NovelToon NovelToon
Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Identitas Tersembunyi / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.

Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.

Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.

Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14 ~ Dua Garis Merah

Beberapa kali memanggil, namun tak ada sahutan apapun dari dalam. Ruangan tersebut tetap hening.

Perasaan Nyonya Chatarina mendadak tidak enak. Tanpa berpikir panjang, ia memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci.

Cklek. Pintu kamar terbuka perlahan.

"Evelyn?" panggilnya sekali lagi sembari melangkah masuk. Tatapannya segera menyapu seluruh ruangan.

Kamar tampak kosong.

Namun sesaat kemudian suara muntah dari arah kamar mandi membuat wajah Nyonya Chatarina berubah panik.

"Uekh..."

"Evelyn!" Ia bergegas menghampiri pintu kamar mandi.

Baru saja hendak mengetuk, tatapannya tertumbuk pada sebuah benda yang tergeletak di lantai, tepat di depan pintu.

Sebuah alat tes kehamilan. Benda itu rupanya terjatuh saat Evelyn berlari karena rasa mual yang tiba-tiba menyerangnya.

Nyonya Chatarina membeku. Tangannya perlahan meraih benda tersebut. Saat pandangannya jatuh pada hasil yang tertera di sana.

Manik matanya membelalak.

"Ap-apa..." Suara wanita itu bergetar.

Tangannya gemetar hebat menggenggam alat tes kehamilan tersebut, sementara napasnya terasa tercekat.

Perlahan, tatapannya beralih ke arah pintu kamar mandi. Suara muntah Evelyn masih terdengar jelas dari dalam sana.

"Uekh..."

"Uekh..."

Nyonya Chatarina memejamkan mata sesaat. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban besar yang menghimpit.

"Tidak..." Ia berharap apa yang dilihatnya salah.

Namun dua garis merah yang terpampang jelas pada alat itu seolah menghancurkan harapan terakhirnya.

Tak lama kemudian suara siraman air terdengar dari dalam kamar mandi.

Beberapa detik berselang, pintu kamar mandi pun terbuka perlahan. Evelyn melangkah keluar sambil mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan. Wajahnya masih pucat, tubuhnya tampak lemas.

Namun langkahnya seketika terhenti.Tatapannya membelalak saat melihat Nyonya Chatarina berdiri mematung di tengah kamar.

Di tangan wanita itu masih tergenggam erat alat tes kehamilan miliknya.

DEG. Wajah Evelyn seketika kehilangan warna.

"M-Mama..." Suaranya tercekat. Tanpa sadar, kedua kakinya mundur selangkah.

Sementara Nyonya Chatarina perlahan mengangkat alat tes kehamilan itu. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Evelyn..." panggilnya lirih dengan suara yang bergetar.

"Jangan bilang..." Wanita itu menggeleng pelan, seolah menolak mempercayai kenyataan yang ada di depan matanya. "Kamu... hamil?"

Evelyn membisu. Bibirnya bergetar, namun tak satu kata pun berhasil keluar. Ia hanya menatap alat tes kehamilan yang masih berada di tangan ibunya.

Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya. "Mama..." lirihnya.

Nyonya Chatarina melangkah mendekat. Tatapannya masih dipenuhi ketidakpercayaan.

"Jawab Mama, Evelyn," pintanya dengan suara yang semakin bergetar. "Siapa yang melakukan ini padamu?"

Mendengar pertanyaan itu, pertahanan Evelyn runtuh begitu saja. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung.

"Aku... aku tidak tahu harus bagaimana, Ma..." isaknya pelan.

Melihat putrinya menangis, Nyonya Chatarina spontan memeluk tubuh Evelyn erat.

"Ya Tuhan..." gumamnya lirih sembari mengusap punggung putrinya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Evelyn mencengkeram pakaian sang ibu. Selama ini ia berusaha terlihat kuat. Namun pagi itu, semua kepura-puraannya hancur.

"Maaf..." isaknya semakin keras. "Maafkan aku...."

"Jangan minta maaf." Nyonya Chatarina menggeleng cepat. "Mama hanya ingin tahu siapa pria itu."

Evelyn memejamkan mata rapat. Bayangan malam di kapal pesiar kembali memenuhi kepalanya. Kejadian malam panas bersama Damian kembali berputar bak rekaman video yang terus berputar.

"Itu..." suara Evelyn nyaris tak terdengar. "Terjadi di kapal pesiar dua minggu lalu."

