Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
"Untuk apa sebenarnya dia membeli bangunan semahal itu?"
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Viola sepanjang perjalanan pulang.
Ia duduk di kursi belakang sambil memandangi jalanan dari balik jendela. Gedung-gedung tinggi mulai tertinggal di belakang mereka, tetapi pikirannya masih berada di bangunan dua lantai yang baru saja ia tinggalkan.
Bangunan itu jelas bukan bangunan biasa. Lokasinya sangat strategis. Bentuknya modern dan kokoh. Halamannya luas, tempat parkir yang memadai, bahkan terdapat bangunan lain yang bisa digunakan sebagai tempat tinggal.
Harga belinya pasti tidak sedikit. Namun, Seokjin justru ingin menyewakannya pada dirinya.
"Gabutnya orang kaya memang berbeda. Membeli sesuatu untuk disewakan lagi." Viola bergumam dalam hati.
Semakin dipikirkan, semakin sulit ia memahami cara berpikir pria itu. Padahal dengan memiliki sendiri bangunan sendiri, Seokjin bisa saja membuat bisnisnya sendiri.
Viola akhirnya mengalihkan pandangan pada Asisten Kim yang sedang menyetir.
"Tuan Kim."
"Ya, Nona."
"Menurut Anda, apakah Sweet Cake cocok pindah ke bangunan itu?"
Asisten Kim melirik sekilas melalui kaca spion. "Tentu saja, Nona. Kawasan itu sangat strategis. Sweet Cake lebih bisa berkembang di sana."
Viola terdiam. Jawaban itu sebenernya sama dengan apa yang sudah ia pikirkan sejak pertama kali melihat bangunan tersebut.
Tempat itu memang sempurna, justru terlalu sempurna.
"Tapi saya merasa tidak enak jika harus bernegosiasi harga sewa dengan Tuan Han." Viola menghela napas pelan. "Harga sewanya pasti tinggi."
"Anda bisa mencobanya dulu." Asisten Kim kembali memusatkan pandangannya pada jalan. "Saya yakin Tuan Han pasti akan memberi harga yang cocok untuk Anda."
Viola menatap punggung pria itu sekilas. "Kenapa Anda begitu yakin?"
"Tuan Han sengaja menawarkan bangunan itu pada Anda. Saya rasa beliau sudah mempertimbangkan kemampuan Anda," jawab Asisten Kim. Pria itu sengaja tidak memberitahu alasan sebenarnya Han Seokjin membeli dan menyewakan bangunan itu pada Viola.
Viola terdiam. Jawaban itu membuatnya kembali berpikir. Mungkin memang tidak ada salahnya mencoba. Apalagi, ia belum tahu berapa harga yang akan ditawarkan Seokjin.
Namun, sebuah pertanyaan baru kembali mengganjal di benaknya. Tentang alasan Seokjin tidak memberitahunya langsung, jika ternyata ia sendiri pemilik bangunan itu.
Beberapa saat kemudian, mobil akhirnya memasuki kawasan tempat Sweet Cake berada. Mobil berhenti tepat di depan toko. Viola mengambil tasnya.
"Terima kasih sudah mengantar saya, Tuan Kim."
Asisten Kim tidak langsung menjawab. Ia justru turun dari mobil, berjalan ke sisi belakang, lalu membukakan pintu untuk Viola.
"Silakan, Nona."
Viola sempat terdiam melihat sikapnya. "Terima kasih," ucapnya sambil melangkah turun dari mobil.
"Dan satu lagi, Nona."
Viola menoleh. "Ya?"
Asisten Kim menutup pintu mobil setelah Viola berdiri dengan sempurna di trotoar.
"Mulai sekarang, jangan panggil saya Tuan Kim."
Viola mengernyit. "Lalu saya harus memanggil Anda apa?"
"Cukup Kim saja."
"Saya rasa itu kurang sopan," jawab Viola. Ia tersenyum kecil. "Apalagi usia Anda juga di atas saya."
