NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26. LEBIH SULIT DITEBAK

BAB 26. Lebih sulit Ditebak

Entah sejak kapan, Hagia akhirnya menyerah pada rasa penasaran. Bahkan rasa kantuk pun tidak ia lawan. Percakapan mereka yang semula mengalir perlahan berubah menjadi keheningan. Diiringi alunan musik instrumental yang diputar pelan, kelopak matanya semakin berat hingga tanpa sadar ia tertidur dengan kepala bersandar pada sandaran kursi.

Kalandra melirik sekilas ke arah kursi penumpang. Senyum tipis kembali muncul di sudut bibirnya.

Ia menurunkan sedikit volume musik, lalu memperlambat laju mobil ketika memasuki jalan pegunungan yang berkelok. Sesekali pandangannya beralih kepada Hagia yang tertidur semakin pulas. Perjalanan panjang itu rupanya benar-benar menguras tenaga wanita di sampingnya.

Hampir satu jam kemudian, mobil akhirnya berhenti. Mesin dimatikan. Namun, Kalandra tidak langsung membangunkan Hagia. Ia membuka pintu lebih dulu, mengambil tas perjalanan dari bagasi, lalu berdiri beberapa saat menikmati udara pegunungan yang sejuk. Ia bahkan, tak membangun dulu wanita yang tertidur di kursi penumpang. Seperti halnya Hagia yang tertidur karena lelah dengan perjalanan, Kalandra pun merasakan kelelahan setelah berjam-jam mengemudi.

"Ini di mana? Kita sudah sampai?"

Suara itu terdengar pelan.

Dari dalam mobil, wanita itu menggeliat kecil sebelum membuka mata perlahan.

Barulah Kalandra kembali membuka pintu di sisi penumpang.

"Ayo keluar dulu, nggak baik tidur lama-lama di dalam mobil."

Hagia mengusap pelan sudut matanya, lalu turun dari mobil. Baru dua langkah berjalan, gerakannya langsung terhenti. Hamparan perbukitan hijau membentang sejauh mata memandang. Awan putih menggantung rendah, seolah dapat disentuh dengan tangan. Udara yang dingin membawa aroma pinus dan tanah basah, membuat napas terasa jauh lebih ringan dibandingkan udara kota yang selama ini ia hirup. Untuk beberapa detik, Hagia hanya berdiri mematung.

"Indahnya..." Bisikan itu keluar begitu saja dari bibirnya.

Kalandra tidak menjawab. Sejak awal, ia memang datang ke tempat ini untuk melihat ekspresi itu.

Hagia masih beberapa kali menoleh ke arah lembah di belakangnya ketika mengikuti langkah Kalandra menuju bangunan kayu yang menjadi tempat penerimaan tamu. Ukurannya tidak besar. Dinding dan lantainya seluruhnya terbuat dari kayu, sementara beberapa pot tanaman gantung menghiasi teras depan.

Seorang pria paruh baya yang sedang menyapu halaman segera menghentikan pekerjaannya ketika melihat mereka datang.

"Selamat siang."

Kalandra membalas sapaan sambil sedikit membungkuk.

"Saya ada reservasi atas nama Kalandra."

Pria itu mengangguk ramah, lalu masuk ke balik meja resepsionis sederhana. Ia membuka sebuah buku besar yang tampaknya masih digunakan untuk mencatat seluruh tamu secara manual. Jemarinya berhenti pada salah satu halaman. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah sedikit canggung.

"Maaf, Pak."

Kalandra mengangkat pandangan.

"Ada masalah?"

"Villa yang Bapak pesan semalam tertimpa batang pohon."

Hagia spontan menoleh. "Rusak?"

"Atapnya rusak cukup parah." Pria itu mengangguk meminta maaf. "Kami benar-benar minta maaf karena kejadiannya mendadak."

Suasana menjadi hening beberapa saat. "Kami sebenarnya masih punya satu villa kosong," lanjut pria itu pelan. "Tetapi..."

"Tetapi?"

"Ukurannya jauh lebih kecil."

Kalandra belum menjawab.

"Kalau Bapak dan Ibu tidak keberatan, saya bisa antarkan melihatnya dulu."

"Baik."

Pria itu segera mengambil sebuah kunci yang tergantung di dinding.

Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak yang menurun perlahan menuju bagian paling ujung kawasan villa. Semakin jauh melangkah, suasana justru semakin tenang. Tidak terdengar suara kendaraan. Hanya desir angin dan suara burung dari kejauhan.

Beberapa menit kemudian, langkah mereka berhenti di depan sebuah bangunan kayu sederhana. Villa itu jauh lebih kecil dibanding bangunan lain yang sempat dilihat Hagia dari area parkir. Seluruhnya terbuat dari kayu dan bambu.

Beranda kecil menghadap langsung ke lembah. Tidak ada pagar. Tidak ada bangunan lain di dekatnya.

Hanya hamparan hijau yang membentang luas.

"Ini villanya."

Pria itu membuka pintu. Ruangan di dalamnya sederhana. Hanya terdapat sebuah tempat tidur besar, dua kursi rotan kecil di dekat jendela, sebuah lemari kayu, serta lampu gantung berwarna kuning hangat. Tidak ada ruang tamu, tidak ada dapur, tidak ada sekat. Hagia tanpa sadar melirik ke kanan dan kiri.

"Lalu..." Ia kembali menoleh kepada pria itu. "Kamar mandinya?"

