NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Ia sedang mengambil kembali dirinya sendiri.

Kalimat itu terdengar indah sampai Kiana benar-benar mencoba melakukannya.

Kitab Cyber tidak seperti buku biasa. Prof. Yansen menulisnya seperti seseorang yang sengaja ingin menyaring manusia dari mesin. Satu bab membahas pola serangan siber, bab berikutnya berubah menjadi teka-teki logika, lalu tiba-tiba masuk ke model enkripsi yang disembunyikan dalam bait puisi lama.

Kiana membaca sejak malam sampai pagi.

Kopi dingin. Roti tidak tersentuh. Ponsel beberapa kali bergetar, tetapi ia hanya menjawab pesan Navara seperlunya. Di halaman ketiga puluh tujuh, ia menemukan satu pola yang bisa dipakai untuk memperkuat modul evakuasi Vista Home. Ia terlalu senang sampai lupa bahwa tubuh manusia bukan server yang bisa dipaksa menyala tanpa makan.

Menjelang sore, perutnya seperti dipelintir dari dalam.

Awalnya Kiana mengabaikan rasa sakit itu.

Lalu pandangannya menghitam.

Ketika ia sadar sebentar, lantai apartemen terasa dingin di pipinya. Ada suara pintu dibuka paksa, langkah berat, lalu Hans memanggil namanya dengan nada yang belum pernah ia dengar.

"Kiana."

Ia ingin menjawab, tapi hanya bisa mengerang.

Hans mengangkatnya dari lantai. Bukan seperti adegan romantis. Lebih seperti seseorang yang sedang memindahkan sesuatu yang rapuh dari bahaya. Satu tangannya menopang punggung Kiana, satu lagi mengunci kakinya agar tidak menggantung menyakitkan.

"Sakit di mana?"

"Perut..."

"Makan terakhir kapan?"

Kiana tidak menjawab.

Rahang Hans mengeras.

Di RS swasta dekat apartemen, dokter jaga menyebutnya gastritis akut dan dehidrasi ringan. Infus dipasang. Obat masuk lewat selang bening. Kiana setengah tertidur, setengah terjaga, mendengar Hans berbicara dengan perawat, menandatangani administrasi, lalu menolak ketika perawat bertanya apakah keluarga pasien perlu dihubungi.

"Saya keluarganya."

Kalimat itu masuk ke telinga Kiana seperti air hangat.

Malam turun. Hans tidak pulang.

Ia duduk di kursi samping ranjang, lengan terlipat, mata sesekali terpejam tapi tidak pernah benar-benar tidur. Pukul dua pagi, ponselnya bergetar. Kiana membuka mata sedikit.

"Di rumah sakit," kata Hans pelan.

Suara di seberang tidak terdengar.

"Jaga istri."

Kiana menutup mata lagi terlalu cepat.

Panas naik ke telinganya. Ia tahu pernikahan mereka sah di Catatan Sipil. Ia tahu kata itu benar secara hukum. Namun mendengar Hans mengucapkannya kepada orang lain, pendek dan tanpa ragu, membuat sesuatu di dadanya bergerak pelan.

Pagi berikutnya, dokter mengizinkan pulang dengan daftar pantangan makan dan tatapan menuduh.

"Jangan minum kopi saat perut kosong. Jangan telat makan. Jangan stres berlebihan."

Hans menerima kertas itu. "Saya awasi."

Kiana ingin berkata ia bisa mengawasi diri sendiri, tetapi perutnya masih nyeri. Ia memilih diam.

Di pintu keluar rumah sakit, Bentley putih menunggu. Hans membuka pintu belakang untuknya. Kiana baru hendak masuk ketika suara Jovian memotong udara.

"Kiana!"

Langkah Kiana berhenti.

Jovian berdiri di depan lobi dengan wajah tegang. Kemejanya kusut seperti ia datang terburu-buru. Matanya bergerak dari gelang pasien di pergelangan Kiana ke wajah pucatnya, lalu ke Hans.

"Kamu kenapa? Kenapa masuk rumah sakit?"

"Bukan urusanmu."

Jovian mendekat. "Aku dengar dari orang rumah sakit ada nama Lim masuk IGD. Kamu sakit dan tidak memberi tahu aku?"

Kiana hampir tertawa. Bahkan setelah semua yang terjadi, nada Jovian masih seperti pemilik yang marah karena barangnya rusak tanpa laporan.

"Aku punya keluarga."

Jovian melirik Hans. "Dia?"

Hans berdiri di sisi Kiana, tidak maju, tetapi kehadirannya cukup membuat ruang di sekitar Kiana terasa aman.

"Ya," jawab Kiana.

Jovian menahan napas, lalu tiba-tiba meraih ponsel Kiana dari tangan kirinya.

"Jovian!"

