Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Terjebak di Tengah Guyuran Hujan
Langit sore yang tadi hanya berawan kelabu tiba-tiba berubah gelap gulita seolah malam merayap datang lebih cepat. Angin kencang menerpa jendela ruang kerja, mengguncang dedaunan di luar hingga menimbulkan suara gemerisik yang menggelisahkan. Aku baru saja membereskan berkas-berkas bukti tambahan tentang pergerakan Paman Dika saat tetesan air pertama menghantam kaca jendela, disusul rintik yang makin lebat hingga berubah menjadi guyuran deras yang menyamarkan pemandangan gedung-gedung tinggi di seberang jalan.
Jam kerja sudah usai sejak setengah jam yang lalu, tapi aku sengaja menunggu hingga suasana kantor mulai sepi. Sebagai staf biasa yang menyembunyikan identitas istri pemilik, aku tidak ingin menimbulkan kecurigaan jika terlihat pulang bersamaan dengan Erlan. Namun hujan seolah mengerti kekhawatiranku, ia tak kunjung mereda bahkan saat petir mulai menyambar bergemuruh di kejauhan.
Aku berdiri di depan pintu keluar kantor, memeluk tubuhku yang mulai merinding. Jalan raya di bawah sana penuh dengan kemacetan yang tak berujung, taksi pun tak satupun yang berhenti. Rambutku yang terurai panjang kini terasa berat seolah sudah menyerap kelembapan udara, ujungnya jatuh rapi di bahu namun tak bisa menahan rasa dingin yang mulai merayap ke dalam tulang.
Tepat saat aku hendak kembali masuk ke lobi untuk menunggu reda, sebuah mobil hitam mewah meluncur pelan berhenti tepat di hadapanku. Pintu penumpang terbuka perlahan, dan aroma wangi khas kayu cendana yang sangat kukenal menyelinap keluar bersamaan dengan suara berat yang lembut:
"Masuklah. Tidak ada gunanya menunggu di sini sendirian."
Erlan duduk di dalam, jas kerjanya sudah dilepas dan digantung rapi di samping, kemeja putihnya digulung hingga siku memperlihatkan pergelangan tangan yang tegap. Aku sempat ragu sejenak, tapi melihat hujan yang makin tak kenal ampun dan langit yang makin gelap, aku akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih," ucapku pelan sambil menutup pintu rapat. Suasana di dalam mobil hangat dan nyaman, kontras sekali dengan udara dingin yang baru kutinggalkan.
Sepanjang perjalanan awalnya hening. Hanya suara hujan yang menghantam atap mobil dan bunyi pelan mesin yang memecah keheningan. Erlan menyetir dengan tenang, matanya menatap lurus ke depan, namun sesekali ia melirikku sekilas dari sudut mata seolah memastikan aku tidak kedinginan. Aku menatap ke luar jendela yang perlahan berkabut karena perbedaan suhu, menonton dunia luar yang bergerak buram di balik butiran air yang meluncur turun.
"Kau takut petir?" tanyanya tiba-tiba memecah keheningan saat sebuah guntur menggelegar cukup keras.
Aku sedikit terkejut, lalu menggeleng pelan. "Dulu tidak. Tapi setelah kejadian malam itu... saat hujan deras membasahi jalan tempat aku kecelakaan... setiap kali hujan turun sehebat ini, rasanya seperti mengingatkan kembali pada detik-detik terakhirku."
Erlan mengerem pelan saat lampu lalu lintas berubah merah, lalu menoleh sepenuhnya ke arahku. Tatapannya yang biasanya tajam dan dingin kini terlihat begitu lembut dan penuh pengertian. "Aku tahu. Aku juga merasakannya. Saat hujan turun seperti ini, aku selalu teringat bagaimana rasanya berlari mengejarmu dalam kegelapan, namun tetap terlambat."
Suaranya bergetar sedikit di akhir kalimat, sesuatu yang jarang sekali kulihat darinya. Hatiku terasa tersentuh hebat. Selama ini aku mengira hanya aku yang terbayang-bayang oleh kenangan menyakitkan itu, ternyata dia juga membawa beban yang sama beratnya bahkan mungkin lebih berat karena dia menyaksikan semuanya tanpa mampu mencegah.
Lampu berubah hijau, tapi Erlan tidak langsung melaju. Hujan ternyata semakin deras hingga jalanan utama yang kami lewati kini tergenang air cukup tinggi. Beberapa kendaraan di depan kami sudah berhenti karena takut mesin mati terendam banjir. Dalam sekejap, kami pun ikut terjebak dalam kemacetan yang tak berujung.
