Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Rencana di Tengah Badai
Udara di dalam kabin terasa berat setelah pengakuan Derek. Viona masih duduk di kursi kayu, tangannya menggenggam erat cincin delima di jarinya. Cincin itu kini terasa berbeda—bukan lagi sekadar pemberian dari suami, melainkan simbol takhta kerajaan yang menjadi incaran para pembunuh.
Derek berdiri di dekat perapian, menatap api yang mulai menyala. Ia tidak berani menatap Viona. Rasa bersalah masih menggantung di pundaknya.
"Aku tahu ini terlalu berat untuk kau terima dalam satu waktu," kata Derek pelan. "Tapi sekarang kau sudah tahu semuanya. Dan kita harus memutuskan langkah selanjutnya."
Viona mengangkat kepalanya. Matanya masih sembab, tetapi tatapannya sudah mulai tegas. "Kau bilang ayahku menyatakan perang. Berapa lama pasukannya bisa sampai di perbatasan?"
"Jika mereka bergerak cepat, tiga minggu lagi mereka sudah berada di gerbang Kerajaan Timur." Derek berjalan mendekat, duduk di kursi di hadapan Viona. "Dewan Raja sedang panik. Mereka mengirim pasukan ke perbatasan, tapi tanpa pemimpin sah, mereka hanya bisa bertahan—bukan menyerang."
"Tapi ada Neil," kata Viona. "Neil adalah pangeran kedua. Bukankah dia yang harus memimpin?"
Derek menggeleng pelan. "Neil sudah kabur. Dewan Raja belum menemukannya. Dan bahkan jika mereka menemukannya, Neil bukanlah pemimpin. Ia tidak pernah dilatih untuk memimpin kerajaan. Sejak kecil, ia hanya diajari untuk menjadi penerima takhta jika sesuatu terjadi padaku."
Viona menghela napas panjang. "Jadi... jika kau tidak kembali, kerajaan akan hancur."
Derek diam. Ia menatap Viona dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jika aku kembali, aku harus meninggalkan kau. Dan kau akan menjadi target Dewan Raja. Mereka akan menggunakanku sebagai alat untuk menghentikan perang."
"Dan jika kau tidak kembali?" tanya Viona.
"Perang akan meletus. Ribuan orang akan mati. Dan Dewan Raja akan terus mencari cincin itu. Mereka tahu cincin itu masih ada, dan mereka akan menemukannya cepat atau lambat."
Viona menatap Derek. Ada banyak hal yang tidak terucapkan di antara mereka. Derek telah memilihnya—demi Viona, ia rela meninggalkan kerajaan. Namun, Viona juga menyadari bahwa cinta mereka tidak bisa menghentikan perang. Ada tanggung jawab yang lebih besar dari sekadar perasaan dua manusia.
"Apa kau mencintai kerajaanmu?" tanya Viona tiba-tiba.
Derek sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Aku... aku tidak tahu lagi. Dulu, sebelum aku pergi, aku mencintainya. Aku ingin menjadi raja yang adil. Aku ingin membangun kerajaan yang sejahtera. Tapi setelah apa yang terjadi pada ibuku, setelah pengkhianatan Dewan Raja, aku tidak lagi memiliki kepercayaan itu."
"Tapi kau masih peduli pada rakyatmu?"
"Tentu saja." Derek menunduk. "Mereka tidak bersalah. Mereka hanya menjadi korban dari permainan politik para bangsawan."
Viona menarik napas dalam. Lalu ia mengambil keputusan yang sulit. "Derek, aku tidak ingin kau mengorbankan kerajaan untukku. Kita harus mencari cara lain. Mungkin... mungkin kita bisa mengembalikan cincin ini ke tangan yang tepat. Atau menemukan Neil. Jika Neil kembali, ia bisa menjadi pemimpin sementara sampai kau siap."
"Tapi Neil kabur. Dan aku bahkan tidak tahu di mana dia."
"Ada orang yang bisa membantumu." Viona menatap Derek. "Renold. Tangan kananmu. Dia pasti bisa mencari Neil."
Derek mengangguk pelan. "Renold sedang di Kerajaan Timur. Aku bisa mengirim surat padanya, memintanya mencari jejak Neil. Tapi itu membutuhkan waktu."
