kalimatnya sejenak, menatap mata sang Raja dengan penuh keyakinan.

“Sebaiknya kita mengawasi dari jarak aman. Saya sangat percaya pada Yang Mulia Pangeran, dan Beliau pasti akan baik-baik saja. Biarkan saya menjelaskan situasinya terlebih dahulu agar Anda paham alasannya.”

Bernard membungkuk dalam, lalu mulai menuturkan segala hal yang ia ketahui. Terutama identitas sang musuh besar, karena ia adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar tahu siapa sosok yang kini tengah dihadapi oleh Edward.

“Itu mustahil....” Wajah Raja Nolan memucat. “Florence de Avalon? Salah satu dari tiga Panglima Besar Raja Iblis di masa Perang Besar 8.000 tahun yang lalu?! Kalau benar begitu, ini adalah situasi darurat tingkat tertinggi! Edward bisa—”

“Mohon maaf sekali lagi, Yang Mulia, tapi saya mohon percayalah pada putra Anda,” potong Bernard tegas.

“Seperti yang sudah saya bilang, kita benar-benar tidak akan bisa membantunya saat ini.”

Bernard menatap tajam ke arah Raja Nolan yang tampak hendak menyela.

“Florence memiliki kemampuan untuk menghisap Mana dan esensi energi hidup seorang penyihir. Melawannya secara langsung hanya akan menambah korban baru...”

Bernard kemudian melirik sekilas ke arah tim medis yang tengah berjuang. “...Sama seperti apa yang terjadi pada Duke Vermont.”

Raja Nolan mengatupkan rahangnya, menggertakkan gigi karena rasa frustrasi.

Berdasarkan arsip perkamen kuno kerajaan, memang benar bahwa kemampuan mutlak dari Panglima Ketiga Raja Iblis adalah mimpi buruk bagi para pengguna sihir. Jika informasi itu akurat, membiarkan Edward bertarung sendirian melawan monster masa lalu adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.

Meski hatinya dipenuhi oleh rasa cemas sebagai seorang ayah, Raja Nolan mau tak mau harus menelan mentah-mentah nasihat sang Pelayan pribadi.

Ia kembali mendongak, menatap tajam ke arah pusaran tornado raksasa di langit malam, lalu bergumam lirih penuh harap.

“Hati-hatilah, anakku....”

...****************...

Di angkasa, Edward melancarkan serbuan serangan brutal secara terus-menerus tanpa jeda.

Florence benar-benar terkunci total. Jangankan membalas, untuk sekadar menggerakkan satu ujung jarinya saja ia sama sekali tidak dib,eri kesempatan.

Bajingan kotor ini... dia benar-benar berencana melenyapkan keberadaanku seutuhnya! batin sang Penyihir Hitam di tengah gempuran maut.

Namun, di balik rasa sakit itu, Florence sekilas menyunggingkan seringai tipis dalam hatinya.

Tapi itu bukan masalah besar... Sama seperti sebelumnya, aku sudah lebih dulu memotong jariku sebagai cadangan. Jika tubuh utama ini hancur, aku hanya tinggal melarikan diri dan menyusun rencana baru.

Florence mendengus dingin dalam batinnya.

Lihat saja nanti... Saat aku kembali bangkit, akan kupastikan kalian semua membayarnya mahal. Terutama kau, bocah kurang ajar!

Edward terus melayangkan berbagai kombinasi pukulan dan tebasan energi, mengikis sedikit demi sedikit fisik Florence hingga tak bersisa.

Namun, ketika yang tersisa dari tubuh si Penyihir Hitam hanya bagian bahu ke atas, Edward mendadak menghentikan gempurannya.

Sret!

Pemuda itu mencengkeram erat kepala Florence yang tersisa dengan satu tangan.

Pusaran tornado raksasa yang menyelimuti angkasa perlahan luruh dan menghilang, mengembalikan warna langit menjadi cerah seketika.

Edward melayang diam tanpa pergerakan. Namun, sepasang matanya berpendar terang, memancarkan cahaya keemasan yang teramat pekat.

Florence mengira bocah di hadapannya siap memberikan serangan pamungkas untuk mengakhiri pertarungan ini. Namun, detik demi detik berlalu, tidak terjadi apa pun.

Keheningan itu justru membuat si Penyihir Hitam merasa kebingungan.

WUSH—!

Tanpa ada peringatan, Edward melesat turun membawa potongan kepala Florence kembali menuju ke arah Dungeon.

BOOM!