Gerakannya cepat, terlalu terbiasa. Sebelum Kiana sempat merebut, Jovian sudah menekan layar. Enam angka.

Tanggal ulang tahunnya.

Ponsel terbuka.

Darah Kiana seperti membeku.

Ia lupa mengganti sandi itu.

Tujuh tahun kebiasaan lama masih bersembunyi di jarinya, di benda kecil yang ia kira sudah ia rebut kembali.

Jovian membuka daftar blokir, menemukan nomornya, lalu menghapusnya dari sana.

"Mulai sekarang jangan blokir aku lagi."

Untuk satu detik, Kiana hanya menatapnya.

Lalu kemarahan naik begitu dingin sampai tangannya tidak gemetar.

"Kembalikan."

"Kiana, dengarkan aku dulu."

"Kembalikan ponselku."

Jovian tidak mengembalikan.

Hans bergerak.

Tidak kasar, tidak ribut. Ia hanya memegang pergelangan Jovian, memutar sedikit, dan ponsel itu berpindah ke tangan Kiana. Wajah Jovian berubah karena nyeri, tetapi Hans sudah melepas sebelum orang sekitar sempat menyebutnya perkelahian.

"Dia bilang kembalikan," kata Hans.

Kiana langsung membuka pengaturan sandi. Di depan Jovian, ia mengganti enam angka itu menjadi kombinasi baru yang tidak punya hubungan dengan siapa pun kecuali dirinya.

Setelah selesai, ia mengangkat ponsel.

"Sekarang, nomor kamu tetap bisa aku blokir lagi kapan saja."

Wajah Jovian pucat karena marah. "Kamu berubah sejauh ini hanya karena dia?"

"Aku berubah karena aku akhirnya sadar."

"Sadar apa? Bahwa pemadam kebakaran ini bisa menggantikan aku?"

Hans melangkah setengah badan di depan Kiana.

"Dia istri saya."

Kalimat itu tidak keras. Justru karena tidak keras, setiap orang di depan lobi mendengarnya.

Kiana merasakan napasnya tersangkut.

Jovian menatap Hans seperti baru menyadari wajah pria itu sepenuhnya. Matanya menyipit, lalu sesuatu di wajahnya bergeser.

"Kamu..." Ia tertawa pendek, kasar. "Kamu mencari pria yang wajahnya mirip Erlan Kei hanya untuk membuatku cemburu?"

Kiana mengerutkan kening.

Jovian tidak menunggu jawaban. Semua emosi yang ia tahan sejak Galeri Cahaya, sejak bandara, sejak Kiana menolak disentuh, meledak menjadi sesuatu yang lebih hitam.

"Kamu pikir aku tidak tahu permainanmu? Kamu selalu begini. Di depan orang lain pura-pura kuat, tapi sebenarnya kamu hanya ingin aku melihatmu."

"Cukup."

"Tidak, kamu yang harus dengar!" Jovian menunjuk Kiana, matanya merah. "Kamu terus bertanya kenapa aku memilih Vanya? Kenapa aku membatalkan pernikahan? Kenapa aku tidak pernah mau punya anak denganmu?"

Perut Kiana mencengkeram, bukan karena gastritis.

Hans menoleh sedikit. "Kiana, masuk mobil."

Tapi Jovian sudah mengucapkan kalimat itu.

"Karena ibumu membunuh ibuku."

Dunia seperti kehilangan suara.

Kiana menatap Jovian. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Di belakangnya, pintu otomatis rumah sakit membuka dan menutup. Orang-orang lewat membawa kantong obat, anak kecil menangis karena plester infus, seorang satpam menoleh curiga. Semua suara itu ada, tetapi tidak ada yang benar-benar sampai ke telinga Kiana.

Yang terdengar hanya satu kata.

Ibumu.

Dalam kepala Kiana, wajah Lily muncul begitu jelas sampai terasa menyakitkan. Mama yang merapikan rambutnya sebelum sidang sekolah. Mama yang menangis memeluknya setelah kebakaran. Mama yang bahkan ketika marah tidak pernah meninggalkan cara bicara lembut. Menempelkan kata membunuh pada wajah itu terasa seperti memaksa kaca masuk ke tenggorokan.

Jovian tertawa lagi. Kali ini tidak ada kemenangan di dalamnya, hanya luka lama yang busuk.

"Mendiang Bu Loe mati karena keluarga Lim. Mama-ku mati karena ibumu. Kamu pikir aku bisa benar-benar mencintai anak perempuan Lily Lim?"

"Jangan bawa Mama-ku," suara Kiana akhirnya keluar, tipis.

"Kenapa? Sakit?" Jovian maju setengah langkah. "Tujuh tahun aku baik padamu. Aku ingat semua kesukaanmu. Aku beli bunga, aku temani kamu ke rumah sakit, aku minum sup hambar yang kamu masak. Kamu tahu kenapa?"

Kiana tidak ingin tahu.

