NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Firasat yang Terlambat

Keheningan yang mencekam langsung menyergap ruang rapat utama Pratama Tower begitu sang sekretaris menutup pintu di belakangnya. Arka Pratama berdiri terpaku di sisi meja mahoni yang luas, napasnya memburu tidak beraturan, sementara dadanya terasa sesak seolah dihimpit ribuan ton besi. Informasi singkat mengenai Kirana yang datang ke lobi dalam keadaan basah kuyup, insiden dengan Sinta, hingga keputusannya meninggalkan rumah membawa koper berputar-putar di dalam kepalanya seperti kepingan film rusak yang berputar tanpa henti.

"Tuan Arka... apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya sekretaris utamanya dengan suara tercekat, berdiri ragu di dekat ambang pintu melihat betapa kacaunya ekspresi sang CEO muda.

Arka tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya yang gemetar hebat, merogoh saku celana batunya untuk mengambil ponsel pintar flagship miliknya yang sejak siang tadi ia abaikan. Layar benda pipih itu masih gelap gulita. Dengan tergesa-gesa, jemarinya menekan tombol daya untuk menyalakannya.

Begitu sistem menyala dan terhubung kembali dengan jaringan seluler, sebuah keanehan langsung menyambut retinanya.

Notification bar di bagian atas layar ponselnya mendadak dipenuhi oleh ikon-ikon pesan dan panggilan tak terjawab yang menumpuk bagai longsoran salju. Bukan hanya satu atau dua panggilan seperti saat ia menolak telepon Kirana di tengah rapat tadi, melainkan puluhan notifikasi yang masuk secara beruntun dalam rentang waktu satu jam terakhir.

Dahi Arka mengernyit dalam, rasa cemas yang tadinya hanya berupa titik kecil di dada kini mendadak membesar, merambat dingin ke seluruh pembuluh darahnya. Ia membuka daftar panggilan tak terjawab (missed calls).

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat membaca sederet nomor asing yang tertera berulang-ulang, diselingi oleh nomor telepon rumah keluarganya yang ditelepon oleh Bi Inah. Namun, yang paling membuat darah Arka mendadak mendingin hingga ke ujung kuku adalah rentetan panggilan dari nomor dengan awalan kode area rumah sakit pusat kota, serta beberapa pesan teks darurat yang masuk dari nomor-nomor tak dikenal.

Panggilan Tak Terjawab (14)

Panggilan Tak Terjawab (15)

Pesan dari: +62 812-XXXX-XXXX (IGD RSUP Harapan Bangsa)

"Mohon segera hubungi nomor ini perihal keluarga pasien atas nama Kirana Pratama..."

Arka menatap layar ponsel itu dengan mata terbelalak lebar. Suara di sekelilingnya mendadak lenyap, digantikan oleh denging tajam yang menusuk kedua gendang telinganya.

"Tidak... tidak mungkin," gumam Arka dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar.

Ia mencoba mencerna apa yang baru saja ia baca, namun otaknya menolak untuk percaya. Pikirannya langsung melompat pada kejadian siang tadi—pada mobil taksi daring yang dipesan Kirana di tengah badai hujan lebat, pada jalanan ibu kota yang terendam banjir bandang, dan pada bayangan istrinya yang berjalan keluar melalui pintu kaca lobi seorang diri dengan mantel krem yang basah kuyup.

Dengan tangan yang semakin tak terkendali gemetar, Arka langsung menekan tombol panggil balik pada notifikasi teratas dari pihak rumah sakit. Ponsel itu didekatkan ke telinganya, menunggu dalam debar jantung yang menghantam tulang rusuknya begitu keras.

Tut... tut... tut...

Setiap detik dering sambungan terasa seperti duri yang merobek kewarasannya. Di seberang sana, suara latar belakang yang bising oleh bunyi alat medis dan langkah kaki orang panik terdengar samar-samar.

"Halo? Selamat sore, dengan IGD RSUP Harapan Bangsa di sini," sambut suara seorang wanita dengan nada tegas dan terburu-buru di ujung telepon.