Nyonya Chatarina langsung menahan napas. "Kapal pesiar?"

Evelyn mengangguk pelan.

"Aku... aku tidak bisa menjaga diriku sendiri, aku terlalu mabuk. Saat sadar..." Tangisnya pecah kembali. "Semuanya sudah terlambat."

Nyonya Chatarina memeluk putrinya semakin erat. "Ya Tuhan..." Air mata wanita itu ikut jatuh. "Siapa pria itu, Evelyn?" tanyanya lirih. "Apa kau mengenalnya?"

Evelyn terdiam cukup lama. Dengan susah payah, ia mengangkat wajahnya.

"Aku mengenalnya, Ma..." jawabannya mantap. "Tapi... Dia tidak pernah tahu kalau wanita malam itu adalah aku."

Nyonya Chatarina mengernyit. "Lalu siapa dia?"

Evelyn menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia akhirnya mengucapkan satu nama yang membuat suasana kamar mendadak membeku.

"...Damian Foster."

DEG.

Nyonya Chatarina seketika membeku. Pelukannya perlahan terlepas. Ia menatap wajah putrinya lekat-lekat, seolah berharap nama yang baru saja didengarnya hanyalah kesalahan.

"Damian... Foster?" ulangnya lirih.

Evelyn menundukkan kepala. "Iya, Ma."

"Ka-kau yakin?"

Evelyn mengangguk pelan. "Aku yakin."

Ruangan kembali diliputi keheningan. Nyonya Chatarina memejamkan mata sambil menarik napas panjang.

Ia tahu betul siapa Damian Foster musuh terbesar keluarga Harley. Pria yang setiap hari menjadi target pengawasan suaminya dan kini putrinya justru mengandung anak pria itu.

"Ya Tuhan..." bisiknya pelan.

Wanita itu mundur beberapa langkah, lalu terduduk lemas di tepi ranjang. Kedua tangannya menutupi wajahnya.

"Kenapa harus dia..." gumamnya lirih.

Evelyn kembali menitikkan air mata. "Aku juga tidak pernah menginginkan ini, Ma. Aku sudah berusaha melupakan malam itu. Aku berharap semuanya hanya mimpi, tapi..." suaranya bergetar hebat. "Sekarang semuanya sudah terlambat."

Nyonya Chatarina kembali menatap putrinya.

"Apakah kamu yakin jika Damian tidak tahu tentang hal ini?"

Evelyn menggeleng. "Tidak. Dia bahkan tidak tahu kalau wanita malam itu adalah aku. Karena saat itu dia juga berada di bawah pengaruh obat. Pandangannya kabur. Yang dia tahu hanya... ada seorang wanita bersamanya."

Nyonya Chatarina perlahan mengingat kembali beberapa hari terakhir, Evelyn tampak pucat, makannya hanya sedikit dan tubuhnya tampak lemas setelah pulang dari pesta tersebut. Kini semuanya mulai tersusun menjadi satu kepingan utuh.

"Evelyn... Dengarkan Mama baik-baik." Tatapan Nyonya Chatarina berubah serius. "Mulai detik ini... Jangan pernah biarkan siapa pun mengetahui kehamilanmu. Terutama Ayahmu."

Evelyn menatap ibunya dengan napas tertahan.

"Kalau Ayah sampai tahu anak yang kau kandung adalah darah daging Damian Foster..." Nyonya Chatarina menggenggam erat kedua tangan putrinya. "...Mama tidak berani membayangkan apa yang akan dilakukannya."

Air mata kembali mengalir di pipi Evelyn. "Lalu... apa yang harus aku lakukan, Ma?"

Nyonya Chatarina terdiam cukup lama. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia harus memilih antara kesetiaannya kepada suami... Atau menyelamatkan putri semata wayangnya beserta cucu yang kini tengah tumbuh di dalam kandungannya.

"Evelyn.. Mulai hari ini, kamu harus mengundurkan diri dari perusahaan Foster."

Evelyn sontak menggeleng. "Tidak bisa, Ma."

"Kenapa tidak bisa?"

"Kalau aku tiba-tiba mengundurkan diri, Ayah pasti akan curiga. Bukankah selama ini beliau yang memaksaku bekerja di sana?"

Nyonya Chatarina menarik napas panjang. "Soal Ayahmu, biar Mama yang mengurusnya. Mama akan mengatakan bahwa kau ingin melanjutkan pendidikanmu di luar negeri."