"Kita punya waktu. Tiga minggu." Viona meraih tangan Derek. "Kita bisa melakukan ini, Derek. Bersama-sama."
Derek menatap Viona, dan untuk pertama kalinya, ia melihat tekad yang kuat di mata wanita itu. Viona bukan lagi putri yang lemah yang ia selamatkan dari sungai. Ia telah menjadi wanita yang siap berjuang berdampingan dengannya.
"Baik. Kita akan mencoba." Derek berdiri, berjalan ke meja kayu, dan mengambil selembar kulit dan pulpen. "Aku akan menulis surat untuk Renold. Tapi kita harus mengirimkannya dengan aman. Ada seorang pedagang tua yang sering lewat lembah ini. Dia bisa dipercaya."
Saat Derek sedang menulis, Viona membantu membersihkan meja dan menyiapkan makanan ringan. Suasana di dalam kabin perlahan kembali tenang, meskipun ada kecemasan yang masih menggantung.
Namun, saat matahari mulai condong ke barat, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari luar kabin. Derek langsung menghentikan tulisannya, matanya menyipit.
"Ada seseorang di luar." Derek berdiri, meraih pisau burunya. "Jangan bergerak, Viona. Tetap di sini."
Derek melangkah perlahan menuju pintu. Ia membuka pintu sedikit, mengintip ke luar.
Di halaman depan, berdiri seorang wanita tua dengan keranjang rotan di tangannya. Rambutnya putih, pakaiannya lusuh, tetapi matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia bukan orang sembarangan.
Wanita itu tersenyum saat melihat Derek. "Derek? Kau masih tinggal di sini?"
Derek mengendurkan kewaspadaannya. "Nenek Gita? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku membawa berita, Nak." Wanita tua itu mendekat, matanya memandang Viona yang kini berdiri di ambang pintu. "Dari Kerajaan Timur. Neil telah ditemukan."
Derek dan Viona saling menatap. Jantung mereka berdegup sama kerasnya.
"Di mana dia?" tanya Derek cepat.
"Di sebuah desa nelayan di utara, bersama seorang wanita. Tapi ada yang harus kau ketahui, Derek." Nenek Gita menghela napas. "Neil tidak lari karena cinta. Ia melarikan diri karena ia tahu bahwa kau masih hidup."
Derek terbelalak. "Apa maksudmu?"
"Neil tahu kau tidak mati. Dan ia takut. Karena jika kau kembali, takhta akan kembali padamu. Dan Neil tidak akan pernah menjadi raja." Nenek Gita menatap Derek dengan tatapan penuh makna. "Neil tahu kau melindungi putri itu. Dan ia sengaja mengumumkan kematiannya agar kau tidak punya alasan untuk kembali ke kerajaan. Ia ingin kau tetap hilang, Derek."
Udara di sekitar kabin terasa membeku. Derek mengepalkan tinjunya.
"Neil..." bisik Derek, nadanya penuh amarah dan kecewa.
Viona meraih tangan Derek. "Derek, kita harus menemukan Neil. Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Derek mengangguk. "Tapi sebelumnya, kita harus memastikan kau aman. Nenek Gita, bisakah kau menjaga Viona selama beberapa hari?"
"Tentu, Nak. Tapi jangan terlalu lama." Nenek Gita menatap Viona dengan tatapan hati-hati. "Dunia sedang bergolak, dan kau berada di tengah pusaran itu."
Malam itu, Derek bersiap untuk pergi ke desa nelayan utara. Viona memeluknya erat di depan pintu kabin.
"Hati-hati," bisik Viona. "Aku tidak bisa kehilangan kau."
Derek tersenyum, mencium kening Viona. "Aku akan kembali. Dan kali ini, aku akan membawa kebenaran, bukan rahasia."
Ia menaiki kudanya dan melaju ke dalam malam. Viona berdiri di depan kabin, menatap bayangan Derek yang semakin mengecil di kejauhan. Angin malam bertiup, membawa dingin yang menusuk.
Di sampingnya, Nenek Gita berdiri dengan tatapan penuh makna. "Kau mencintainya, bukan?"
Viona tidak menjawab, tetapi senyuman kecil di bibirnya sudah cukup menjadi jawaban.