NovelToon NovelToon
Semar Mesem

Semar Mesem

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Bab 11

Malam harinya. Kamar tidur Lusi di rumah Ki Sarowang.

Kamar itu kecil, hanya berisi dipan kayu, lemari tua, dan cermin oval yang menggantung di dinding. Tapi kamar ini adalah kamar yang sama yang ditempati Lusi setiap kali ia mengunjungi kakek buyutnya semasa kecil. Kamar ini tidak berubah. Masih sama. Masih ada coretan pensil di dinding yang ia buat waktu umur tujuh tahun.

Lusi duduk di atas dipan, kitab Semar Mesem terbuka di pangkuannya. Ia sudah membaca halaman pertama selama satu jam. Bukan karena sulit. Tapi karena ia ingin memastikan ia memahami setiap kata, setiap makna, setiap konsekuensi.

"Semar Mesem adalah ilmu pengasihan paling tinggi di tanah Jawa. Tidak seperti pelet biasa yang hanya mengikat nafsu, Semar Mesem mengikat jiwa. Korban tidak hanya jatuh cinta ia akan kehilangan dirinya sendiri. Ia akan menjadi perpanjangan dari kehendak sang pengirim."

Lusi membaca kalimat itu berulang-ulang.

Kehilangan dirinya sendiri.

Irawan akan kehilangan dirinya sendiri. Laki-laki populer itu. Laki-laki dengan lesung pipi dan senyum mematikan itu. Akan menjadi boneka. Boneka Lusi.

Tangannya mengepal di atas kitab. Kuku-kukunya yang sudah mulai panjang karena tidak terawat menancap di telapak tangan. Sakit. Tapi tidak sesakit malam itu.

"Persiapan ritual:"

"1. Puasa mutih 3 hari (hanya nasi putih dan air putih)"

"2. Puasa pati geni 1 hari 1 malam (tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak bicara)"

"3. Mandi kembang 7 rupa di tengah malam"

"4. Membakar kemenyan dan dupa cendana"

"5. Menyiapkan foto target"

"6. Membaca mantra pada tengah malam, saat bulan suro"

Dan di bagian bawah halaman, ada catatan dengan tinta merah:

"PERINGATAN: Ritual ini tidak bisa dibatalkan. Jangan memulai jika kau tidak siap menanggung akibatnya."

Lusi menutup kitab itu.

Ia sudah siap.

Pendopo. Malam hari yang sama.

Sementara Lusi membaca kitab di kamarnya, Ki Sarowang duduk sendirian di pendopo. Kopinya sudah dingin. Dupa di sudut sudah habis terbakar. Angin malam bertiup kencang, membuat bambu-bambu di sekitar rumah bergesekan dan menciptakan simfoni yang merdu sekaligus mencekam.

Di tangannya, ia memegang sebuah benda kecil.

Liontin perak bergambar matahari dengan tujuh sinar. Liontin yang sama yang dulu dikenakan Lusi, yang dilempar Irawan ke lantai kamar hotel. Liontin itu ditemukan oleh Bi Tun di dasar ransel Lusi, terselip di antara lipatan baju.

Ki Sarowang menatap liontin itu lama.

“Iki wes dimulai.”

(Ini sudah dimulai,)

Bisiknya pada dirinya sendiri.

“Genine wes murup.”

(Api itu sudah bangun.)

Ia mendongak ke langit malam. Bulan hampir purnama. Tinggal tiga hari lagi.

Dan di bawah bulan itu, ia berbisik entah pada dirinya sendiri, entah pada arwah leluhurnya, entah pada alam semesta:

"Maafkan aku, Nduk. Maafkan Mbah yang tidak bisa melindungimu. Tapi Mbah janji... mereka yang menyakitimu akan merasakan apa yang kau rasakan. Sepuluh kali lipat. Seratus kali lipat."

Angin berhenti bertiup.

Dan di kamarnya, Lusi membuka halaman pertama kitab Semar Mesem.

Tiga hari kemudian. Malam satu suro.

Ritual pertama dimulai.

Puasa mutih.

Rumah Ki Sarowang. Pagi hari setelah kemarin Lusi tiba.

Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Lusi terbangun. Udara di lereng Gunung Lawu begitu dingin sampai napasnya berubah jadi kabut putih setiap kali ia mengembuskan napas. Di luar jendela kamarnya, kabut masih bergelantungan di antara pohon-pohon pinus, menciptakan pemandangan seperti negeri dongeng yang sunyi dan damai.

Tapi tidak ada yang damai di dalam hati Lusi.

