Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditunggu Launching Debay-nya
Prosesi sungkeman dimulai setelah ikatan secara hukum dan agama resmi terjalin begitu kalimat ijab kabul selesai diucapkan. Kanaya dan Yudha kini sah menjadi suami istri, terlepas apa yang akan rencanakan mereka berdua selanjutnya.
Sayangnya, suasana yang harusnya penuh haru justru terasa dingin. Hanya isak tangis Anita yang terdengar. Bukan tangis bahagia karena melepas putrinya mengarungi biduk rumah tangga. Namun, tangis pilu karena nasib Kanaya yang tak beruntung menikah dengan pengantin pengganti.
Begitu seluruh rangkaian prosesi akad nikah usai, giliran para tamu undangan memberikan selamat sembari menikmati hidangan katering yang telah tersaji.
"Ya ...."
Hesti dan Nunik langsung memeluk Kanaya bersamaan. Sejak menginjakkan kaki di rumah Danur, baru saat ini mereka bisa berinteraksi dengan Kanaya. Sejak pagi, Kanaya terus disibukkan rentetan prosesi akad nikah juga berbincang dengan kerabat keluarganya, membuat kedua sahabat Kanaya itu enggan mengganggunya.
"Aku sampai bingung, mau memberikan ucapan apa, ya? Selamat atau duka cita?" bisik Nunik hati-hati agar tidak terdengar yang lain.
Tanggapan Kanaya justru di luar dugaan, Kanaya justru terkekeh mendengar ucapan Nunik.
"Kamu pikir Yaya sudah meninggal?" Hesti menyentil dahi Nunik, karena bicara terlalu jujur.
"Maksudku, aku tuh ikut sedih, Hes," ralat Nunik membela diri.
"Tinggal bilang aja, yang sabar ya, Ya. Semoga aja Yudha benar-benar jatuh cinta sama kamu, jadi nggak perlu ada perceraian," bisik Hesti, memastikan kalimatnya hanya berputar di antara mereka bertiga. "Lagipula, suami penggantimu itu nggak kalah ganteng dari kakaknya, lho, Ya." Mata Hesti melirik ke arah Yudha yang sedang mengobrol dengan orang tuanya.
Kanaya mengikuti arah pandang Hesti. Desahan nafasnya terdengar berat, lalu berujar sambil mengedikkan bahunya, "Kalau itu aku nggak berani jamin, deh."
Bu Yaya!"
Pekikan riuh beberapa remaja tiba-tiba memotong obrolan mereka. Remaja itu adalah murid-murid Kanaya yang sengaja datang untuk ikut merayakan pernikahan wali kelas mereka.
"Kalian?" Kanaya terkesiap, tidak menyangka mereka berniat datang pagi-pagi begini.
Hesti dan Nunik seketika menyingkir, memberi ruang pada mereka untuk memberikan selamat, karena Kanaya adalah wali kelas dari remaja belia yang masih duduk di bangku SMP itu.
"Bu Yaya, selamat ya, Bu!"
"Happy wedding, Ibu!"
"Samawa, ya, Bu cantik!"
"Ditunggu debay-nya ya, Bu!"
Murid-murid perempuan itu langsung menyerbu, memeluk Kanaya erat-erat secara bergantian. Di belakang mereka, murid laki-laki sabar mengantre giliran dengan senyum canggung, menyadari tak mungkin memberi pelukan seperti teman perempuan mereka.
"Makasih, ya. Kalian udah pada datang kemari. Ayo, pada makan dulu!" Kanaya mengajak anak-anak murid-nya untuk menyantap hidangan di meja prasmanan.
"Bu, mana suami Bu Yaya? Aku pengen liat." Zahra, salah satu murid mengedar pandangan mencari keberadaan mempelai pria.
"Iiih, ngapain liat-liat? Modus itu, Bu!" sindir Monik, murid yang lain.
"Mau liat sama mau kasih ucapan selamat, masa dibilang modus?" Zahra memutar bola matanya. "Aneh kamu!" ketusnya.
"Sudah, jangan ribut!" Kanaya segera melerai perdebatan mereka. Tangannya lalu melambai pada Yudha yang secara kebetulan sedang menoleh ke arahnya. Kehebohan sejak kemunculan murid-murid Kanaya memang menyita perhatian Yudha.
Yudha berjalan mendekat dan melebarkan senyum hangat, menyapa murid-murid Kanaya.
"Ini murid-murid kamu?" Yudha tak menyebut Kanaya dengan embel-embel kata Mbak di depan nama Kanaya. Akan membuat orang heran jika ia menggunakan kata itu.
