NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Bisa Berkata Lagi

"Terima kasih, Mbak."

"Sama-sama, Mbak," jawab Naresta sambil tersenyum hangat.

Rina dan Dimas pun berpamitan, kemudian meninggalkan toko dengan perasaan yang jauh lebih tenang.

Satu bulan telah berlalu.

Setelah satu bulan penuh berlalu, toko milik Naresta semakin ramai. Terlebih sejak bagian depan toko selesai direnovasi sehingga tampak lebih luas, rapi, dan nyaman.

Bahkan, warga dari desa sebelah pun mulai sering berbelanja di toko Naresta karena barang-barangnya sangat lengkap dan harganya juga terjangkau.

Siang itu, Naresta sedang sibuk melayani salah

seorang pelanggan yang berasal dari desa sebelah.

"Sepertinya tokonya ramai sekali ya, Mbak," ujar ibu itu sambil melihat keadaan toko yang dipenuhi pelanggan.

"Alhamdulillah, Bu. Semenjak bagian depan toko kami renovasi, pelanggan jadi semakin banyak," jawab Naresta dengan ramah.

"Iya, saya juga lihat warga desa sebelah banyak yang belanja ke sini."

Naresta hanya tersenyum sambil melayani beberapa pelanggan yang mulai meletakkan belanjaannya di atas meja kasir.

Di sisi lain, Elvan membantu Aya mengambil beberapa dus mi instan dan air mineral untuk pelanggan grosir.

Suasana toko terasa sibuk, tetapi tetap tertib.

Tiba-tiba...

"Mbak."

Naresta menoleh.

"Iya, Bu?"

"Kan tokonya ramai sekali setiap hari."

"Iya, ada apa ya, Bu?"

Ibu itu tersenyum seolah sedang membicarakan hal yang biasa.

"Kalau begitu, saya mau pinjam uang sama Mbak."

Naresta mengernyitkan dahinya.

"Pinjam uang?"

"Iya. Nggak banyak kok. Cuma sepuluh juta saja."

Kalimat itu langsung membuat suasana toko mendadak hening. Beberapa pelanggan yang sedang memilih barang ikut menoleh ke arah ibu tersebut.

Naresta sendiri tampak sangat terkejut.

"Maaf, Bu... bagaimana?"

"Saya pinjam uang sepuluh juta."

Ibu itu justru menoleh ke sekeliling toko tanpa sedikit pun merasa sungkan.

"Memangnya kenapa?"

Salah seorang pelanggan yang sejak tadi mengantre di kasir akhirnya angkat bicara.

"Mbak kok nggak merasa bersalah, toh?"

"Benar," sahut pelanggan lainnya. "Enteng sekali ngomongnya."

Pelanggan lain ikut memperhatikan wajah ibu itu.

"Mbak ini dari desa sebelah, ya?"

"Iya. Kayaknya wajahnya nggak asing."

Seorang ibu yang juga berasal dari desa sebelah langsung menunjuk pelan ke arah wanita tersebut.

"Lho... saya ingat. Ibu ini, kan, yang sering bikin masalah di desanya."

"Iya, benar!" sahut pelanggan lain.

"Bukannya ibu juga pernah pinjam uang ke beberapa orang, terus bayarnya sering telat?"

Mendengar ucapan itu, wajah wanita tersebut langsung berubah tegang. Ia membuka mulutnya, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.

Semua mata kini tertuju kepadanya, menunggu jawaban yang tak kunjung terucap.

Suasana toko semakin ramai oleh bisik-bisik para pelanggan.

Salah seorang ibu menggelengkan kepalanya.

"Mungkin sekarang ini targetnya Mbak Naresta, deh.

Makanya dari tadi dia survei lihat-lihat tokonya."

"Iya, benar," sahut pelanggan lain. "Saya juga kepikiran begitu."

Seorang bapak yang sedang mengantre di kasir ikut menimpali.

"Makanya tadi beliau banyak basa-basi. Gak tahunya ujung-ujungnya mau pinjam uang."

Beberapa pelanggan lainnya mengangguk setuju.

"Baru kenal sudah berani pinjam sepuluh juta."

"Kalau saya sih malu."

"Iya, jangankan sepuluh juta. Pinjam seratus ribu saja saya mikir berkali-kali."

Wajah wanita itu mulai memerah.

"Itu... bukan seperti itu maksud saya."

"Kalau bukan begitu, terus bagaimana?" tanya salah seorang pelanggan.

"Saya hanya melihat tokonya ramai."

"Lalu langsung minta pinjam uang sepuluh juta kepada pemilik toko yang baru pertama kali bertemu?" sahut pelanggan lain.

Wanita itu terdiam.

Naresta yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya angkat bicara.

"Bapak, Ibu."

Semua orang menoleh ke arahnya.

"Tolong jangan mempermalukan beliau. Setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan."

"Tapi..."

Naresta menggeleng pelan.

"Tidak apa-apa."

Lalu ia menatap wanita itu dengan sopan.

"Maaf ya, Bu. Saya tidak bisa meminjamkan uang sebesar itu. Bukan karena saya tidak ingin membantu. Tetapi uang usaha tidak boleh saya gunakan untuk kepentingan pribadi orang lain. Kalau modal usaha sampai berkurang, nanti justru usaha saya yang terganggu."

