Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Dipisahkan
Alena berdiri di sisi tempat tidur, menatapnya waspada. “Silakan, Jenderal.”
Kael menegakkan tubuh. “Kami sudah memeriksa jejak Lira. Dayang itu memang dayang pribadi Putri Seana. Dari kesaksian dayang lain dan catatan yang kami temukan di kamarnya… dugaan sementara mengarah pada Putri Seana sebagai orang yang memberi perintah.”
Alena terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi wajahnya tetap tenang. “Seana…” gumamnya pelan.
Kael mengangguk. “Lira memilih bunuh diri daripada menyebutkan nama. Tapi pola perintah, waktu kejadian, dan hubungan dekat mereka terlalu mencurigakan untuk diabaikan. Saya sudah mengumpulkan bukti awal dan akan menyerahkannya ke dewan. Namun… saya rasa Yang Mulia perlu tahu lebih dulu.”
Alena menatap Raka yang masih tertidur, lalu kembali pada Kael. “Apakah bukti itu cukup untuk menuntutnya?”
“Belum sepenuhnya,” jawab Kael jujur. “Masih butuh konfirmasi tambahan. Tapi arahnya sudah jelas. Saya akan terus mengawasi gerakan Putri Seana dan Ibu Suri. Mereka tidak akan tinggal diam setelah Lira gagal.”
Alena menghela napas panjang. “Terima kasih sudah memberitahu saya, Jenderal. Lanjutkan penyelidikanmu. Dan… perketat penjagaan di kamar ini. Saya tidak ingin ada percobaan kedua.”
Kael memberi hormat dalam. “Dengan nyawa saya, Yang Mulia. Saya juga sudah memerintahkan prajurit terpercaya untuk berjaga di koridor. Tidak ada dayang atau siapapun yang boleh masuk tanpa izin saya atau Anda.”
Dia menoleh sekali lagi ke arah Raka. “Semoga Yang Mulia Raja segera sadar. Istana sedang tidak baik-baik saja.”
Setelah Kael keluar, Alena duduk kembali di tepi tempat tidur. Dia memegang tangan Raka, ibu jarinya mengusap punggung tangan pria itu pelan. “Seana… Ibu Suri…” bisiknya, suara rendah. “Mereka benar-benar tidak akan berhenti.”
Di luar jendela, kabut abadi bergolak pelan. Ancaman dari dalam istana kini terasa lebih dekat daripada ancaman dari pemberontak di luar tembok. Dan Alena tahu, dia harus lebih waspada dari sebelumnya.
Keesokan harinya, pagi masih belum sepenuhnya terang ketika ketukan tegas terdengar di pintu kamar Raka. Alena yang sedang mengganti balutan luka Raka langsung menoleh. Dia membuka pintu, dan di luar sudah berdiri beberapa petugas dewan bersama dua dayang senior, serta Putri Seana yang berdiri di belakang dengan wajah tenang namun penuh kemenangan.
Salah satu petugas dewan melangkah maju, membawa surat bersegel. “Yang Mulia Ratu Alena, berdasarkan keputusan dewan istana yang disetujui dini hari tadi, demi menjaga kehormatan kerajaan dan adat yang berlaku… Anda diwajibkan pindah dari kamar Yang Mulia Raja segera.”
Alena membeku. “Apa?”
Petugas itu melanjutkan tanpa ekspresi. “Status pernikahan Anda dan Yang Mulia Raja belum disahkan secara resmi. Tinggal serumah dalam satu kamar dianggap tidak pantas dan dapat menimbulkan fitnah. Anda akan dipindahkan ke Paviliun Tamu di sayap timur. Segala keperluan merawat Yang Mulia Raja akan digantikan oleh dayang yang ditunjuk dewan… dan Putri Lilina yang telah menawarkan diri.”
Seana tersenyum tipis di belakang. “Ini demi kebaikan bersama, Alena. Jangan buat masalah.”
Alena menatap mereka satu per satu, lalu menoleh ke arah Raka yang masih terbaring tidak sadar. Tangannya gemetar. “Saya yang merawatnya sejak awal. Dia masih lemah. Saya tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”
“Keputusan sudah final,” jawab petugas dewan tegas. “Jika Anda menolak, dewan berhak menggunakan kekuatan untuk memindahkan Anda. Jangan sampai memaksa kami bertindak kasar di depan Yang Mulia Raja.”
