Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Nama yang Membuat Mereka Terdiam
Udara di kamar Kiara mendadak berubah.
Keira merasakan perubahan itu bahkan sebelum Meilan membuka mulut. Baru beberapa menit lalu, ia masih berdiri seperti pelengkap yang bisa disuruh ke butik kapan saja. Sekarang, hanya karena satu nama di layar ponsel, tatapan Meilan berubah tajam.
Rayhan Harto.
Nama itu seperti benda mahal yang jatuh di lantai rumah yang selama ini menganggap Keira tidak punya apa-apa.
"Itu Rayhan Harto yang mana?" tanya Meilan.
Keira memasukkan ponsel ke tas. "Teman."
Kiara tertawa kecil. "Kak, jangan bercanda. Rayhan Harto bukan nama yang bisa disebut teman begitu saja."
"Aku membantu mengantar jemput anaknya. Mama sudah dengar tadi."
"Anaknya?" Meilan menangkap kata itu lebih cepat. "Sejak kapan kamu dekat dengan anak keluarga Harto?"
"Beberapa waktu ini."
"Beberapa waktu ini?" Suara Meilan naik. "Keira, hal sebesar itu kamu sembunyikan dari keluarga?"
Keira hampir tertawa. Keluarga. Kata itu baru dipakai ketika ada sesuatu yang bisa mereka ambil darinya.
"Aku tidak menyembunyikan apa-apa. Aku hanya tidak merasa perlu membicarakan pekerjaan sampingan yang sementara."
"Pekerjaan sampingan?" Kiara menatapnya dari ujung kepala sampai sepatu. "Kak Keira, kamu serius menyebut akses ke keluarga Harto sebagai pekerjaan sampingan?"
Meilan mendekat. "Kamu bertemu Rayhan Harto langsung?"
Keira mengangguk.
"Sering?"
"Beberapa kali."
"Dia mengirim pesan pribadi kepadamu."
"Dia bertanya apakah aku sudah sampai rumah."
Kalimat itu membuat Kiara diam satu detik.
Sesuatu yang kecil, panas, dan tidak menyenangkan lewat di wajahnya. Seumur hidup Kiara terbiasa menjadi pusat perhatian. Jika ada orang penting datang, Meilan akan mendorongnya ke depan. Jika ada kesempatan bagus, Fengky akan menyebut namanya lebih dulu. Keira selalu ditempatkan di belakang.
Tetapi layar ponsel tadi tidak menampilkan nama Kiara.
Nama itu menghubungi Keira.
"Kamu jangan salah paham," kata Meilan tiba-tiba, nada suaranya dibuat lebih halus. "Orang seperti Rayhan Harto mungkin ramah karena kamu membantu anaknya. Tapi kamu harus tahu batas."
Keira menatap ibunya. "Aku tahu."
"Keluarga seperti Harto tidak sama dengan kita."
"Aku tahu."
"Apalagi kamu..." Meilan berhenti, tetapi tatapannya sudah menyelesaikan kalimat itu.
Apalagi kamu cuma anak angkat.
Keira mendengar kalimat yang tidak jadi diucapkan itu sejelas suara.
Kiara berjalan ke meja rias, melepas jepit rambut, lalu tersenyum lagi. "Aku cuma khawatir Kakak nanti tersakiti. Laki-laki dari keluarga besar bisa baik kepada siapa saja. Kadang perempuan mudah baper."
"Terima kasih sudah khawatir."
"Kakak jangan marah."
"Aku tidak marah."
Suara Keira terlalu tenang sampai Kiara menoleh.
Untuk sesaat, dua perempuan itu saling memandang melalui cermin. Mereka hanya berbeda satu huruf dalam nama, tetapi hidup mereka seperti dua pintu yang dibuka ke arah berlawanan.
Kiara tersenyum manis kepada dunia.
Keira diajari menelan rasa sakit agar dunia tetap nyaman.
"Kalau begitu," kata Kiara pelan, "besok Kakak masih bisa temani aku ke butik, kan? Setelah antar anak itu."
Keira melihat jam di dinding. Ia masih harus mengirim revisi deck ke Naomi malam ini. Besok pagi ia harus menjemput Genki, mengantar ke TK, lalu kembali ke D.N sebelum rapat lanjutan.
Jika dulu, ia mungkin langsung mengiyakan.
Malam ini, entah kenapa, suara Rayhan teringat jelas.
Jangan biarkan rasa takut menjawab untukmu.
Keira menarik napas. "Aku bisa telepon butik dan jelaskan detailnya. Tapi aku tidak bisa menemani langsung."
Meilan menegang. "Keira."
"Aku sudah memberi solusi, Ma. Kalau Kiara mau, aku bisa kirim catatan tertulis malam ini."
Fengky yang sejak tadi berdiri dekat pintu mengerutkan kening. "Kenapa sekarang kamu susah sekali diatur?"
Kalimat itu seharusnya membuat Keira mundur.
Anehnya, ia tidak.
"Aku tidak susah diatur, Pa. Aku hanya punya jadwal kerja."