Tapi ingatan sudah terbuka seperti luka. Jovian yang dulu menyelimutinya saat hujan. Jovian yang dulu berkata ia tidak perlu bekerja terlalu keras. Jovian yang dulu menatapnya seperti ia satu-satunya perempuan di dunia.

Semua itu tiba-tiba berbau racun.

"Supaya saat aku melepaskanmu, rasanya lebih sakit," kata Jovian.

Kiana mundur satu langkah.

Hans menangkap siku Kiana sebelum tubuhnya goyah.

Sentuhannya membuat Kiana sadar bahwa lututnya hampir menyerah. Kalau Hans tidak menahan, ia mungkin sudah jatuh di depan Jovian, di depan semua orang yang sedang menonton tragedi orang lain seperti tontonan sore.

Jovian melihat gerakan itu, rahangnya menegang. "Aku tidak membiarkanmu hamil karena aku tidak akan membiarkan darah musuh ibuku lahir sebagai anakku. Obat itu perlu. Setiap mangkuk sup herbal yang kamu minum, setiap kali kamu percaya aku menjaga tubuhmu, itu karena aku sedang memastikan keluarga Lim tidak masuk lebih jauh ke keluarga Loe."

Udara rumah sakit mendadak terlalu tipis.

Kiana pernah membayangkan banyak alasan untuk pengkhianatan Jovian. Bosan. Lemah. Terpesona oleh Vanya. Takut tanggung jawab.

Ia tidak pernah membayangkan tujuh tahun kelembutan bisa disusun sebagai hukuman.

"Vanya berbeda," lanjut Jovian, suaranya menurun tapi tetap tajam. "Saat Mama kecelakaan, Vanya yang berusaha mencari bantuan. Dia yang tidak meninggalkan Mama-ku. Keluarga Lim mengambil nyawa. Vanya mencoba menyelamatkan."

Nama Vanya masuk seperti jarum kedua.

Kiana ingin membantah, tetapi kepalanya kosong. Mama Lily yang lembut. Mama yang tadi pagi mungkin masih menanyakan apakah Kiana sudah makan. Mama yang dalam kehidupan sebelumnya mati sebelum sempat menjelaskan apa pun.

Apakah mungkin?

Tidak.

Tapi bagaimana jika ada sesuatu yang ia tidak tahu?

Hans memegang bahu Kiana. Kali ini genggamannya lebih tegas.

"Cukup."

Jovian menatapnya. "Ini urusan kami."

"Bukan lagi."

"Kamu siapa?"

Hans menatap Jovian tanpa emosi yang terlihat. "Suaminya."

Satu kata itu menghantam lebih keras daripada suara keras mana pun.

"Apa pun yang kamu pikir terjadi di masa lalu, mulai hari dia menikah denganku, kamu tidak punya hak menyentuh, membuka ponsel, mengatur, atau menghukum dia."

Jovian tertawa sinis. "Kamu tidak tahu apa-apa."

"Aku tahu dia bilang tidak."

Hans membuka pintu Bentley dan, dengan hati-hati tetapi tanpa memberi ruang bagi Jovian, menuntun Kiana masuk ke kursi belakang. Kiana seperti bergerak dalam mimpi. Sabuk pengaman terpasang. Pintu tertutup. Dunia di luar menjadi teredam kaca.

Jovian masih berdiri di depan lobi.

Dari balik kaca, Kiana melihat bibirnya bergerak.

Ia seperti berkata, "Aktor."

Mungkin Jovian sedang menenangkan dirinya sendiri. Mengira Kiana menyewa seseorang yang mirip Erlan Kei untuk menusuk harga dirinya. Mengira semua ini masih tentang dia.

Mobil melaju keluar dari area rumah sakit.

Di kursi depan, Hans tidak menyalakan radio. Ia juga tidak bertanya. Diamnya memberi ruang, tetapi tidak meninggalkan.

Kiana menatap tangannya sendiri. Jari-jarinya dingin. Di pergelangan kirinya, bekas gelang pasien masih meninggalkan garis tipis.

Tujuh tahun.

Sup herbal.

Obat anti-kehamilan.

Mama Jovian.

Mama Lily.

Vanya.

Semua kata itu berputar seperti pecahan kaca.

Lama sekali baru Kiana bersuara.

"Hans."

"Hm."

"Kamu percaya?" Tenggorokannya sakit saat bertanya. "Seseorang bisa karena benci, memanjakan orang lain selama tujuh tahun?"

Hans menatapnya lewat kaca spion.

Matanya gelap, tenang, dan entah mengapa membuat Kiana tidak sepenuhnya jatuh.

"Bisa," jawabnya pelan. "Tapi itu bukan cinta."

Kiana menutup mata.

Untuk pertama kalinya sejak Jovian mengucapkan nama Mama, air mata jatuh tanpa izin.

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!