Alena terdiam lama. Dia tahu melawan sekarang hanya akan memperburuk keadaan, terutama dengan Raka yang masih tidak berdaya. Akhirnya, dengan langkah berat, dia kembali ke sisi tempat tidur. Dia merapikan selimut Raka, memegang tangan pria itu sebentar, lalu berbisik pelan, “Maaf… aku terpaksa pergi dulu. Tapi aku tidak akan menyerah.”
Dia mengecup punggung tangan Raka singkat, lalu berdiri. Tanpa menatap Seana, Alena mengambil tas kecilnya dan keluar dari kamar diiringi petugas dewan.
Pintu kamar Raka ditutup di belakangnya. Seana berdiri di ambang pintu, menatap punggung Alena yang menjauh. Senyumnya semakin lebar. “Selamat tinggal… untuk sementara,” gumamnya pelan.
Di koridor, Alena berjalan dengan wajah datar, tapi jari-jarinya mencengkeram kain gaun hingga memutih. Paviliun Tamu di sayap timur terasa sangat jauh dari kamar Raka. Kali ini dia benar-benar dipisahkan dari pria yang ingin dilindunginya.
Paviliun Tamu di sayap timur terasa dingin dan sepi. Alena berdiri di tengah ruangan yang luas namun kosong. Perabotannya mewah, tirai beludrunya tebal, tapi tidak ada jejak kehadiran Raka sama sekali. Tidak ada aroma obat, tidak ada suara napasnya yang lemah, tidak ada kehangatan yang selama ini dia jaga.
Dayang yang mengantarnya hanya bilang singkat, “Segala keperluan Yang Mulia sudah disiapkan. Jika membutuhkan sesuatu, tarik lonceng.” Lalu mereka pergi, meninggalkan Alena sendirian.
Alena meletakkan tasnya di meja, lalu duduk di tepi tempat tidur. Tangannya masih gemetar. Dia menatap jari manisnya yang masih memakai cincin permata kusam—satu-satunya benda yang menghubungkan dirinya dengan Raka saat ini. “Aku gagal menjagamu…” bisiknya pelan.
Sementara itu, di kamar Raka, suasana sudah berubah total. Putri Lilina masuk dengan langkah lembut, diikuti dua dayang pembawa baskom air hangat dan kain bersih. Seana berdiri di dekat jendela, tersenyum puas menyaksikan. “Mulai sekarang, Lilina yang akan membantu mengawasi kakakku di siang hari,” kata Seana. “Dayang-dayang dewan yang akan digilir di malam hari. Tidak perlu khawatir lagi soal ketidakpantasan.”
Lilina duduk di kursi yang tadi biasa dipakai Alena. Dia mengambil kain basah dan dengan gerakan lembut mengusap dahi Raka. “Yang Mulia… semoga cepat sembuh,” gumamnya pelan, suaranya penuh perhatian.
Seana menatap adegan itu dengan puas. “Jauh lebih pantas, bukan? Setidaknya sekarang tidak ada pengkhianat yang berkeliaran di sisi kakakku.”
Di sayap timur, Alena tidak bisa tinggal diam terlalu lama. Dia berdiri, berjalan bolak-balik di dalam paviliun, memikirkan cara untuk kembali. Keputusan dewan sudah dikeluarkan, Ibu Suri dan Seana jelas di balik semua ini, dan Lilina—dengan sikap lembutnya—justru menjadi senjata yang paling sulit dilawan.
Tiba-tiba ketukan pelan terdengar. Jenderal Kael masuk setelah diizinkan. Wajahnya tampak bersalah. “Yang Mulia Ratu… saya baru mendengar keputusan itu. Saya tidak sempat mencegah.”
Alena menatapnya. “Apakah Raka sudah sadar?”
Kael menggeleng. “Belum. Tapi detak jantungnya lebih stabil sejak semalam. Luka-lukanya juga menunjukkan tanda membaik.”
Alena menghela napas lega sedikit, lalu menunduk. “Mereka berhasil memisahkan kami dengan alasan adat. Saya tidak bisa melawan dewan sendirian.”
Kael terdiam sejenak, lalu berbicara lebih rendah. “Saya tetap bisa mengatur agar Anda bisa melihat Yang Mulia Raja… diam-diam. Tapi risikonya besar. Jika ketahuan, Ibu Suri akan memakai itu sebagai alasan untuk menghukum Anda lebih jauh.”