Wanita itu menundukkan kepalanya.

"Iya, Mbak... saya mengerti."

Naresta tetap tersenyum ramah.

"Semoga Ibu segera menemukan jalan keluar untuk masalahnya."

Wanita itu mengangguk pelan. Kini ia tidak lagi mampu berkata-kata. Ia hanya menundukkan kepala karena merasa malu setelah permintaannya didengar oleh seluruh pelanggan di dalam toko.

**

Keesokan harinya.

Tepat pukul delapan pagi, Naresta baru saja membuka toko. Ia sedang merapikan beberapa barang di dekat meja kasir, sementara Elvan menyusun roti-roti yang baru datang dari distributor.

Kring!

Suara bel pintu berbunyi.

"Selamat pagi, Mbak."

Naresta menoleh.

"Eh, Ibu. Selamat pagi."

Wanita yang datang kemarin itu tersenyum canggung.

"Maaf ya, Mbak. Saya datang lagi."

"Tidak apa-apa, Bu. Silakan masuk."

Naresta tetap menyambutnya dengan ramah, seolah kejadian kemarin tidak pernah terjadi.

"Ibu mau beli sesuatu?"

"Iya, Mbak."

Wanita itu berjalan pelan menyusuri lorong toko sambil melihat-lihat barang yang tersusun rapi. Sesekali ia melirik ke arah Elvan yang sedang bekerja dengan tenang.

Elvan menyadari ada yang memperhatikannya.

"I-iya... Bu?" tanyanya pelan.

Wanita itu tersenyum tipis.

"Tidak apa-apa, Mas."

"Saya hanya melihat."

Elvan mengangguk kecil, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya menyusun roti di rak. Beberapa menit kemudian, wanita itu kembali ke meja kasir sambil membawa beberapa kebutuhan pokok.

"Mbak, saya beli ini saja."

"Baik, Bu."

Naresta mulai menghitung satu per satu barang belanjaan itu.

"Totalnya seratus delapan puluh dua ribu rupiah, Bu."

Wanita itu langsung mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uang kepada Naresta.

"Ini, Mbak."

Naresta menghitung uang tersebut, lalu memberikan kembali uang kembalian beserta struk belanja.

"Ini kembaliannya, Bu."

"Terima kasih."

"Sama-sama, Bu."

Wanita itu tidak langsung pergi. Ia tampak ragu-ragu, seolah ingin mengatakan sesuatu kepada Naresta.

"Ada apa, Bu?" tanya Naresta dengan ramah.

Wanita itu tampak ragu-ragu sebelum akhirnya berbicara.

"I-itu, Mbak... apa benar tidak bisa pinjamkan saya sepuluh juta dulu?"

Naresta mengembuskan napas pelan.

"Bu, sekali lagi saya minta maaf. Karena nominalnya sangat besar bagi saya."

Wanita itu langsung menyela.

"Tapi, toko Mbak setiap hari ramai. Pasti uang yang masuk banyak terus."

Naresta menggeleng pelan.

"Bu, begini. Ramainya pelanggan bukan berarti semua uang yang masuk adalah keuntungan."

"Lho?"

"Setiap kali stok barang datang, saya bisa mengeluarkan uang sekitar sepuluh sampai dua puluh juta rupiah untuk membayar distributor."

"Belum biaya operasional toko, gaji karyawan, listrik, dan kebutuhan lainnya. Jadi uang yang terlihat banyak itu sebenarnya adalah modal usaha yang harus terus berputar. Itulah sebabnya saya tidak bisa meminjamkan uang sebanyak itu, Bu."

Wanita itu terdiam. Raut wajahnya menunjukkan rasa kecewa, bahkan sedikit kesal.

Melihat hal itu, Naresta membuka dompetnya.

Ia mengambil beberapa lembar uang, lalu menyodorkannya kepada wanita tersebut.

"Ini, Bu. Saya ada lima ratus ribu. Kalau Ibu berkenan, anggap saja ini bantuan dari saya."

Wanita itu melihat uang tersebut, lalu mengernyit.

"Segitu doang mana cukup, Mbak."

Mata Naresta langsung membulat karena terkejut.

Ia sama sekali tidak menyangka jawaban seperti itu.

Belum sempat Naresta berkata apa-apa, terdengar suara dari arah pintu masuk.

"Bu, seharusnya Ibu bersyukur, dong."

Aya baru saja datang untuk bekerja. Setelah mendengar percakapan mereka, ia langsung menghampiri meja kasir.

"Sudah bagus Mbak Naresta mau memberikan uang kepada Ibu. Padahal itu bukan utang, tapi bantuan."

Aya menatap wanita itu dengan serius.

"Jangankan lima ratus ribu. Kalau orang yang baru saya kenal meminta bantuan, belum tentu saya berani memberikan lima puluh ribu. Tapi Mbak Naresta justru langsung memberikan lima ratus ribu tanpa meminta kembali."

Aya menggeleng pelan.

"Kalau memang merasa kurang, seharusnya ditolak dengan baik-baik. Bukan malah bilang 'segitu doang mana cukup'."

Suasana di dalam toko kembali hening.

Naresta hanya menatap wanita itu dengan tenang, sementara Elvan yang sejak tadi menyusun barang menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke arah mereka dengan wajah penuh kebingungan.

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!