Mereka menembus atap bebatuan gua hingga tembus ke dalam ruangan utama. Di sana, Edward melemparkan sisa tubuh Florence begitu saja hingga menghantam lantai batu.

Di tengah rasa bingungnya, Florence berusaha meraba apa yang sebenarnya direncanakan oleh pangeran muda ini. Namun, ia tidak menyadari bahwa aksi Edward berikutnya akan selamanya memusnahkan eksistensi sang Penyihir Hitam Abadi dari muka bumi.

“Kau pikir aku tidak memperhatikan pertarunganmu dengan Duke Vermont sebelumnya?” ujar Edward datar.

DEG!

Jantung Florence rasanya berhenti berdetak seketika.

Secara perlahan, sekujur tubuh Edward mulai memancarkan pendar cahaya keemasan yang kian pekat.

Cahaya itu merebak deras, menerangi setiap sudut, celah, dan kegelapan di dalam ruangan dengan intensitas silau yang menyerupai pendar sinar matahari.

Tak hanya itu, Florence bisa merasakan suhu udara di sekitar mereka melonjak drastis secara tak masuk akal! Jajaran buku usang di rak kayu seketika terbakar menjadi abu secara spontan akibat hawa panas yang membakar.

Panik luar biasa seketika menyergap si Penyihir Hitam.

Nalurnya menjerit keras, memberitahukan bahaya kematian mutlak yang kini berada tepat di hadapannya. Kali ini... ia benar-benar akan dimusnahkan hingga tak tersisa!

Florence mencoba memaksa sihir regenerasinya bekerja. Luka baret dan sayatan pada sisa kepalanya memang menutup rapat, tetapi tidak ada satu pun bagian leher atau badan baru yang tumbuh.

Proses pemulihan selnya mati total—seakan-akan ada sebuah dinding tak kasat mata yang menyegel regenerasinya.

“Kenapa—Brengsek! Apa yang sebenarnya kau lakukan pada tubuhku?!” maki Florence histeris.

“Kau masih belum menyadarinya?” Edward menatapnya dingin.

“Saat menyerangmu di udara tadi, aku menyegel seluruh bekas luka potong di tubuhmu. Aku mengelasnya menggunakan pancaran energi mataku agar kau tidak bisa beregenerasi lagi.”

Pancaran cahaya dari tubuh Edward tumbuh makin terang, kian menyilaukan dan membakar.

Florence terbelalak lebar, diliputi ketakutan yang belum pernah ia rasakan selama ribuan tahun.

“T-terserah apa yang akan kau lakukan! Lagipula aku masih bisa—”

“Bukankah aku sudah bilang kalau aku menyaksikan seluruh pertarunganmu dengan Duke Vermont?” potong Edward, memutus harapan terakhir musuhnya.

“...” Florence bungkam seribu bahasa.

“Karena itulah, aku akan menghancurkan seluruh Dungeon ini sampai tak tersisa sedikit pun atomnya.”

DEG!

“Kau gila! Sialan kau!” jerit Florence penuh keputusasaan.

“Aku bersumpah akan kembali! Aku akan terus kembali! Dan saat aku menemukanmu nanti, akan kupastikan kau mati perlahan dengan cara paling menyiksa, dasar bocah kotor—!”

Pendar sinar dari tubuh Edward mencapai puncaknya.

Suhu udara melonjak ekstrem menembus ribuan derajat, membakar habis seluruh interior kayu hingga melahap habis sisa wajah Florence yang menjerit histeris.

“TIDAAAKKK!!!”

“Selamat tinggal....”

BOOOOMMM!!!

Sebuah bola cahaya raksasa menyerupai miniatur matahari tercipta di dalam gua, melahap habis seluruh ruangan hingga memusnahkan struktur Dungeon liar tersebut dalam sekejap mata.

Kilauan cahayanya begitu dahsyat dan silau, bahkan dapat terlihat dengan jelas dari Istana Kerajaan yang berjarak puluhan kilometer jauhnya.

Beruntung, kelompok Raja Nolan telah lebih dulu dievakuasi dari lokasi berkat arahan taktis dari Bernard. Walau pada awalnya sang Raja menolak keras untuk mundur, ketegasan dan penjelasan Bernard berhasil meluluhkan keras kepalanya.

Keputusan itu adalah penyelamat nyawa mereka.

Sebab jika mereka terlambat sedikit saja, sang Raja beserta seluruh barisan Ksatria Kerajaan dipastikan telah berubah menjadi tumpukan arang akibat gelombang radiasi panas yang menyentuh angka 1500°C.

“Dan jangan pernah kembali lagi!”

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!