"Nona ...."
"Asisten Kim," potong Viola cepat. "Saya akan kembali memanggil Anda dengan panggilan itu."
Asisten Kim menghela napas pendek, tetapi tidak membantah. "Baiklah. Kalau itu membuat Anda nyaman."
"Terima kasih, Asisten Kim." Viola mengangguk kecil sebelum berjalan menuju pintu toko.
Asisten Kim kembali masuk ke mobil. Sesaat sebelum mobil bergerak, ia sempat melihat Viola menaiki tangga.
Mobil itu kemudian perlahan menjauh. Sementara Viola berdiri sendirian di ujung tangga. Pikirannya kembali tertuju pada bangunan tadi.
Tempat itu begitu sempurna, meski ia belum mengetahui pasti harga sewa yang akan ditawarkan.
Pandangan Viola beralih pada papan kayu bertuliskan 'Sweet Cake'. Ia menarik napas panjang. "Aku harus mencobanya," gumamnya penuh tekad.
Malam ini, keputusan kecil mulai terbentuk dalam pikirannya. Besok, ia akan menemui Han Seokjin sebagai pemilik usaha yang ingin bernegosiasi secara adil.
Dan Entah mengapa, Viola merasa siap menghadapi harga yang akan disebutkan pria itu.
*****
Keesokan harinya ....
"Pagi ini saya harus pergi. Tolong kalian jaga toko dengan baik."
Rani, Siska, dan Dimas mengangguk hampir bersamaan.
"Tenang saja, Bu. Kami bisa mengurusnya," ucap Dimas penuh keyakinan.
Viola tersenyum kecil. "Kalau ada pesanan besar, catat semuanya. Jangan lupa periksa stok bahan sebelum toko tutup."
"Baik, Bu."
Setelah semua cake dan roti selesai dipanggang, Viola memastikan satu per satu tersusun rapi di dalam etalase. Aroma butter dan cokelat masih memenuhi toko ketika ia melepas celemeknya.
Ia menatap Sweet Cake beberapa saat. Toko sederhana itu sudah menjadi bagian dari hidupnya selama berbulan-bulan. Jika ia sampai menyerah karena satu hal, ia pasti akan menyesalinya.
Viola mengambil tasnya. "Aku pergi dulu." Tiga kata itu ia ucapkan sebelum meninggalkan toko.
***
Perjalanan menuju pusat kota memakan waktu cukup lama. Tubuh Viona mulai merasa letih, apalagi sudah tiga hari belakangan ia bolak-balik ke sana.
Ketika akhirnya mobil yang ditumpanginya berhenti di depan gedung pencakar langit milik Dhanubrata Group, Viola tidak langsung turun.
Ia menatap kaca bangunan tinggi itu melalui kaca jendela. "Aku hanya akan bernegosiasi," gumamnya pelan.
Setelah membayar ongkos taksinya, Viola menggenggam tali tasnya lebih erat sebelum akhirnya membuka pintu mobil.
Begitu berdiri di depan gedung, dadanya terasa sesak. Kenangan lama seperti bergerak kembali satu per satu.
Lorong-lorong panjang, ruang rapat, berkas yang menumpuk. Semua terasa begitu dekat sekaligus begitu jauh.
Viola menarik napas sekali lagi lalu melangkah masuk.
**
Pintu lift tertutup. Viola berdiri sendirian di dalamnya. Angka lantai terus bergerak naik. Tangannya menggenggam tas lebih erat.
"Berapa harga sewanya nanti?" Ia bergumam pelan.
Pertanyaan itu kembali muncul.
Bagaimana kalau terlalu mahal? Bagaimana jika ternyata ia tidak mampu menjangkau harga sewa yang ditawarkan?
Viola menggeleng kecil. "Jangan berpikir macam-macam." Ia kembali bergumam sambil menatap pantulan dirinya di dinding lift. "Cukup datang, bicara, dengarkan harganya. Setelah itu baru putuskan."
