Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Malam Puncak
Jalanan malam itu sepi, hanya suara langkah kakinya sendiri yang bergema di antara rumah-rumah yang sudah gelap, penghuninya lelap tertidur tanpa mengetahui teror apa yang sedang berlangsung di antara mereka. Josh berlari secepat mungkin menuju rumah Brandon, napasnya memburu, pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan terburuk.
Veron sudah menunggunya di persimpangan jalan dekat rumah Brandon, wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca menahan air mata.
"Gue udah coba masuk, tapi nggak ada yang buka pintu," kata Veron, suaranya bergetar hebat.
"Lampu rumahnya mati semua, Josh. Ini nggak biasa."
Mereka berdua mendekati rumah Brandon dengan hati-hati, mendapati pintu depan tidak terkunci, terbuka sedikit seolah sengaja ditinggalkan begitu saja. Di dalam, suasana gelap dan sunyi mencekam, jauh dari kehangatan yang biasa mereka rasakan setiap kali berkunjung ke sana.
"Brandon?"
panggil Josh, suaranya bergema di lorong rumah yang kosong. Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang terasa begitu berat, seolah rumah itu sendiri menahan napas.
Mereka menemukan Brandon di kamarnya, duduk kaku di tepi ranjang, matanya terbuka lebar menatap kosong ke depan, tidak bereaksi sedikit pun terhadap kehadiran mereka berdua. Tubuhnya dingin saat Veron menyentuh tangannya, namun ia masih bernapas, meski napasnya begitu lambat dan dangkal.
"Brandon, ini gue, Josh,"
kata Josh, mengguncang bahu sahabatnya dengan panik.
"Bangun, please bangun." Tidak ada respons.
Josh dan Veron saling pandang, ketakutan yang sama terpancar jelas di mata mereka berdua entitas itu telah lebih dulu bergerak, mengambil alih Brandon sebelum mereka sempat mempersiapkan diri sepenuhnya.
"Kode rahasia,"
bisik Veron mendadak, matanya membelalak.
"Coba kode rahasia kita."
Josh mengangguk, mendekat ke telinga Brandon, membisikkan kalimat rahasia yang hanya mereka berempat ketahui. Selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, tidak terjadi apa-apa. Namun kemudian, mata Brandon berkedip perlahan, dan tubuhnya mulai gemetar hebat, seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang.
"Josh?"
suaranya lemah, air mata mulai mengalir di pipinya.
"Dia... dia coba masuk ke kepala gue. Gue ngerasa kayak lagi didorong keluar dari tubuh gue sendiri."
"Kita harus segera ke sekolah,"
kata Josh tegas, membantu Brandon berdiri meski tubuhnya masih lemas.
"Sekarang, sebelum dia coba lagi."
Mereka segera menghubungi Gibran dan Pak Ian, berkumpul di depan gerbang sekolah yang telah sepi, hanya diterangi lampu jalan yang temaram. Bersama-sama, mereka berjalan menuju ruang laboratorium lama di bagian belakang sekolah, langkah mereka terasa berat oleh ketegangan yang menggantung di udara malam itu.
"Semuanya siap?" tanya Pak Ian, memastikan setiap dari mereka membawa senter dan perlengkapan yang telah mereka siapkan sebelumnya, meski tangannya sendiri gemetar hebat.
Mereka mengangguk serempak, meski wajah masing-masing menunjukkan kegugupan yang tidak bisa disembunyikan lagi. Begitu mereka memasuki ruang laboratorium, suhu ruangan seketika turun drastis, jauh lebih dingin dari yang pernah mereka rasakan sebelumnya.
Cahaya senter mereka mulai berkedip tidak stabil, seolah energi di sekitar mereka mulai terganggu oleh kehadiran sesuatu yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Jam tangan Josh menunjukkan pukul 01.58. Waktu semakin dekat.
"Kita bertiga harus di tengah ruangan, berpegangan tangan," kata Veron, mengingat catatan Raka yang menyebutkan pusat energi berada tepat di tengah laboratorium, lokasi meja eksperimen dahulu berada.
"Kita harus jadi satu kesatuan, bukan sendiri-sendiri."
Josh, Veron, dan Brandon melangkah maju bersama, berdiri di tengah ruangan sambil saling menggenggam tangan erat, sementara Gibran dan Pak Ian berjaga di sekelilingnya dengan waspada.
Tepat pukul 02.02, seluruh ruangan diselimuti kegelapan pekat meski senter mereka masih menyala, seolah cahaya tersebut tidak mampu menembus kegelapan yang tercipta. Dari tengah kegelapan itu, dua sosok mulai terbentuk secara bersamaan satu adalah Raka, wajahnya penuh kekhawatiran, dan satu lagi adalah bayangan tanpa bentuk pasti yang terus berubah-ubah, kadang menyerupai wajah Josh, kadang Veron, kadang Brandon, seolah mengejek ketiganya sekaligus.
"Kalian datang tepat waktu,"
suara itu menggema, dingin dan penuh kepuasan yang mengerikan.
"Aku sudah menunggu ini selama tiga puluh tahun."
Gibran memegang erat lengan Pak Ian yang tampak nyaris kehilangan keseimbangan mendengar suara itu, kenangan lama yang menyakitkan jelas terpantul di wajahnya yang pucat pasi. Ruangan itu berdenyut pelan, seolah memiliki detak jantungnya sendiri, dan cahaya keperakan samar mulai muncul dari retakan kecil di lantai tengah ruangan, tanda bahwa celah waktu itu perlahan mulai membuka dirinya sepenuhnya.
Josh menatap Veron dan Brandon di kedua sisinya, mencari keyakinan di mata mereka sebelum akhirnya mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa mereka harus segera bertindak sebelum celah itu terbuka sepenuhnya dan segalanya menjadi terlambat. Ia bisa merasakan energi dalam dirinya mulai bergolak, menyatu dengan getaran ruangan yang semakin kuat, seolah tubuhnya sendiri sudah tahu bahwa momen yang mereka persiapkan selama ini akhirnya benar-benar tiba.
...****************...