NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lepaskan Aku!

Tempat yang menjadi tujuannya berjarak sekitar lima belas kilometer dari rumah. Jarak yang tidak masuk akal untuk ditempuh dengan berjalan kaki pada malam hari.

Namun Haselyn tetap melangkah, menyeret koper yang terasa semakin berat di setiap langkahnya. Entah pukul berapa ia akan sampai, ia bahkan tidak berani menghitungnya.

Setelah hampir 4 jam berjalan, Haselyn menghentikan langkahnya. Kakinya mulai terasa nyeri, telapak kakinya perih, dan lengannya pegal karena terus menarik koper. Ia mengangkat pergelangan tangannya dan melirik jam.

Pukul 22.00.

Jalanan di sekitarnya tampak lengang. Hanya lampu-lampu jalan yang memancarkan cahaya kekuningan, sementara angin malam berembus pelan, membawa udara dingin yang menusuk kulit.

Haselyn mengembuskan napas panjang. “Ah… lebih baik istirahat dulu.” Gumamnya lirih.

Ia berjalan menuju sebuah taman kecil di tepi jalan dan perlahan menjatuhkan tubuhnya ke bangku taman yang tampak sepi. Punggungnya bersandar lemah, sementara jemarinya masih menggenggam pegangan koper.

Rasa lelah mulai menyerbu seluruh tubuhnya. Untuk sesaat, ia memejamkan mata. Malam terasa begitu sunyi.

Dan di tengah kesunyian itu, Haselyn kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa perjalanan yang paling berat bukanlah lima belas kilometer di hadapannya, melainkan langkah pertama yang membawanya meninggalkan rumah.

*

*

*

*

Prang!

Suara gelas pecah menggema di dalam ruangan, memecah keheningan malam.

Seorang pria mencengkeram kepalanya yang mendadak terasa berat. Pandangannya mulai berkunang-kunang, sementara napasnya memburu setelah meneguk minuman yang diberikan oleh wanita di hadapannya.

“Kau menaruh apa di minumanku?” bentaknya dengan suara parau. Tatapannya tajam, penuh amarah dan kecurigaan.

Alih-alih merasa takut, wanita itu justru tersenyum tipis. Dengan langkah tenang, ia mendekat hingga nyaris tidak menyisakan jarak di antara mereka.

Sandra Rosmala. Wanita itu melingkarkan lengannya di lengan sang pria, lalu menyandarkan tubuhnya dengan manja. Senyum kemenangan tergambar jelas di wajahnya, seolah semua yang terjadi sudah berada dalam kendalinya.

“Aku hanya ingin membantumu,” bisiknya lembut.

Sandra mendekat ke telinga pria itu, lalu meniup pelan tengkuknya. “Aku bisa meringankan sakitmu.”

Pria itu mengepalkan tangan sekuat tenaga. Sisa-sisa kesadarannya memaksanya untuk tetap berpikir jernih. Dengan hentakan kasar, ia mendorong tubuh Sandra hingga wanita itu terhuyung beberapa langkah. “Jangan bermimpi, Sandra!” Teriakannya menggema, dipenuhi amarah yang nyaris meledak.

Sandra menatapnya tanpa gentar. Sudut bibirnya terangkat, seolah penolakan itu hanyalah bagian dari permainan yang ia nikmati.

Sementara itu, pria tersebut berusaha mati-matian mempertahankan kewarasannya. Obat yang bercampur dalam minuman itu mulai menggerogoti kesadarannya sedikit demi sedikit.

Namun ia tidak boleh kalah. Apa pun yang terjadi malam ini, ia tidak akan membiarkan Sandra menyeretnya ke dalam jebakan yang telah disiapkan dengan begitu licik.

Ia lebih memilih menahan rasa sakit yang membakar tubuhnya daripada terjerumus ke dalam pusara dosa yang sengaja digali oleh wanita itu.

Sandra mendengus kesal. Penolakan Kevin terasa seperti tamparan telak bagi harga dirinya. “Kamu tidak akan sanggup menolakku, Kevin,” ujarnya dengan senyum tipis yang dipenuhi keyakinan. Tatapannya mengikuti setiap gerakan Kevin yang semakin kehilangan kesadaran.

Pria bernama lengkap Kevin Artadinata mengepalkan rahang sekuat tenaga. Tubuhnya mulai terasa panas, napasnya memburu, dan kepalanya semakin berat. Obat yang bercampur dalam minuman itu perlahan menggerogoti kesadarannya.

Namun di tengah kondisi yang semakin memburuk, sorot matanya tetap tajam menatap Sandra. “Aku, Kevin Artadinata…” suaranya terdengar berat dan tertahan, “tidak akan pernah menyentuhmu. Bahkan kalau kau memberiku obat seperti ini sekalipun.”

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Kevin mendorong tubuh Sandra dengan keras hingga wanita itu terhuyung dan jatuh ke lantai.