"Melanjutkan pendidikan?" ulang Evelyn pelan.

"Iya," jawab Nyonya Chatarina mantap. "Mama akan membujuk Ayahmu. Mama akan mengatakan bahwa seorang calon pemimpin perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman kerja. Kau juga membutuhkan pendidikan yang lebih tinggi agar kelak mampu memimpin perusahaan keluarga dengan lebih baik."

"Tapi... apakah Ayah akan percaya?"

"Percaya atau tidak, Mama akan membuatnya percaya," tegas Nyonya Chatarina. Wanita itu menggenggam kedua tangan putrinya erat. "Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkanmu... dan anak yang ada di dalam kandunganmu."

Mata Evelyn kembali memanas. "Ma..."

"Percayalah pada Mama." Nyonya Chatarina tersenyum tipis, meski matanya masih dipenuhi kecemasan. "Mama sudah gagal memberimu kehidupan yang seharusnya sejak kau lahir. Setidaknya kali ini... Biarkan Mama melindungimu."

Air mata Evelyn kembali jatuh. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung memeluk tubuh ibunya erat. Kini ia tak lagi merasa menghadapi semua masalah ini seorang diri.

Tok!

Tok!

Tok!

"Nyonya... Tuan Evan... sarapan sudah siap," ujar seorang pelayan dari balik pintu.

"Iya, kami segera turun," sahut Nyonya Chatarina.

"Baik, Nyonya."

Setelah langkah kaki pelayan itu menjauh, Nyonya Chatarina kembali menatap Evelyn.

"Mama akan langsung menghubungi orang kepercayaan Mama untuk membuat surat pengunduran dirimu," ucapnya tegas.

Evelyn terdiam sejenak.

"Nanti setelah sampai di kantor, surat itu akan dikirim kepadamu. Kau hanya perlu menyerahkannya kepada Damian."

"Baik, Ma," jawab Evelyn pelan.

Nyonya Chatarina mengangguk. "Sekarang bersikaplah seperti biasa. Jangan sampai Ayahmu ataupun Arlos mencurigai sesuatu."

❤️

1
You `ka
ayo ikutin Damian... semoga kali ini damian tau siapa evan
You `ka
ternyata Arlos dalangnya. dia nggak sadar karena perbuatannya Evelyn hamil dan harus pergi ke London...
You `ka
iya .. Daddy Axel sangat tampan 🤣🤣
gemess sama Axel
You `ka
sebenarnya Tuan Harley gengsi untuk mengakuinya kalau dia tidak rela jauh dari Axel
Zhao_Xena: mana iya, lagi...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
yakin kamu Damian.. kalau tau nanti Evan ternyata putra Harley dan wanita yang bersama kamu dikapal.. gimana reaksinya..😆😆
You `ka
opa maluu....ucukk.. ucukk.. gamesnya sama Axel..😆😆
You `ka
jantungan nggak tuh Tuan Harley..🤣🤣🤣
Zhao_Xena: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
You `ka
tetap semangat thor.... makin kesini makin buat penasaran ceritanya...💪💪
Zhao_Xena: terimakasih banyak
total 1 replies
You `ka
ayo cari mereka Damian 💪💪😆😆
You `ka
lanjut💪
You `ka
haduh.. dag-dig-dug aku yang baca. takut ketahuan...😭😭
You `ka
Damian akan sangat kecewa mungkin akan melakukan hal yang tidak bisa kamu bayangkan Evelyn, jika kamu benar-benar mengkhianatinya.

tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya
You `ka
mungkin lebih baik memang pergi Evelyn.. tinggalkan keluarga toksik itu
You `ka
hamil pasti..🫣🫣
You `ka
pasti sekarang Damian dan Haris merasa sama-sama merasa sudah gila 😆😆
You `ka
🤣🤣🤣🤣 Damian merasa tertarik pada Evan..
Cty Badria
satu kata untuk Evelyn ...bodoh mau di jadikan pion. kl ketauan jadi buronan. bpk dazal enak aja ongkang2 kaki...
You `ka
jangan-jangan Evelyn hamil yah??🫣🫣
Zhao_Xena: coba tebakkk...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
🤣🤣🤣 justru kalau pingsan nanti kamu bisa tau.. dia laki-laki atau perempuan..
Zhao_Xena: waduhh
total 1 replies
You `ka
Tuan Harley kayak pilih kasih, padahal yang seharusnya memimpin bukannya Evan, sebagai keturunan yang sah..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!