"Iya." Kanaya tersipu, tak mengira Yudha menyebut kata kamu untuknya.
"Pak, happy wedding, ya!" Zahra lebih dulu memberi ucapan selamat sambil berjabatan tangan dengan Yudha dan mencium punggung tangan Yudha, seperti yang ia lakukan pada Kanaya.
"Nggak peluk Pak Yogi, Ra?" celetuk Rasha, salah satu murid laki-laki meledek Zahra.
"Jangan ih, bukan muhrim! Pak Yogi 'kan punya Bu Yaya!" sahut Zahra menyeringai.
Mata Kanaya dan Yudha saling bertemu pandang. Namun, tak lama Kanaya memalingkan wajahnya. Hampir semua undangan termasuk anak-anak murid Kanaya menganggap pria yang saat ini memakai beskap berwarna senada dengan kebaya yang digunakan Kanaya adalah Yogi.
"Semoga Samawa, Pak."
"Titip Ibu Yaya, ya, Pak!"
Kini murid-murid lain memberikan ucapan selamat pada Yudha.
"Makasih, ya. Kalian udah datang kemari." Yudha menjawab dengan ramah.
"Ditunggu launcing debay-nya, ya, Pak Yogi. Jangan lama-lama ..." canda Zahra dengan tersipu malu.
Kanaya dan Yudha sama-sama salah tingkah, ketika Zahra terang-terangan berharap Kanaya dan pasangannya segera diberi keturunan.
"Ummm, kalian makan dulu, yuk!" Kanaya menarik tangan Zahra dan Monik, mengajak murid-muridnya menjauh dari Yudha agar tak terus membahas soal baby.
Yudha menatap kepergian Kanaya. Merasakan kehangatan yang terjalin antara guru dan siswa-siswi itu, membuat ia tanpa sadar menarik sudut bibirnya ke atas.
"Padahal Mas Yogi cocok sama Mbak Kanaya. Kelihatan kalem dan sabar." Yudha diam-diam mengangumi Kanaya. "Bego banget sih, kamu, Mas. Malah kabur ke tempat mantan!" Lalu ia mengutuk sang kakak yang mengabaikan wanita seperti Kanaya.
***
Selepas adzan Dzuhur berkumandang, Kanaya berpamitan ke kamar. Rasa kantuk yang sejak tadi ia tahan kembali menyerbunya. Apalagi perutnya baru saja diisi oleh lezatnya makanan katering langganan, kantuk pun semakin menggelayuti kelopak matanya.
Kanaya masuk ke kamarnya. Pakaian dan hiasan di kepala sudah ditanggalkan sejak dua jam lalu. Dia hanya memakai dress panjang warna yang serupa seperti kebaya yang ia pakai tadi.
Bersamanya, salah seorang anak buah Tante Widi ikut masuk kamar untuk membantunya menghapus riasan tebal di wajah. Setelah semuanya beres, Kanaya melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu sebelum beranjak ke tempat tidur untuk beristirahat seperti saran Tante Widi. Walau pernikahan dengan Yudha tak diharapkannya, dia tak bisa menunjukkan kesedihan di hadapan para tamu undangan yang akan hadir malam nanti.
Kanaya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang bertabur kelopak mawar. Rasa kantuknya lebih kuat, hingga membuatnya tak sempat termenung memikirkan nasibnya, menikah dengan pengantin pengganti. Tak lebih dari lima menit, Kanaya pun akhirnya terlelap.
Sementara di luar, Yudha masih berbincang dengan keluarganya. Dia merasa canggung karena keluarga Kanaya terlihat acuh tak acuh kepadanya. Namun, ia memahami, kekecewaan keluarga Kanaya pada Yogi membuat mereka bersikap dingin kepadanya.
Yudha bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang ini? Biasanya mempelai pria akan beristirahat dengan mempelai wanita di kamar. Namun, dia hanyalah pengantin pengganti, tak ingin lancang masuk ke kamar Kanaya tanpa izin dari wanita yang sudah sah secara hukum dan agama sebagai istrinya itu.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
Kasih dukungan like n komen untuk karya ini supaya author semangat meneruskan bab novel Gilang & Bella. Makasih
apa harus melihat perbedaan usia di saat menikah ya
mau Naya lebih tua dari Yudha apa hak kamu,,toh mereka serasi ko,,
julid amat loh
seolah olah Kanaya yang salah padahal pihak keluarga Yogi dan Yudha yang bikin masalah.
besoknya anggap angin lalu. siapa tau jodoh sebenarnya udah deket
terima nasib aja ayy,positif thinking aja kalau Yudha bukan jodohmu. jangan coba2 buat nikung ya,..