Pintu lift terbuka.
Viola melangkah keluar. Ia berjalan sampai tiba di depan meja sekretaris yang berada tepat di depan ruangan besar milik Seokjin.
"Permisi. Saya ingin bertemu dengan Tuan Han."
Sekretaris itu berdiri sopan. "Maaf, Nona. Tuan Han sedang berada di ruang rapat."
"Beliau sedang rapat?" tanya Viola sopan.
"Benar. Sepertinya masih akan berlangsung cukup lama."
Ada sedikit kekecewaan yang tidak berhasil Viola sembunyikan. Padahal ia sudah menempuh jarak dan waktu yang cukup panjang, ia juga sudah menyiapkan keberaniannya sejak semalam.
"Kalau begitu, saya akan kembali lain waktu." Viola berbalik.
Namun, baru beberapa langkah, suara seseorang terdengar dari belakang.
"Nona Viola?"
Viola menoleh. Asisten Kim berdiri tidak jauh darinya. "Asisten Kim?"
"Saya baru saja akan mengantar beberapa dokumen." Asisten Kim berjalan mendekat. "Anda datang untuk menemui Tuan Han?"
Viola mengangguk pelan. "Benar. Tapi beliau sedang rapat."
"Anda bisa menunggu di dalam. Saya akan menyampaikan kedatangan Anda pada Tuan Han," ucap Asisten Kim.
Viola sedikit ragu. "Tidak perlu. Saya bisa datang lagi nanti."
Asisten Kim justru menunjuk ke pintu ruangan. "Silakan tunggu di dalam."
Viola akhirnya mengangguk. "Baik. Terima kasih."
Asisten Kim membuka pintu ruangan dan mempersilakan masuk.
***
Begitu memasuki ruangan itu, langkah Viola perlahan melambat.
Ruangan itu jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Meja besar berada di dekat jendela. Rak-rak buku memenuhi salah satu sisi dinding. Semuanya tertata rapi, nyaris tanpa benda yang tidak diperlukan.
Namun, bukan itu yang membuat Viola berhenti. Matanya tertuju pada beberapa bingkai foto yang terpajang di dalam ruangan.
Nara.
Semua foto yang terpajang adalah wajah Naraya.
Viola berjalan mendekat. Dulu, ruangan ini mungkin milik Nara. Dan sekarang ....
Seokjin mungkin sengaja membiarkan foto sepupunya itu tetap berada di tempatnya.
Viola terus melangkah hingga berhenti di depan sebuah lukisan besar Nara yang tergantung di dinding.
Wanita dalam lukisan itu terlihat anggun dan percaya diri. Begitu berbeda dengannya.
Viola menatap lukisan itu cukup lama. "Nara benar-benar wanita yang sangat beruntung." Suaranya hampir seperti bisikan.
Ia tersenyum tipis. "Ia memiliki segalanya. Suami yang begitu mencintainya, anak-anak yang mengisi hari-harinya, dan bahkan setelah tidak lagi berada di ruangan ini, wajahnya masih ada di sini."
Viola menundukkan kepala. "Sedangkan aku ...." Kalimat itu terhenti. "Tidak ada seorang pun yang aku miliki dan menginginkan aku."
Ia tidak ingin membandingkan hidupnya dengan siapa pun, tetapi rasa itu tiba-tiba menyusup dengan cepatnya.
Viola mengusap ujung jarinya sendiri lalu berbalik dan berjalan menuju sofa. Namun, baru saja hendak duduk ....
Pintu ruangan terbuka.
Viola menoleh.
Langkah kaki terdengar di ambang pintu. Han Seokjin berdiri di sana. Tatapan keduanya bertemu.
Untuk sesaat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Dan Viola tiba-tiba lupa seluruh kalimat yang sejak semalam ia susun untuk menegosiasikan harga sewa bangunan itu.
*** Bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor