Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Bau Obat dan Batas Patah Hati
Lobi Rumah Sakit Swasta di kawasan Jakarta Pusat itu beraroma antiseptik yang tajam. Suasana sore hari terasa begitu sunyi, hanya dipecah oleh bunyi langkah kaki yang teratur di atas lantai marmer yang mengilap. Anya berjalan dengan tas ransel kulit hitam yang bertengger di pundak kanannya. Setelan blazer merah marun dan rok span hitamnya masih melekat rapi, memancarkan siluet tubuh setinggi 165 cm yang proporsional dan seksi. Namun, setiap langkah yang diambilnya terasa seperti menapak di atas duri-duri masa lalu.
Begitu lift membawanya ke lantai lima—area perawatan intensif dan kamar suite eksekutif—Anya menghentikan langkahnya sejenak. Di ujung koridor yang remang-remang, di depan pintu kayu kokoh bernomor 501, berdirilah ibunya, Mirna, bersama Joana.
Mendengar ketukan sepatu hak tinggi, kedua wanita itu menoleh bersamaan.
"Anya..." suara Mirna tercekat. Wanita paruh baya yang dulu selalu berpenampilan glamor itu kini tampak rapuh dengan mata yang bengkak. Dia langsung berlari kecil dan memeluk tubuh Anya erat-erat, menumpahkan tangisnya di bahu sang putri bungsu. "Kamu pulang, Sayang... Kamu beneran pulang..."
Anya mematung dalam dekapan ibunya. Tangan kirinya menggantung kaku di sisi tubuh, menolak untuk membalas pelukan tersebut. Perisai dingin di wajah cantiknya mengeras sempurna. Sesaat kemudian, dia melepaskan dekapan Mirna secara perlahan namun tegas.
"Anya ke sini karena tugas presentasi di kantor pusat sudah selesai untuk hari ini, Ma," ucap Anya dengan nada suara baritonnya yang tenang, datar, dan sepenuhnya formal. "Bukan untuk menetap. Bagaimana kondisi Papa?"
Joana melangkah mendekat, menatap adiknya dengan pandangan bersalah yang teramat dalam. "Papa sudah dipindahkan dari ruang ICU dua jam lalu, Anya. Kondisinya sudah melewati masa kritis, tapi kesadarannya masih naik turun. Papa... Papa terus memanggil namamu sejak semalam."
Anya tertawa kecil—sebuah tawa sinis yang memotong keheningan koridor rumah sakit seketika. "Memanggil namaku? Untuk apa? Untuk memastikan bahwa aku sudah menjadi anak mandiri yang tidak lagi merengek seperti sampah egois, sesuai dengan kalimat terakhir Papa setahun yang lalu?"
"Anya, tolong... Papa sedang sakit," bisik Joana lirih, air matanya kembali menetes.
"Aku tahu dia sakit, Kak," potong Anya cepat, matanya yang indah menatap Joana dengan sorot yang teramat kosong. "Tapi sakit fisiknya saat ini tidak akan pernah bisa menghapus fakta bahwa kalian semua pernah sehat walafiat saat membuangku ke Surabaya demi kelangsungan saham triliunan rupiah itu."
Anya melangkah maju, meraih kenop pintu kamar 501. Sebelum dia sempat membukanya, pintu tersebut sudah terbuka dari dalam, menampilkan sosok Edgard Baskoro yang baru saja selesai berbicara dengan dokter spesialis jantung.
Edgard terpaku di ambang pintu. Pria dengan struktur wajah setegas Daniel Henney itu mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga sikut, memperlihatkan jam tangan perak mewahnya. Tatapan mata elangnya yang tajam langsung mengunci pandangannya pada Anya, memancarkan kelegaan yang luar biasa sekaligus rasa penyesalan yang membakar.
"Anya," panggil Edgard, suaranya yang berat terdengar begitu lembut di antara keheningan lorong. "Masuklah. Papamu sedang terbangun."
Anya memberikan satu tatapan dingin pada Edgard, lalu melangkah masuk melewati pria itu begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Di dalam kamar perawatan yang mewah, Bramantyo terbaring lemah dengan berbagai selang medis yang menempel di tubuhnya. Wajah keras yang dulu selalu membentak Anya kini tampak pucat, keriput, dan kehilangan seluruh keangkuhannya. Begitu mendengar suara langkah kaki, mata ringkih Sang Papa perlahan terbuka.
"A-Anya...?" bisik Papa dengan suara yang sangat serak dan terputus-putus. Tangan kanannya yang gemetar mencoba terangkat, bergerak di udara seolah ingin menggapai jemari putri bungsunya.
Anya berdiri di samping ranjang rumah sakit, berjarak sekitar satu meter. Dia tidak mendekat, tidak juga menyambut uluran tangan Papanya. Dia berdiri tegak dengan melipat kedua tangannya di dada, menatap pria yang sekarat itu dengan ketenangan yang membeku.
"Iya, Pa. Ini Anya," jawab Anya, suaranya sedatar es, membekukan seluruh atmosfer kehangatan yang coba dibangun di dalam kamar tersebut. "Anya datang untuk melihat bahwa Papa masih hidup. Dan untuk membuktikan bahwa hukuman pengasingan yang Papa berikan setahun lalu di Surabaya tidak berhasil menghancurkan hidup Anya. Anya sukses di sana karena kemampuan Anya sendiri, bukan karena nama besar Bramantyo."
Mendengar kalimat dingin yang sarat akan luka mendalam dari bibir putrinya, setetes air mata penyesalan perlahan mengalir di pipi keriput Papa. Dia tidak marah, dia tidak lagi membantah. Dia hanya bisa mengangguk lemah dengan tatapan mata yang memohon ampunan.
Edgard yang berdiri di balik punggung Anya bersama Mama dan Joana merasakan dadanya seperti teremas hebat. Air mata pria sedingin es itu kembali menggenang di pelupuk matanya. Dia menyadari, kemandirian dan kekerasan hati Anya saat ini adalah buah dari keegoisan mereka semua di masa lalu.
Anya berbalik setelah dua menit berdiri di sana. Dia menatap Edgard dan keluarganya dengan sepasang mata indahnya yang kosong. "Saya sudah menunaikan permohonan Mama untuk datang. Sekarang, saya harus kembali ke hotel untuk memimpin rapat evaluasi tim Surabaya. Permisi."
Anya melangkah keluar dari kamar perawatan dengan kepala tegak dan keanggunan yang memikat, meninggalkan sisa wangi bunga lili yang misterius di udara kamar yang pengap. Edgard segera melangkah cepat keluar, mengejar punggung Anya yang berjalan menuju lift, bertekad untuk tidak membiarkan wanita itu menghadapi malam sendirian di tengah badai luka yang kembali terbuka di Jakarta.
semangat nulisnya 💪