Ruangan kembali hening.
Kiara menatap Keira seolah baru melihat benda lama di rumah tiba-tiba bergerak sendiri.
Meilan tertawa dingin. "Sejak kenal keluarga Harto, kamu mulai merasa hebat?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku hanya tidak bisa membatalkan semua pekerjaan setiap kali Kiara membutuhkan sesuatu yang bisa diselesaikan lewat telepon."
Wajah Kiara berubah sesaat, tetapi ia cepat menunduk. Ketika ia mengangkat wajah lagi, matanya sudah basah tipis.
"Ma, sudah. Jangan paksa Kak Keira. Mungkin aku memang terlalu merepotkan."
Meilan langsung berbalik lembut. "Bukan kamu yang merepotkan. Kamu cuma minta bantuan kakakmu."
Fengky menghela napas. "Keira, minta maaf ke adikmu."
Keira menatap mereka.
Sangat akrab.
Terlalu akrab.
Kiara menunduk, Meilan membela, Fengky memutuskan. Seolah hidup mereka sudah punya naskah, dan tugas Keira hanya mengucapkan kalimat yang diharapkan.
Maaf, Kiara.
Aku akan bantu.
Aku tidak apa-apa.
Tetapi malam ini, kalimat itu tidak keluar.
"Aku akan kirim catatan ke butik," kata Keira. "Kalau tidak ada lagi, aku kembali ke kamar. Aku masih harus bekerja."
Ia mengambil tas.
"Keira!" Meilan memanggil tajam.
Keira berhenti di ambang pintu.
"Jangan pikir karena ada Rayhan Harto mengirim pesan, kamu bisa melupakan rumah ini."
Keira menggenggam tali tasnya.
"Aku tidak pernah melupakan rumah ini, Ma."
Justru karena terlalu ingat, ia tahu tempatnya di sana selalu bisa digeser kapan saja.
Ia keluar sebelum Meilan menjawab.
Lorong lantai dua terasa lebih dingin daripada saat ia datang. Keira masuk ke kamar lamanya, ruangan kecil di ujung dekat gudang linen. Tidak seperti kamar Kiara yang terang dan wangi, kamar itu sederhana, dengan lemari lama, meja belajar yang catnya mulai pudar, dan jendela menghadap dinding samping rumah.
Ia duduk di tepi ranjang, mengeluarkan ponsel.
Pesan Rayhan masih ada.
Sudah sampai rumah?
Keira menatapnya lama.
Jarinya mengetik.
Sudah. Maaf baru balas.
Balasan datang hampir seketika.
Tidak perlu minta maaf. Istirahat kalau sudah selesai bekerja.
Tidak ada pertanyaan berlebihan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada nada memerintah.
Keira menunduk, napasnya pelan-pelan menjadi lebih teratur.
Di kamar Kiara, suasana tidak ikut tenang.
Begitu pintu tertutup, Kiara melempar pita rambut ke meja. Wajah manisnya mengeras.
"Mama lihat sendiri, kan?"
Meilan duduk kembali, wajahnya penuh perhitungan. "Aku lihat."
"Rayhan Harto mengirim pesan ke dia. Ke Keira."
Nama Keira diucapkan seperti noda.
Fengky masuk lebih jauh ke kamar. "Jangan gegabah. Kalau benar dia dekat dengan Rayhan Harto, itu bisa berguna."
Kiara menoleh cepat. "Berguna untuk siapa, Pa?"
"Untuk keluarga."
Kiara menggigit bibir. Ia tidak suka jawaban itu. Ia tidak suka membayangkan Keira, yang selama ini harus menunduk, tiba-tiba punya jalan menuju keluarga yang bahkan Fengky pun akan berhati-hati menyebut namanya.
"Aku nggak percaya," bisiknya. "Orang seperti Rayhan Harto mana mungkin tertarik pada Kak Keira?"
Meilan menatap putrinya. "Belum tentu tertarik. Bisa saja hanya karena anaknya."
"Tapi dia kirim pesan malam-malam."
Meilan diam.
Itulah yang membuat Kiara makin gelisah.
Ia mengambil ponselnya dan mengetik cepat di mesin pencari.
Rayhan Harto Harto Group.
Foto pria itu muncul di layar. Tinggi, dingin, dan terlalu jauh untuk dunia mereka. Di bawahnya, berita bisnis berderet, nama Harto Group, daftar properti, yayasan pendidikan, serta beberapa artikel tentang ahli waris konglomerat muda yang nyaris tidak pernah tersentuh gosip.
Kiara menatap foto itu lama.
Lalu ia teringat wajah Keira tadi. Tenang. Tidak langsung minta maaf. Bahkan berani menolak menemani ke butik.
Sesuatu di dadanya terasa terbakar.
"Ma," kata Kiara pelan.
"Apa?"
"Aku mau tahu sejauh apa hubungan mereka."
Meilan menatap layar ponsel Kiara, lalu wajah putrinya.
Di cermin, mata Kiara kembali tersenyum.
Tapi kali ini, senyumnya tidak cantik sama sekali.