Pria itu tersenyum. "Di luar, Bu."

Ia menunjuk sebuah bangunan kecil beberapa meter dari villa.

"Semua tamu di kawasan ini memang menggunakan kamar mandi terpisah."

Hagia mengangguk pelan. Ia belum sempat mengatakan apa pun ketika pria itu kembali membuka suara.

"Maaf sebelumnya..." Tatapannya bergantian mengarah kepada Hagia dan Kalandra. "Kalian..."

Ia berhenti sejenak. "Suami istri, kan?"

Hagia sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. "Iya..." jawabnya ragu.

Pria itu tersenyum lega. "Syukurlah."

"Memangnya kenapa?" tanya Hagia.

"Maaf, Bu." Nada suaranya tetap sopan. "Di sini kami tidak menerima tamu laki-laki dan perempuan yang bukan pasangan sah untuk menginap dalam satu villa."

Kalimat itu membuat Hagia membeku. Ia baru menyadari bahwa villa kecil ini hanya memiliki satu tempat tidur. Belum sempat ia berpikir mencari alasan, sebuah tangan hangat perlahan merangkul bahunya. Gerakan itu begitu alami hingga Hagia refleks menoleh. Kalandra berdiri di sampingnya dengan ekspresi setenang biasanya.

"Kami memang suami istri." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada datar. "Pengantin baru."

Hagia membulatkan mata.

Belum selesai sampai di situ. "Kami sengaja datang ke sini untuk bulan madu."

Kalimat itu hampir membuat Hagia tersedak oleh ludahnya sendiri. Ia menoleh cepat ke arah Kalandra. Bulan madu? Sejak kapan perjalanan ini berubah menjadi bulan madu? Namun, melihat pemilik villa yang langsung tersenyum lega, Hagia hanya mampu memaksakan senyum kecil.

"Iya..." katanya pelan sambil mengangguk. "Betul."

"Syukurlah." Pria itu tampak benar-benar lega. "Kalau begitu saya siapkan villanya."

Begitu pemilik villa berjalan menjauh, Hagia langsung menoleh tajam ke arah Kalandra. Dengan suara yang ditahan agar tidak terdengar orang lain, ia berbisik,

"Tuan..."

"Hm?"

"Sejak kapan perjalanan dinas ini menjadi bulan madu?"

Kalandra menatapnya sekilas, lalu menjawab setenang biasanya.

"Sejak... kita hampir tidak dapat tempat untuk menginap."

Hagia hanya mampu menghela napas panjang. Ia mulai menyadari satu hal. Perjalanan ini, sepertinya akan jauh lebih sulit ditebak daripada yang pernah ia bayangkan.

Pemilik vila kembali beberapa menit kemudian sambil membawa seikat kunci dan dua gelas minuman hangat.

"Silakan diminum dulu, Pak, Bu. Teh serai. Baru dipetik dari kebun."

"Terima kasih," ucap Hagia sambil menerima gelas itu.

Pria paruh baya tersebut tersenyum ramah.

"Kalau ada yang dibutuhkan, kafe ada di atas sana." Ia menunjuk sebuah bangunan kayu yang berdiri sekitar lima puluh meter dari vila mereka. "Sarapan, makan siang, sama makan malam semuanya di sana."

"Kami mengerti," jawab Kalandra.

"Kalau begitu saya pamit."

Setelah pria itu pergi, suasana kembali sunyi. Hanya terdengar desir angin yang memainkan dedaunan pinus. Hagia masih berdiri di beranda sambil memegang gelas teh hangat. Matanya kembali mengarah ke hamparan lembah yang membentang luas di depan vila.

"Masih kesal?" Suara Kalandra terdengar dari belakang.

Hagia tidak langsung menjawab.

Ia meniup pelan permukaan tehnya sebelum berkata, "Sedikit."

"Kata orang, udara pegunungan bisa menghilangkan rasa kesal."

"Itu juga teori Tuan?"

"Iya," jawabnya yakin sambil mengangguk.

Hagia terkekeh pelan.

"Sejak kapan jadi theorist?"

"Setiap kali dibutuhkan."

Kalandra mendekatkan ujung cangkir ke bibirnya. Merasakan kepulan hangat dari seduhan tehnya.

Gelengan kecil kembali muncul di kepala Hagia. "Kalau begitu, kapan-kapan saya juga mau bikin teori sendiri."

"Coba saja kalau bisa."

"Saya sudah menemukan teori cara membuat seorang CEO supaya tidak irit bicara."

Kalandra mengangkat sebelah alis.

"Caranya?"

Hagia menatapnya sambil tersenyum tipis. "Kerasukan."

Kalandra langsung mendelik. Lalu bicara pelan seperti berbisik. "Hati-hati, jangan asal bicara di tempat seperti ini."

Senyum di wajah Hagia perlahan memudar. Ia refleks menoleh ke sekeliling. Deretan pohon pinus yang sejak tadi terlihat indah, mendadak terasa sedikit menyeramkan. Angin pegunungan berembus pelan, membuat dedaunan bergesekan dan menimbulkan suara lirih yang entah mengapa membuat bulu kuduknya meremang.

"Tuan... jangan bercanda begitu."

Kalandra tidak menjawab. Ia hanya melangkah masuk ke dalam vila.

Melihat pria itu sudah berjalan menjauh, Hagia spontan mempercepat langkah.

"Eh... tunggu."

Ia hampir menabrak punggung Kalandra karena terlalu cepat mengejarnya.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!