Tanpa menoleh lagi, Kevin memaksa kakinya melangkah menuju pintu keluar. Setiap langkah terasa seperti menyiksa, tetapi ia terus berjalan, menjauh dari jebakan yang hampir menyeretnya.

“Kevin!” Suara Sandra menggema di belakangnya. “Mau ke mana kamu?”

Teriakannya semakin nyaring, namun Kevin tidak menghentikan langkahnya. Sandra berusaha bangkit secepat mungkin. Dengan wajah penuh amarah, ia berlari keluar dari ruang VIP klub malam itu. Sayangnya, ketika ia tiba di koridor utama, Kevin sudah tidak terlihat.

Lelaki itu lenyap di tengah lautan manusia yang memenuhi klub malam. Dentuman musik yang memekakkan telinga, sorotan lampu yang berputar, dan kerumunan pengunjung yang sedang berdansa membuat sosok Kevin seolah ditelan kegelapan malam.

“Sial!” Sandra mengepalkan tangannya lalu menghantam udara kosong dengan penuh frustrasi.

Kesempatan yang telah ia susun dengan begitu rapi hancur dalam sekejap. Dan yang paling membuatnya marah… Kevin lebih memilih bertarung melawan efek obat yang menguasai tubuhnya daripada jatuh ke dalam perangkap yang telah ia siapkan.

***

Dengan sisa-sisa kesadarannya, Kevin bergegas menuju mobilnya. Tangannya gemetar saat membuka pintu, sementara napasnya terdengar berat dan tidak teratur. Begitu mesin mobil menyala, ia langsung melajukan kendaraan itu meninggalkan klub malam.

Jalanan malam tampak lengang. Namun cara Kevin mengemudi sama sekali tidak tenang. Mobilnya beberapa kali oleng, berpindah jalur tanpa kendali, bahkan nyaris menyerempet pembatas jalan. Pandangannya semakin kabur, kepalanya berdenyut hebat, dan rasa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya semakin sulit ditahan.

“Brengsek…”

Kevin menggertakkan giginya. Ia tahu dirinya tidak akan sanggup terus mengemudi. Dengan napas memburu, ia membelokkan mobil ke tepi jalan dan menghentikannya di dekat sebuah taman yang tampak sepi. Lokasinya cukup jauh dari pemukiman warga, membuat suasana di tempat itu terasa lengang dan sunyi.

Kevin keluar dari mobil dengan langkah yang tidak stabil.

Taman itu dipenuhi pepohonan besar yang menjulang tinggi. Bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalan setapak, sementara tanaman pagar membentang rapi mengelilingi area taman. Lampu-lampu taman memancarkan cahaya redup yang justru membuat suasana malam terasa semakin hening.

Kevin menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil, berusaha mengatur napas. Kesadarannya semakin menipis. Efek obat yang diberikan Sandra perlahan mengambil alih kendali atas tubuh dan pikirannya. Ia memejamkan mata sesaat, lalu membuka kembali dengan susah payah.

Pandangannya menyapu setiap sudut taman.

Kabur.

Berbayang.

Tidak fokus.

Hingga akhirnya matanya berhenti pada satu titik. Di sebuah bangku taman, seorang wanita tampak duduk sendirian. Sosok itu terlihat begitu kontras di tengah kesunyian malam.

“Siapa dia?” Kevin mengernyit.

Apa yang dilakukan seorang wanita sendirian di taman pada malam selarut ini? Pertanyaan itu berputar di kepalanya.

Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, dorongan yang tidak dapat ia jelaskan menguasai dirinya. Entah itu naluri, kepanikan, atau efek obat yang semakin menghancurkan sisa-sisa kesadarannya.

Kevin memaksa kakinya melangkah. Satu langkah. Lalu langkah berikutnya. Tubuhnya sempoyongan, tetapi ia terus mendekat hingga akhirnya berhenti tepat di depan wanita itu.

Wanita tersebut terkejut dan langsung mengangkat wajahnya.

Kevin menatapnya dengan sorot mata yang kacau. “Siapa namamu?”

Suara Kevin terdengar berat dan serak, keluar begitu saja tanpa basa-basi, seolah nama wanita itu adalah satu-satunya hal yang masih ingin ia ketahui sebelum kesadarannya benar-benar runtuh.

Haselyn tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia menatap pria di hadapannya dengan sorot mata tajam. “Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?” balasnya ketus. “Baru pertama kali bertemu, sudah bertanya nama segala.”

Suasana hatinya sedang hancur. Kepalanya dipenuhi pertengkaran dengan keluarganya, dan kini seorang pria asing muncul di tengah malam dengan tingkah yang tidak masuk akal.

Kevin tidak menjawab. Napasnya terdengar berat, tubuhnya sedikit oleng, dan tatapannya tampak tidak fokus. Ada sesuatu yang aneh pada pria itu.

Haselyn mundur selangkah. “Kalau tidak ada urusan, saya pergi.” Ia baru saja berbalik ketika Kevin tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.

Haselyn langsung terkejut. “Hei! Lepaskan!”

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!