Ia duduk di tepi dipan, kedua kakinya menggantung. Lantai ubin tanah liat terasa dingin menyentuh telapak kakinya yang telanjang. Matanya menatap kosong ke cermin oval di dinding cermin yang sama yang dulu ia gunakan untuk berkaca setiap kali mengunjungi kakek buyutnya. Dulu, yang memantul di cermin itu adalah wajah seorang gadis kecil yang penuh tawa. Sekarang, yang memantul adalah wajah seorang perempuan yang matanya sudah kehilangan cahayanya.

Tok tok tok.

"Nduk? Kamu udah bangun?"

Suara Bi Tun dari balik pintu. Lembut. Hati-hati. Seperti berbicara pada anak rusa yang baru terluka.

"Udah, Bi."

Pintu dibuka pelan. Bi Tun masuk dengan nampan kecil di tangannya di atasnya ada segelas air putih dan sepiring nasi putih yang masih mengepul. Porsinya sedikit. Cuma tiga kepal nasi, persis seperti yang diperintahkan kitab.

"Ini sarapan kamu, Nduk. Mbah Buyut yang nyuruh. Katanya... kamu mulai hari ini?"

Lusi menatap nasi putih itu. Tidak ada lauk. Tidak ada garam. Hanya nasi putih dan air putih. Itu akan menjadi makanannya selama tiga hari ke depan. Tidak lebih. Tidak kurang.

"Iya, Bi. Mulai hari ini."

Bi Tun meletakkan nampan di meja kecil dekat dipan. Ia berdiri di sana, menatap Lusi dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kasihan, khawatir, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang mirip dengan rasa hormat.

"Kamu yakin, Nduk? Bi Tun nggak ngerti soal ilmu-ilmu gini, tapi... puasa mutih tiga hari itu berat. Apalagi buat kamu yang..."

"Yang apa, Bi?"

Bi Tun ragu sejenak. "Yang... habis sakit."

Maksudnya bukan sakit fisik. Lusi tahu itu. Bi Tun berbicara tentang luka di dalam dirinya. Luka yang masih menganga, masih berdarah, masih terasa perih setiap kali ia mengingat wajah-wajah itu.

"Aku nggak sakit, Bi." Lusi bangkit dari dipan, berjalan ke meja, dan duduk di depannya. "Aku cuma... lapar."

"Lapar?"

"Lapar akan sesuatu yang bukan makanan."

Bi Tun tidak mengerti. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengusap pundak Lusi dengan tangan keriputnya yang hangat, lalu berbalik dan keluar kamar.

Lusi menatap nasi putih di hadapannya. Ia mengambil satu kepal, mengepalkannya di tangan kanan, dan membawanya ke mulut. Rasa pertama yang menyentuh lidahnya adalah... hambar. Tidak ada rasa. Hanya tekstur pulen yang lembut.

Tapi ia mengunyahnya pelan-pelan. Sangat pelan. Seperti sedang bermeditasi dengan makanannya.

Niat ingsun poso mutih…

Mantra itu terngiang di kepalanya, meski ia belum membacanya dengan suara keras. Kitab mengatakan, niat puasa mutih harus diucapkan dalam hati setiap kali makan. Niat untuk membersihkan diri. Niat untuk menyucikan energi. Niat untuk mempersiapkan tubuh menjadi wadah bagi ilmu yang akan datang.

Tiga kepal nasi. Tiga kali kunyahan panjang. Tiga kali tegukan air putih.

Itu saja.

Selama beberapa hari kedepan.

\[BERSAMBUNG…\]

1
Wawan
Kembang buat Lusi 😄
Wawan
Manfaatkan Lus .... 🤣🤣🤣
Wawan
iklan buat mu Thor ✍️
Wawan
2 mawar buatmu Thor ✍️
Wawan
Zombie 🤣
Wawan
Iklan dan mawar buat Semar mendem 🤣🤣🤣
Wawan
Cepat pulih Thor 👍✍️
Dhatu Lukita: terimakasih ❤️
total 1 replies
Dhatu Lukita
Halo, semuanya! 🥰

Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.

Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
Wawan
Wah ngeri 🤭
Dhatu Lukita
semangat aku dewe🤭🫰
Wawan
Lah kok pakai jilbab 😄🤭
Wawan
iklan dan mawar buat Lusi 😍😄
Wawan
Ngeri juga nih si Lusi 😄💪
Alis Yudha
Thor,Semar mesem sama jaran goyang apa sama ya🤔?🤭
Dhatu Lukita: halo kak, sama2 'ilmu pengasihan' tapi berbeda cara pengamalannya kak kurang lebih 🙏
total 1 replies
Wawan
/Rose/
Firmahadi
izin mampir kak
Wawan
Setangkai mawar buatmu Thor 💪
Dhatu Lukita: terimakasih banyak 😍❤️💪💪
total 1 replies
Wawan
Iklan. buat Lusi 🤭
Wawan
Jam dinding 👍
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
💃🏻 Apa salah lan dosaku, sayang? 🥺
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻‍♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!