"Saya... saya Arka Pratama," potong Arka cepat, suaranya bergetar hebat, menepis segala bentuk kesombongan dan wibawa CEO yang biasa ia tunjukkan pada dunia. "Saya suami dari Kirana Pratama. Ponsel saya baru saja menyala dan saya melihat banyak panggilan dari nomor ini. Ada apa? Di mana istri saya?"

Di ujung sambungan sana, helaan napas panjang terdengar berat sebelum wanita itu kembali berbicara, membawa sebuah kenyataan yang langsung meruntuhkan seluruh dunia Arka dalam satu detik.

"Tuan Arka... kami turut berduka atas apa yang terjadi. Istri Anda, Nyonya Kirana Pratama, baru saja dilarikan ke instalasi gawat darurat oleh ambulans setelah mengalami kecelakaan lalu lintas parah di persimpangan jalan protokol akibat tabrakan dengan kendaraan berat..."

Penjelasan itu meluncur begitu cepat, namun bagi Arka, setiap patah kata terdengar bagai palu godam yang menghantam kepalanya hingga berdengung.

"Kecelakaan...?" Arka terhuyung ke belakang, punggungnya menabrak tepi meja rapat mahoni hingga beberapa map berkas bergeser dan jatuh berserakan di lantai. Matanya menatap kosong ke depan. "Bagaimana keadaannya? Di mana dia sekarang? Saya... saya akan segera ke sana!"

Suara di seberang sana terdiam sejenak, menyisakan jeda yang terasa jauh lebih menyiksa daripada hantaman fisik apa pun.

"Tuan Arka, mohon tenang dan dengarkan saya," suara perawat itu berubah menjadi sangat hati-hati dan penuh empati. "Saat pasien tiba di IGD, kondisinya sudah sangat kritis akibat benturan keras di bagian samping kendaraan yang ditumpanginya. Kehilangan banyak darah serta trauma internal yang dialami membuat tim dokter berusaha semaksimal mungkin, terutama karena kondisi pasien yang sedang dalam masa awal kehamilan... namun..."

Dunia Arka seolah berputar 180 derajat. Seluruh warna di ruangan itu lenyap, menyisakan hitam pekat yang mencekam.

"Namun... apa?" teriak Arka tanpa sadar, air matanya tumpah seketika tanpa bisa ia bendung lagi, merembes jatuh membasahi pipinya yang pucat. "Katakan padaku! Apa yang terjadi pada istriku dan anakku?!"

"Kami sangat menyesal, Tuan. Nyawa pasien Kirana... berhasil diselamatkan setelah melalui prosedur resusitasi yang sangat panjang dan kritis, dan saat ini beliau sedang dipindahkan ke ruang pemulihan intensif... tetapi, benturan hebat dan pendarahan masif membuat kehamilannya tidak dapat dipertahankan. Janin dalam kandungan beliau... tidak berhasil diselamatkan."

BGM...

Ponsel di genggaman Arka terlepas begitu saja dari tangannya, meluncur jatuh dan menghantam lantai marmer ruang rapat dengan suara prang yang nyaring, layar kaca depannya retak berkeping-keping.

Arka jatuh berlutut di atas lantai yang dingin. Kakinya mendapatsurut seluruh kekuatannya, lumpuh seketika oleh beban penyesalan yang teramat berat. Perasaan tidak enak yang sejak tadi mengusik hatinya kini telah berubah menjadi wujud nyata dari sebuah tragedi paling mengerikan yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya.

Di luar jendela ruang rapat, hujan lebat masih menderu menghantam kaca gedung pencakar langit itu, seolah menertawakan kebodohan seorang pria yang baru saja menyadari arti kehadiran seseorang setelah semuanya musnah tak tersisa.

Sekretaris utamanya yang melihat kejadian itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, terpekik ngeri melihat CEO mereka—pria yang selama ini dikenal paling dingin, kaku, dan tidak tersentuh di seluruh Pratama Tower—kini menangis tersedu-sedu di lantai ruang rapat, meratapi kebisuan dan keangkuhan yang telah merenggut separuh nyawa dari keluarganya sendiri.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!