Erlan mematikan mesin sebentar untuk menghemat bahan bakar, lalu menyalakan lampu kabin yang remang-remang. Kini jarak di antara kami terasa begitu dekat, namun tidak lagi kaku seperti dulu. Kaca jendela yang berkabut perlahan menyembunyikan kami dari pandangan dunia luar, seolah hanya tersisa kami berdua di dalam ruang kecil yang hangat itu.
"Kau ingat saat kita masih kecil?" tanyanya tiba-tiba, matanya menatap butiran air yang meluncur di kaca jendela seolah melihat kembali masa lalu. "Kau pernah terjebak hujan di halaman sekolah dan tidak ada yang menjemputmu. Kau duduk sendirian di bawah atap kanopi sambil menangis memeluk lutut. Aku berdiri di balik gerbang sekolah, membawa payung, tapi aku tidak berani mendekat. Aku hanya menyerahkannya pada penjaga sekolah dan memintanya memberikannya padamu."
Aku terbelalak tak percaya. Ingatan itu masih sangat jelas dalam ingatanku. "Jadi itu darimu? Selama ini aku kira itu kebaikan acak dari salah satu guru yang lewat. Aku selalu bertanya-tanya siapa yang begitu baik padaku saat itu."
Erlan tersenyum tipis, senyum yang begitu tulus dan menghangatkan hati. "Aku selalu ada di dekatmu, Dian. Hanya saja aku terlalu takut untuk mendekat. Aku takut kehadiranku hanya akan membawa masalah padamu, atau takut kau akan menolakku."
Angin dingin bertiup menerpa jendela, membuatku tak sadar menggigil sedikit. Tanpa banyak bicara, Erlan mengambil jaket tebal yang tersimpan di jok belakang, lalu perlahan menyelimutkannya ke bahuku. Tangannya sempat menyentuh bahuku sekilas, dan rasa hangat itu menjalar seketika ke seluruh tubuhku.
"Terima kasih," bisikku lagi, kali ini suaraku terdengar lebih lembut.
"Kau tidak perlu berterima kasih untuk hal yang seharusnya kulakukan sejak lama," jawabnya pelan. "Perjanjian kontrak itu hanya awalnya. Sejak hari pertama aku melihatmu kembali berdiri tegak di hadapanku dengan tatapan yang berbeda, aku tahu hatiku tidak akan pernah bisa kembali dingin padamu."
Hujan seolah ikut merasakan perubahan suasana di antara kami. Derasnya perlahan mereda menjadi rintik halus, namun masih cukup untuk memisahkan kami dari keramaian dunia luar. Jarak yang dulu terasa begitu jauh karena status, rahasia, dan rasa takut, kini perlahan runtuh di dalam mobil yang hangat itu.
Aku memberanikan diri menatapnya lekat-lekat. "Masihkah kau berpikir kita hanya terikat perjanjian? Setelah semua yang kita lalui, setelah kau tahu aku membawa kenangan masa lalu yang sama menyakitkannya..."
Erlan mengangkat tangannya perlahan, menyelipkan helaian rambutku yang basah sedikit ke belakang telingaku dengan sentuhan yang begitu hati-hati, seolah aku adalah barang paling berharga yang pernah ia miliki.
"Kita tidak lagi terikat pada kertas atau janji yang dibuat karena keadaan," ucapnya mantap namun penuh perasaan. "Kita terikat oleh takdir yang memberi kesempatan kedua, terikat oleh rasa yang tumbuh diam-diam selama bertahun-tahun, dan terikat oleh janji yang tak terucapkan: bahwa kali ini kita tidak akan melepaskan satu sama lain apa pun yang terjadi."
Di luar hujan masih turun, namun di dalam mobil itu terasa lebih hangat dari sebelumnya. Tidak ada lagi topeng dingin yang ia pakai, tidak ada lagi rasa ragu yang aku sembunyikan. Di balik kabut tipis di kaca jendela dan suara rintik hujan yang menenangkan, kami akhirNya berani mengakui apa yang sebenarnya sudah ada di antara kami sejak lama.
Saat mobil perlahan bisa melaju kembali saat air mulai surut, rasanya tidak ada lagi jarak yang memisahkan kami. Perjalanan pulang yang semula terasa panjang dan berat kini terasa begitu singkat, karena aku tahu di ujung jalan itu, aku tidak lagi sendirian. Dan di setiap guyuran hujan yang akan datang nanti, aku tahu ada seseorang yang akan selalu siap memberikan payungnya, bahkan sebelum aku sempat memintanya.